12

1371 Kata
Langkah Ana tertatih. Wajahnya yang penuh lebam bekas tamparan dan pukulan Hendra coba ia tutupi. Jika dulu saat ia tinggal di lingkungan yang kumuh, Ana tak pernah peduli dengan amukan atau bekas pukulan yang dilakukan oleh Hendra, lain halnya dengan keadaannya saat ini. "Mar?" "Kak, apa yang terjadi?" Begitu Ana sampai di apartemen, Maria tampak kaget dengan keadaan Ana. Maria menghampiri Ana yang berjalan tertatih dengan tissue di tangannya. "Gimana mimisan kamu?" Ana justru mengkhawatirkan mimisan Maria. "Apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini?" Eza pun menghampiri Ana. "Tidak apa-apa,"  "Apa ini ulah ayah Hendra?" Ana tetap diam seribu bahasa, sama sekali tak menjawab pertanyaan dari Eza dan Maria. Ia duduk di  sofa, melepas jaketnya dan merebahkan diri. Sedang Eza mencari kotak obat yang ia simpan di lemari dapur. Eza masih ingat di mana ia meletakkan barang-barang. Bagaimanapun, Eza banyak menghabiskan waktu di apartemen ini. Setelah menemukan kotak obat, Eza duduk di samping Ana. "Maria, tolong ambilkan es batu." "Baik, kak." Maria segera mengambil es batu dari dalam lemari es. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanpa sadar, tangan Ana terus memegangi perutnya. Lebih tepatnya bekas luka tusukan yang dilakukan oleh Hendra. "Ana?" Mata Ana mulai tertutup, sedang darah segar kini merembes pada baju yang sedang dikenakan oleh Ana. Jahitan pada luka bekas tusuk milik Ana kembali mengeluarkan darah. "Darah ..." Maria yang pertama kalinya menyadari segera membangunkan Ana, namun Ana sudah tak sadarkan diri. * * * "Apa yang sebenarnya dilakukan orang ini?" Irgi, dokter sekaligus teman Eza merasa heran setelah memeriksa kondisi Ana. "Ada apa, Gi?" "Ini bekas luka tusukkan, Za. Dan luka di wajahnya juga, itu semua luka bekas pukulan." Hanya ada satu nama yang terlintas di benak Eza saat mendengar penjelasan Irgi barusan. Ya, ini semua pasti ulah Hendra. "Apa dia perlu dirawat inap?" "Iya, tapi rasanya tidak mungkin jika dia dirawat di sini. Identitasnya saja tidak ada dan luka yang dialaminya, mungkin akan membuat pihak rumahsakit menghubungi polisi." Setelah penusukkan terjadi, Eza memang membawa Ana ke salah satu rumahsakit mewah. Bukan karena ia ingin mmeberikan fasilitas yang bagus, tapi hanya di sanalah Eza bisa menyogok pihak rumahsakit agar mau menerima Ana sebagai paseinnya. Mengingat luka yang dialami Ana adalah sebuah luka tusukkan, maka itu sudah termasuk ke dalam tindakan kriminal. Di mana ada korban, saksi, maka harus ada pelaku. Sedangkan Ana, ia tidak ingin jika Hendra dilaporkan ke polisi. Maka, untuk menyelamatkan nyawa Ana, Eza harus merogoh kocek yang cukup dalam. "Lalu bagaimana? Kalau aku membawa anak itu ke apartemen sama saja bohong." "Apartemen?" "Ya, dia tinggal di apartemenku, Gi." Bagaimanapun apartemen sudah tidak aman lagi bagi Ana dan Maria. Kemungkinan besar Hendra sudah tau di mana keberadaan Ana dan Maria sekarang. Bisa saja saat malam Hendra menyelinap masuk ke apartemen itu dan justru membahayakan Maria dan Ana. "Memangnya mereka tidak punya tempat tinggal?" "Mereka yatim piatu dan adiknya menderita leukimia." Eza masih bingung, harus membawa mereka ke mana. Jika ia membawa Maria dan Ana ke rumahnya, Eza yakin kedua orangtuanya tidak akan pernah mau menerima. Apalagi Rissa, ia pasti juga tidak akan setuju. Sejenak Irgi ikut berpikir, "kalau begitu biar mereka tinggal di rumahku, Za. Aku bisa menitipkan mereka berdua pada Ibu. Setidaknya sampai luka milik anak ini sembuh." Rumah Irgi, mungkin dengan Eza menitipkan Ana dan Maria di rumah Irgi untuk sementara, mereka berdua bisa aman untuk sementara waktu. * * * "Bagaimana?" Maria tampak begitu khawatir. "Ana harus dirawat. Luka tusuknya kembali robek." Eza duduk di samping Maria, ia baru saja keluar dari ruangan Irgi. "Aku yakin ini semua adalah perbuatan ayah Hendra." Maria mengepalkan kedua tangannya. Airmatanya kembali mengalir deras. "Kalian berdua tidak mungkin kembali lagi ke apartemen itu." "Jadi, bagaimana?" "Demi keamanan kalian berdua, aku akan menitipkan kalian di rumah temanku." "Maaf karena kami merepotkan Kakak." Eza tersenyum, tangannya teerangkat, mengelus rambut Maria yang tampak sudah mulai menipis. Eza baru saja sadar, jika kulit kepala Maria sudah tampak begitu jelas. Perasaan itu kembali muncul, perasaan terluka saat Eza mengetahui kekasihnya yang mengidap tumor. Apa dulu kekasihnya juga seperti ini, menderita. Tubuhnya digerogoti oleh penyakit dan perasaannya digerogoti oleh luka yang Eza buat. Tak ada yang memahami kekasihnya kala itu, mungkin itu juga yang dirasakan oleh Maria sekarang ini. Tidak, Eza tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Untuk menebus kesalahannya dulu, ia akan menjadi orang yang baik, orang yang berguna untuk oranglain, salah satunya adalah Maria dan Ana.  * * * Malam itu Eza membawa Ana yang masih tak sadarkan diri dengan selang insfus yang masih tertancap di punggung tangannya, keluar dari tempat praktek Irgi. Dibantu oleh Irgi, Ana terbaring di tempat duduk penumpang bagian belakang. Sedang Maria memegangi infus milik Ana. Eza memastikan tak ada orang mencurigakan yang mengikutinya. Ia tidak mau kecolongan lagi. Jika alamat apartemen saja bisa Hendra temukan, maka tidak ada jaminan jika Hendra tidak bisa menemukan alamat rumah Irgi. Tiga puluh menit berkendara, mobil Eza sudah sampai di rumah Irgi. Rumah yang tidak begitu besar namun tampak begitu nyaman. Irgi yang mengekor di belakang mobil Eza turun terlebih dahulu dari mobilnya. Ia menurunkan kursi roda dari mobilnya dan meletakannya di samoing mobil Eza. Kemudian ia membuka pintu belakang mobil Eza, mengangkat Ana dan memindahkannya ke kursi roda. * * * "Mah ..." "Gi, ada apa ini?" "Tolong siapkan kamar tamu, untuk sementara," Irgi menatap Maria dan Eza yang berdiri di belakang Ana, "saudara Eza akan tinggal di sini." Ujar Irgi berbohong pada ibunya. Mamah Irgi sadar, ada yang tak beres. Apalagi melihat Ana yang tak sadarkan diri dengan infus di tangannya. "Iya, iya, sebelah sini." Maria mengikuti Irgi dan Mamahnya berjalan menuju kamar tamu. Setelah sampai, Irgi segera membaringkan tubuh Ana di ranjang. "Kalian berdua bisa istirahat di sini. Anggap saja rumah sendiri." Irgi dan mamahnya keluar dari kamar Ana dan Maria. Mereka menutup pintu kamar dan kembali menemui Eza yang berada di ruang tamu. "Ada apa ini sebenarnya? Apa yang terjadi pada gadis itu?" "Maaf tante, Eza merepotkan tante." "Jadi, mereka kenalannya Eza. Mereka yatim piatu, gak ada tempat tinggal. Demi keselamatan, Irgi bawa mereka ke sini." Mamah Irgi adalah salah satu pemilik panti asuhan. Banyak anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan itu. Dulu kekasih Eza pun sering datang ke panti asuhan itu, bahkan orangtua kekasih Eza adalah pendonor tetap di panti asuhan itu. "Untuk masalah biaya, saya akan uruskan tante." Mendengar ucapan Eza, Mamah Irgi tersenyum. "Jangan khawatirkan itu, tante pasti akan menjaga mereka berdua." "Terimakasih banyak tante." * * * Sebelum pulang dari rumah Irgi, Eza menemui Maria terlebih dahulu. Ia meminta Maria untuk mengambil ponsel milik Ana. Eza ingin melacak keberadaan Hendra saat ini. Eza harus segera menemui Hendra, untuk meminta Hendra agar melepaskan Ana dan Maria. Satu hal lagi yang terpenting, Eza akan meminta Hendra melakukan operasi pendonoran sumsum tulang belakang untuk Maria, anaknya. Eza mengambil ponselnya, ia segera menghubungi salah satu kenalannya yang bekerja di biro jasa sebagai detektif. "Halo, Wan?" "........." "Ada tugas untuk kamu, besok kita bertemu di tempat biasa." Setelah menyampaikan maksudnya, Eza segera mematikan sambungan telfonnya. * * * "Nak Maria sudah makan?" Mamah Irgi bertanya pada Maria yang baru saja selesai mandi. Maria memegangi perutnya, roti yang dibelikan Eza sore tadi masih tergeletak di meja dapur apartemen. Ia belum sempat menikmatinya. Mamah Irgi tersenyum, ia paham dengan gestur tubuh Maria barusan. "Sini, makan dulu. Tante baru saja menghangatkan makanan. Kamu bisa makan bersama Mas Irgi." Maria berjalan menghampiri mamah Irgi dan Irgi yang sedang makan. "Duduk." Mamah Irgi mempersilahkan Maria untuk duduk. Ia mengambilkan piring dan menyendokkan nasi ke piring milik Maria. "Terimakasih." Ucap Maria. Maria mengambil beberapa lauk yang ada di meja makan. Lauk pauk yang menurut Maria sangat mewah. Sayur mayur, daging dan lauk sampingan tersaji di atas meja. Bagi Maria ini adalah makanan yang mungkin dalam satu tahun pun tidak mesti bisa Maria nikmati. Bisa makan nasi sehari saja sudah sangat membuat Maria bersyukur. Apa orang kaya seenak ini, pikir Maria. Satu suapan nasi membuat hati Maria teriris, makanan rumahan yang sangat Maria rindukan. Masakan seorang ibu yang tidak pernah Maria rasakan. Tanpa Maria sadari, airmata tumpah begitu saja di pipi Maria. "Nak, nak Maria, kenapa?" Mamah Irgi yang menyadarinya segera bertanya. "Jangan menangis, kakak kamu pasti baik-baik saja." Mamah Irgi kembali menyemangati Maria. "Makasih, Tante." "Siapa kalian sebenarnya?" Tanya Irgi tiba-tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN