11

1300 Kata
Dua minggu setelah penusukan yang dilakukan oleh Hendra, membuat Hendra harus bersembunyi. Pisau yang ia gunakan untuk menusuk Ana hilang dari tangannya. Ia takut jika polisi mencarinya. "Mau sampe kapan lo di sini?" Hendra memyesap rokoknya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan salah satu temannya itu. "Sampe keadaan aman." "Nih, alamat anak lo yang sekarang." Salah satu teman Hendra memberikan selembar kertas bertuliskan sebuah alamat. "Lo emang bisa gue andelin, Cir." Hendra menepuk pundak temannya yang bernama Kacir itu. Hendra tersenyum licik, "rupanya sekarang kalian tinggal di tempat mewah." "Bang, kapan lo mau bawa anak perempuan lo ke tempat Mamih Tini?" Tidak ada cara lain, satu-satunya cara untuk melunasi hutang judinya, ia harus menjual Ana atau Maria pada Mamih Tini. Siapa yang tak kenal dengan Mamih Tini. Mamih Tini, wanita tua yang perawakannya cukup berisi. Meski usianya menginjak angka 65 tahun namun, polesan bedak di wajahnya tak pernah pudar. Setiap kerutan di wajahnya seolah tak tampak, entah dengan cara apa, ia bisa mengencangkan kembali kulit wajahnya yang mengendur. Eye shadow berwarna, alis yang tebal dan bulu mata palsu yang begitu tebal selalu menghiasi polesan make-up di wajah Mamih Tini. Dia adalah pemilik lokalisasi di wilayah kumuh, di mana Hendra tinggal selama ini. Tak hanya lokalisasi, ia pun memiliki rumah judi yang besar. Dari keuntungannya menjalankan bisnis malam itu, ia putarkan uangnya untuk menjadi seorang rentenir. Banyak orang yang terjebak hutang dengan bunga yang cukup besar, salah satunya adalah Hendra. Istri Hendra meninggal setelah melahirkan seorang putri yaitu, Maria. Putri yang sebenarnya dinanti oleh Hendra dan istrinya. Selama 25 tahun membina rumah tangga, tepat di usia ke 46, istri Hendra melahirkan Maria. Namun, karena usia yang sudah cukup tua, membuat kesehatan istri Hendra terganggu.  Istri Hendra sering sakit-sakitan dan pada akhirnya tiga bulan setelah kelahiran Maria, Istri Hendra meninggal dunia. Semenjak kepergian istrinya, Hendra berubah menjadi seseorang yang tidak lagi Ana kenal. Hendra sampai lupa mengurus Ana dan Maria. Setiap hari Ana harus mencari uang untuk membeli s**u formula untuk diminum oleh Maria. Dan juga untuk makannya sehari-hari. Lalu, apa yang dilakukan oleh Hendra? Hampir setiap hari Hendra melakukan judi, ia juga sering sekali mabuk-mabukan. Ana bahkan tak luput dari emosi Hendra. Tak jarang, Ana terkena pukul. Harta benda Hendra habis ia gadaikan untuk hutang judinya pada Mamih Tini. Dari mulai barang elektronik yang ada di rumahnya, perihiasan peninggalan istrinya, angkot miliknya, bahkan tempat tinggalnya. Sudah habis Hendra jual untuk menutupi smeua hutangnya pada Mmaih Tini, namun sayang, jerat hutangnya tak kunjung lepas. Mamih Tini meminta Ana untuk bekerja di tempat lokalisasinya. Beruntung, Ana lebih dulu kabur dari rumah itu. Meski ia tak bisa jauh dari Hendra, namun setidaknya ia tidak dijual di tempat lokalisasi itu. "Kenapa? Nenek tua itu nyari gue?" Hendra membuang rokok yang sudah hampir habis ia hisap, menginjaknya berkali-kali. "Dia bilang hutang lu udah habis tempo." "Si Ana makin hari makan kayak belut, lincah." Tangan Hendra kembali mengambil sebatang rokok dari bungkusnya. Rambutnya yang mulai memanjang, serta tak pernah ia tata, membuat wajahnya tampak menua. "Hebat juga dia bang, lewat dari maut." Kacir kembali memancing Hendra. "Jangan salah. Harusnya dia berterimakasih sama gue,  karena tusukkan pisau gue, dia dapat jackpot." Ingatan Hendra melayang pada laki-laki yang menolong Ana kala itu. Meski diterpa emosi, Hendra  masih bisa melihat sosok Eza. Dengan mobil mewahnya yang Eza palkirkan tak jauh dari tempat kejadian penusukan Ana. "Maksud abang?" "Gue bakal manfaatin laki-laki itu, gue yakin dia orang berduit." Hendra tersenyum licik. Namun, Hendra kembali mengingat soal pisau yang masih belum ia temukan. Dua kali Hendra kembali ke tempat kejadian, namun hasilnya tetap nihil. Hendra tak menemukan pisau itu. * * * Setelah pulang dari proyek, Eza tidak mengantar Ana untuk kembali ke kantor. Ia justru mengantar Ana menuju apartemen. "Kalau memang tidak ada dokumen sama sekali, saya akan buatkan semuanya, saya akan menyuruh pengacara saya untuk memebereskannya." Ucap Eza sembari mengendarai mobilnya. "Lalu bagaimana jika ternyata saya tidak cocok untuk melakukan pendonoran pada Maria? Jangan repotkan diri bapak dengan masalah saya." Ana kembali memberikan penolakan pada Eza. Bagaimana jika operasi itu tidak berhasil? Bagaimana jika operasi itu justru membunuh Maria? Bayangan itu muncul begitu saja. Maria adalah warisan paling berharga yang ditinggalkan oleh ibu angkatnya. Kasih sayang yang diberikan oleh ibu angkatnya pada Ana, tak akan pernah mampu Ana berikan secara sepadan pada Maria. Sekalipun Ana memcobanya, Ana tidak akan bisa menandingi kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Maria seolah tak memiliki masa depan, bahkan dengan penyakit yang dideritanya saat ini, Ana tak bisa menjanjikan sebuah kesembuhan. "Tidak ada salahnya jika kita coba terlebih dahulu." * * * Mobil Eza memasuki pelataran sebuah apartemen, ia sengaja memalkirkan mobilnya di depan loby. Ia ingin mampir menemui Maria. Meski sebenarnya, Ana tak mengijinkannya namun, Eza tetap memaksa untuk mampir. Sebelum sampai di apartemen, Eza terlebih dulu mampir ke sebuah toko roti. Ia membeli beberapa roti hangat yang baru saja keluar dari panggangan. Eza dan Ana memasuki loby apartemen, ia masih kenal dengan resepsionis yang bekerja di loby apartemen itu. "Selamat sore, Pak." "Sore," Lagi-lagi, Ana merasakan perlakuan yang begitu kontras. Biasanya jika Ana keluar atau masuk loby, ia sama sekali tak pernah disapa oleh perempuan yang berjaga di loby itu. Bahkan satpam pun tak membukakan pintu untuknya. Ana dan Eza menaiki lift, Ana menekan tombol angka 5 pada lift itu. 1 2 3 4 5 Ting! Pintu lift terbuka, Eza dan Ana segera keluar dari lift. Mereka melangkah menuju ujung lorong. Apartemen milik Eza memang ada di ujung lorong. Ana membawa kunci apartemen saat bepergian, ia tidak mengijinkan Maria untuk keluar. Ia khawatir jika Hendra berkeliaran dan menemukan Maria seorang diri di jalanan. "Mar?" Ana memanggil Maria begitu masuk ke apartemen. Eza yang mengekor di belakang, mendapati apartemennya sudah tampak berbeda. Seolah berwarna. Harum pewangi ruangan yang biasa kekasihnya pakai dulu,  kini sudah diganti dengan pengharum ruangan yang berbeda. Perasaan galau yang dulu biasa muncul saat Eza memasuki apartemennya, kini seolah menghilang. "Silahkan duduk, Pak." Ana mempersilahkan Eza duduk, ia masuk menuju kamarnya, mencari Maria yang tidak menyahuti panggilannya. "Maria?" Betapa kaget Ana saat melihat Maria sedang mengeluarkan banyak darah dari hidungnya di kamar mandi. "Mar? Apa yang terjadi?" Ana segera mengambilkan tissue untuk Maria terus mendongak, mencoba menahan darah segar yang mengalir dari hidungnya. "Ada apa?" Eza berdiri di ambang pintu kamar Ana dan Maria. "Hidung Maria berdarah," Ana keluar dari kamar Maria, ia ke dapur untuk mengambil persediaan tissue. "Ah, Kak Eza, gak kok, Maria gak apa-apa." Maria tersenyum sembari tetap mendongak, menahan. Tissue di apartemen tampaknya sudah habis, Ana segera keluar dari apartemennya. * * * Untunglah Lift sedang kosong, tak banyak orang yang menggunakan Lift, sehingga tak butuh waktu lama bagi Ana untuk bisa sampai ke lobby apartemen. Di bagian luar berjejer minimarket dan apotik. Ana segera keluar menuju minimarket. Tanpa memilah lagi, Ana mengambil satu kantong tissue besar, ia segera membawanya ke kasir dan membayarnya. "Mau ke mana lo?" Tangan Ana ditarik begitu saja, Ana seolah tak asing dengan suara itu. Ya, itu suara Hendra. Hendra membawa Ana menjauh dari area lobby apartemen, Hendra membawa Ana ke tempat yang sepi. Tubuh Ana dilemparkan keras-keras ke tembok, tissue yang Ana pegang terpental jauh di lantai batako. "Enak lo, tinggal di apartemen mewah." Hendra menendang perut Ana dengan kerasnya. Ana terbatuk, ia memegangi perutnya, Hendra menendang di bagian perut Ana yang terkena luka tusuk. Perlahan ia mencoba untuk kembali berdiri. Kali ini Hendra menarik kerah jaket Ana, ia menampar Ana dengan begitu kerasnya. Sudut bibir Ana berdarah, namun itu semua tak lantas membuat Ana takut. Ia tetap menatap Hendra dengan penuh kemarahan. "Lo hidup enak-enak, sementara gue harus ngumpet di lubang tikus." "Lalu, mau apalagi? Bukankah itu tempat yang cocok untuk anda?!" Hendra kembali melempar tubuh Ana ke lantai batako,  Ana kembali terbatuk, ia kembali memegangi perutnya. Hendra kini berjongkok, ia menjambak rambut Ana dengan kerasnya. "Lo kan yang nyimpen pisau itu?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN