Setelah pembicaraan soal rencana bayi tabung yang diusulkan oleh orangtua Eza, orangtua Eza membuat janji dengan dokter kandungan tanpa sepengetahuan Eza dan Ana. Awalnya Ana menolak, Ana merasa kalau ini semua adalah sebuah paksaan. Ana merasa kalau orangtua Eza kini mulai mengatur rumahtangganya. Ana memberontak pada Eza. Malam sebelum kepergian mereka ke rumahsakit, Ana dan Eza bertengkar hebat. Bahkan Eza tidak tidur di kamarnya. Hati Ana merasa dikhianati, ia berpikir bahwa Eza menikahinya hanya karena ia menginginkan anak. Dan jika Ana tidak memberikan anak maka Eza akan meninggalkannya. Perang dingin itu maaih berlanjut, sampai saat sarapanpun tak ada kalimat yang keluar dari mulut Ana sepatah katapun. Ana hanya melayani sarapan kedua mertuanya itu dan Eza. Ia tidak ikut sarap

