ISTRIKU BUNUH DIRI 8
???
"Gimana ini, Bu?" raut wajah Ningsih terlihat pucat sama denganku.
"Udah gapapa, Selna juga udah mati. Biarin aja, masa Abangmu mengusir kita karena istrinya yang sudah tiada. Lagi pula kan bukan kita yang membunuh. Dia sendiri yang menyerah. Lagian disuruh KB ga denger, punya anak lagi sampai bererot begitu."
"Iya sih, Bu. Tapi, takutnya Bang Zion benci sama kita, jika baca curhatan si Selna itu, Bu."
"Kamu sih, lagian bisa kalah sama pembantu. Takut banget di tonjok."
"Lah, iya takutlah, Bu. Badannya tinggi gede gitu."
Emang sih, pembantu-pembantu itu bukan orang sembarangan. Badannya tegap dan tegas. Saat rebutan ponsel saja, Ningsih sampai diplintir tangannya.
Sejak ada mereka hidup makin enak tapi, sindiran dari mereka sangat tajam. Sakit telinga mendengarnya.
Seperti siang kemarin.
"Gue ya May, punya mertua toxic. Gue toxic balik, sekarang kan gampang tinggal tuang aja sianida. Trus bangkainya gue lempar ke hutan, biar dimakan anjing." seru Rini yang tengah mencuci piring. Suara piring beradu dengan sendok sekaan mengajak perang.
"Lah, sama Rin. Bersabar trus akhirnya membuat diri sendiri depresi, mah. Ogah banget gua. Ini lihat toxic di depan mata aja, rasanya ingin gua patahkan tulang lehernya." Sahut Maya.
Aku dan Ningsih yang duduk sambil menonton televisi, bergidik. Si Nathan itu pasti memilih pembantu dari pasar jagal. Tampang mereka sama sekali tak seperti pembantu. Pakai celana panjang, kemeja longgar dengan lengan digulung ke atas. Rambut di ikat tinggi, kuncir kuda. Tak pernah memakai daster seperti umumnya pembantu.
Begitu juga pagi tadi, setelah Zion berangkat kerja.
"Heh! Buruan sikat kamar mandi. Enak saja kau ongkang-ongkang kaki." Mata Rini menatap tajam ke arah Ningsih.
"Woi, lu pembantu kenapa malah nyuruh-nyuruh!" Ningsih tak mau kalah.
"Oooh, mau nolak? udah siap mati rupanya."
Perempuan itu mendekat, sambil ngambil ancang-ancang.
"Coba aja, kalau lu berani. Gue aduin sama Bang Zion, dipecat lu!"
Bugh!
Sebuah tendangan tepat mengenai perut Ningsih. Ningsih terjengkang ke belakang.
"Ningsih!" Pekikku.Ningsih meringis kesakitan.
"Ingat! yang menggaji gue, bukan Pak Zion. Tapi, Pak Nathan. Tugas gue memastikan anak-anak Mbak Selna aman dari orang-orang gila kayak kalian! Bukan mau jadi b***k disini!"
"Buruan! Kerjain apa yang gue perintah, ingat kalau ngadu, gue pastikan lu ga bisa jalan lagi esok hari."
Ancaman perempuan itu benaran sepertinya. Bahkan dia berani menghantam Ningsih.
"Dan kamu Nenek, kamu masak yang enak. Awas kalau ada yang ganjil dan aneh! Gue ga peduli umur. Mau tua muda. tugas gue sikat yang ga ada akhlak, ya gue sikat!"
Melihat tampang menyeramkan dari gadis sikopet seperti itu aku dan Ningsih segera membagi tugas. Ningsih sehabis menyikat kamar mandi, lanjut mencuci. Sedangkan aku masak, lalu lanjut mengepel.
Tulangku terasa dicopoti satu persatu. Pegel, lelah dan lapar. Tapi, aku belum di ijinkan makan sampai kelar melakukan pekerjaan. Hal sama seperti yang kulakukan pada Selna. Tapi, kalau Selna kan memang sudah kewajiban dia sebagai seorang menantu. Masa aku yang melayani dia.
Walau didepan Zion seolah-olah aku yang capek. Salah sendiri ga ngadu sama Zion. Makin diam, ya aku makin semangat.
Kerjaan hampir selesai tapi aku sudah tak kuat, begitu juga Ningsih. Mencuci pakaian lima anak, belum lagi pakaianku juga Zion membuat tempat jemuran penuh.
"Lapar? Mau makan?" cibir Maya.
Aku eringat pernah berkata hal yang sama pada Selna.
"Kenapa kamu lapar, ya? Halah, kerja gitu aja capek, lapar. Anakku bekerja seharian. Kamu dirumah aja ngeluh, Zion tak pernah mengeluh capek. Ya udah, buruan makan. Jangan banyak-banyak."
Aku tau Selna sudah mulai mengalami gangguan jiwa. Sering tertawa dan menangis sendirian. Sengaja, biar dia gila beneran. Nanti Zion ingin kujodohkan dengan Riska. Teman Ningsih sekolah dulu yang sekarang menjadi seorang artis. Uangnya pasti banyak, tak seperti Selna hanya penulis recehan. Tak ada uangnya. Makanya aku tak biarkan dia megang ponsel dan laptop, buang-buang waktu.
"Ning! dua sikopet itu seperti pergi menjemput anak-anak. Kita masuk ke kamarnya. Kita cari tahu, siapa mereka sebenarnya. Tak mungkin pembantu seperti itu."
"Ningsih capek banget, Bu.Ibu saja, deh!" Tolak Ningsih sambil memijit-mijit tangan dan kaki.
"Kamu ini. Kalau kita sudah tau siapa mereka, kita tinggal ngadu sama Zion."
Ningsih berpikir sejenak, hingga kemudian dia menyetujui. Perlahan kami melangkah menuju kamar tamu, kamar dimana pembantu sok iyes itu tidur.
"Buka Ning!" Titahku.
"Ah, Ibu!" Katanya kesal tapi tetap saja dilakukan. Perlahan Ningsih membuka kenop pintu. Baru saja tangannya menyentuh tiba-tiba,
"Aaaaaaaaaaaa ...!"
"Ning ... Ningsih ... Kamu kenapa?"
Aku memegang pundak Ningsih yang bergetar seperti kesetrum. Namun, naas akupun merasakan hal yang sama. Sekujur tubuh sekaan digigit ribuan lebah dan semut.
"Aaaaaaaaa ...!"
Hingga tak lama kami berdua jatuh ke lantai. Badan lemas tak bertenaga.
"Ta-tadi itu a-apa, B-bu?" Suara Ningsih bergetar, gigi geligi nya gemelatuk seperti orang kedinginan.
"I-ibu ju-juga G-ga t-tau...!"
Sebuah kertas terselip di ujung pintu kamar itu.
"JANGAN KEPO!"
Nah kan, dapat lawan seimbang, haha