Sepulang dari Bandung aku lebih banyak diam. Penyesalan itu terasa sangat menekan d**a. Aku meraih ponselku dan membuka galeri dimana banyak foto-foto Selna dan anak-anak disana. Kupandangi foto itu sambil mengusap-usap pipi Selna, seolah-olah aku memang sedang membelai wajahnya. "Maafkan Mas, Dek. Demi Allah, Mas sangat menyesal telah mengabaikan dirimu, Sayang." Lagi aku tergugu dalam kemelut hati yang tak berkesudahan. "Zion, boleh Ibu masuk?" Panggil Ibu setelah terdengar ketukan beberapa kali. Aku menghapus jejak air mata dan bangkit seakan tak terjadi apa-apa. "Ada apa, Bu?" tanyaku setelah pintu terbuka dan ada Ibu disana. "Yon, Ibu butuh uang. Apa kamu bisa mengusahakan untuk Ibu?" Aku mengerutkan dahi. "Uang buat apa, Bu?" Ibu tampak kikuk. "Semua harta ayah kan kamu yang

