Omong Kosong

1017 Kata
"Tidak juga. Selir jatuh cinta pada kaisar raja. Tapi kaisar menggunakannya untuk menjadi mata-mata." "Apa kakak selir yang menjadi selir kaisar?" "Sepertinya begitu." "Apa-apaan mereka? Apa yang mereka sebut sebagai selir utama itu dirinya?" gerutu Giselle saat mendengar percakapan mereka yang sangat tidak masuk akal. Tanpa mencari tahu dia sangat yakin kalau kakak pemilik tubuh ini tidak berniat menikah dengan pangeran. Tentu saja, wanita mana yang mau melepas sang kaisar? Walau hanya selir biasa dan bukan selir utama tentu suatu kebanggan bisa menjadi selir kaisar. Giselle malah curiga sebenarnya pemilik tubuh ini malah dijebak. Kaisar dan kakak dari pemilik tubuhnya berkolusi untuk memoermalukan pangeran dengan menikahkan sang adik yang jelek dan gendut dengan pangeran. Anehnya kenapa pangeran mau saja diatur oleh kaisar soal pernikahan. Setahu Giselle pernikahan yang diatur oleh kaisar itu sangat kuat hukumnya. Tak bisa berpisah begitu saja. Giselle sedikit kasihan pada pangeran kalau begitu. Apa itu alasannya hingga mengurungnya di rumah jelek dengan pagar tinggi. Bahkan tak ada apapun di sini. Untung saja soal makanan Giselle tak perlu takut. Kalau soal pakaian dia bisa membuat satu ruang khusus menjahit. Tak masalah. Dia punya banyak bahan kain dan benang di dalam sana. Apalagi dia punya banyak alat. Giselle ingin tau dia jatuh ke jaman kerajaan apa? Tak mendapatkan hal lain selain gosip tentang tubuhnya. Tanpa ada info lain. Giselle membawa dron menjauh. Oh ada istana yang bagus. Apa dia akan mendapat info di sana? Tak sabar Giselle menaikkan laju dronnya. Memasuki celah jendela yang terbuka tanpa ada yang tahu. Kalau orang melihat dron miliknya pasti hanya dikirai murai kecil. Sama sekali tak mengganggu. "Yang mulia pangeran, putri Lee Quinning apa terus dimasukkan ke istana dingin?" tanya Wan mu, orang kepercayaan pangeran. "Biarkan saja. Wanita jelek itu mati di sana. Jangan ada yang berani masuk atau membuka istana dingin," titah pangeran Jin Minyu. "Apa Anda tidak takut kaisar marah? Anda memperlakukan putri yang beliau kirim dengan baik. Bukankah sama saja menghina kaisar." "Dia berani?" "Lagi pula wanita itu buta. Jadi sama saja dia mau tinggal di mana. Dia tak akan bisa membedakannya." Pangeran Jin Namyu menunduk jadi Giselle tak dapat melihat wajahnya. Jadi benar pemilik tubuh ini buta. Giselle hanya bisa menilai kalau pangeran berusia dua puluh lima tahun. Dia mengira dari suaranya. Dia menggerakkan dron ke arah muka. Giselle ingin melihat bagaimana rupa pangeran yang teramat sombong tersebut. Giselle tersentak saat melihat wajah pangeran tertutup semacam topeng berwarna hitam. Hanya terlihat matanya yang tajam. Apa pangeran wajahnya juga buruk? Kalau begitu apa bedanya dengan pemilik tubuh ini? Batin Giselle. "Kau tau apa maksud kaisar menikahkan ku dengan wanita buta itu? Dia hanya ingin mengolok-ngolokku. Baginya, aku hanya pantas mendapat wanita bodoh yang buta dan jelek. Oh jangan lupakan kalau dia juga sebesar kingkong," sinis pangeran. Sedang Wan mu hanya diam tak membalas perkataan pangeran. Mungkin dia membenarkan apa yang dikatakan oleh pangeran. "Apa selir Min Hwa sudah datang?" tanya pangeran mengganti topik. "Lapor pangeran. Sudah. Selir Min hwa sudah ditempatkan di istana teratai." "Bagus. Kudengar keluarga perdana mentri juga mengirim lamaran. Apa kamu sudah mendapat suratnya?" Man wu terdiam. Entah kenapa pangeran tiba-tiba terobsesi ingin mengumpulkan selir di istananya. "Maaf yang mulia. Perdana mentri membatalkan lamarannya. Saya dengar kaisar lebih dahulu menerima lamaran dari keluarga perdana mentri." Man wu menunduk tak berani melihat wajah pangeran. Brak. Pangeran menggebrak meja dengan keras. Gisella yang berada di istana dingin sampai ikut terhenyak kaget. Lelaki ini ternyata selain hobi mengumpulkan wanita juga temperamental. Untung saja lelaki itu membenci tubuh aslinya. Kalau tidak pasti repot menghadapi lelaki yang super galak. "Kalau begitu apa ada bangsawan yang mengajukan lamaran ke sini?" "Mohon maaf pangeran, sepertinya para bangsawan banyak yang mengajukan lamaran ke istana kaisar. Apalagi kaisar baru dilantik jadi haremnya masih kosong." "Bahkan posisi ratu juga masih kosong. Banyak bangsawan dan mentri berlomba melamar baginda kaisar." Pangeran Jin Namyu menekam gigi gerahamnya dengan marah. Dia bukanlah pemuja wanita. Tapi kaisar sudah menyulut amarahnya dengan mengirim gadis tidak kompeten padanya, ini penghinaan baginya. Apalagi tersiar kabar kalau gadis pilihan kaisar untuknya adalah mata-mata yang sengaja dikirim kaisar. Pangeran masih pemuda polos. Dia belum bersentuhan dengan wanita manapun. Sejak kecil dia sudah ikut berperang ke medan laga. Hingga banyak prestasi dia raih. Posisi putra mahkota sudah dia raih sebagai penghargaan dari mendiang kaisar. Tapi bencana terjadi, mendiang kaisar mangkat dan dia mengalami cacat di wajah dan juga kaki akibat berperang. Musuh mengincar wajah dan juga kakinya. Entah bagaimana ceritanya hingga dia bisa berada di balai kesehatan kerajaan Jin. Tak lama dekrit kaisar dibacakan. Dan ternyata mendiang kaisar menunjuk kakak kedua sebagai kaisar. Dia hanya bisa menatap langit ruang pengobatan dengan ling-lung. Kakinya tak dapat digerakkan dan wajahnya juga terluka parah. Bekas tebasan pedang membuatnya tak lagi mengenali wajahnya sendiri. Sebulan kemudian pangeran kedua diangkat menjadi kaisar. Dengan menggunakan kursi roda dia dibawa untuk ikut menghadiri pelantikan kaisar. Semua mata menatapnya iba dan juga jijik. Hatinya mati rasa dan juga kecewa. Selama ini dia yang berjuang menemani kaisar membawa bendera kerajaan Jin hingga dikenal banyak kerajaan lainnya. Selama ini dia tak terlalu berambisi untuk menjadi kaisar. Tapi kaisar sendiri yang mengangkatnya menjadi putra mahkota. Dibenaknya tertanam keyakinan bahwa dialah yang nantinya menggantikan kaisar. Tapi apa ini? "Hormat kepada yang mulia kaisar. Panjang umur kaisar." Sorak sorai para mentri terdengar. Keluarga kerajaan ikut menggumamkan penghormatan. Setelah acara pengangkatan kaisar baru. Semua mentri berbondong-bondong mengerumuni kaisar baru. Seperti ngengat yang mengerubungi cahaya. Sedangkan pangeran Namyu hanya duduk di atas kursi roda. "Kakak ketiga, kudengar kamu terluka saat perang melawan kerajaan Qu. Ternyata lukamu parah juga ya," sapa pangeran ketujuh. Dia anak dari pelayan yang diangkat menjadi bin. Pangeran ketujuh dulunya tidak berani bersinggungan dengannya. Tapi sekarang melihatnya seperti lelucon. Pangeran Jin Namyu tak mempedulikan pangeran Jin Farang. Wan mu yang melihat pangeran tidak nyaman segera mendekati. "Yang mulia pangeran, apa Anda ingin beristirahat?" Tanya Wan mu hormat. "Hm." "Yang mulia pangeran ketujuh. Hamba undur diri dulu." Tanpa menunggu jawaban pangeran ketujuh Wan Mu membawa pangeran ketiga menjauh dari aula kerajaan. "Apa kita kembali ke istana Elang?" tanya Wan mu sopan. "Hm." Suasana hati pangeran tidak bagus. Tak perlu berbanyak kata yang hanya akan memperburuk moodnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN