25

1230 Kata
"Dokter bilang kalau kondisi Maria sudah sangat lemah, kalaupun harus dilakukan transplantasi sumsum tulang belakang, operasi itu harus segera dilakukan." Selama ini Ana bersikap dingin pada Maria karena Ana mencoba menyembunyikan kesedihannya. Bohong jika Ana tidak merasa sedih dengan apa yang dialami oleh Maria. "Tapi keadaan Maria tampak baik-baik saja." Eza justru menimpali ucapan Irgi, di mata Eza Maria tampak begitu ceria. Bahkan Eza jarang atau malah sama sekali tidak pernah melihat Maria mengeluh pada Ana ataupun tampak lemah. Senyum Maria selalu tersungging, apalagi saat Maria bercerita tentang suatu hal yang membuatnya benci, sesih atau senang, Maria akan mengekspresikannya dengan baik. "Selama ini kita dibohongi, bahkan gue kaget saat dokter menjelaskan bagaimana kondisi Maria." Dalam sekejap Eza teringat akan keadaan Alya dulu. Saat Alya dengan rapihnya menyembunyikan penyakit yang menggerogotinya. Justru penyesalan Eza kian begitu terasa dalam. Sekian detik Eza menolah pada Ana yang masih menunduk, baru tadi pagi Eza melihat Ana tersenyum saat dirinya mengajak Ana berkeliling di pusat perbelanjaan. Eza bisa mendengar suara Ana yang sebenarnya memiliki tipikal suara yang nyaman untuk di dengarkan, namun sayangnya Ana lebih memilih untuk diam. Menjauh dari kehidupan sosial seperti yang dilakukan oleh orang lain. Tidak, rasanya Eza tidak akan tega jika kesedihan dan kekecewaannya dulu harus dirasakan oleh Ana. Ia harus segera kembali mencari Hendra. Kesepakatan yang ia buat kemarin belum mencapai persetujuan. Jika memang cara kasar lebih bisa membuat Hendra menurut, maka Eza akan melakukannya. "Saya mau melakukan test untuk operasi pendonoran susmsum tulang belakang Maria." "Tapi An," "Saya harus pergi ke mana?" Ana benar-benar kalut melihat keadaan Maria sekarang ini, bukan hanya Maria yang tak kunjung sadarkan diri, namun ternyata selama ini Maria sendirian menghadapi rasa sakitnya. Ana justru tidak bisa menjadi tempat bagi Maria untuk berkrluh kesah. Lalu apa gunanya Ana selama ini ada di samping Maria. Maaf kalau kakak selama ini hidup menjadi seorang yang kaku. Maaf kalau selama ini kamu tidak bisa jujur pada kakak dengan apa yang kamu rasakan. Penyakit kamu, penderitaan kamu, bahkan ayah yang sama sekali tidak mempedulikan kita. Kakak sibuk mencari uang dan sekarang kakak justru sibuk dengan pekerjaan kakak, menitipkan kamu pada orang lain. Kenapa hidup sangat menghimpit kita. * * * "Transplantasi sumsum tulang dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan fungsi sumsum tulang yang rusak. Prosedur ini dilakukan dengan cara memasukan sel punca yang sehat ke dalam tubuh pasien." Ana yang ditemani oleh Irgi, mendengarkan penjelasan dari dokter yang yang menangani Ana. Eza memilih menunggu di ruang rawat inap Maria, padahal Eza akan pergi menemui anak buahnya untuk membawa Hendra ke hadapannya. "Sebelum menjalani transplantasi sumsum tulang, ada beberapa hal yang perlu diketahui dan ibu Ana lakukan." Dokter memberikan selembar kertas pada Ana. Ana harus melakukan test darah terlebih dahulu dan DNA. Agar dokter bisa mengetahui apakah ada kecocokan di antara Ana dan Maria. "Kita akan check kondisi tubuh bu Ana terlebih dahulu. Jika memang memungkinkan, kita bisa melakukan operasi itu secepatnya. Biasanya saudara kandung presntase kecocokannya lebih besar." Ana menghela nafas kasar, andai Ana adalah saudara kandung Maria. Ia tidak akan bersedih hati atau khawatir Maria tidak akan selamat karena apa yang Maria butuhkan ada dalam diri Ana. Tapi, sayangnya tidak. Ana adalah orang lain bagi Maria. Satu-satunya harapan Ana adalah Hendra. Meski Ana tau jika Hendra tidak akan mau untuk melakukan operasi itu. * * *  "Terimakasih."  Begitu keluar dari ruangan dokter, Ana segera mengucapkan terimakasih pada Irgi.  "Apa yang membuat kamu khawatir?"  "Apa saya tampak seperti itu?" Irgi teringat akan ucapan Eza malam itu, Ana adalah orang yang tertutup. Tentu saja, Irgi tidak akan memaksa Ana untuk bercerita apa yang sedang Ana pikirkan saat ini.   "Dokter sudah menangani Ana, dia adalah dokter terbaik dan banyak pasien yang sudah beliau tangani." Meski tak yakin ucapannya akan menghibur Ana, namun Irgi mencoba memberikan dukungan moral untuk Ana.  "Saya permisi, ke ruangan Ana." Ana berbalik meninggalkan Irgi yang masih berdiri di depan ruangan dokter.  Kesuraman dalam hidup Ana seolah tak kunjung usai. Tentang pelariannya selama ini, tentang hidupnya yangselama ini dipenuhi dengan kesusahan dan keterbatasan. Tentang Maria yang cepat atau lambat akan menghadapi masa kritisnya. Sekarang Ana harus memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan Hendra. Hendra adalah satu-satunya orang yang bisa memyelamatkan hidup Maria. Ana tau jalannya tidak akan mudah, apalagi setelah kejadian di kontrakan waktu itu. Entah siapa yang bisa Ana tanyai soal di mana keberadaan Hendra sekarang. Kacir pastinya tidak akan mau membantu Ana lagi, tidak ada jalan lain selain Ana harus kembali ke rumah Hendra. Kembali ke rumah di mana permasalahan ini bermula.  Paling tidak Ana harus membawa uang dengan jumlah yang banyak untuk bisa memnawa Hendra menuju meja operasi. Tapi dari mana Ana bisa mendapatkan uang itu. Jika Ana datang hanya dengan tangan kosong, yang ada Ana hanya akan dipukuli atau mungkin saja bisa dihabisi.  Pikiran Ana sekarang ini benar-benar buntu. Ia tidak tau harus berbuat apa untuk bisa membujuk Hendra.  'Di mana lo simpan pisau itu?' Ucapan Hendra sore itu di parkiran apartemen tiba-tiba saja terngiang.  * * *  Ana duduk di depan ruang rawat inap Maria. Malam ini ia harus bermalam di rumah sakit untuk menjaga Maria.  "Ana ..."  Suara mamah Irgi yang begitu lembut mengagetkan Ana, sejenak Ana menatap Mamah Irgi yang sedang berjalan menghamoirinya. "Tante," sedikit senyum Ana  sunggingkan.  Begitu sampai di hadapan Ana, Mamah Irgi seger memeluk Ana. "Maaf karena tante gak bisa jaga adik kamu dengan baik."  Tubuh Ana membeku, ia hanya terdiam. Tak memberi respon pada pelukan yang diberikan oleh mamah Irgi. Belasan tahun Ana tak pernah merasakan pelukkan dari seseorang. Pelukan yang mampu menenangkan dirinya, pelukan yang memberinya kengatan dalam kedinginan di setiap kesepian. Ana berharap jika saat ini ada seseorang yang mampu mrmahami perasaannya ini.  "Bukan, ini bukan salah tante. Saya yang seharusnya menjaga Maria, bukannya malah tante dan dokter Irgi."  Mamah Irgi tidak menjawab ucapan Ana, ia justru menepuk pundak Ana pelan. Seolah mencoba meneangkan Ana. Ana hanya terdiam, sesekali ia bisa merasakan hembusan nafas dari mamah Irgi.  Ana menelan ludah, entah apa yang ia rasakan saat ini. Namun perasaan seperti inilah yang selalu Ana rindukan saat ia merasa sedih dan terpuruk. Perasaan akan dilindungi, ditenangkan oleh seorang ibu.  "Jangan pernah merasa sendiri, sekarang kamu punya tante, Irgi dan Eza."  Hanya anggukan yang diberikan oleh Ana, ia sama sekali tak ingin melepaskan pelukan ini. Biarkan Ana sebentar saja merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu, meski Ana harus meminjamnya dari orang lain.  "Kalau kamu merasa lelah, kamu bisa beristirahat. Jangan pernah sungkan untuk berbagi dengan tante. Anggap tante sebagai orangtua kamu sendiri."  Mamah Irgi, Irgi dan Eza adalah orang-orang yang tidak pernah Ana sangka akan hadir di hidupnya. Meski kebenciannya akan takdir begitu besar dan merasa jika dunia ini tak adil terhadapnya, nyatanya Ana justru diberikan hadiah oleh Tuhan. Ana diperkenalkan dengan orang-orang yang tulus mau membantu Ana. Orang-orang yang memiliki kehangatan, orang-orang yang mampu mengubah cara pandang Ana. Terutama Eza.  "Kita harus berdoa, mendoakan agar Maria kuat. Tante tau dia anak yang begitu periang, bahkan tante ataupun Irgi tidak pernah melihat Maria kesakitan. Dia makan dengan baik, istirahat dengan baik."  Andai ibu Ana sekarang ini masih hidup, Ibu Ana pasti akan mengucapkan banyak terimakasih pada Mamah Irgi. Karena sudah merawat Maria dengan baik.  Mamah Irgi melepas pelukkannya, ia menatap Ana yang hanya tersenyum tipis padanya. Bukan Ana tidak percaya, hanya saja Ana tidak tau harus bagaimana mengungkapkannya pada Mamah Irgi.  * * *  "Kalian harus bawa Hendra kemari."  "Baik bos,"  "Kali ini jangan biarkan dia lolos lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN