Sepanjang perjalanan menuju kantor Alya masih terbayang ekspresi wajah Irgi tadi. Kesedihan yang seolah pernah Alya rasakan saat ia bersama Eza dulu. Kenapa begitu sakit, kenapa rasanya Alya ingin menghapus air mata Irgi.
Tak lama Alya sudah sampai di kantornya, ia segera masuk ke ruangannya karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tapi, sayang saat pintu terbuka, bukan tumpukkan file yang harus Alya urus terlebih dahulu, namun mengurus biang masalah dari semuanya. Ya, Frea sedang duduk di ruangan Alya saat ini.
"Apa lagi yang perlu saya jelaskan, bukankah seharusnya sekarang anda sudah tidak ada di kantor ini lagi?"
Alya berjalan menuju kursinya dengan penuh percaya diri.
"Apa kamu fikir dengan seperti ini kamu bisa nyingkirin aku dan jauhin aku dari Eza, Al?" Frea tersenyum licik pada Alya.
"Saya tidak sedang mencoba menyingkirkan anda, hanya saja saya tidak butuh orang seperti anda berada di kantor saya, terlalu memalukan untuk mempunyai pegawai seperti anda."
Ekspresi Frea sudah berubah, senyum licik itu sudah tidak ada lagi di wajah Frea. Kata-kata pedas dari mulut Alya terlalu menusuk.
"Seberapa banyak ingatan yang kamu ingat Al? Ah ... kalau kamu sampe pecat Eza juga, berarti ingatan kamu belum sepenuhnya pulih." Frea kembali mencoba memancing Alya.
"Saya rasa itu bukan masalah yang harus anda risaukan, ingat atau tidak ingat itu adalah urusan saya."
"Tentu saja, kamu lupa. Lupa sama semua yang kita bicarakan." Frea kembali menemukan jalan untuk membuat Alya marah.
"Apa maksud kamu? Memangnya apa yang kita bicarakan? Apakah sepenting itu sampai aku harus ingat semuanya?"
"Penting, ini menyangkut Eza. Kenapa sekarang kamu terlalu benci Eza? Apa cuma kenangan waktu dia ninggalin kamu ke Kanada yang ada di pikiran kamu?"
Alya menarik nafas dalam-dalam, ia mencoba untuk tetap tenang, ia mencoba untuk meladeni Frea dengan kesabaran.
"Dengan bangganya kamu bilang, kalo kamu dan Eza kembali jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Karena kamu lupa ingatan, kamu lupa siapa orang yang kamu cintai itu. Kalian terbuai dalam sebuah cinta yang kalian anggap sebagai cinta yang baru untuk orang yang baru. Dan tiba-tiba sekarang, kamu datang, kamu lupa dengan semuanya. Kamu datang sebagai Alya yang dulu, gimana keadaan kamu sekarang? Kalo aku jadi kamu, aku pasti akan ngerasa jijik dengan diri aku sendiri, seperti orang bodoh yang jatuh cinta pada orang yang jelas-jelas dulu mengkhiantinya dan membuangnya begitu saja."
Alya menatap tajam pada Frea, "kebencian sekarang benar-benar sudah memenuhi hati dan pikiran aku Fre. Bahkan aku merasa murka, aku takut kemurkaan ini semakin menjadi waktu aku lihat kamu dan Eza berada di sekeliling aku. Itulah kenapa aku lebih memilih untuk menyingkirkan kalian berdua daripada aku yang harus pergi. Selama empat tahun ini, apa yang udah kamu lakuin sama Eza? Apa yang kamu lakuin setelah kamu rebut dan bawa dia pergi dari aku? Kenapa sampai detik ini dia masih datang dan memohon buat aku balik lagi ke dia? Kenapa dia terus nyiksa perasaan aku?" Tatapan Alya masih tidak berubah. "Aku udah buang dia, jadi kamu bisa pungut dia. Silahkan pungut dia, bawa dia pergi jauh lagi, untuk kedua kalinya. Dan kali ini jangan bawa dia kembali lagi, hiduplah dengan bahagia, urus hidup kalian dengan baik-baik."
Frea tidak menyangka jika Alya akan mengatakan hal itu, apakah benar-benar sudah tidak ada cinta di hati Alya untuk Eza.
"Kenapa kamu diem aja? Apa lagi yang kamu pikirin? Apa kamu merasa tidak mampu? Bahkan sekedar untuk mengurus barang yang sudah di buang oleh pemiliknya kamu gak becus buat ngurus? Terus kenapa kamu lakuin ini? Kenapa kamu datang mencoba menggali semuanya dan mencoba membalikkan keadaan. Apa yang ada di otak kamu? Bahkan buat ngehancurin kamu sampai tulang rusuk kamu sekalipun aku bisa." Nada suara Alya penuh dengan penekanan.
Frea hanya menunduk, ia tidak bisa menjawabi ucapan Alya. Tanpa di sadari, Eza berdiri di depan pintu ruangan Alya, ia bisa mendengar semua percakapan Alya dan Frea dari celah pintu.
"Sampai kapan pun kamu gak akan pernah bisa nandingin aku, kamu bukan lawan yang seimbang buat aku. Sekali pun aku hilang ingatan dan menjadi orang lain, sampai mati pun, kamu gak akan bisa menang buat ngelawan aku. Kamu gak akan pernah bisa ada satu level di atas aku, kenapa? Karena sampai akhir hayat kamu, kamu gak akan pernah bisa ngerasai ketulusan cinta Eza, karena sebesar biji ketumbar pun hatinya gak pernah bisa kamu miliki. Bertahun-tahun kamu cuma terus berusaha dan terus berusaha, dan saat kamu lelah, kamu membohongi diri kamu sendiri kalau apa yang kamu lakuin itu adalah sebuah cinta. Sebuah balasan dari Eza. Apa kamu pernah menyadari itu semua? Betapa menyedihkannya hidup kamu hanya demi sebuah cinta."
Frea menelan ludahnya, air matanya sudah ada di pelupuk matanya, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Tak lama air matanya pun menetes.
"Seharusnya kamu gak kembali, kenapa kamu harus kembali? Kenapa semuanya harus seperti ini?" Ujar Frea.
"Karena Tuhan adil, karena sebuah karma memang ada di dalam sebuah kehidupan. Membuang sesuatu itu mudah, bahkan dengan menutup mata sekali pun, kita bisa tahu di mana kita harus membuang sampah itu. Dulu aku pernah berlutut di depan kamu, memohon suapaya kamu melepaskan Eza. Dan apa jawaban kamu, biarkan aku berusaha. Dan semua kata-kata kamu menjadi kenyataan, seumur hidup kamu hanya usaha dan usaha, hanya itu yang kamu lakukan, tanpa tahu hasilnya seperti apa. Hidup kamu, kamu habiskan hanya untuk menjadi seorang b***k cinta."
Frea benar-benar tidak bisa berkutik lagi, apa yang Alya ucapkan memang benar adanya. Dirinya hanya berusaha dan terus berusaha tanpa mendapatkan hasil dari apa yang sudah ia lakukan.
"Cukup Al." Eza tiba-tiba saja masuk. "Sekarang kamu keluar Fre, ikut aku." Eza benar-benar tidak mengenali Alya yang sekarang.
Alya hanya berbalik badan tanpa menoleh ke arah Eza.
"Ya, lebih baik kalian berdua keluar dari ruangan ini sekarang, sebelum satpam menyeret kalian keluar."
* * *
Irgi menatapi kamar Terra dengan terluka, semalaman dia hanya duduk di ranjang, di mana dulu Terra tidur.
"Kenapa ..."
Air mata itu mengalir di pipi Irgi. Irgi tidak bisa menahan lagi emosinya, ia menangis tersedu mengingat semuanya.
Semua kenangan yang ia lakukan bersama Terra di rumahnya, memeluk Terra saat Terra mimpi buruk, mengantar Terra ke rumah sakit, dan memasak bersama Terra.
"Kenapa dulu aku gak bawa kamu pergi Te, kenapa dulu aku gak bawa kamu pergi jauh Te." Irgi menangis terisak di kamar Terra, ia memeluk baju yang sering Terra gunakan untuk tidur, mencium wangi tubuh Terra pada baju itu.
* * *
Alya baru keluar dari kantornya, ia merasa lelah sekali. Setelah isu kebangkrutan perusahaannya, banyak sekali hal yang harus Alya benahi di perusahaan.
"Ikut aku,"
Eza tiba-tiba saja menarik lengan Alya untuk ikut dengannya.
"Lepas, Za!"
"Ikut aku!" Eza memaksa Alya untuk masuk ke mobilnya.
Bug!
Satu pukulan melayang di wajah Eza.
"Jangan paksa aku! Kamu gak punya hak buat ngelakuin itu." Alya berbalik dan hendak meninggalkan Eza.
"Jangan lari, jangan pergi lagi dari aku Al! Aku yakin di hati kamu, di hati kamu yang paling dalam kamu masih nyimpen perasaan buat aku, nyimpen semua kenangan kita di hati kamu." Eza mendekat, ia memeluk Alya dari belakang. "Kamu boleh buang aku, kamu boleh benci sama aku, kamu boleh jijik sama aku, tapi aku mohon jangan buat jarak di antara kita, jangan menghindar, jangan menjadi orang lain. Mari kita berjuang, mari kita mulai semuanya dari awal lagi."
Punggung Alya bisa merasakan detak jantung Eza yang berdebar begitu kencang.
"Aku capek Za, Aku capek." Ujar Alya pelan. "Gak ada lagi ruang yang tersisa di hati aku buat kamu, sekarang yang mau aku lakuin adalah pergi, pergi menjauh dari semua ini. Keluar dari neraka yang kamu ciptain buat aku, aku juga pingin kaya kamu, merasakan cinta yang baru. Merasa mencintai dan dicintai."
Eza melepaskan pelukannya, ia kini menatap punggung Alya.
"Aku mau ngerasain jatuh cinta lagi, ngerasain indahnya jatuh cinta. Siang dan malam memikirkan seseorang yang menbuat jantung aku berdebar. Aku mau itu semua. Tolong lepasin aku."
Eza terdiam, dia tidak mengatakan apapun lagi.
"Dan sekarang aku udah nemuin orang itu," dengan bergetar Alya mengucapkannya, "orang yang nyelametin aku tiga tahun yang lalu. Orang yang selalu ada buat aku, di saat aku susah dan menderita, ngelihat dia, tatapan matanya, seolah aku berkaca, waktu kamu ninggalin aku tanpa keraguan sedikit pun di hati kamu.
Aku rasa, kebencian dan kemarahan aku ke kamu saat ini, akan segera hilang, dengan menghapus air mata dia, menggenggam tangannya dan menyandarkan semua beban aku di bahunya."
Eza hanya menunduk mendengar ucapan Alya.
"Tolong bantu aku, buat memulai semuanya tanpa kamu. Menjauh, pergi seperti kamu dulu ninggalin aku."
Alya berjalan meninggalkan Eza, tepat saat itu air matanya mengalir, Alya berjalan tergesa menuju mobilnya tanpa menoleh lagi ke arah Eza.
* * *
Alya berjalan ragu menuju sebuah rumah, yang dulu tidak asing baginya. Setiap hari ia menghabiskan waktunya di rumah itu meski bukan sebagai dirinya, tetapi sebagai Terra. Sedikit demi sedikit kenangan itu tercipta, memberi kesan pada memori.
Banyak hal yang sebenarnya tercipta di rumah itu, ingatan yang sempat terukir selama tiga tahun terakhir, bersama Irgi dan mamanya, tak semata-mata hilang begitu saja.
Ada hal yang harus Alya sembunyikan, ada hal yang harus Alya pertimbangkan untuk mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi.
Alya tampak ragu untuk menekan bel yang ada di dinding pagar rumah itu, rasanya ia tak pantas untuk datang lagi ke sana, setelah apa yang ia lakukan kemarin pada Irgi.
Sejenak ia terdiam, Alya hanya bisa menatap rumah dengan pagar berwarna hitam itu dari luar.
* * *
"Gimana keadaan papa Gi? Kenapa sampe sekarang dia belom sadar?"
Rissa tampak panik, sore tadi ayahnya terkena serangan jantung, yang untung saja tidak sampai membunuh ayahnya. Mama Rissa segera menelfon Rissa dan membawanya ke rumah sakit.
"Masih dalam pengaruh obat Sa, tapi-"
Irgi berhenti sejenak tampak ragu dengan kata-katanya.
"Tapi apa Gi?"
"Sepertinya tangan kanan yang dijadikan beliau untuk topangan saat terjatuh ada sedikit masalah, mungkin tangan kanannya tidak akan berfungsi seperti sedia kala."
"Maksud kamu Gi?"
"Lebih baik kita menunggu hasil tesnya dulu besok dan sampai papa kamu siuman."
Rissa tidak menjawab, ia tampak linglung dan khawatir.
"Kamu mending istirahat dulu Sa," saat itu Rissa baru pulang bekerja dan ia memang tampak kelelahan.
"Eng?" Rissa hanya menoleh karena tidak terlalu fokus pada Irgi.
Irgi kemudian tersenyum menanggapi Rissa yang tampak terkejut, menatap senyum Irgi saat itu seolah mengelitik perut Rissa. Sesuatu yang rasanya tidak pernah ia rasakan. Bahkan jauh berbeda saat dulu ia jatuh hati pada Eka. Entahlah atau mungkin Rissa sudah lupa.
* * *
Alya berjalan di koridor rumah sakit, setelah mendengar kabar bahwa ayah Eza masuk ke rumah sakit, Alya segera meminta ijin pada Hanin untuk menjenguknya.
Alya mendapati Rissa yang sedang duduk di depan ruang ICU, perlahan Alya mendekati Rissa. Dalam hati ia meyakinkan bahwa tak ada keluarga Rissa yang lain, yang ada di koridor lantai rumah sakit itu.
"Sa,"
Rissa menoleh saat mendengar suara Alya memanggilnya.
"Alya?" Rissa menoleh ke sekililing, ia maaih tidak yakin kalau Alya datang ke rumahsakit terlebih dulu, dibandingkan Eza. "Ngapain lo di sini?"
* * *
Alya dan Rissa duduk saling berhadapan, dua cangkir latte hangat ada di hadapan mereka masing-masing.
"Maaf,"
Suara Alya terdengar bergetar.
"Ini bukan salah elo Al." Rissa mencoba tersenyum, meski kekhawatiran masih menyelimuti hatinya. Ia tak menyangka jika ayahnya akan sampai mengalami serangan jantung seperti ini. Di satu sisi Rissa merasa lega karena Alya sudah kembali pulih, di sisi lain, ayahnya juga menjadi korban atas ini semua.
"Aku gak tahu kalau semuanya bakal jadi kaya gini,"
Rissa mencoba untuk menatap Alya tanpa emosi, sedikit pun ia tidak pernah menyalahkan Alya atas kejadian ini.
"Aku coba buat nyelametin semuanya, dengan cara kaya gini. Aku gak tahu kalau ini semua malah memperkeruh keadaan." Terang Alya lagi.
"Elo berhak buat ngelakuin ini, ini gak seberapa Al sama apa yang lo alami dulu. Apa yang elo rasain mungkin gak akan bisa dibandingin dengan hal ini. Jujur, gue sama sekali gak pernah mikir kalo elo penyebab papa masuk rumah sakit, papa masuk rumah sakit karena murni kecelakaan."
Rissa menaruh kedua tangannya di atas meja.
"Elo harus lanjutin, sekalipun gue saudara Eza, gue gak akan berpihak ke siapapun, entah elo entah Eza, yang gue tahu kalian pasti bisa hadapin ini bersama."
Alya terdiam mendengar ucapan Rissa. Sejenak matanya berkaca menahan emosi di dadanya. Alya benar-benar tak habis pikir dengan semua sikap Eza.
"Gimana Irgi?"
Alya kembali fokus, saat mendengar Rissa melontarkan kalimat pertanyaan itu.
"Elo udah ketemu sama dia?"
Alya hanya mengangguk.
"Gue gak tahu perasaan elo ke dia gimana, begitu pun sebaliknya. Tapi gue rasa lebih baik elo jujur sama dia."
Alya masih tetap diam, mendengarkan dengan seksama ucapan Rissa.
"Maksud gue, sekarang ini yang harus elo hukum adalah Eza, sedangkan Irgi, dia orang yang secara gak langsung ikut dalam masalah ini. Elo pasti inget kan, gimana dulu Eza sama Irgi."
Ya, memang rasanya tidak adil jika Alya bersikap seperti itu pada Irgi, bahkan secara tidak langsung Alya sudah mempermalukan Irgi dengan memberinya sejumlah uang sebagai pengganti biaya hidup dan rasa terimakasih Alya pada keluarganya.
"Aku mau dia jauhin aku, Sa."
Rissa mengernyitkan alisnya, menatap heran pada Alya.
"Dia gak seharusnya ikut terseret dalam masalah ini, aku berharap dengan cara ini dia bisa pergi tanpa harus aku paksa buat pergi."
"Al, Irgi orang yang baik, meskipun gue gak kenal dia seakrab elo, tapi gue bisa ngerasain kalo dia orang yang baik. Dia orang yang punya ketulusan, jangan sia-siain orang seperti Irgi."
Rissa tak pernah selembut ini saat menilai seseorang, pikir Alya. Jika Rissa sudah berbicara dengan kejujuran maka tidak salah lagi, Rissa menaruh hati pada Irgi. Rissa bukanlah tipe orang yang dengan gampangnya memuji orang lain.
* * *
Setelah selesai menemui ayah Eza, Alya bergegas menuju ruangan Irgi. Ia hendak menemui Irgi, memberitahu Irgi agar sisa barang-barang yang saat ini ada di rumahnya untuk dibuang dan tidak perlu disimpan lagi.
Tangan Alya mengetuk pintu ruangan Irgi, tiga kali ketukan tak ada jawaban. Alya memutuskan untuk membuka pintu itu, ternyata Irgi tidak ada di ruangannya.
Alya berjalan masuk perlahan, ia menatapi kursi kerja Irgi. Dulu ia sering sekali datang ke tempat ini, menemani Irgi atau mengobrol dengan Irgi.
"Selamat malam,"
Suara itu mengagetkan Alya yang sedang mengingat ingatannya saat bersama Irgi.
"Anda tidak seharusnya masuk ke ruangan ini," ucap irgi begitu menatap wajah Alya.
"Maaf, tapi saya sudah mengetuk dan tidak ada jawaban." Jawab Alya dengan nada yang tak kalah dinginnya. "Ada hal yang membuat saya merasa terganggu, jadi saya rasa saya perlu bertanya kepada dokter." Tak ada senyum di wajah Alya, sama sekali. "Apa saya pernah berjanji kepada dokter?"
"Tidak, anda tidak pernah berjanji apapun kepada saya." Irgi menjawab dengan nada tertahan di tenggorokannya. Ia berharap matanya tak berkaca-kaca dengan linangan air mata.
"Apa saya pernah bilang bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan anda?"
Irgi ingat betul bagaimana dulu Terra berjanji pada mamanya, apapun yang terjadi nanti, ia tidak akan pernah meninggalkan irgi.
"Tidak,"
"Kalau begitu saya rasa, saya tidak perlu mempertanggungjawabkan apapun pada anda, kan? Soal perasaan anda atau soal apa pun itu."
"Satu hal," suara Irgi tertahan, matanya berkaca, emosinya saat ini benar-benar menguasai perasaannya.
"Tolong datang ke panti asuhan, setidaknya ucapkan salam pada anak-anak itu. Mereka mengingat anda sebagai Terra, merindukan anda sebagai Terra, jadi saya harap anda bisa pergi sebagai Terra, juga."
"Saya rasa itu tidak perlu, mereka bukan tanggung jawab saya. Saya lupa kalau saya pernah bertemu dengan mereka." Jawab Alya. "Bilang pada mereka bahwa orang yang bernama Terra sudah meninggal. Toh mereka akan lupa dengan sendirinya."
"Tidak semua yang kamu buang lalu akan menghilang, bahkan kenangan sekali pun. Disaat itu, tiga tahun itu, bukan hanya kamu yang hidup. Tapi mereka, aku, dan mamaku. Apa kamu tahu berapa banyak kenangan yang kita ciptakan? Sekali pun kamu buang jauh semua kenangan itu, pada kenyataannya aku tetep ingat sama kamu, kami semua inget kamu. Anak-anak itu, di memori mereka kamu masih hidup, dan selamanya mereka akan ingat itu." Air mata Irgi kembali menetes saat mengatakan hal itu.
"Saya tidak meminta anda untuk mengingat itu semua,"
"Karena aku juga gak berniat buat buang itu semua,"
"Apa yang sedang anda coba lakukan? Cukup turuti apa yang saya minta, buang semuanya, tidak ada yang perlu lagi untuk di simpan."
"Katakan saya sudah membuang itu semua, lalu bagaimana jika anda datang kembali kepada saya dan bertanya di mana kenangan anda, apa yang harus saya lakukan?"
"Berhenti, saya tidak akan membiarkan anda melakukan lebih dari ini," Alya tidak bisa menatap Irgi lagi. "Seharusnya, anda merasa muak kepada saya, merasa marah kepada saya." Alya kalah dengan sikap dan simpati Irgi padanya.
"Saya pernah kehilangan seseorang, bahkan lukanya jauh lebih dalam daripada ini. Dia pergi dan tidak pernah kembali. Tuhan mengambilnya. Lalu saat itu, Tuhan kembali mengerimi saya satu malaikat, dan Tuhan kembali mencoba membawanya pergi. Saya bertahan, saya menahan dia untuk tidak pergi. Sakit? Iya, tapi itu tidak ada apa-apanya, apa anda tahu? Saya pernah merasa marah kepada anda, merasa kecewa kepada diri saya sendiri, tapi saya tidak akan biarkan itu kembali terjadi dalam diri saya. Saya akan berjuang, saya akan mengembalikan kenangan yang pernah saya dan anda ciptakan bersama, sampai anda ingat, siapa saya." Irgi membelakangi Alya, ia tidak sanggup menatap Alya. "Seperti batu, yang perlahan kalah dengan rintiknya hujan yang terus berusaha untuk menghancurkannya."
Alya benar-benar kalah telak, dengan sikap dinginnya ia bahkan tidak bisa menyingkirkan Irgi begitu saja. "I-ini aku, Gi ..." dengan suara bergetar, air mata di pelupuk matanya, Aldy tidak bisa berbohong lagi. "Ini aku, Terra ..."
Irgi menoleh, mendapati Alya yang sedang menahan tangisnya. Irgi pun tak tahan lagi, ia menangis, dan memeluk Alya. Alya melepaskan semuanya, ia menangis terisak di pelukkan Irgi, ia tidak bisa berbohong lagi pada Irgi.
* * *
Mata sembab Alya masih tampak di pengelihatan, namun Irgi membawanya ke kantin untuk membeli minuman hangat. Mungkin cokelat hangat bisa menenangkan Alya. Untunglah, malam itu suasana kantin sudah agak sepi. Dan mungkin sebentar lagi kantin itu akan tutup.
"Aku terlalu takut, Gi."
Dengan sedikit parau, terdengar suara Alya yang mulai membuka percakapan. Irgi hanya diam, dia membiarkan Alya untuk mulai berbicara.
"Aku takut buat ngadepin ini semua, aku takut kalo pada akhirnya kejadian empat tahun yang lalu akan terulang. Rasa sakit yang dia buat, benar-benar bikin aku murka. Setiap kali aku ngelihat dia, semua kemarahanku muncul seketika. Aku benci, aku gak suka sama Eza. Aku pingin keluarin semua yang aku rasain di depan dia dan menghukum dia. Tapi saat aku teringat Raihan, aku ngerasa kalau aku yang buat dia bersikap seperti dulu. Berpaling, berkhianat dan bahkan ninggalin aku. Aku atau dia gak berhak memaafkan satu sama lain."
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Alya terdiam sembari menatap Irgi.
"Kenapa kamu bersikap kaya gini? Waktu di rumah sakit, setelah kamu pingsan di restoran. Setelah kamu siuman, kenapa kamu pura-pura lupa sama aku? Kamu gak cuma nyoba nyingkirin Eza dari hidup kamu, tapi juga aku Te, dengan sikap kamu yang kaya kemaren, kamu nyakitin aku supaya aku pergi dari kamu. Dan setelah itu apa yang bakal kamu lakuin, setelah kamu buang masa lalu kamu, pura-pura lupa dengan ingatan kamu yang lain, apa yang mau kamu lakuin?"
"Aku gak mau kamu terlibat dalam masalah ini dan mungkin kalau aku pura-pura lupa, setelah itu aku bisa pergi jauh dan benar-benar ngelupain semuanya."
Irgi terhenyak mendengar jawaban Alya, apa terlalu sakit luka yang Eza goreskan di hati Alya, sampai dia berpikir sejauh ini, pikir Irgi.
"Jangan berpura-pura tegar, Te."
"Aku harus menggali lubang yang dalam buat ngubur semuanya, lalu menutupnya rapat-rapat. Setelah itu aku baru bisa memulai hidup aku yang baru. Itu yang selalu terlintas dipikiran aku, tapi pada akhirnya aku gak bisa berbohong, aku masih sayang, aku masih cinta sama dia Gi. Aku gak rela kalo dia harus pergi dari hidup aku."
Irgi terdiam mendengar ucapan Alya.
"Tolong bantu aku Gi, bantu aku supaya aku bisa keluar dari neraka ini." Lanjut Alya.
* * *
Eza yang baru saja sampai di rumah sakit segera menuju ruangan rawat inap papanya, namun sesuatu menahannya. Pandangannya tertuju pada Alya yang sedang duduk bersama Irgi. Eza berbalik arah, ia berjalan mendekat menuju kantin untuk melihat apa yang terjadi di antara Irgi dan Alya.
"Apa yang kamu lakuin di sini Al? Kenapa kamu sama Irgi?"
Alya yang baru saja selesai bicara segera menoleh saat melihat Eza berdiri menatap Irgi dengan murka.
"Dan kamu Gi, ini jam kerja kenapa kamu ada di sini?"
"Aku rasa aku harus pulang, Gi. Aku kabarin kamu kalo udah sampe rumah, salam buat mama." Alya mengabaikan Eza, menganggap Eza tak ada di sana. Dan panggilan pada mama Irgi, sengaja Aldy sematkan untuk mama Irgi.
"Tunggu!" Eza menahan lengan Alya. "Jawab Al. apa yang kamu lakuin di sini?"
"Itu bukan urusan kamu!"
"Cukup Al, aku rasa kamu berlebihan, kamu sengaja ngindarin aku, kamu sengaja bersikap kaya gini ke aku, iya kan? kenapa Al? Kenapa?"
"Apa? Aku dateng ke sini karena orang yang bisa membuat aku buat hidup kembali ada di sini, orang yang ngebuat aku merasa nyaman, ngerasa gimana berdebarnya jantung aku meski cuma ngelihat dia dari jarak jauh." Mata Alya menatap ke arah Irgi, seolah memberi tahu kalau orang itu adalah Irgi.
Mendengar kalimat itu, perlahan cengkraman tangan Eza melemah.
"Sadar Za, siapa kamu? Apa pentingnya kamu sampe aku harus bersikap baik sama kamu. Aku ke sini buat cari tahu siapa orang yang selama tiga tahun ini ada di sisi aku, selalu ada buat aku dan mungkin sekarang orang itu juga mau meminjamkan bahunya untuk sama-sama memikul beban berat."
Eza benar-benar terluka, ia menatap penuh kecewa pada Alya.
"Aku pulang Gi,"
"Aku bantu kamu cari taksi, ini udah malem."
Alya tidak menjawab kemudian berlalu meninggalkan Eza dan disusul oleh Irgi.
"Gak, kamu gak bisa pergi gitu aja Al."
"Tolong berhenti Za, Alya akan pulang bersama saya. Jangan ganggu dia lagi Za dan jangan ganggu kami berdua." Ujar Irgi membalasi ucapan Eza. "Alya udah bilang, kalo dia gak mau lagi lihat wajah kamu. Jadi sebaiknya kamu tau diri untuk tidak mengganggu dia lagi."
Eza menatap punggung Alya dengan kesedihan dan luka di hatinya, melihat Alya berbuat seperti itu membuatnya benar-benar terluka. Perasaannya hancur.
* * *
Di loby rumah sakit Alya masih terdiam, menatap ke arah air mancur yang tepat berada di sebrang jalan di hadapannya. Pikirannya melayang, mengingat kejadian tadi.
"Kayaknya dia sedih banget,"
Tegur Irgi pada Alya.
Alya hanya diam, ia tidak menjawab ucapan Irgi dan masih tetap menatap gemerciknya air di hadapannya..
"Apa gak bisa kalo kamu kasih dia kesempatan lagi? Apa satu kesalahan saja cukup menutupi semua kebahagian yang udah kalian lalui bersama dulu? Kita bukan Tuhan, kita manusia. Manusia yang berbuat salah dan kemudian memaafkan seseorang dengan sedikit cacian atau bahkan tamparan di pipi. Tuhan ciptain manusia dengan kesempurnannya, tapi nyatanya tidak ada manusia yang sempurna bahkan cinta sekali pun. Setiap pasangan akan mengisi kekurangan masing-masing dengan kelebihannya masing-masing." Ujar Irgi dengan tanpa menoleh ke arah Alya.
Alya terdiam mendengar kata-kata Irgi. Kenapa kata-kata itu seolah peringatan bagi dirinya sendiri, toh inti dalam masalah ini bukanlah siapa yang salah. Tapi bagaimana caranya mereka berdua bisa membuka diri, menyelami diri masing-masing. Bertanya pada diri masing-masing, apakah cinta masih bisa menyelamatkan hubungan mereka. Memaafkan bukan hanya menjadi solusi, tetapi juga sebuah penentuan atas hubungan mereka berdua.
"Aku pulang, Gi."
Sebuah taksi berhenti tepat di depan Alya, ia berjalan menuju taksi itu tanpa menoleh pada Irgi lagi.
"Aku harap kamu bisa memikirkan keputusan kamu Al."
* * *
Eza terdiam di depan ruangan papanya, matanya menatap tanpa arah, ia memikirkan semua perlakuan Alya padanya.
"Apa yang mau lo lakuin lagi sekarang?"
Suara Rissa membuyarkan lamunan Eza.
"Elo ditolak lagi? Ditendang jauh-jauh?" Rissa tersenyum sinis, "kita udah gak punya apa-apa, sekarang papa ada di dalam sana. Menurut lo ini ulah siapa?"
Eza masih terdiam.
"Andai kalau dulu kalian berdua sedikit bersabar. Tapi elo tiba-tiba nusuk dia, elo selingkuh. Siapa yang sebenarnya gagal Za? Elo apa Alya?" Rissa masih mengutarakan pendapatnya. "Siapa yang sebenarnya gak mau bertahan? Elo yang gak bisa, Za. Elo yang gagal buat ngedepin itu semua. Seharusnya bukan pelarian yang elo cari."
Mereka berdua kembali terdiam, berkutat dengan pikiran mereka masing-masing.
"Gue khawatir, gimana pun elo, elo tetep saudara kandung gue, yang mungkin dulu kita bisa aja berbagi jantung atau hati. Elo pikir gue gak gila lihat elo kaya gini? Elo pikir gue gak sakit hati lihat elo kaya gini? Kalo emang elo mau nyerah, cukup sampe di sini Za. Lepasin Alya, biar dia bahagia sama hidupnya. Ibarat rawa, Alya bisa kapan saja nenggelemin elo atau bahkan buaya di rawa itu bakal nerkam elo. Gue gak mau kalo sampe kejadian yang dulu terulang, yang pada akhirnya kalian berdua cuma akan saling nyakitin satu sama lain."
"Gue kira gue bakal bisa ngadepin ini semua. Di saat dia ilang ingatan, gue bersiap diri buat ngadepin dia. Gue berusaha ngeyakinin diri gue kalo apa yang akan terjadi nanti, sebesar apapun masalah itu nanti gue bisa ngdepinnya. Tapi pada akhirnya, gue cuma jadi pecundang. Pecundang yang bahkan gak berani buat ngungkapin apa yang sebenarnya terjadi."
"Elo harus ambil keputusan, cukup dengan Frea atau elo tetap mau berusaha dengan Alya meski apa pun itu rintangannya."
* * *
Frea mengemasi barang-barangnya di apartemen, setelah pertengkarannya dengan Alya di kantor kemarin, ia memutuskan untuk keluar dari apartemen yang dibelikan oleh papa Eza.
Ia tidak akan tenang jika terus-terusan tinggal di apartemen itu. Semakin ia mengingatnya semakin rasa benci itu muncul untuk Alya. Karena kebencian itu ia merasa tersiksa dan terus merasa murka.
"Udah semua?"
Suara Irgi mengagetkan Frea.
"Udah."
"Kamu bisa temenin mamah dulu sementara."
"Aku rasa aku lebih baik langsung pulang ke rumah orang tuaku Gi."
Irgi mengambil alih koper yang hendak Frea bawa. "Tenangin hati kamu dulu, kamu butuh alasan buat jelasin semuanya ke orang tua kamu."
* * *
Sesampainya di rumah Irgi entah kenapa Frea malah semakin teringat pada bayangan Alya. Hanya saja bukan kemarahan Aldy, tapi wajah Alya yang jauh lebih teduh ketika menjadi Terra.
"Kamu bisa tinggal di sini dulu, kamu bisa tempatin kamar ini."
Frea melihat ke sekeliling, ia menatap di sana foto Irgi dan Terra terpajang.
"Aku bakal singkirin ini dulu, sisanya besok baru aku bersihin. Lagi pula dia udah gak butuh barang-barangnya lagi."
"Gak, kalo gitu biar aku aja Gi. Aku yang bakal singkirin ini semua. Aku bakal buang semuanya."
"Fre ..."
"Gak cukup kalo cuma dibuang, aku harus bakar semuanya."
"Fre!"
"Percuma kamu simpen kenangannya dia, toh dia juga gak inget kamu."
Irgi terhenyak dengan ucapan Frea.
"Terserah kamu, tapi setelah kamu bakar semua barang-barang Alya, aku harap perasaan kamu juga ikut kamu bakar di dalamnya."
Setelah itu Irgi pergi meninggalkan Frea sendirian, ia membiarkan Frea melakukan apapun yang ingin Frea lakukan. Mungkin dengan cara ini Frea bisa melampiaskan kemarahannya maka Irgi akan membiarkannya.
"Aku yang akan buang ini semua, dengan tanganku sendiri." Suara Frea bergetar, kemarahan tampak jelas di matanya. Kebencian sudah benar-benar membutakan perasaan Frea, sudah tidak ada lagi rasa empati untuk Alya dalam diri Frea.
* * *
"Pa ..."
Alya menemui Faris di kamarnya sebelum ia berangkat ke kantor.
"Iya, ada apa Al?"
"Setelah Alya pikir-pikir, Alya mau terima tawaran Papa."
Faris yang sedang memakai dasinya segera menoleh pada Alya. Faris menatap tidak percaya pada Alya.
"Kamu yakin?"
"Seperti yang papa bilang, Alya harus bahagia."
Faris sebenarnya tidak memaksa untuk mengusulkan hal ini, tapi jika Alya mengambil langkah ini maka Frais akan mengabulkannya.
"Kapan pun kamu siap, kamu bilang Papa. Semuanya sudah papa urus."
"Alya udah siap Pa, bulan depan, awal bulan depan pa ..."