15

1891 Kata
Flashback on "Apa yang terjadi sama Alya, tante?" Hana meneguk teh di cangkirnya, ia mencoba menenangkan perasaannya. Bukan hal mudah untuk mengungkit apa yang membuatnya sakit hati dan merasa sedih. "Dari mana tante harus memulai?" Eza tidak menjawab dia hanya menunduk, ia terlalu malu untuk mendongak menatap wajah Hana. "Tante rasa, tante tidak perlu menjabarkan apa yang sudah tante pendam selama ini. Karena kehilangan seorang anak, bukanlah suatu hal yang begitu saja bisa dilupakan." Hana mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kunci rumah. Dengan gantungan dua huruf A&E, Eza tahu percis kunci rumah siapa itu. "Ini," Hana menyodorkan kunci itu pada Eza. "Tante rasa kamu lebih berhak buat ngurusin apartemen itu. Bukan tante ataupun keluarga Alya yang lainnya." "Tapi, tan-" "Pembicaraan kita sudah selesai, tante harap kamu gak datang lagi ke rumah tante ataupun Alby, semuanya sudah berakhir. Dan tante harap, ini pertemuan kita untuk yang terakhir kalinya." Tanpa basa-basi lagi, Hana meninggalkan Eza yang masih terpaku di kursinya. Rasa bersalah itu benar-benar semakin memuncak di diri Eza, semua pertanyaan di benaknya belum ada satupun yang terjawab. * * * Eza pulang dengan perasaan yang entah bagaimana hancurnya, ia benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaannya saat ini. Marah, kecewa, sedih itulah yang saat ini Eza rasakan. Sesekali jemarinya meremas kemudi, melampiaskan kekecewaannya. Fokus menyetir Eza terganggu. Sampai ia tak sadar, mobil yang ia kendarai hampir saja menabrak seorang  anak sekolah yang hendak menyebrang. Suara klakson terdengar begitu kencang, orang yang ada di sekitar tempat kejadian memukuli kaca mobil Eza, Eza yang masih syok hanya terdiam di dalam mobilnya. "Woy! Keluar, woy!" Teriakkan itu menyadarkan Eza, Eza perlahan membuka sitbeltnya, ia lalu keluar dari mobilnya. "Lo bisa nyetir gak sih? Lo gak lihat di depan anak-anak mau nyebrang?!" "Tanggung jawab lo!" Semua orang saling bersahutan, menunjuk-nunjuk ke arah Eza. Tatapan Eza kini beralih pada anak sekolah yang mengenakan seragam sekolah menengah pertama,  anak lelaki itu memegangi siku dan lututnya yang berdarah. "Saya akan bertanggung jawab, saya akan bawa anak ini ke rumah sakit," Eza mencoba menenangkan massa, ia segera berjongkok dan menggendong anak itu masuk ke dalam mobilnya. * * * "Aku urus administrasinya dulu, kamu tunggu di sini ya." Irgi dan Terra baru saja sampai di sebuah rumah sakit, hari ini Terra akan memeriksakan kakinya. Terra duduk di bangku sebuah rumah sakit, banyak orang berlalu-lalang di sana. Tiba-tiba mata Terra tertuju pada seorang lelaki yang baru saja masuk ke dalam rumah sakit, lelaki itu menggendong seorang anak laki-laki menuju ruang IGD. Terra terus menatap lelaki itu, entahlah sesuatu seolah menggelitik perasaannya. Seperti ia pernah mengalami kejadian ini. Melihat seorang lelaki yang menangis, kebingungan, dengan seorang anak lelaki yang terbaring di ranjang dorong dengan darah yang mengalir deras. Hati Terra tiba-tiba terasa sakit. "Te?" Panggilan Irgi menyadarkan lamunan Terra, dengan segera ia menoleh ke arah Irgi. "Iya, Gi." "Kamu lihatin apa?" "E? Enggak, udah selesai?" "Iya ini, kita naik ke lantai dua, daftar buat dokternya." Terra beranjak dari duduknya dibantu oleh Irgi, mereka lalu berjalan menuju lift. Sesampainya di lantai dua Terra kembali mengantri di salah satu ruang pendaftaran untuk dokter spesialis. Irgi menyuruh Terra untuk duduk di bangku yang sudah disediakan. Irgi bilang dokter ini cukup terkenal, oleh karena itu agak susah untuk membuat janji. Tiga puluh menit berlalu, Terra sudah selesai berkonsultasi dengan dokter, ia disarankan untuk melakukan rontgen pada kakinya, ia harus kembali ke lantai satu lagi karena ruangan rontgen berada di lantai satu tepatnya di samping ruang IGD rumah sakit tersebut. Terra kembali harus mendaftar untuk melakukan rontgen, untunglah Irgi dengan suka rela membantu Terra. Terra duduk di depan meja kasir, matanya fokus menatap ke arah layar televisi yang ada di hadapannya. Saat itu ruang pendaftaran begitu padat, entahlah kenapa rumah sakit ini begitu ramai. Karena terlalu pegal, Terra menarik satu bangku lagi, ia hendak meletakkan kaki sebelah kanannya di atas bangku. Namun sesuatu terjatuh tepat di hadapan Terra, membuatnya berhenti menarik kursi. Terra sedikit membungkuk, ia mengambil barang yang terjatuh itu. Sebuah cincin perak, Terra menatap cincin itu dengan seksama. Posisi Terra masih menunduk sembari memegangi cincin itu. "Maaf, itu punya saya." Terra mendongak lalu menyerahkan cincin itu, " oh, iya, ini." Lelaki itu tak kunjung menerima uluran tangan Terra, ia masih menatap lekat ke arah Terra. "Mas? Ini." Terra mencoba memanggil lelaki itu kembali namun tak ada respon, hingga Irgi datang. "Te?" Lelaki itu ikut menoleh ke arah suara, Te? Batinnya, siapa Te? "Siapa?" Irgi menunjuk ke arah lelaki itu. Terra hanya menggeleng, ia memang tidak tahu siapa lelaki itu. "Itu apa?" Mata Irgi menatap ke arah jemari Terra. "Ah, ini cincin, tadi jatuh di sini." Terra menunjuk ke arah bawah bangku. "Tapi ini punya masnya, udah selesai?" "Oh, udah nih. Ayo kita ke ruangan di sebelah." Irgi lalu membantu Terra untuk berdiri. "Mas, cincinnya saya taruh di sini." Lelaki itu masih terdiam, ia menatap kepergian Terra dengan penuh tanda tanya. Lidahnya seolah kelu untuk berbicara. Setelah Irgi dan Terra berlalu, lelaki itu baru tersadar, ia segera berlari hendak mengejar Terra dan Irgi. "Aku yakin, itu Aldy. Tapi kenapa dia gak ngenalin aku?" Lelaki itu bergegas namun sayang, Terra dan Irgi sudah tidak ada. * * * "Kamu gak ke rumah sakit lagi?" "Aku sama Mama ada janji makan siang sama adik sepupu aku, dia baru balik dari Kanada dan sebentar lagi dia mau nikah, dia bilang dia mau ngenalin calon suaminya ke Mama." Terra dan Irgi sudah pulang dari rumah sakit, mereka berdua dalam perjalanan menuju sebuah tempat makan. "Kamu ikut aja," ajak Irgi pada Terra. "Itu acara keluarga, aku gak mau ganggu." Irgi tersenyum mendengar kata-kata Terra, " kamu juga bagian dari keluarga aku." Tangan Irgi tiba-tiba menggenggam jemari Terra. Terra yang sedang menatap ke arah luar jendela segera menoleh dan tersenyum pada Irgi. * * * "Apa yang sebenernya terjadi, Sa?!" Setelah kembali dari rumah sakit, Eza segera kembali ke kantor dan menemui Rissa. Eza butuh penjelasan atas apa yang dilihatnya di rumah sakit tadi. "Lo ngomong apa? Gue gak paham!" "Kuburan siapa yang lo tunjukkin ke gue?" Rissa mengernyitkan alisnya, tentu saja kuburan Alya. "Elo gak bisa baca di batu nisan itu di tulis nama siapa?!" Eza menyengkram lengan Rissa dengan kerasnya, ia lalu mendorong Rissa ke dinding. "Lo jawab! Di mana Alya sebenernya?!" "Sial!" Rissa membanting lengan Eza di udara, ia lalu memegangi lengannya yang memerah. "Lo gila, Za. Jelas-jelas lo lihat itu kuburan Alya dan lo tanya di mana Alya? Waras gak sih lo?" "Kalo emang Alya udah meninggal, terus siapa yang gue lihat barusan di rumah sakit? Siapa?!" Rissa tersentak kaget, rumah sakit? Siapa? "Hari ini, gue lihat dia, gue lihat Alya!" "Apa maksud lo? Jangan ngaco!" Tidak ada korban yang selamat dalam kecelakaan pesawat itu, lalu bagaimana bisa Alya ada di Jakarta? Dan jika Alya ada di Jakarta kenapa dia tidak menemui keluarganya, apa yang sebenarnya terjadi. "Gak mungkin, Za. Jelas-jelas Alya udah meninggal dan gak mungkin sekarang dia masih ada." Eza tidak mau berlama-lama lagi, ia segera keluar dari ruangan Esa tanpa menghiraukan Rissa. Percuma, ia tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Eza harus mencari tahu sendiri. Tunggu, jika tadi benar Alya,  lalu kenapa dia sama sekali tidak mengenali Eza bahkan seolah seperti orang asing. Apa yang sebenarnya terjadi. * * * Irgi dan Terra sudah sampai di restoran milik orang tua Irgi, Irgi dan Terra sampai terlebih dahulu, mereka duduk di salah satu private room untuk tamu vvip, Terra duduk membelakangi pintu bersebelahan dengan Irgi. Sembari menunggu, Irgi dan Terra membicarakan hasil pemeriksaan kaki kanan Terra. Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Irgi menoleh dan ternyata itu Mama Irgi. "Udah lama, Gi?" "Baru sepuluh menit, Ma." Ucap Irgi sembari menatap jam tangannya. "Te, gimana hasilnya?" Mama Irgi duduk di sebrang meja di hadapan Terra. "Dua minggu lagi baru bisa dilakukan tindakan operasi, Tante." "Syukurlah, terus apa yang mesti kamu persiapin?" "Gak ada sih, paling cuma istirahat yang cukup sama minggu depan harus kontrol lagi." "Gi, jagain Terra, jangan sampe kamu kecolongan lagi, sampe Terra jatoh lagi kaya waktu itu." Irgi dan Terra saling tersenyum mendenger ucapan Mama Irgi, Mama Irgi memang memperlakukan Terra dengan sangat baik. "Terra mau ke kamar mandi dulu, Tan." "Aku anterin," Irgi hendak beranjak namun tangan Terra menahan Irgi. "Gak usah, kamu temenin tante aja, aku bisa kok sendiri." Terra kemudian berlalu ke kamar mandi yang ada di luar ruangan. * * * Eza kembali ke rumah sakit itu, ia mencoba mencari tahu di sana. Eza harus menemukan petunjuk. Bodohnya dia yang tadi hanya diam saja dan tidak berbuat apa-apa. Eza segera berlari ke tempat pendaftaran di mana ia bertemu dengan Alya tadi. "Permisi, sus, saya mau cari teman saya, dia di rawat di sini tapi saya tidak tahu di mana ruangannya. Suster bisa bantu saya?" "Iya pak, atas nama siapa?" "Alya Fahreza." Suster itu tampak mencari sebentar di layar komputernya. "Maaf, Pak atas nama Nona Alya Fahreza tidak ada." "Suster yakin?Coba cek lagi sus." Suster itu kembali mengeceknya, namun tidak menemukan nama Alya Fahreza. "Maaf pak, pasien atas nama Alya Fahreza tidak ada." Eza baru ingat, Alya dipanggil dengan nama Te, siapa Te, sial. Batin Eza. * * * "Tante," "Frea," Mama Irgi berdiri ketika melihat Frea berjalan masuk ke dalam, sepupu yang di maksud Irgi adalah Frea. "Apa kabar sayang?" "Aku kangen banget sama Tante, aku baik-baik aja, Tante gimana? Sehat kan?" "Sehat dong, sayang." Irgi tersenyum melihat Frea, banyak yang berubah sepertinya dari Frea. Dulu terakhir kali dia bertemu dengan Frea adalah saat Irgi hendak ditugaskan di Makassar. "Kamu gak kangen aku, Fre?" "Ya ampun, Irgi. Apa kabar?" Frea segera memeluk Irgi. "Pak dokter, makin kece aja." Frea menyenggol bahu Irgi sembari tersenyum menggoda Irgi. "Bisa aja kamu, Fre. Mana calon suami kamu?" "Dia lagi on the way, aku udah telfonin sih tadi. Ngomong-ngomong udah punya gandengan belum nih?" Irgi hanya tersenyum mendengar pertanyaan Frea. "Hmmm, Irgi udah punya pujaan hati," Mama Irgi segera menjawab pertanyaan Frea. "Oh, ya? Wah cepet nyusul yah, kenalin dong cewek mana yang beruntung dapat sepupu aku ini." Saat itulah pintu ruangan terbuka, Terra dengan perlahan masuk. Mama Irgi, Irgi dan Frea menoleh ke arah pintu. Betapa kagetnya Frea saat menatap wajah itu. "Nah, itu dia." Terra tersenyum dan segera menghampiri Irgi, ia kini berdiri di sebelah Frea. Frea masih berdiri mematung, siapa yang saat ini ada di hadapannya. "Fre, ini Terra, Terra ini sepupu aku, Frea." Ujar Irgi memperkenalkan Frea pada Terra dan sebaliknya. Terra mengulurkan tangannya, ia tersenyum menatap Frea, "Terra." Frea masih menatap Terra dengan penuh tanya di otaknya, siapa dia, ada apa ini. "Fre?" Frea menoleh, tepukan di bahu Frea menyadarkan lamunannya. "Oh, Frea." Dengan tingkah yang kaku Frea menerima uluran tangan Terra untuk berjabat tangan.  "Ini loh pujaan hati Irgi." Ledek Mama Irgi. Frea menoleh pada Tantenya, tak ada raut sumringah lagi di wajah Frea, ia kini terlihat menahan marah. Tentu saja, bagaimana bisa laki-laki yang menjadi batu sandungan Frea ada di sini dan bagaimana bisa dia hidup lagi. Bukankah dia sudah meninggal? Lalu apa Eza berbohong saat mengatakan itu semua? Tapi tidak, bahkan Mama Eza pun mengatakan hal itu. Lalu siapa orang ini? Tidak mungkin jika di dunia ini ada tiga orang yang sama percis. Eza tidak boleh melihat orang ini ada di sini, batin Frea. "Lalu siapa Frea itu?" Ana bertanya pada Irgi yang baru saja menceritakan masalalunya bersama Terra dan.Eza. "Frea? Dia adalah perempuan yang menghancurkan hubungan Terra dan Eza." Jawab Irgi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN