14

2056 Kata
"Orang-orang seperti apa, Gi?" Suara Eza mengagetkan Irgi dan Ana yang sedang serius membicarakan Ana dan Maria. Irgi membuang muka, kenapa Eza harus muncul sekarang pikir Irgi. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" Eza kembali bertanya. Eza berjalan menuju teras rumah Irgi, berdiri di samping Ana yang sedang duduk di atas kursi roda. "Mumpung lo udah di sini, gue mau kalian menjelaskan apa sebenarnya hubungan kalian berdua dan apa yang terjadi sama gadis ini." Irgi menunjuk pada Ana. Eza menatap Ana dengan seksama, jika Eza harus meminta izin pada Ana, Eza yakin Ana tidak akan pernah mau menceritakan apapun yang ia alami. Benar saja, Ana menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat pada Eza agar tidak menjawabnya. Ana merasa tidak enak jika keberadaan Ana sekarang justru membuat hubungan pertemanan Irgi dan Eza retak. "Apapun yang ada di pikiran kamu sekarang ini, yang jelas keadaan Ana dan adiknya tidak dalam posisi yang aman." Bukan jawaban seperti ini yang Irgi harapkan, ucapan Eza barusan sama sekali tidka menjawab pertanyaan Irgi. "Kalau kalian tidak mau jujur, saya tidak akan bisa menolong kalian. Silahkan keluar dari rumah saya." Irgi akan bersikap tegas, ini sudah menyangkut kriminalitas. Irgi tidak akan berbaik hati hanya untuk mempertaruhkan profesinya pada seseorang yang tidak jelas. "Mereka diburu untuk dijual pada mucikari." Langkah Irgi terhenti saat mendengar ucapan Eza. "Ana distusuk oleh seseorang yang hendak menjualnya ke mucikari." "Lalu kenapa kalian tidak melapor pada polisi?" "Tidak semudah itu." "Kenapa?" Tanya Irgi. "Dia bilang dia bisa menyelesaikannya sendiri." Irgi menatap Ana, sedang Ana menbuang muka. Ana tau saat ini pasti Irgi sedang merasa kasihan pada Ana. "Tolong, saya mohon, jangan repotkan diri kalian untuk melakukan hal yang bukan jadi kewajiban kalian." Ana segera menyelak. "See, dia selalu menolak untuk dibantu." Tidak ada yang bisa Eza lakukan jika Ana saja menolak bantuan Eza. Sekalipun Eza sudah menyewa pengacara bahkan detektif untuk bisa menyelidiki keberadaan Hendra, namun Eza tak bisa melakukannya tanpa persetujuan Ana sebagai korban dari Hendra. "Ini sudah masuk kriminal apalagi kamu sudah mengalami luka tusuk yang hampir membunuh kamu. Kalian pikir bisa menyelesaikan ini semua dengan tangan kalian sendiri? Jangan anggap ini hanya main-main. Bukan begini cara orang dewasa menyelesaikan masalah." Ana kembali mengingat dengan ucapan Eza saat dirinya masih dirawat di rumahsakit. Eza menawarkan diri untuk menjadi saksi dan siap melaporkan Hendra ke kantor polisi, namun Ana menolaknya. "Ana tidak mau melaporkan ayahnya ke polisi." Lanjut Eza. "Ayah? Tunggu, apa maksudnya? Jadi yang melakukan ini semua adalah ayahnya sendiri?" Fakta yang kembali membuat Irgi tercengang. Bagaimana bisa seorang ayah tega melakukan hal keji seperti pada anak perempuannya sendiri. "Pikirkan lagi apa yang Eza tawarkan ke kamu, ini semua demi keselamatan kamu dan adik kamu." Ana benar-benar tidak mau berhutang budi pada Eza, tapi justru semakin Ana menolaknya, Eza justru semakin ikut campur dengan semua yang terjadi dalam hidup Ana. * * * Malam itu beberapa orang yang sudah Eza sewa untuk mencari tau di mana keberadaan Hendra mulai bergerak. Mereka mulai mengumpulkan informasi di mana Hendra biasa berkumpul. Rencana Eza saat ini adalah menemukan Hendra dan memberikan pelajaran pada Hendra agar dia menjauh dari Ana dan Maria. Sedang Hendra yang sudah bersembunyi karena dikejar oleh anak buah Mamih Tini untuk segera membayar hutang kini semakin terpojok, saat Kacir memberitahu Hendra bahwa ada orang-orang yang sedang mencarinya juga. "Lo yakin mereka bukan polisi?" Hendra bertanya pada Kacir. Kacirlah yang amsih setia melayani Hendra, bukan karena dia sangat menyanjung Hendra. Namun, sejak kecil bagi Kacir yang seornag yatim piatu, Hendra adalah penolong dalam kehidupannya. Hendra sering mengajak Kacir menarik angkot dna memnerinya sedikit upah untuk sekedar Kacir makan atau jajan. "Bukan bang, kata Warno, gelagat mereka tidak seperti polisi." Jawab Kacir. Malam ini ia datang menemui Hendra di tempat persembunyian Hendra, ia membawakan makanan untuk Hendra. "Sialan, pisau itu ternyata tidak ada di tangan Ana. Kalau pisau itu belum ketemu, gue belum bisa merasa aman." Setelah kejadian pemukulan di apartemen itu, Hendra baru sadar kalau Ana pun tidak mengetahui soal keberadaan pisau yang digunakan oleh Hendra pada malam penusukkan Ana itu. "Abang yakin sudah periksa di semua tempat?" "Gue udah bolak-balik, tapi pisau itu memang gak ada di sana." Nasib Hendra tergantung pada pisau itu dan pada nurani Ana. Tapi Hendra yakin, Ana tidak akan mungkin melaporkannya pada polisi.Jika memang Ana hendak memenjarakan Hendra, dari dulu pasti Ana sudah melakukannya. "Tunggu, atau jangan-jangan pisau itu ada di tangan si pria kaya raya itu?" "Bisa gawat, bang." Kebebasan Hendra bisa terancam kalau memang pisau itu berada di tangan Eza. Jika Ana yang menyimpannya, Hendra yakin Ana tidak akan tega untuk melaporkan Hendra pada polisi. Sekalipun pisau yang digunakan untuk menusuknya Ana pegang sendiri. Atau lebih buruknya lagi, Ana justru akan mengembalikan pisau itu pada Hendra namun, tepat di perut Hendra. Sama seperti yang dilakukan Hendra padanya. Ana pasti lebih memilih untuk membunuh Hendra daripada harus melaporkan Hendra ke kantor polisi. "Gimana, lo lihat mereka berdua balik ke apartemen itu?" "Gak bang, mereka gak balik ke sana. Bahkan saya tidak melihat mobil pria kaya raya itu memasuki pelataran apartemen." Hendra memang memukul Ana dengan begitu kencangnya. Ia bahkan berkali-kali menendang perut Ana. Hendra benar-benar melampiaskan kemarahannya pada Ana. Rasa gundah, takut, membuat Hendra kalap dan membabi buta memukuli Ana. Hendra tak peduli dengan rintihan Ana, sampai Ana hanya meringkuk di lantai batako pun, Hendra hanya bergeming. Ia justru semakin merasakan sebuah amarah. "Abang pukulin Ana lagi?" Kacir memang anak buah Hendra yang selalu setia. Meski tanpa bayaran sepeserpun Kacir tetap melakukan apa yang selalu Hendra perintahkan padanya. Salah satunya mengawasi Ana dan Maria. Dulu, saat Maria masih tinggal bersama Hendra, Kacir sempat menaruh hati pada Ana. Bahkan Kacir sempat meminta pada Hendra agar Hendra mengijinkan Kacir untuk menikahi Ana. Di lubuk hati Kacir yang terdalam, Kacir tidak rela dan merasa iba saat melihat Hendra memukuli Ana. Tubuh kurus Ana tidak mungkin bisa menahan pukulan kuat yang dilayangkan oleh Hendra. Hendra bukanlah manusia polos, ia selalu mengulur waktu. Memberikan banyak alasan pada Kacir. Dalam otak Hendra, daripada ia memgawinkan Ana dengan Kacir, lebih baik Hendra memberikan Ana pada Mamih Tini. Dengan begitu semua hutang Hendra akan lunas. "Laki-laki kaya itu sepertinya tidak bodoh." Hendra menyalakan sebatang rokok, kemudian menyesapnya, mengebulkan asapnya di udara. Hendra tidak menjawab pertanyaan Kacir, ia justru mengalihkan pembicaraan. "Bang, abang pukul Ana lagi? Jawab saya bang!" "Lo kenapa, Cir? Gue cuma kasih pelajaran ke dia. Toh walaupun gue pukul dia, dia anak gue. Lo gak usah ikut campur, kecuali kalo nanti lo kawin sama Ana." Kacir terdiam, ia mengepalkan kedua tangannya. Mendengar jawaban Hendra yang kembali memukuli Ana membuat Kacir emosi. 'Andai gue bisa bunuh elo bang!' * * * Isakkan itu tak bisa lagi dibendung oleh Eza. "Gak, kamu gak akan ke mana-mana. Kamu gak akan pergi ke mana-mana. Setelah kamu bangun nanti kamu boleh lupain aku, kamu boleh benci sama aku asal kamu ada di samping aku. "Bangun Te, bangun. Aku janji, aku gak akan nyalahin kamu lagi sekalipun seumur hidup kamu, kamu bakal benci sama aku setelah bangun nanti. Karena sedikitpun perasaan aku ke kamu gak akan pernah berubah, aku cinta sama kamu, sejak pertama kamu datang di hidup aku, dan selamanya akan tetap sama. Eza menangis tersedu dengan menggenggam tangan Terra, ia tak bisa menghentikan air mata itu. Penyesalan yang luar biasa kini ia rasakan. Penyesalan yang seumur hidupnya membuat dirinya tampak bodoh dan tak punya perasaan. "Maaf karena aku pernah raguin perasaan kamu, maaf karena aku pernah ninggalin kamu, maaf karena aku udah nyakitin kamu, maaf karena aku udah jadi pengecut, maaf karena aku kamu jadi kaya gini." Mungkin sudah terlambat untuk mengungkapkan semuanya. Mungkin sudah tidak akan ada lagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. "Alya ... !!' Eza terbangun dari tidurnya, nafasnya tersengal. Ia baru saja bermimpi bertemu dengan kekasinya yang terbaring di rumahsakit. Wajah Alya yang pucat pasi begitu jelas di pandangan Eza. Seolah nyata bahkan Eza bisa menangkup wajah Alya. "Alya ... Eza memanggil nama kekasihnya itu dengan begitu lirih. Perasananya kembali terasa hampa. Eza tidak pernah lupa untuk selalu menjenguk Alya di tempat peristirahatannya, meski saat ini Eza sibuk dengan perusahaan dan urusan Ana. Rencananya besok pagi Eza akan berkunjung ke makam Alya. Ia akan bercerita tentang apapun yang ia lakukan sepekan sebelum ia berkunjung ke makam Alya. Tangan Eza mengambil sebuah foto di atas nakasnya. Foto dirinya, Alya dan anak angkatnya, Raihan. Raihan dan Alya harus kembali ke pangkuan yang maha kuasa lebih dulu. Andai Eza bisa menyusul mereka berdua, mungkin Eza tak akan menjadi seorang yang gila dan hampir tidak bisa menemukan kehidupannya kembali. "Maaf, akhir-akhir ini aku lupa sama kamu. Aku sedang sibuk menolong orang yang bernama Ana dan Maria. Seperti yang kamu bilang, kita harus selalu menolong orang yang menbutuhkan, sayang." Eza mulai bercerita pada foto di tangannya itu. Ia mencium foto itu dengan penuh kasih sayang. Seolah tertembak satu peluru kemudian bersarang tepat di jantung, tak lepas. Menyakitkan. Tak bisa lagi merasakan rasa sakit, mati rasa, katanya. Hanya bisa tertawa, tawa yang mengejek sebuah takdir yang sudah terjadi. Tertawa sampai dia terjatuh dan kembali meneteskan air mata di tengah tawanya. Andaikan bisa bertanya, mungkin Eza akan bertanya. Kenapa ia harus berpisah? Kenapa ia harus melepaskan Terra untuk selama-lamanya? Kenapa Terra memilih untuk pergi bukan untuk berjuang? Kenapa? "Kali ini aku akan mejadi irang baik, aku akan menolong mereka berdua. Jika dosa-dosaku selama ini terhadap kamu tidak bisa aku tebus, maka ijinkan aku menebusnya sekarang melalui mereka berdua." Eza mengelus poto Alya pelan. * * * "Waahh ... Tante mau bikin apa?" Mamah Irgi sedang mengiris beberapa balok sabun yang baru saja ia beli di supermarket. "Kamu mau bantu? Tante lagi bikin sabun buat mandi sama cuci tangan." Maria mendekat pada Mamah Irgi, ia memperhatikan tangan Mamah Irgi yang dengan lincahnya bekerja. Memotong balok sabun, memasukannya pada gelas Pyrex dan memasukkanya ke dalam panci yang berisi air mendidih. Cara ini dilakukan untuk melelehkan balok sabun yang sudah di iris-iris tadi. "Kenapa tante buat sabun sebanyak ini?" Mamah Irgi tersenyum, sembari terus mengaduk adonan sabun itu. "Tante biasanya buat ini untuk ditaruh di panti asuhan dan juga sebagian tante jual di restaurant tante." Mamah Irgi memiliki restaurant yang mengolah makanan laut. Restaurant itu menjadi sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan di Panti asuhan. "Tante punya restaurant?" "Oh, iya, tante belum cerita, ya. Tante punya restaurant seafood. Kapan-kapan kamu sama Kakak kamu tante ajak ke sana." Maria benar-benar merasa nyaman saat berada di dekat Mamah Irgi. Selama ini Maria tidak pernah dengan siapapun selain Ana. Ana selalu melarang Maria untuk dekat dengan tetangga atau siapapun itu. Ana selalu mengatakan kalau orang-orang di luar sana itu kejam. Mereka berlaku baik di depan dan mengeluh di belakang. Tapi semua omongan itu seolah terbantahkan oleh sikap Mamah Irgi. Mamah Irgi sangat baik dan ramah pada Maria. Padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu. "Makanan kesukaan kamu apa, Mar?" Rasanya Maria tidak pernah makan makanan yang begitu enak. "Ah, ayam goreng." Maria baru ingat dengan nasi dan ayam goreng yang dulu pernah Eza belikan saat Maria menemani Ana di rumahsakit dulu. "Kayaknya semua anak-anak suka sama ayam goreng, dulu Mas Irgi juga suka sama ayam goreng. Hampir setiap hari Mas Irgi minta tante buat masakin Ayam goreng." 'Kenapa semua orang begitu beruntung. Memiliki keluarga yang utuh, Ibu yang baik, kehidupan yang sempurna.' "Mamah kamu pasti sering masakin ayam goreng, iya, kan?" Maria menggeleng sembari tersenyum manis. "Ibu Maria udah meninggal waktu Maria umur 3 bulan. Maria juga baru satu kali makan ayam goreng krispi, waktu Pak Eza beliin buat Maria." Tangan Mamah Irgi berhenti sejenak saat mendengar jawaban dari Maria. "Maaf, tante gak sengaja buat kamu keinget sama Mamah kamu." "Gak apa-apa tante, walaupun Maria gak punya mamah, Maria punya kak Ana yang lebih dari siapapun." Mamah Irgi bisa melihat bagaimana kedua kakak beradik ini saling bergantung satu sama lain. Meski Ana tampak begitu dingin dan tidak mudah berbaur, namun Maria dengan sikapnya yang begitu polos, mampu mengimbanginya. "Nanti, tante akan masak ayam goreng buat kamu. Kamu bisa makan sepuasnya." Menebus rasa bersalahnya, Mamah Irgi mencoba menghibur Maria. "Beneran?" "Iya, tapi kamu harus bantu tante dulu selesaikan sabun ini." "Oke, siap, tante." * * * "Maria tolong ambilkan pewarna hijau yang tulisannya bubuk brokoli." Sejenak Ana memeriksa beberapa bungkus bubuk, tidak ada yang membedakan satu sama lain. Semua bubuk dibungkus menggunakan kertas berwarna cokelat. "Sudah, Mar?" "Ah, maaf tante yang mana?" Mamah Irgi merasa heran, kenapa Maria tidak bisa menemukannya, apa Maria tidak bisa membaca?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN