"Irgi,"
Mendengar pertanyaan Irgi, Mamah Irgi segera memotong ucapan Irgi.
"Makan dulu, Nak."
Selera makan Maria seolah menghilang setelah mendengar pertanyaan Irgi. Maria sadar hidupnya selama ini hanya merepotkan orang lain.
Bagaimana jika kakaknya nanti meninggal? Dengan siapa Maria akan hidup.
"Pelan-pelan, kamu bisa cerita semuanya." Mamah Irgi mengelus punggung Maria.
Andai ibu Maria masih hidup, mungkin hidupnya tidak akan serumit ini. Ayahnya tidak akan menjadi seorang penjahat dan kakaknya tidak akan terbaring lemah akibat luka tusukkan yang dilakukan oleh ayahnya sendiri.
Bagaimana Maria akan mulai bercerita pada kedua orang yang ada di hadapannya saat ini. Maria yakin dua orang ini adalah orang baik. Apalagi Irgi adalah seorang dokter. Apa yang akan mereka lakukan jika mendengar kalau yang menusuk Ana adalah ayahnya sendiri.
Bagaimana Maria akan bercerita kalau dia dan Ana akan dijual ke sebuah lokalisasi oleh ayahnya sendiri hanya untuk menutupi seluruh hutang judinya?
* * *
Inilah kehidupan yang diimpikan oleh Maria. Hidup dnegan penuh kedamaian. Rumah yang dihuni oelh orang-orang yang berbelas kasih. Seorang ibu yang sibuk menyiapkan sarapan di dapur, seorang anak yang sibuk siap-siap untuk pergi bekerja.
Hati Maria teriris, kenapa dunia begitu tak adil padanya?
Tanpa sadar ia kembali mengusap air matanya kembali.
"Maria..."
Maria yang sedang berdiri di ambang pintu kamar segera menoleh pada Ana. Maria segera menghampiri Ana.
"Kak, Kakak sudah sadar. Kakak mau minum?"
Ana menatap ruangan sebentar, meneliti ke seluruh penjuru. Sepertinya kamar yang ia tempati ini berbeda dengan kamar yang ada di apartemen.
"Kita di mana?"
"Kita di rumah teman Kak Eza."
Ana memegang perutnya pelan, ia kembali mengingat kejadian di palkiran apartemen sore itu. Hendra yang tak henti memukulinya dan menendang perutnya.
"Kak Eza bilang kalau apartemen sudah tidak aman untuk kita tinggali. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tidak, Ana tidak akan menceritakan insiden pemukulan itu. Ana tidak mau jika Maria makin merasa ketakutan dan terancam.
"Maria, Maria ..." Mamah Irgi masuk ke kamar Maria, "kakakmu sudah sadar?"
"Tante," Maria segera menoleh dan berdiri.
"Kamu butuh sesuatu?" Mamah Irgi mendekat, bertanya pada Ana.
"Ma-maaf kami sudah merepotkan, saya janji setelah ini, kami berdua akan pergi."
Mamah Irgi hanya tersenyum, ia mengingat kejadian saat dulu kekasih Eza ada di rumahnya. Reaksinya sama percis dengan Ana saat ini.
"Eza menitipkan kamu di sini, tugas tante, menjaga kalian berdua. Anggap saja ini rumah kalian. Lagipula kondisi kamu masih lemah."
"Apa yang dibilang tante ada benarnya, Kak." Tatapan Maria seolah membujuk pada Ana.
"Maria sekarang kamu ke meja makan, sarapan bareng sama Mas Irgi, tante mau bawakan Kakak kamu sarapan."
Maria menatap Ana, meminta persetujuan dari Ana. Setelah melihat Ana mengangguk, Maria segera berjalan menuju ruang makan.
* * *
Semangkuk bubur hangat dan segelas s**u tersaji di atas nampan. Mamah Irgi membawa sarapan itu ke kamar Ana.
Mamah Irgi membantu Ana untuk bangun dari posisi tidurnya. Ana merindukan hal kecil seperti ini dari seorang ibu. Saat sakit, ada orang yang mau mengurusnya. Menyiapkan makan, khawatir pada keadaannya. Hal kecil yang tidak akan pernah Ana dapatkan sampai kapanpun.
"Mau tante bantu suapin?"
"Saya bisa sendiri."
Mamah Irgi mengangguk, ia kemudian memberikan sendok pada Ana. Ia beranjak membuka korden jendela, membiarkan sinar matahari masuk ke dalam kamar. Mamah Irgi bisa melihat wajah Ana dengan begitu jelas. Kulitnya yang putih, pucat pasi, tampak tak begitu sehat. Rambutnya yang berwarna biru kian memudar. Tubuh Ana yang begitu kurus tampak begitu jelas.
"Bagaimana, buburnya enak?"
Ana hanya mengangguk pelan, rasa bubur yang sedang ia nikmati saat ini sama percis dengan bubur yang dulu selalu dibuatkan oleh ibu angkatnya saat ia sakit.
"Kalau kamu mau tambah, tante bisa ambilkan. Anggap saja ini adalah rumah kamu. Jangan segan-segan."
Mamah Irgi mengelus rambut Ana pelan. Selama ini Mamah Irgi hanya tinggal bersama Irgi, melihat Ana dan Maria ada di sini, mamah Irgi merasa cukup senang.
* * *
Eza termenung di ruangannya, pikirannya masih tertuju pada Ana dan Maria. Setelah selesai rapat tadi pagi, Eza hendak ke rumah Irgi namun Rissa menahannya terlebih dahulu. Eza sadar jika sekarang ini ia adalah pemegang saham terbesar di perusahaannya, bagaimanapun ia harus bertanggungjawab akan jalannya perusahaan propetynya sekarang ini. Nasib ribuan karyawan ada di tangannya saat ini. Ia tidak mungkin bertindak semena-mena.
Namun, hal terpenting saat ini adalah Eza menyelamatkan Ana dan Maria terlebih dahulu. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah menemukan Hendra. Eza harus memaksa Hendra agar mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Maria. Eza tau Hendra pasti tidak akan dengan mudah memberikannya, apalagi setelah tau cerita dari Maria bahwa Hendra sedang terjerat hutang sampai harus menjual Ana ataupun Maria untuk melunasi hutangnya, Eza yakin Hendra akan meminta imbalan yang cukup besar untuk mau melakukan operasi pendonoran itu. Tapi, Eza punya senjata rahasia yang mungkin bisa membuat Hendra mau melakukan itu semua dengan suka rela dan bahkan menjebloskan Hendra ke penjara atas percobaan pembunuhan pada Ana.
"Hai, Za ..." Edrick masuk ke dalam ruangan Eza dengan membawa sebuah map.
"Hey, Drick masuk."
Edrick menyerahkan map yang ia pegang pada Eza, "ini laporan keuangan dari hasil rapat tadi. Kalau lo masih butuh yang lainnya lagi, lo kontak gue aja."
Eza memeriksa sebentar kertas laporan yang ada di dalam map tadi. "Ok, akan saya pelajari, Drick. Ehm, saya mau minta tolong, boleh?"
"Kalau gue bisa bantu, gue akan bantu."
"Kamu punya kenalan detektif yang cakap dan berpengalaman?"
"Ada, lo butuh jasa detektif buat apa?"
Sejenak Eza ragu untuk memberitahu Edrick, apalagi Edrick adalah suami dari Rissa adik kembarnya. Tidak mungkin jika Eza memberitahu Edrick bahwa detektif itu ia sewa untuk mencari seorang Hendra.
"Untuk mencari seseorang,"
* * *
Irgi duduk di teras rumah, menemani Ana yang juga sedang duduk di teras. Ingatan Irgi melayang saat Terra, kekasih Eza kala itu ada di rumahnya. Kini, Irgi kembali harus merawat seseorang yang dibawa oleh Eza ke rumahnya.
"Ada yang salah?"
Ana sadar jika sedari tadi Irgi tak melepaskan pandangannya sama sekali dari Ana.
"Tidak, hanya saja kondisi sekarang, mengingatkan saya akan seseorang."
"Siapa?"
"Terra, kekasih Eza."
Kedua kalinya Ana harus mendengar bahwa dirinya dianggap sama dengan kekasih atasannya itu.
"Apa yang membuat dokter berpikiran seperti itu?"
Mungkin dari Irgi Ana bisa mengorek apa yang sebenarnya terjadi di antara Eza dan kekasihnya. Setidaknya apa yang selama ini menjadi pertanyaan Ana tentang alasan mengapa Eza sangat bersikukuh ingin menolongnya.
"Kalian memiliki persamaan." Irgi seperti baru menyadarinya, sesuatu yang ada pada Terra dulu, juga ada pada Ana saat ini.
"Apa anda berpikiran bahwa saat ini saya sengaja melakukan ini semua?"
Irgi tersenyum, "apa kamu punya alasan kuat untuk menyangkal pertanyaanmu itu?"
"Mendapatkan kemudahan dalam hidup dari belas kaishan rasanya lebih memalukan daripada saya harus meminta-minta atau mengais makanan sisa di jalan."
Lagi-lagi perasaan Irgi terenyuh, mendengar cara Ana berbicara benar-benar membuat Irgi teringat pada Terra.
"Apa yang dimiliki oleh orang itu? Kenapa semua orang menganggap bahwa saya sengaja melakukan ini semua agar Pak Eza merasa iba terhadap saya dan mau memberikan apa yang dia punya untuk saya."
"Kalian sama-sama pantang menyerah, hanya bedanya Terra tidak pernah terlibat hal-hal kriminal seperti kamu."
Mendengar ucapan Irgi, Ana memegangi luka tusuknya.
"Kalau bukan Eza yang meminta agar saya menolong kamu, saya rasa, saya tidak akan melakukannya. Siapa kalian sebenarnya? Apa yang kamu mau dari Eza? Kenapa Eza bisa bertemu dengan orang-orang seperti kalian?"
"Orang-orang seperti apa, Gi?"
Irgi tampak kaget melihat Eza sudah berdiri di belakang depan rumahnya.