26

1325 Kata
Banyak orang jahat di luar sana, dengan segala dosa yang dilakukan. Dosa yang merugikan orang lain bahkan keluarga terdekatnya. Kenapa orang-orang berdosa itu sama sekali tidak mendapat teguran? Kenapa justru Tuhan menghukum orang-orang baik? Orang-orang yang sama sekali tidak berdosa bahkan tidak merugikan orang lain. Mereka diberi penyakit yang justru mampu membantu mereka cepat meninggalkan dunia yang kejam ini. "Mar ... Kakak datang, Pak Eza juga datang." Eza berdiri di belakang Ana yang sedang duduk di samping Maria. "Kakak kangen kamu," Hati kakak sakit sekali Mar melihat kamu seperti ini. Apa yang bisa kakak lakukan untuk kamu. Bahkan sekedar menyumbangkan apa yang kamu butuhkan kakak tidak bisa memberikannya. Maaf karena kakak tidak pernah bisa menjadi orang yang berguna untuk kamu. Maaf karena kakak hanya membawa kamu pada jurang kemiskinan. Jika saja kakak tidak egois. Kenapa rasanya seperti tertembak tepat di jantung. Apa yang kakak takutkan selama ini, akhirnya datang juga. Ana menahan air matanya. Keluar dari ruangan Maria, Ana terduduk lemas. Melihat wajah pucat Maria dan beberapa memar di lengan Maria, benar-benar membuat Ana merasa bersalah. Selama ini Ana berpikir jika Maria memang suka memakai baju panjang, ternyata selama ini Maria mencoba menutupi apa yang ia alami di tubuhnya. Andai Ana bisa menyadari keadaan Ana lebih cepat dan tidak hanya fokus lari dari Hendra. Sayangnya Ana hanya terus-terusan mempeduikan gertakan Hendra dan aancaman Hendra. "Bagimana sekarang, apa yang harus saya lakukan?" "An ..." "Rasanya sakit sekali melihat Maria terbaring lemah di sana. Saya baru sadar kalau Maria separah ini." Eza pernah ada di posisi Ana saat ini, saat itu Eza bahkan tidak henti-hentinya mencoba menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang diderita oleh kekasihnya dulu. Kesakitan akan rasa takut kehilangan orang yang paling Eza sayang, mungkin sekarang juga sedang dirasakan oleh Ana. "Apakah saya ini pembawa sial? Kenapa orang-orang yang ada di dekat saya semuanya harus secepat itu pergi?" Eza masih mendengarkan ucapan Ana dengan seksama. Di saat seperti ini, Eza paham betul untuk tidak memberikan nasihat atau menyuruh Ana untuk tegar. Semua itu akan percuma, juatru Eza akan membuat Ana untuk mengeluarkan semua isi hatinya selama ini. Apalagi soal kehidupan Ana dan Maria. "Bahkan saya dibuang oleh orangtua saya sendiri." Tatapan Ana menerawang jauh, dadanya benar-benar terasa sesak saat ini. Apa yang Ana takutkan selama ini benar-benar terjadi. "Apa perasaan bapak dulu seperti ini?" Eza yang tengah terdiam seketika mendapat serangan mendadak dari Ana. "Saya bahkan hampir gila." jawab Eza seadanya. "Lalu bagaimana jika saya gila?" "Ana ... ini semua takdir, jangan pernah menyalahkan apa yang telah terjadi. Kalau kamu menyalahkan diri kamu sendiri atas apa yabg terjadi terhadap oranglain." "Takdir ..." Ana menghela nafas dalam, mengembuskannya dengan segera. "boleh kalau saya bilang takdir saya begitu kejam?" Ucapan Ana sudah diiringi airmata yang mengalir di pipinya. Eza yang melihatnya segera memeluk Ana. Ana menangis tersedu di pelukkan Eza. "Andai saja posisi kami bisa ditukar." "An ..." "Saya harus menemui Ayah saya." "Kamu fokus sama Maria, jangan khawatirkan soal pendonoran sumsum tulang belakang untuk Maria. Saya akan melakukan apapun agar Maria sembuh." Ya, Eza sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa Eza akan menolong Ana sampai akhir. Tentang Hendra dan juga tentang penyakit Maria. Eza akan berusaha semaksimal mungkin Agar Maria bisa selamat. "Saya akan menukar hidup saya, saya siap menjadi pelayan anda seumur hidup saya. Tapi saya mohon selamatkan adik saya, selamatkan dia. Hanya dia yang saya punya." Ana sudah hilang arah, ia tidak tau harus melakukan apa selain memohon pada seseorang yang ada di hadapannya saat ini. Ia tidak memiliki uang dan kekuasaan untuk memberikan kesembuhan bagi Maria. "Saya mohon, selamatkan adik saya." ucap Ana kembali, sembari meremas kemeja Eza. Eza benar-benar merasa sakit, apalagi melihat Ana yang sudah menangis sekarang ini, Memohon pada Eza untuk menolong Maria. 'Tolong percaya pada saya An, saya akan melakukan yang terbaik untuk Maria. saya tidak akan membuat kamu merasakan apa yang saya rasakan dulu, saat saya kehilangan Alya.' Eza masih tetap memeluk Ana, Eza tau di saat seperti ini Ana pasti sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Beruntunglah Eza waktu itu, ia masih memiliki keluarga besar yang menghiburnya. Berbeda dengan Ana, Ana tak memiliki satu keluargapun. Jika merunut dari cerita Ana, sebenarnya Ana benar-benar sebatang kara di dunia ini. Maria bukanlah adik kandungnya, pun dengan Hendra. Hendra hanyalah ayah angkat Ana. * * * Apa? Abang meminta 1 trilyun?" Hendra mengangguk dengan cepat. Jika Eza sudah sampai bertindak sejauh ini, pasti apa yang dibutuhkan oelh Eza untuk Maria adalah sesuatu yang begitu penting, pikir Hendra. "Gue yakin mereka sedang mengincar sesuatu." "Apa yang mereka incar dari abang?" Keberuntungan seolah sedang mendekat pada Hendra, ia tak perlu repot-repot mencari cara untuk memeras Eza, tapi juatru Ezalah yang datang sendiri pada Hendra dengan menawarkan uang. Tapi, Hendra kembali mengingat saat pisau yang ia cari selama ini ternyata ada di tangan Eza. Hendra harus benar-benar memutar otaknya agar ia bisa mendapatkan uang, pisau berdarah itu dan tentunya tanpa kehilangan apapun yang Eza inginkan dari dirinya. "Lo tau, pisau itu ternyata ada di tangan laki-laki kaya itu." "Maksud Abang?" "Waktu malam itu gue nusuk Ana, laki-laki itu ada di sana. Gue pikir dia bego, ternyata di balik lagi ke tempat itu lebih dulu dibandingkan gue." Kacir teringat akan perkelahiannya di rumah kontrakan Ana saat malam itu. Pukulan demi pukulan yang Eza lancarkan pada eajah dan tubuh Kacir seolah menyulut dendam baru. Kacir pun merasa cemburu saat melihat Ana dibawa pergi begitu saja oleh Eza. Apapun caranya, Kacir akan membantu Hendra untuk bisa melenyapkan Eza. "Lalu, apa rencana abang sekarang?" "Kita harus bisa ambil pisau itu, tentu saja setelah mendapatkan uang 1 trilyun." "Caranya?" "Gua kasih laki-laki itu waktu untuk berpikir, 3 hari. Saat anak buahnya jemput gue lagi, lo harus ikutin gue. Setelah itu kita taklukin mereka." Hendra tersenyum licik, kali ini ia tak akan lengah lagi. Jika Eza bermain-main dengannya, maka ia pun akan memainkan permainannya sendiri. * * * "Diam!" Hendra tidak bisa melihat apapun meski ia sudah membuka matanya. Ternyata kepala Hendra di bungkus oleh kantong hitam. Hendra yang mencoba melawan dan melepaskan pegangannya terpaksa menyerah. Salah satu orang dari ketiga pria yang masuk ke rumah Hendra memukul tengkuk Hendra hingga tak sadarkan diri. Kacir yang baru saja masuk dengan membawa makanan, terkejut saat melihat Hendra sudah diikat dan kepalanya dibungjus dengan karung kain berwarna hitam. "b*****t!" Kacir melemparkan sebuah kursi pada ketiga pria itu, ia mulai menyerang terlebih dahulu pada ketiga pria itu. Namun, sayangnya tubuh Kacir yang kecil seolah menolak diajak bekerja sama untuk bisa mengalahkan ketiga pria itu. Usaha Kacir sia-sia, ia justru tersungkur ke tanah dengan pukulan dan tendangan di sekujur tubuhnya. "bang ... * * * Hendra masih tak sadarkan diri saat ketiga pria itu membawa Hendra ke tempat persembunyian baru mereka. Hendra duduk dengan kedua lengannya diikat keras pada kursi itu. Karung hitam masih terpasang menutupi kepala Hendra. Byur!!! Salah satu preman itu menumpahkan satu ember air tepat di wajah Hendra yang tertutup. Sebentar, tampak sebuah pergerakan. Hendra tersadar dari pingsannya. "Bukankah saya sudah memberitahu anda untuk menyetujui apa yang saya tawarkan kemarin?" Eza sengaja tidak membuka penutup kepala Hendra, ia mau Hendra tidak mengetahui di mana ia ditahan kali ini. Dari laporan Anak buahnya, Eza mulai mempertimbangkan keberadaan Kacir di samping Hendra. "lo pikir gue bego? kalo gue jual Ana dan Maria, Gue akan jadi orang kaya raya ... Ha ha ha ha ..." Tawa Hendra menggema di ruangan itu. "Tapi maafkan saya, penawaran itu sudah kadaluarsa. Saat ini saya tidak punya pilihan lain, selain melaporkan anda ke polisi dan menyerahkan pisau berdarah itu sebagai barang bukti. 20 tahun hukuman penjara sudah pasti menanti anda." "ha ... ha ... ha ..." Hendra kemari tertawa, "gue gak takut, gue gak takut!" Eza memberi isyarat pada anak buahnya agar menyuntikan obat yang mampu membuat Hendra tak sadarkan diri. Setelah Hendra tak sadarkan diri, Eza meninggalkan tempat itu. Ia akan kembali ke rumahsakit bukan untuk bertemu dengan Ana, melainkan dengan Irgi. Eza akan meminta tolong pada Irgi untuk bisa melakukan test pengecheckan pada Hendra..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN