ISTRIKU BUNUH DIRI 7
"Pembantu baru kali yang ngambil!" Cetus Ningsih
Apa iya mereka yang ambil. Aku sangat yakin ponsel itu ada disana. Tapi, kenapa tak ada? Pasti ada yang mengambil atau memindahkan.
Aku kembali ke kamar mengechek sekali lagi. Tapi, ponsel itu benar-benar tidak ada. Apa mungkin salah satu dari mereka yang mengambil, rasanya Mas Nathan tak mungkin mengirim mereka ke sini kalau tidak tau kualitas kerja mereka. Pasti Mas Nathan akan berpikir ulang, karena Maya dan Rini akan merawat anak-anak dari Almarhum adiknya.
"Gimana, ga ada kan?" cibir Ningsih.
"Kenapa kamu bisa yakin?"
"Ya, siapa lagi?" sahutnya santai.
Aku bergegas keluar, ingin menanyakan kepada kedua orang baru itu, tapi melihat anak-anak sedang asik bermain berlarian meski masih memakai seragam, aku urung.
"Sayang, ganti seragamnya dulu, lalu makan habis itu baru boleh main."
"Baik, Ayah." Jawab mereka serentak.
Kevin dan Kenan yang biasanya takut orang yang baru di kenalnya, sekarang justru lengket dengan Maya dan Rini. Nanti sajalah, aku tanya perihal ponsel milik Selna.
Anak-anak juga tampak semangat makan, suara riuh dan ramai kembali menggema sama seperti dulu, saat Selna ada. Bedanya, sekarang bukan karena kehadiran Selna, tapi kehadiran dua wanita yang baru saja mereka kenali.
Malam ini menjadi malam pertama aku tidur sendirian. Kevin dan Kenan tidur bersama Maya dan Rini di kamar sebelah. Kamar yang seharusnya buat tamu. Meski Ibu sempat keberatan, menurut Ibu seharusnya pembantu tidur dibelakang. Tapi, Maya dan Rini tetap tidur di kamar tamu sesuai perintahku.
Mataku enggan terpejam. Ranjang ini biasanya penuh sesak oleh si kembar dan Selna. Kini, tempat tidur King size ini terasa dingin dan sepi. Berkali-kali aku menatap ke samping, membayangkan ada Selna yang sibuk mengusap-usap punggung si kembar yang hendak tidur. Bayangan itu terasa begitu nyata.
Ya Allah, kenapa setelah semua tiada aku baru merasakan betapa indahnya pemandangan itu. Dulu aku selalu memunggungi mereka. Menganggap kehadiran mereka hanyalah penganggu tidurku. Belum lagi jika tengah malam Kevin dan Kenan menangis meminta s**u. Aku sama sekali tidak membantu Selna, aku selalu membangunkan yang tidurnya lelap. Saat itu aku mengomel padanya.
"Kamu ini, gimana sih, Dek. Anak nangis malah ga tau!"
"Maaf, Mas. Mungkin karena kecapean, aku jadinya pulas." ujarnya penuh penyesalan.
"Capek ngapain sih, Dek. Kan kamu cuma dirumah aja, aku yang seharian kerja cari uang."
Biasanya tanpa kata Selna berlalu keluar, sebelum tangisan satu bayi membangunkan bayi satunya.
Ah, Tuhan.
Betapa menyesalnya aku, kini baru aku merasakan menjadi seorang istri itu lelahnya bukan kepalang. Bahkan hanya sekedar duduk sejenak saja rasanya tak sempat, pekerjaan sambung menyambung seperti gerbong kereta.
Sekarang baru aku sadari, apa yang Ibu bilang. Jika Selna di rumah hanya main hape dan laptop, sepertinya hanya fitnahan semata, agar aku membenci Selna. Dan itu sangat berhasil, yang ada di otakku, Selna sungguh keterlaluan.
Nyatanya, justru Ibu dan Ningsih-lah yang memperlakukan Selna tak seperti seorang menantu tapi seperti seorang b***k. Astaghfirullah, ampuni hamba ya, Rabb.
Aku bangkit lalu beranjak keluar, lampu tengah sudah dimatikan, ibu dan Ningsih pasti sudah tidur. Aku mengayunkan kaki ke arah dapur. Tiba-tiba aku terhenti tepat didepan kamar tamu dimana Maya dan Rini tidur.
"Baik, Pak. Saya akan menjaga anak-anak sampai Ibunya sembuh. Tenang saja."
"Iya, Pak. Saya akan hati-hati."
Tak lama senyap. Sepertinya salah satu dari mereka sedang menerima telepon. Dari siapa? Menjaga anak-anak sampai Ibunya sembuh? Apa Selna masih hidup? Kenapa disembunyikan dariku. Aku harus mencari tau.
***
"Maya, apa kamu melihat ponsel dikamar saya? Kemarin saya charger disana." tanyaku sebelum berangkat kerja.
Hari ini perdana aku kembali ke kantor. Pikiranku tenang, setelah ada Maya dan Rini yang menghandle semua pekerjaan dirumah.
"Maaf, Pak. Kemarin saya melihat Ibu dan Mbak Ningsih mau mengambil ponsel itu, lalu saya larang. Tapi, keduanya marah."
"Lalu mana sekarang ponsel itu?"
"Ada pada Rini, Pak. Rini badannya lebih besar, jadi Mbak Ningsih mungkin takut."
Aku memijit dahiku, sebenarnya apa yang sedang terjadi. Kenapa Ningsih begitu takut ponsel Selna aku nyalakan lagi.
"Tolong panggilkan, Rini!"
Maya yang bertubuh tinggi tapi langsing itu bergegas masuk. Tak lama mereka datang lagi.
"Ini ponsel Bu Selna, Pak. Maaf, saya lancang kemarin merebut dari Bu Ningsih."
Rini menyerahkan ponsel itu padaku.
"Tak apa, terima kasih. Saya justru sangat berterima kasih pada kamu."
"Sama-sama, Pak. Kalau gitu saya pamit ke dalam dulu, Pak. Mau menyiapkan anak-anak."
Aku mengangguk cepat. Melihat Maya dan Rini mengingatkanku pada permintaan Selna untuk memiliki pembantu. Andai, saat itu aku mengabulkannya. Andai, aku tak terbujuk rayuan Ibu untuk memakai jasa mereka, tentu semua tak akan seperti ini. Penghasilanku cukup sekedar membayar dua orang asisten rumah tangga. Ah, sungguh aku telat, sangat telat untuk membuat istriku bahagia.
"Yon, ibu minta uang dong, Ibu mau belanja!" Tiba-tiba Ibu datang dari dalam.
"Ningsih mau beli motor dong, Bang. Abang kan duitnya banyak, uang asuransi mobil juga sudah keluar kan?"
Aku menatap tajam pada Ningsih. Lancang sekali dia menghitung-hitung uang yang bukan miliknya. Asuransi mobil bahkan aku tak mengecap sedikitpun. Semua kupasrahkan pada Mas Nathan. Aku yakin dia akan amanah menjaga harta hak ponakan-ponakannya.
"Zion, ga punya uang, Bu. Mulai sekarang berhematlah."
"Zion! Maksud kamu apa!"
Tanpa memperdulikan Ibu yang berteriak-teriak memanggil. Aku melajukan motorku menuju kantor. Ingin memeriksa ponsel Selna dengan tenang disana.
Aku sungguh sangat penasaran dengan apa yang Mas Nathan katakan. Meski terlambat, tapi tak ada salahnya aku mengetahui kesalahan terbesarku hingga membuat Selna nekat bunuh diri dengan menerjunkan mobilnya ke sungai.