Ponsel Selna Hilang.

829 Kata
ISTRIKU BUNUH DIRI 6 Aku meraih benda pipih yang masih tersimpan dalam jaketku itu. Mencoba menyalakan karena kebetulan ponselnya mati. Mungkin karena sudah beberapa hari tak diisi daya. Setelah menyambungkan ke listrik, aku pun menaruh ponsel itu di atas meja dikamarku, nanti kalau sudah penuh baru aku nyalakan. Aku kembali ke meja kerjaku, menyibukkan diri dengan pekerjaan yang sudah menumpuk. Walau pikiranku benar-benar tak bisa di kondisikan. Akhirnya tak tahan aku memilih keluar sejenak. "Kamu kemana, Yon?" "Mau keluar sebentar, Bu." Sahutku tanpa memperhatikan Ibu. "Jangan jauh-jauh, kamu seperti orang linglung, nanti kenapa-kenapa." Seru Ibu, namun tak aku pedulikan. Aku melajukan motor ke arah taman kota, taman dimana dulu aku dan Selna suka menghabiskan weekend bersama-sama. Dulu, ya dulu sebelum adik-adik Khalisa lahir. Namun, setelah Keyla, Kenji juga kembar hadir, kami nyaris tak pernah lagi berlibur bersama. Selna sibuk dengan anak-anak, sedangkan aku memilih tidur ketika libur tiba. "Mas, jalan-jalan, yuk! Aku bosan dirumah terus."rengek Selna pagi itu. "Apa sih, Dek. Bosan gimana, kan emang fitrah perempuan dirumah, mendidik dan menjaga anak-anak. Kalau kamu bosan, berarti kamu menyalahi kodrat sebagai seorang Ibu." Sahutku malas. Selna menarik nafas berat. "Kan ga tiap hari, Mas." bujuk Selna lagi. "Bundaa, adik-adik mainin air." Teriak Keyla dari luar. Selna menghembuskan nafas kasar, dan beranjak meninggalkanku yang tengah berbaring memainkan ponselku. Aku begitu lega, panggilan dari Keyla ibarat penolong. Tak lama suara teriak-teriakan anak-anak silih berganti, juga tangisan si kembar. "Ampun, Bunda." "Maafkan, Kenji, Bunda." Aku menutup kupingku, suara-suara heboh dari luar mengganggu pendengaranku. Hingga beberapa saat aku tertidur, dan ketika keluar yang kulihat anak-anak tertidur dan Selna menangis di samping mereka. Karena rasa lapar, aku tidak menghiraukan Selna. justru berjalan ke meja makan. Menyendok nasi lalu makan sendiri. Ternyata Selna masak masakan kesukaanku, urap nangka, ikan asin juga sambal terasi, rasanya enak banget. Hingga aku nambah berkali-kali. *** Ingatanku terlempar ke masal lalu disaat Selna masih hidup. Tak terasa air mataku mengambang di ujung mata. Aku menepuk d**a, Ya Allah dimana rasa pekaku sebagai seorang suami. Seharusnya aku menghampiri Selna, mengajak liburan ketika aku sedang libur kerja. Bukan sibuk mengistirahatkan badanku sendiri sedangkan istriku berlelah-letih mengurus anak-anak. Andai waktu bisa diputar kembali. Aku ingin mengubah semuanya. Menjadi suami yang pengertian untuk istriku, menjadi bahu tempat dia bersandar. Menjadi pendengar di setiap curahan hatinya. Aku mengusap kasar air yang tiba-tiba saja menetes di ujung mata. Sungguh aku sangat merindukan Selna. Perempuan yang mau menerimaku apa adanya. Disaat aku belum bekerja, bahkan untuk makan sehari-hari saja kami susah. Tapi selna tidak pernah mengeluh. Senyum manis selalu terpancar dari bibirnya. Selna juga ikhlas mengundurkan diri dari perusahaan yang telah membesarkan namanya hanya demi berbakti padaku. Saat itu aku merasa begitu jumawa. Mempunyai istri yang tidak taat dan mau menuruti semua kemauanku. Walau Selna pernah keberatan saat aku menginginkan dia hamil lagi. Aku ingin mempunyai anak yang banyak, hingga lahirlah Kenji dan terakhir Kevin dan Kenan. Saat itu sana menangis mengetahui dirinya sedang hamil kembar. Bahkan memintaku untuk menggugurkan saja bayi itu. Tentu saja aku menolak mempunyai bayi kembar adalah sebuah keistimewaan bagiku. Apalagi mereka dua-duanya adalah laki-laki. Seiring berjalannya waktu Selna akhirnya mau menerima dengan lapang d**a. Dan saat itulah dia meminta seorang pembantu padaku. Ketika aku mengatakan kepada ibu, ibu malah marah dan mengatakan sana manja. Dan ibu menawarkan diri untuk datang dengan Ningsih, membantu Selna. Mengingat itu kepalaku terasa berdenyut. Aku meremas rambutku kuat. Kenapa begitu bodohnya aku. Sudah hampir dua jam aku di taman ini, sebentar lagi jadwalnya menjemput anak-anak. Aku bergegas pulang. Sesampainya di rumah, kata Ibu, Maya dan Rini sudah berangkat menjemput mereka. "Memang mereka tahu di mana sekolah anak-anak, Bu?" "Sepertinya tahu. Lah itu mereka langsung jalan, tanpa nanya alamat." Jawab Ibu. Aku terus mondar-mandir di depan teras. Khawatir jika pembantu baru itu nyasar. Namun tak berapa lama sebuah mobil yang merupakan taksi online berhenti di halaman rumah. Anak-anak keluar dengan riang. "Ayah, besok Libur kita ke tempat Bunda ya Ayah. Aku kangen sama, Bunda." Ujar mereka. Aku mengangguk lemah. Mereka berlarian sambil berteriak gembira. Maya dan Rini yang masing-masing mengendong si kembar terus memperhatikan mereka. Hebat sekali Mas Nathan, memilihkan pembantu. Profesional dan pintar, anak-anak pun seperti suka dengan mereka. Kevin dan Kenan terlihat begitu bahagia. Aku tersenyum puas masa anak-anak sudah teratasi. Kini aku berjalan menuju kamar ingin membuka ponsel milik Selna dan membaca semua pesan yang ditulis untuk Abangnya itu. Mataku langsung tertuju ke atas meja. Tidak tertemukan ponsel yang tadi aku charger di sana. Kabelnya pun tidak ada. Aku keluar melihat Ningsih dan ibu duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. "Bu, apa Ibu melihat ponsel di atas meja di kamar Zion?" "Nggak tuh! Ibu nggak lihat." "Kamu, Ning?" "Ningsih juga ga liat, Bang." Mereka pun kembali asyik menonton. Aku sibuk mencari keberadaan ponsel itu. Aku yakin sekali jika aku menaruh ponsel itu di atas meja. "Pembantu baru kali yang ngambil!" Cetus Ningsih Apa iya mereka yang ambil. Aku sangat yakin ponsel itu ada disana. Tapi, kenapa tak ada? Pasti ada yang mengambil atau memindahkan. Siapa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN