16

2032 Kata
"Frea?" Irgi kembali mengulangi pertanyaan Ana. "Frea adalah saudara sepupu saya," Semua orang mungkin tak akan lupa dengan apa yang sudha dilakukan oleh Frea. Meski irgi sudah memperingatkan Frea untuk berhenti melanjutkan hubungannya bersama Eza, namun Frea tetap melanjutkannya. Frea justru semakin berani untuk menguasai semua harta milik Eza. memanfaatkan celah di antara hubungan Eza dan Alya. Frea rela menjadi tempat pelampiasan untuk Eza. Tak peduli dengan karir yang sudah ia capai dalam hidupnya. *Flashback on "Siang Mas." "Eza di dalem?" Tanya Alya pada sekertaris Eza. "Iya Mbak, di dalem , baru selesai meeting, silahkan masuk Mas." Niat Alya hari ini ia ingin pulang bersama dengan Eza. Aldy ingin memperbaiki hubungannya dengan Eza. Tak ada kata terlambat, selama masih ada cinta di hati, Alya yakin Eza tak akan berpaling. "Apa salahnya Mas? Aku cuma suka sama kamu, aku pingin milikin kamu, dan sekali lagi kamu sama Alya gak punya ikatan yang sah." "Fre," Belum sempat Eza berkata-kata, Frea mencium bibir Eza begitu saja. Hancur perasaan Alya, tepat di depan mata, dia melihat bagaimana Eza menikmati ciuman Frea. Apakah cinta mereka berdua sudah tidak ada lagi, apakah hubungan mereka hanya tinggal ucapan semata. Bagaimana bisa Eza berbuat curang. Alya berpaling, ia menahan amarahnya. Bukan dia tak ingin marah tapi ia tahu apa yang akan terjadi jika dia meluapkan amarahnya saat ini. "Fre ..." Ada jarak di antara Frea dan Eza. "Aku sayang kamu, mas," "Kamu salah kalo kamu sayang sama aku, kamu tahu aku udah punya Alya." Hati Alya tersentuh mendengar ucapan itu, setidaknya Eza masih mengakui Alya di hidupnya. "Aku bukan kurir yang salah ketuk terus balik lagi cuma karena tahu kalo rumah itu udah berpenghuni, Mas." Saat mendengar kalimat itu, Alys merasakan sesak yang luar biasa. Tidak, dia tidak akan membiarkan Eza menjadi milik orang lain. Dia akan melindungi apa yang dirinya miliki. "Hai, Za," sikap tenang dan senyum di bibir, Alya tunjukkan. Anggap sedetik yang lalu ia tidak melihat dan mendengar apapun. "Oh, ada Frea." Alya mengulurkan tangannya, namun tatapan Alya penuh keangkuhan. Alya ingin agar Frea tahu apa posisi Alya saat ini, kalau Aldy punya hak milik atas Eza. "Hai, Al" uluran tangan itu dibalas oleh Frea. Frea terlihat kikuk, segera mungkin ia berpamitan. "Kalo gitu aku permisi dulu," "Tunggu," Eza menoleh saat mendengar suara Alya menahan kepergian Frea. "Kamu mau pulang, 'kan, Fre?" Tak ada alasan untuk Alya menahan Frea, tapi Aldy ingin memberi sedikit pelajaran pada Frea. "Bukannya rumah kamu searah sama apartemen kita?" Tatapan Alya kini tepat di wajah Frea, keangkuhan sudah mulai terpatri di dalam diri Alya Itu demi Eza, demi hubungan mereka berdua. "Gak perlu, Al. Aku bisa naik taksi." Frea tersenyum pada Alya. "Gak apa-apa kan, Za?" Seolah ingin menantang, Alya meminta pendapat Eza. "Lagian ini udah malam, gak baik cewek pulang sendiri." Eza tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Alya pada Frea. Kenapa dia mengajak Frea pupang bersama. * * * Canggung, itu yang tercipta di antara tiga manusia yang saling membisu. Yang terdengar hanyalah gesekan roda mobil yang sedang berjalan di atas aspal. "Kita bisa mampir bentar ke tempat makan Za, Aku laper." Eza mencoba menerka apa yang akan Aldy lakukan, jelas sedari tadi pun Alya tidak menegur Frea sama sekali, dan sekarang dia ingin singgah di tempat makan. "Kamu bisa makan di rumah, Al." "Aku lagi pingin makan nasi goreng, mampir yang terdekat sini aja. Gak apa-apa kan Fre? Sekalian kamu juga makan." Alya menoleh sebentar ke arah belakang. Frea mengangguk dengan sungkan, ia mengiyakan ajakan Alya. Alya tidak lapar, Alya sengaja ingin menjebak Frea dalam situasi yang Alya harap bisa membuat Frea sadar kalau Eza adalah milik Alya. Alya tidak akan begitu mudahnya melepaskan Eza. Meski ada masalah besar yang membuat hubungan Alya dan Eza merenggang, bukan berarti Frea bisa masuk begitu saja sebagai orang ke tiga. * * * Alya, Eza dan Frea sudah sampai di tempat makan. Alya duduk bersampingan dengan Eza, sedangkan Frea duduk di sebrang Eza. Di hadapan mereka sudah tersaji sepiring nasi goreng dengan uap yang masih bisa dilihat oleh mata. Alya menaruh sebanyak mungkin acar yang penuh dengan cabai dan ia menambahkan pula tiga sendok sambal ke dalam piring nasi gorengnya. "Cukup, Dy." Eza memegang lengan Alya yang hendak menyendok sambel kembali. "Kenapa? Aku lagi pingin makan pedes." Bukan, tapi suasana hati Alya sedang terasa panas. Eza mengambil piring nasi goreng milik Alya dan menukar dengan miliknya. "Kamu makan punyaku," pandangan Eza berfokus pada tangannya yang sedang memindahkan piring nasi goreng. Tanpa Eza sadari Frea menukar piring nasi goreng Eza dengan miliknya. Mungkin Eza tidak melihat tapi jelas Alya bisa melihatnya. Marah, itu yang sedang Alya rasakan saat ini. Frea benar-benar sedang berusaha keras. Mereka bertiga mulai menikmati nasi gorengnya. Alya bisa melihat Frea mulai kepedasan. Jika Alya tahu Frea yang akan memakannya, mungkin Alya akan menaruh seluruh isi sambal ke piring nasi goreng itu. Sesekali Alya bisa mendengar Frea yang terbatuk. * * * "Apa pantas kamu ciuman di ruangan kerja kamu?" Baru saja Alya dan Eza sampai di apartemen, Alya langsung memberondong Eza dengan pertanyaan yang sedari tadi Alya tahan. "Aku gak mau ribut, Al." "Jadi menurut kamu ini bukan masalah?" Eza tidak menjawab pertanyaan dari Alya, ia mengambil gelas kemudian menuangkan air dari teko. "Kamu gak bisa seenaknya kaya gini, Za." Terdengar suara gelas yang terbanting di wastafel. "Apa maksud kamu, Al?" "Aku dan kamu, kita masih punya status hubungan. Aku masih pendamping kamu, pasangan kamu Za!" Eza hanya menyeringai mendengar ucapan Alya itu. "Pasangan? Pendamping?" "Kita bisa memulainya dari awal lagi. Memperbaiki semuanya dan membuat semuanya kembali indah." "Apa kamu bisa hidupin lagi Reihan?" Lagi, nama itu Eza jadikan sebagai alasan. Kenapa Eza tidak bisa move on. Anak kecil itu lagi, bahkan Alya sudah lupa dengan dengan anak kecil itu. "Kenapa selalu mengungkit masa lalu? Aku aja udah lupa sama anak kecil itu, aku udah gak inget lagi. Cukup Za kamu bawa-bawa Reihan dalam hubungan kita. Kita gak akan pernah bisa melangkah kalau kamu masih aja inget-inget Reihan. Jangan jadikan kematian Reihan sebagai alasan buat kamu ngejauh dari aku, atau bahkan ninggalin aku demi Frea!" Alya menatap tajam ke arah Eza. Tidak, kali ini Alya tidak akan mengalah. Dia punya harga diri dan Eza tidak bisa mengabaikannya begitu saja. "Kenapa kamu bawa-bawa Frea?" "Kenapa aku harus berpikir dua kali buat sebut nama dia, jelas-jelas aku lihat kamu nikmatin ciumannya Frea!" "Al," "Aku gak semudah itu buat nyerah, Za. Sampai kapanpun aku bakal pertahanin hubungan ini." Alya berlalu meninggalkan Eza yang masih berdiri mematung, Alya tidak akan memgemis pada Eza untuk tidak ditinggalkan. Tapi Alya tahu apa yang harus Alya lakukan untuk membuat Eza tetap tinggal di sampingnya, kembali seperti dulu lagi. * * * Eza sedang membereskan semua pakaiannya yang ada di lemari, ia kemudian memasukannya ke dalam koper. Dua hari setelah pertengkarannya dengan Alya, Eza memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Bagi Eza sudah tidak ada lagi yang bisa Eza pertahankan bersama Alya. Kalau saja dulu Eza mendengarkan nasihat ibunya, untuk tidak hidup bersama Alya mungkin saat ini dirinya sudah bahagia bersama anak-anaknya. "Mau ke mana kamu, Za?" Pertanyaan datar itu keluar dari mulut Alya yang masih menggunakan piyama tidurnya. Sejenak Eza mengehentikan aktivitasnya saat mendengar pertanyaan Alya tapi sepersekian detik kemudian Eza meenghiraukan Alya. "Gak akan ada yang keluar dari rumah ini." "Cukup Al kita nyakitin perasaan satu sama lain." Eza kini berbalik lalu menatap Aldy yang masih berdiri di ambang pintu kamar Eza. "Gak ada yang bisa kita pertahanin, ego kamu terlalu tinggi." "Cinta." Eza mendekat ke arah Alya, tangannya kini mencengkarm kedua sisi bahu Alya. "Aku rasa," Eza menghentikan ucapannya, ia menghela nafas dengan kasar. "Aku rasa, di antara kita udah gak ada cinta, cuma ada kebencian yang tertanam di hati masing-masing. Cukup buat aku nyakitin kamu." Alya tidak akan menangis, Alya masih menatap tajam ke arah pandangan Eza. Bagaimana bisa dia mengatakan jika sudah tidak ada lagi cinta di antara mereka, semudah itukah perasaan itu menghilang? Nyatanya, Alya tidak bisa menahan kepergian Eza. Eza berlalu begitu saja melewati Alya yang berdiri di hadapannya, seolah tak ada penyesalan saat meninggalkan Alya. "Berhenti," ucap Alya dingin. Flashback off Sesuatu seolah menekan d**a Ana, rasanya sesak sekali. Kahidupan Eza begitu rumit, meski ia memiliki segalanya, nyatanya uang dan kekuasannya tak mampu membuat hidupnya bahagia. "Lalu apa yang terjadi dengan mereka?" "Alya dan Eza?" "Hmm ..." Ana mengangguk. "Mereka berpisah, Eza tidak mau memaafkan kesalahan Alya. 'Lalu apa bedanya Eza dengan Hendra, mereka sama-sama menyalahkan kematian seseorang terhadap orang lain.' "Lalu, Frea?" "Eza memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dengan Frea." "Kenapa?" "Setelah kepergian Eza ke luar negeri, Alya mengalami kecelakaan pesawat, saat dia hendak pergi ke Makassar." Senyum Irgi kembali tersungging, ia mengingat saat kali pertama ia bertemu dengan Alya di sana. Irgi yang saat itu ditugaskan di salah satu desa yang cukup terpelosok, bertemu dengan Alya yang ditemukan oleh warga setempat. "Lalu bagaimana keadaan Alya?" "Dia hilang ingatan dan saat itulah saya bertemu dengan dia. Saat itu saya sedang ditugaskan di Makassar, di sebuah desa terpencil jauh dari kota. Salah satu warga membawa saya ke rumahnya, di sana Alya tidak sadarkan diri. Dia hanya dirawat dengan obat-obatan seadanya." Ana mendengarkan cerita Irgi dengan seksama, perlahan ia mulai tau bagaimana kehidupan Eza. "Singkat cerita saya membawa dia ke Jakarta, karena dia tidak tau siapa namanya, di mana keluarganya. Akhirnya saya membawa dia ke rumah ini, saya pikir lambat laun ingatannya akan pulih seiringnya waktu. Mamah dan saya memanggilnya Terra. Jantung Irgi masih berdegup kencang saat menceritakan masa-masa bahagianya bersama Alya. Saat Alya menjadi Terra. " Sampai suatu hari, saat saya hendak memeriksa kaki Alya yang mengalami patah tulang, kami bertemu dengan Eza di rumahsakit. Saat itulah, ingatan yang sebenarnya ingin Alya lupakan, justru kembali muncul." "Itukah yang membuat Pak Eza membatalkan pernikahannya dengan Frea?" "Hmm ..." Irgi mengangguk, "Eza merasa bersalah karena sikap dinginnya dulu pada Alya. Setelah tau kalau Alya selamat, Eza mulai kembali mendekati Alya." "Bagaimana dengan Dokter? Alya meninggalkan Dokter begitu saja?" "Kenapa saya harus merasa ditinggalkan? sejak awal pun saya tidak pernah merasa kalau Alya adalah milik saya." Ya, memang Irgi tidak pernah memiliki Alya, namun bagi Irgi Alya adalah orang yang sangat istimewa. Saat itu Irgi hendak memaksakan kehendaknya, namun ia kembali mengingat jika Alya memiliki masalalu yang mungkin saja belum selesai. Dan jika masalalu itu terkuak saat Irgi menggenggam Alya, Irgi yakin sakit hatinya akan jauh lebih dalam dibandingkan dengan melepaskan Alya. "Apakah Alya menerima Pak Eza kembali?" Irgi menggelengkan kepalanya, " Tidak, Alya hanya membalaskan dendamnya pada Frea. Saat itu juga Alya mengungkap kejahatan Frea yang melakukan penggelapan uang terhadap perusahaan property milik Eza." "Dokter tidak marah pada Alya? Bukankah Frea adalah sepupu dokter dan Alya yang Dokter selamatkan justru menjebloskan Frea ke penjara?" Senyum naif itu kembali tersungging di bibir Irgi, "Kalau menilik ke belakang, apa yang dilakukan Frea pada Alya itu jauh lebih kejam. Saya sudah memperingatkan Frea untuk berhenti, nyatanya dia memilih untuk bertahan. Alya juga tidak melaporkan Frea ke polisi, Alya justru menasehati Frea untuk kembali berkuliah dan meninggalkan negara ini." 'Apa mungkin ada manusia seperti Alya di dunia ini, yang rela disakiti dan bahkan tetap berbaik hati pada perempuan yang sudah merebut suaminya sendiri.' "Tapi mungkin Tuhan lebih menyayangi Alya dibandingkan siapapun di dunia ini. Tak lama setelah keadaan membaik, Eza mengajak Alya untuk kembali hidup bersama. Namun Alua menolaknya." "Kenapa?" "Alya beralasan jika dirinya akan melanjutkan studynya keluar negeri dan akan mulai mengembangkan bisnis milik Ayahnya di Jerman." "Jadi tetap saja, Pak Eza ditinggalkan?" "Tidak, itu semua hanya rekaan Alya. Sebelum kepergiannya ke Jerman, orangtua Alya mendapati bahwa Alya didiagnosa mengidap kanker otak. Eza terlambat menyadarinya. Sampai suatu hari Alya meminta untuk menginap di apartemen milik mereka berdua. Alya mengembuskan nafas terakhirnya di kamar milik Eza dan Alya." 'Jadi ini alasan kenapa Eza selalu mengunci kamar apartemen itu. Tidak membiarkan satupun orang masuk ke sana. Kamar itu adalah kamar yang penuh dengan kenangan, bahkan sampai akhir hayat Alya." "Bagaimana dengan adik pak Eza?" "Maksud kamu Rissa?" "Iya, Rissa." "Dia wanita yang baik, dia juga sangat merasa kehilangan dengan kepergian Alya. Apalagi Alya sudah sangat berjasa bagi keluarga Eza dan Rissa." 'Pantas saja, Bu Rissa sangat membenci saya. Dia takut jika mungkin saya akan sama seperti Frea. Menggerogoti kekayaan Eza.' "Apa ada masalah dengan Rissa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN