Sore itu Alya pulang bersama Irgi, ia memutuskan untuk tetap tinggal bersama Irgi sampai ia kembali mengingat semuanya.
Alya baru saja sampai di kamarnya, ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya melayang pada Eza. Saat di apartemen Eza mengajaknya untuk kembali tinggal bersama. Tiba-tiba saja terbayang di pikiran Alya, ekspresi Hanin yang marah saat mendengar nama Eza di sebut oleh Alya, membuat Alya bingung setengah mati. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Alya meraih ponselnya yang ada di atas nakas kecil di sampingnya. Ia mencari nomor Almira, yang Irgi berikan tadi saat perjalanan pulang. Alya ingin mencoba bertanya pada Apmira, Almira pasti tidak akan berbohong.
Halo ...
Setelah lama terhubung, terdengar suara sapaan diujung sana. Apa seperti ini suara dirinya saat di telfon, pikir Alya.
"Halo,"
Setelah Alya balik menyapa kini hanya ada hening, tak ada jawaban yang terdengar dari pesawat telfon itu.
"Apa ini Almira?" Setelah sekian detik, Alya membuka percakapan.
I-yya ...
Jawaban yang menggantung, batin Alya. "Aku yakin kamu gak asing sama suara yang lagi kamu dengerin sekarang, ini." Alya menghela nafasnya sejenak. "Ini aku, Alya."
K-kak ...
"Iya, apa aku mengganggu?"
Bagaimana bisa,
Suara Almira mengambang di sebrang sana.
"Aku mau tanya sesuatu, mungkin seharusnya kita bertemu, tapi ini terlalu penting untuk menunggu waktu sampai kita bisa bertemu."
Seolah membaca pikiran Alya, atau memang ini adalah ikatan batin dari seorang saudara kembar. "Bukan sesuatu lebih tepatnya, banyak yang mau aku tanyain."
Kalo Almira bisa jawab pasti Almira jawab mas.
"Siapa Eza sebenarnya?"
Tak ada sepatah katapun yang terdengar dari telfon itu.
"Apa yang udah terjadi di antara aku sama Eza?" Alya menambahi pertanyaannya.
Kembali tak ada jawaban.
"Apa kamu gak mau bantu kakak kamu ini? Kenapa kamu gak jawab pertanyaan aku?"
Apa Kak Alya sudah bertemu dengan Eza? Apa yang dia bilang soal Kakak?
"Dia ngajak kakak buat tinggal sama dia lagi."
Apa?!
"Aku udah ketemu sama dia, aku udah ngobrol, bahkan lebih dari itu."
Apa maksudnya lebih dari itu?
"Aku gak bisa bohongin perasaan aku Ra, tapi kenapa di satu sisi aku ngerasa ragu, apa lagi setelah aku ketemu sama papa."
Papa? Kenapa?
"Papa kelihatan benci banget sama Eza."
Kak Alya inget kalo dulu dia pernah selingkuh dari Kak Alya?
"Tahu, Ra."
Kenapa mas masih mau buat diajak balik sama Eza? Eza gak akan pernah buat Kakak bahagia, sekalipun dia mendapat banyak kesempatan buat nebus semua yang udah dia lakuin ke kakak.
"Semua? Maksud kamu apa?"
Mira gak akan cerita sekarang, tapi satu hal yang harus kakak inget, balik sama Eza bukan pilihan. Papa gak akan pernah ijinin Kakak buat balik lagi sama Eza.
Alya terdiam mendengarkan ucapan Alya, kenapa Almira pun sama dengan papanya, melarang dirinya untuk kembali bersama Eza. Apa yang sebenarnya terjadi.
* * *
"Jadi papa sama nda udah ketemu Kak Alya?" Almira duduk di sebrang meja makan di hadapan Hanin.
"Udah ..."
"Terus kenapa nda gak bawa Kak Alya pulang?"
"Dia lupa sama nda, dia lupa sama semuanya. Nda gak mungkin maksa Alya buat tinggal sama kita."
"Gak mau maksa tapi Nda nangisin Kak Alya. Harusnya nda paksa Kak Alya buat balik ke rumah."
"Sementara biar kakak kamu tinggal di rumah Irgi. Papa rasa ini jalan terbaik, pelan-pelan kita kasih tahu semuanya ke dia."
"Termasuk soal Eza?" Tanya Almira.
"Gak, Han gak setuju mas kalau kita kasih tahu soal Eza."
"Nda, sekarang ini Eza udah gencar deketin Kak Alya."
"Dari mana kamu tahu?" Potong Faris.
"Rissa yang bilang, Rissa selalu kasih informasi ke Almira. "
"Jadi kamu udah lama tahu kalo kakak kamu masih hidup?!" Pertanyaan dengan nada membentak keluar dari mulut Hanin. "Kenapa kamu diem aja? Kenapa kamu gak bilang sama Nda atau papa? Kamu sengaja sembunyiin ini semua?!"
Kali ini Hanin benar-benar sensitif dengan masalah Alya.
"Han, tenang." Faris mencoba menenangkan.
"Mira gak tahu mesti gimana, Mira juga khawatir sama Kak Alya, Irgi bilang kita gak bisa langsung jejalin semua ingatan Kak Alya di masa lalu secara bersamaan. Apa lagi soal kematian Raihan, soal perpisahannya sama Eza, soal kecelakaan pesawat, itu semua bisa bikin Kak Alya gila Nda." Jelas Almira pada Hanin.
Hanin hanya menangis tersedu, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Almira juga gak berani buat nemuin Kak Alya, Almira gak mau kalau mas Kak alya kenapa-kenapa. Mira bingung apa yang mesti Mira lakuin. Maafin Mira nda."
Faris memeluk Hanin dan membiarkan Hanin menangis di pelukkannya.
"Kenapa semuanya tega mas sama Han, kenapa semuanya jahat sama Han, kenapa?" Isakkan itu keluar dari mulut Hansa. "Bertahun-tahun Han nahan rasa sakit ini, bahkan anak kita sendiri tega nyembunyiin ini semua." Tangisan itu masih terdengar, kemeja sudah penuh air mata dan ingus yang keluar dari Hanin. Faris hanya mengusap pelan punggung Hansa, lalu ia memberi tanda pada Almira untuk meninggalkan mereka berdua saja.
Almira berjalan menuju kamarnya, tak lama ponselnya berdering, nomor yang tak di kenal tampak di layar ponselnya. Almira ragu untuk mengangkatnya. Kedua kalinya nomor tak dikenal itu kembali menelfon Almira, Almira berpikir mungkin ini penting.
"Halo ..."
Halo ...
Suara ini, Almira seolah tak asing. Suara ini, suara kakak kembarnya.
Almira?
"Iya, Kak ..."
* * *
Pukul enam sore Eza menjemput Alya di rumah Irgi, ia mengajak Alya untuk makan malam bersama. Mereka berdua saat ini sudah sedang di perjalanan menuju rumah makan yang menjadi tempat favorit Alya.
Sesampainya di tempat makan Alya dan Eza segera turun dari mobil, mereka berdua segera mencari trmpat kosong di rumah makan itu.
"Kamu mau makan apa?" Segera setelah mendapat tempat kosong mereka berdua b daftar menu makanan yang pramusaji berikan.
"Aku ngikut kamu aja Za."
Baru saja Alya selesai berbicara sebuah tangan bersarang di pipi Aldy hingga membuat Alya menoleh.
"FREA!" Eza berdiri dan menghampiri Frea, ia menarik Frea menjauh dari Alya. Tanpa mereka sadari sedari tadi Frea mengikuti mereka berdua.
"Dasar perempuan sialan!" Frea kembali membabi buta di hadapan Alya. "Kenapa kamu gak mati aja hah?! Dan kamu Za, kenapa kamu masih peduli sama dia! Dia, dia yang udah ngancurin kebahagian kamu! Dia orang yang udah BUNUH RAIHAN!"
"Apa? siapa Raihan?" Sesuatu seolah menghantam perasaan Alya, kata-kata Frea, kenapa begitu sakit rasanya.
"Cukup Fre! Cukup, ini tempat umum, ayo kita pergi sekarang!"
"Enggak ZA! DIA HARUS TAHU SEMUANYA, DIA HARUS TAHU KALO DIA ITU PEMBUNUH! PEMBUNUH RAIHAN! Raihan mati karena kamu, dan karena kematian Raihan kalian berdua berpisah, kamu, orang yang angkuh! Orang yang gak pernah mau tahu perasaan orang lain! Apa kamu lupa semua itu?!"
Alya menelan ludahnya dalam-dalam, ia ketakutan. Matanya memerah menahan tangis, dadanya benar-benar sesak terasa sakit.
"Kamu bunuh Raihan, kamu hancurin kehidupan Eza! Kamu itu monster! Monster Al!""
"Enggak, enggak, itu semua gak bener, enggak." Alya memegangi kepalanya. Perlahan tubuhnya membungkuk. "Enggak,"
"Kamu pembunuh! Kamu pembunuh Al!" Frea masih terus meluapkan rasa marahnya.
Eza yang melihat Alya hendak ambruk segera memegangi tubuh Aldy. Benar saja tak lama Alya pingsan tepat saat Eza memeluk tubuh Alya.
"Bangun, Al. Bangun!" Eza mencoba membangunkan Aldy. "Kalau sampai terjadi apa-apa sama Alya. ini semua salah kamu Fre, dan aku gak akan biarin kamu gitu aja!"
* * *
Alya terbaring di rumah sakit, setelah pingsan tadi Eza segera menghubungi Irgi, lalu Irgi menyuruh Eza untuk membawa Alya ke rumah sakit di mana ia bertugas.
Setelah sampai di rumah sakit, Irgi segera menelfon Hanin untuk memberitahukan keadaan Alya. Hanin yang panik segera menyusul Alya ke rumah sakit. Saat sampai di rumah sakit Hanin melihat Eza yang sedang kebingungan di depan ruangan Alya. Hanin menyuruh Eza untuk pulang dan tidak perlu mengkhawatirkan Alya lagi. Eza memaksa untuk menemani Hansa namun Hansa benar-benar ngotot tidak mau dan menyuruh Eza pulang.
* * *
Perlahan mata Alya terbuka, ia mengerjap berkali. Tiba-tiba ingatannya melayang pada saat dirinya bertengkar bersama Eza di apartemen.
Kalau kamu mau kita ngulang lagi dari awal, apa kamu bisa buat Raihan hidup lagi? Buat Raihan ada di antara kita?
Alya memejamkan matanya, ia juga kembali mengingat saat Eza berlutut di hadapan papanya, untuk memohon supaya dirinya di jauhkan dari kehidupan Eza.
Tolong singkirkan orang ini, Eza akan lakuin semua yang papa minta, asal papa mau buat orang ini pergi dari hidup Eza.
Alya menangis, meneteskan air matanya. Perlahan Alya bangun dari posisinya yang berbaring, Ia melepas infus yang menempel pada tangannya, dan menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia berjalan keluar dari ruangan itu.
Hanin menoleh saat terdengar suara kenop pintu diputar. "Loh, mas ..."
"Kenapa kita di sini?"
"Kamu tadi pingsan, Te." Jawab Irgi terlebih dahulu sebelum Hanin berucap.
"Maaf siapa anda? Dan kenapa anda memanggil saya Te? Nama saya Alya, Alya Dini Fahreza."
Hanin menutup mulutnya dengan kedua tangan, ingatan Alya sudah kembali.
"Kenapa masih di sini Nda? Ayo kita pulang, Alya harus siap-siap. Besok Alya mesti ke Makassar, Nda gak lupa kan?"
"Tunggu, tunggu dulu. Duduk dulu." Hanin menyuruh Alya untuk duduk terlebih dahulu. "Nak Irgi apa yang terjadi?"
"Apanya yang terjadi? Memangnya apa Nda? Dan siapa dokter ini? Ayo kita pulang."
* * *
Sampai di rumah Hanin segera memanggil Almira dan Faris. Hansa menceritakan kejadian di rumah sakit tadi, Alya segera masuk ke kamarnya. Ia hendak mengambil koper miliknya namun tidak ada.
"Nda, di mana koper Alya?"
"Mas," panggil Hansa pada Faris. "Apa yang mesti kita lakuin? Alya kayaknya udah inget semuanya.
"Kenapa Pa? Apa ada yang aneh?"
"Ini tanggal berapa?" Tanya Faris tiba-tiba.
"7 januari 2015."
Faris menoleh ke arah Hanin dan Almira, "Ini oktober 2018. Jadi ingatan kamu kembali sebelum kamu pergi ke Makassar?"
"Ingatan? Ingatan apa?"
"Duduk, ada yang perlu kita bicarain."
"Ada apa? Apa yang sebenernya terjadi, kenapa semua bersikap aneh kaya gini?"
"Ini oktober 2018, sudah tiga tahun semenjak kamu mengalami kecelakaan pesawat waktu kamu mau pergi ke Makassar."
"Kecelakaan?"
"Iya, kecelakaan yang ngebuat mas hilang ingatan." Sahut Almira. "Dan selama itu pula dokter Irgi yang merawat kakak sampai kakak bisa kembali sehat."
Alya benar-benar masih tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya dan adiknya itu. Apa benar dia sudah mengalami kecelakaan.
"Sekarang mending kamu istirahat. Besok kita baru bahas ini lagi." Timpal Faris.
* * *
"Jadi mas Alya cuma inget waktu dia sebelum pergi ke Makassar Nda?"
"Iya,"
"Berarti dia gak inget sama semua yang udah dia lakuin sama Eza setelah mas Alya hilang ingatan?"
"Maksud kamu? Emangnya apa yang mereka lakuin?"
Keceplosan, pikir Almira. "Ya maksud Mira, mereka kan deket lagi waktu Kak Alya hilang ingatan, nah itu semua gak ada di memori ?"
"Bagus kalau Alya gak inget itu semua." Jawab Faris. "Kita bisa atur semuanya, kita bisa jauhin Alya dari Eza, di ingatan Alya, Eza masih ada di Kanada bersama kekasih perempuannya itu, jadi yang mesti kita lakuin adalah jauhin Alya dari Eza." Tambah Faris.
"Jadi apa yang mau papa lakuin?"
"Papa akan minta dokter Irgi untuk membawa Alya pergi, kita bisa mendekatkan Irgi sama Alya."
"Mira setuju Pa, jangan sampe Kak Alya balik lagi ke Eza dia cuma bakal manfaatin Kak Alya buat keluarganya."
Faris kali ini tidak akan membuat Alya bersedih lagi, ia berjanji pada dirinya sendiri dia akan membuat Alya bahagia, apapun caranya.
* * *
Eza pergi ke rumah sakit, namun di sana Alya sudah tidak ada. Perawat yang berjaga mengatakan bahwa Alya sudah keluar sejak kemarin malam. Eza pun tidak bisa menemui Irgi, Irgi ijin untuk tidak masuk kerja, itu yang Eza ketahui. Apa yang sebenarnya terjadi.
Eza memutuskan untuk pergi ke panti asuhan, sambil mengulur waktu mungkin siang nanti Alya sudah bisa dihubungi dan Eza bisa menanyakan di mana keberadaan Alya.
* * *
Alya dan Faris sudah sampai di loby kantor milik keluarga Rahardian. Faris akan mengambil alih perusahaan itu dan memindahkan semua aset perusahaan itu di bawah nama Alya.
"Kenapa kita ke sini lagi, Pa?" Alya tidak ingin membuka kenangan buruknya bersama Eza di sini lagi.
"Ada yang harus kita urus."
Alya berjalan tepat di belakang Faris, ia tidak menunduk, tetapi ia mendongak dan menatap lurus ke depan. Semua orang yang ada di loby itu berdiri dan menyambut Faris dan Alya.
"Silahkan," seorang perempuan menunjukkan jalan untuk Faris dan Alya.
"Semua sudah siap?"
"Sudah pak, semua sudah menunggu di ruang rapat."
Faris melanjutkan perjalanannya menuju ruang rapat. Saat menuju ruang rapat.
"Bicara sesuai apa yang papa katakan tadi malam." Faris berujar pada Alya.
Alya tetap menatap lurus ke depan, wajahnya benar-benar terlihat dingin. Sebelum sampai ke ruang rapat Alya menatap ruangan direktur di mana ia dulu mendapati Eza dan Frea berciuman, di mana pengkhianatan Eza pada Alya bermula. Rasa marah itu tersulut begitu saja di benak Alya.
Tepat saat itu Frea keluar dari ruangan itu, tatapan mata Alya lekat menatap ke arah Frea. Benci, itu yang Aldy rasakan untuk Frea.
Tiba-tiba semua kesakitan yang Eza ciptakan muncul di ingatan Alya. Saat Alya bertengkar hebat dengan Eza, sampai Eza keluar dari rumah. Saat Eza memilih menarik lengan Frea daripada lengannya, saat Eza memilih untuk membela Frea bukan membelanya, dan saat dirinya berlutut di hadapan Frea, memohon pada Frea agar mau meninggalkan Eza. Semua itu benar-benar melukai Alya.
Bayangan saat tubuh Alya dipegangi oleh Eza karena Eza mencoba melindungi Frea terpampang jelas di ingatan Alya, saat Aldy menampar keras pipi Frea karena sudah berani datang ke apartmenenya bersama Eza.
"Kamu siap Al?" Tanya Faris.
Kemarahan sudah membuat Alya kuat, ia tidak akan membiarkan hama yang terus menggerogoti kebahagian dalam hidupnya tumbuh dengan begitu subur. Alya akan tuangkan racun yang akan mematikan sampai ke akarnya, bukan hanya dengan pemotong yang tajam.
"Semuanya akan berawal dari sini"
* * *
"Sesuai dengan ketentuan dan kebijakan yang berlaku di perusahaan ini, saya Alya Dini Fahreza sebagai pemegang saham terbesar saat ini memutuskan untuk mengambil alih perusahaan property Rahardian Group." Ucapan Alya ini disambut tepuk tangan oleh dewan direksi yang duduk di meja rapat saat itu. "Dan dengan otomatis jabatan direktur utama kembali saya jabat setelah beberapa bulan ini saya tinggalkan, langkah pertama yang akan saya ambil adalah mengganti posisi manager keuangan perusahaan saat ini."
* * *
Rissa segera menelfon Eza saat rapat direksi yang diadakan oleh Faris dan Alya selesai, sebenarnya Rissa tidak terlalu terkejut dengan keadaan Alya karena Almira sempat memberitahu Rissa kalau ingatan Alya sudah kembali tetapi belum semuanya.
"Lo di mana?"
...
"Alya lagi di kantor."
...
"Kalo lo gak percaya lo datang sekarang juga ke sini!" Rissa menghiraukan Eza yang masih berbicara, dengan segera ia memutus sambungan telfonnya.
"Apa yang sebenernya terjadi? Apa ingatan Alya sudah pulih seutuhnya?"
Rissa menoleh saat suara pintu terbuka sekaligus suara Frea terdengar.
"Apa yang sekarang terjadi Sa? Kenapa kamu diem aja, jawab Sa!" Frea benar-benar tampak panik.
Rissa masih terdiam ia tidak mungkin menceritakan semuanya tentang Alya pada Frea.
"Kamu pasti tahu kan kalo semua ini bakal terjadi? Andai kalo kamu gak halangin aku buat ngajuin pinjaman ke bank semuanya gak akan jadi kaya gini!"
"Gue lebih mending kehilangan semuanya dari pada gue harus ngikutin elo!"
"Dan sekarang posisi Eza yang terjepit, bahkan papa kamu mungkin akan di tendang dari perusahaan!"
"Bukan cuma mereka,"
Frea dan Rissa menoleh ke arah pintu. Alya yang berdiri di ambang pintu sembari memegangi kenop pintu meenyahuti ucapan Frea dan Rissa. "Bukan cuma Eza dan om Rahardian yang akan pergi dari perusahaan ini, tapi kalian berdua pun sama."
"Alya ..." gumam Rissa.
Frea menoleh penuh amarah pada Alya? kenapa semuanya harus kembali terbalik. Kenapa Alya harus kembali ke kantor ini, pikir Frea.
"Kalian tidak perlu meributkan diri karena saya tidak akan berlama-lama untuk mengeluarkan kalian dari kantor ini." Ujar Alya dengan tatapan tajam di hadapan Frea. "Rissa tolong ke ruangan saya sekarang, ada yang harus saya bicarakan."
Setelah itu Alya berbalik lalu keluar dari ruangan Rissa tanpa mempedulikan Frea yang menatapnya penuh kemarahan.
Saat itu Eza tepat berada di luar ruangan Rissa, baru saja Eza sampai di kantor.
* * *
Eza keluar dari mobilnya, entah mengapa jantungnya berdegup dengan kencang. Seolah sesuatu yang besar akan terjadi, apalagi Eza tahu Alya dda di dalam kantor bersama papanya.
Dengan penuh kegamangan Eza masuk ke dalam kantor dan segera naik ke lantai 3 di mana ruangannya terdapat. Rissa memberitahu Eza bahwa Alya ada di ruangannya.
Begitu keluar dari lift, Eza melihat Alya yang baru saja keluar dari ruangan Esa. Dengan sedikit berlari kecil Eza menghampiri Alya.
"Alya!"
Alya menoleh saat mendengar suara Eza memanggilnya. Ia menatap Eza yang sedikit berlari kecil untuk segera menghampirinya. Mata Alya masih menatap lekat pada Eza yang tampak terengah-engah.
"Aku cari kamu ke mana-mana, ternyata kamu di sini. Kenapa kamu gak telfon aku kalo kamu mau ke sini? Aku bisa temenin kamu Al."
Kemarahan perlahan sudah mulai menyulut perasaan Alya.
"Apa maksud kamu? Orang macam apa kamu ini? Kenapa tiba-tiba kamu peduli sama aku?"
"Al ..."
"Sekarang saya adalah atasan anda, jangan panggil saya hanya dengan nama, berani sekali anda. Jika anda tahu sopan santun harusnya anda tahu bagaimana cara memanggil seorang atasannya!"
Eza tampak bingung dengan jawaban Alya barusan. Alya lalu beranjak dari tempatnya berdiri, ia meninggalkan Eza begitu saja. Sejenak Eza masih tak sadar, kenapa Alya bersikap seperti itu.
* * *
"Tunggu Al!"
Eza menarik lengan Alya yang hendak masuk ke dalam ruangannya.
"Lepas!" Suara penuh kemarahan terdengar di ruangan itu.
Alya menghentakkan lengannya di udara agar pegangan Eza di lengannya terhempas.
"Sampai mana kamu ingat semuanya? Bagian mana yang sekarang ada di otak kamu Al? Apa kamu inget apa yang kita lakuin kemarin? Apa kamu inget waktu kita nginep bareng di apartemen?"
"Apa? Emangnya apa yang kamu lakuin kemarin? Bukankah seharusnya kamu tanya Frea apa yang kalian lakuin kemarin? Lalu, apa yang aku lakuin di apartemen? Segila itu kah aku sampai mau di ajak kembali ke tempat itu?" Alya berbicara penuh kesinisan. "Jangan mengada-ada, lebih baik sekarang kamu pergi, keluar dari kantor ini."
"Kemarin kamu bilang kalo kamu sayang sama aku, kamu mau tinggal bareng sama aku lagi,"
Suara Eza mulai meninggi, ia tidak peduli jika karyawan di kantornya saat ini memperhatikannya.
"Apa? Setelah kamu pergi ke Kanada sama Frea, saat itu juga semua rasa cinta itu berubah jadi kebencian! Pergi, cintai pilihan kamu, cintai Frea seperti kamu membela dia di depan aku dulu!" Alya berbicara dengan penuh kemarahan dan dengan sikap yang benar-benar dingin.
"Al!"
"Cukup Za! Keluar dari kantor ini, kamu dan keluarga kamu udah gak punya hak buat ada di kantor ini!"
Alya segera masuk ke ruangannya dan membanting pintu tepat di hadapan Eza. Sejenak Eza bergeming lalu tersadar kembali dan menyusul Alya masuk ke dalam ruangan. Eza menatap Alya yang duduk sembari membaca file di atas meja kerjanya. Eza tahu Alya hanya berpura-pura membaca.
"Keluar," ucap Alya dingin, mengusir Eza.
Eza tidak menyerah ia berdiri tepat di samping Alya dan mengambil kertas yang sedang Alya baca. Eza mencoba menarik perhatian Alya.
"Kembalikan Za,"
Eza masih bergeming, jemarinya mencengkram kuat lembaran kertas yang ada di tangannya saat ini.
"Aku nyuruh kamu keluar dari sini, dan sekarang kamu malah masuk ke ruangan seorang presiden direktur tanpa ijin dan mengganggunya."
"Kenapa kamu lakuin ini? Berapa banyak ingatan yang kembali ke diri kamu? Apa cuma ingatan di saat aku pergi ninggalin kamu? Dan kamu berpura-pura lupa dengan semua yang kita lakuin kemarin. Aku tahu aku salah, kamu berhak benci sama aku dan kalo kamu mau hukum aku, aku akan terima itu Al. Tapi tolong jangan bersikap seperti ini."
"Kenapa aku harus pura-pura? Dan lagi apa yang kita lakuin kemarin?"
"Kita bertemu dan saling jatuh cinta lagi, kita berdua berjanji, berjanji buat ngulang semuanya dari awal."
"Apa aku sudah tidak waras mengatakan itu semua di depan kamu?"
Eza hanya terdiam menatap Alya.
"Apa yang kamu lakuin sama aku setelah kita bertemu lagi? Apa kamu cerita semuanya? Semua masa lalu kita? Dan setelah kamu cerita semuanya apa aku tetap bilang cinta dan sayang sama kamu? Enggak kan, kamu gak cerita apa-apa. Iya kan, kamu gak lakuin itu? Di saat aku sedang hilang ingatan seperti sapi bodoh, yang bahkan aku enggak tahu siapa kamu,di saat seperti itu kamu bilang kamu jatuh cinta lagi sama aku Za? Apa itu yang dinamakan cinta, Za?" Eza masih saja terdiam. "Itu bukan cinta Za, tapi itu sebuah pembodohan! Kenapa kamu biarin aku jatuh dua kali ke lubang yang sama? Dan maaf, sekarang aku lupa bahwa aku pernah jatuh cinta lagi sama kamu." Ujar Alya penuh kemarahan.
Eza menaruh kertas di genggamannya di atas meja, ia tak menjawabi lagi ucapan Alya.
"Apa kamu lupa waktu kamu berlutut, memohon supaya papa kamu jauhin aku dari kamu? Apa kamu lupa sama ucapan kamu sendiri, sekali pun aku mati kamu gak akan berbalik dan menatap mayat itu, jadi sekarang hiduplah dengan bahagia, dengan pilihan kamu. Jangan pernah ganggu aku lagi." Setiap kalimat yang terucap seolah senjata yang berbalik menyerang Eza.
"Keluar dari ruangan ini, sekarang!"
Eza tak mampu berkata lagi, semua perkataan Alya adalah suatu kebenaran. Eza memang benar tidak berani bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Eza terlalu takut, dengan tubuh lunglai ia berjalan keluar dari ruangan itu.
* * *
Frea memegangi surat pemecatannya, ia baru saja menerima surat itu dari Alya yang diberikan oleh seketaris Alya.
"Apa kamu fikir sekarang kamu menang Al," gumam Frea penuh emosi. "Gak aku gak akan biarin ini semua membaik, aku akan buat kalian berdua saling membenci satu sama lain."
* * *
Rasanya lelah sekali, tapi masih banyak hal yang harus Alya lakukan.
Alya duduk di teras di dekat kolam renang di rumahnya, segelas anggur hitam menemainya. Sesekali tangannya menggoyangkan gelas berisi minuman anggur itu.
"Kak Alyabelom tidur?"
Alya menoleh ke arah suara, Almira tampak sedang berjalan menghampiri Alya.
"Bukannya mas besok harus kerja? Kenapa jam segini masih minum wine di sini?"
"Mau?" Alya mengacungkan gelas berisi minuman anggur itu.
Almira menggeleng, "sejak Kavin lahir, aku gak pernah minum itu lagi."
Alya tersenyum memelas mendengar alasan yang diberikan oleh adik kembarnya itu.
"Kenapa?" Tanya Almira.
"Kamu punya alasan buat hidup,"
"Kak ..."
"Kenapa hidup kita terbalik sekali ya, Al. Kalo aku iri sama kamu, menurut kamu itu wajar gak sih?"
Almira tidak menjawab, ia hanya diam sembari menatap heran pada Almira.
"Kamu punya Eka, suami yang selalu sayang sama kamu. Kamu punya Jevan, Kavin, anak yang lahir dari perut kamu." Alya meneguk Winenya perlahan, memberi jeda pada ucapannya. "Alasan hidup yang setiap manusia pasti punya, alasan untuk terus berjuang dalam hidup."
"Kak... Almira gak bermaksud,"
Aldy menaruh gelas di tangannya dan menoleh ke arah Almira, "kenapa?"
"Almira gak bisa bayangin kalo almira yang di posisi kakak, kalo Almira bisa tukar, pasti Almira akan tukar itu semua."
"Tukar?" Alya tersenyum, " bahkan di saat kita bertukar pun, bukan kebahagian yang aku dapet, Ra"
"Kak ..."
"Aku cuma anak pembawa sial kan? Gak ada bahagia sama sekali,"
Almira bergegas memeluk saudara kembarnya itu, "Kakak anak Nda, Mira juga anak Nda, kita berdua adalah anugerah dari Tuhan buat Nda sama Papa. Gak ada yang namanya anak pembawa sial, gimana pun kita, Nda dan Papa selalu sayang sama kita. Jevan dan Kavin, itu anak Kakak juga, kita sama, kita sedarah, Mira bisa rasa waktu Kakak sakit, Kakak bisa rasa waktu Mira sakit. Kakak sama Mira gak ada perbedaannya, bahagianya Kakak, itu bahagianya Mira juga. Sedihnya Kakak juga sedihnya Mira." Almira memeluk erat saudara kembarnya itu.
Almira hanya tersenyum sembari mengelus punggung Almira pelan. Almira memang orang yang cerewet, jujur, tidak pernah menutupi apa pun itu, sekali pun itu menyakiti lawan bicaranya namun Almira punya hati yang lembut.
Alya terdiam saat Almira memeluknya, tangannya hanya terus mengelus punggung Almira. Memang benar rasanya seperti dunia terbalik. Antara surga dan neraka, bunyi ponsel Alya yang berdering mengagetkan mereka berdua, nama Irgi tertera pada layar ponsel milik Alya. Alya hanya menatap pada ponselnya itu tanpa berniat menerima panggilan dari Irgi.
"Kakak gak angkat?"
"Irgi?"
Almira menatap Alya sejenak, "Kakak lupa sama dokter irgi?"
Alya hanya terdiam sembari menatap ponselnya yang ada di samping botol wine itu.
* * *
Irgi menatapi secangkir teh melati hangat tanpa gula yang ia pesan di sebuah kafe tak jauh dari rumah sakit, tempatnya bekerja. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Semalam saat Irgi menelfon Alya, Alya mengajaknya untuk bertemu. Tepatnya pukul satu siang setelah jam makan siang selesai, namun sudah lewat dari tiga puluh menit Alya tak kunjung datang.
Lalu lalang mobil di jalan raya menjadi santapan tatapan Irgi, berharap satu mobil berhenti di pelataran kafe itu dan keluarlah seorang Alya namun harapan itu harus pupus karena Alya tak kunjung datang.
Irgi menyesap teh hangatnya, lagi, sebelum ia beranjak ke kasir untuk membayar pesanannya.
"Maaf kalau membuat anda menunggu."
Tegukan teh hangat di kerongkongan Irgi berhenti, saat suara yang tidak begitu asing terdengar di telinga Irgi.
"Saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor saya, dan lagi pula jarak dari kantor saya ke sini terlalu jauh."
Terdengar seperti orang asing, kenapa rasanya sakit sekali, pikir Irgi.
"Gak apa-apa, apa kamu mau pesan sesuatu?"
Semalam Irgi merasa kaget saat Alya tidak mengenali dirinya, bahkan ia tidak ingat dengan nama Terra yang Irgi berikan untuknya.
"Terima kasih, tapi saya rasa lebih baik kita berbicara langsung pada intinya saja."
Irgi memaksakan untuk tersenyum, "baiklah,"
"Saya mungkin tidak ingat dengan kejadian tiga tahun belakangan ini, saya hidup bersama anda dan keluarga anda. Saya sudah mendengar semuanya dari kedua orang tua saya dan adik kembar saya. Saya yakin banyak sekali yang sudah saya habiskan dan tentu saja itu membuat saya berhutang kepada anda dan ibu anda. Saya berterima kasih karena anda sudah menolong saya, dengan tulus hati saya ucapkan terima kasih." Alya tiba-tiba mengeluarkan selembar kertas dengan tulisan nominal angka yang cukup besar. "Saya tahu ini tidak akan cukup untuk membayar semuanya dan jika anda merasa kurang, anda bisa menyebutkan berapa jumlah yang harus saya bayarkan." Alya menyodorkan kertas cek itu pada Irgi.
Irgi hanya diam, menatap cek itu tanpa berkata sepatah kata pun. Hatinya saat ini benar-benar terasa sakit, bukan ini yang Irgi inginkan. Bukan seperti ini.
"Saya harus segera kembali ke kantor, kalau ada kekurangan, anda bisa telfon saya langsung atau anda bisa menghubungi sekertaris saya." Alya meninggalkan sebuah kartu nama di atas meja sebelum beranjak dari duduknya.
"Terima kasih karena kamu masih ingat dan mau bertemu dengan saya," Irgi berucap, sekuat tenaga Irgi menahan rasa marah, kecewa, dan sedihnya untuk bisa berbicara pada Alya. Tangan Irgi menyobek kertas cek yang diberikan oleh Alya. "Semua uang yang kamu berikan tidak akan pernah bisa menggantikan kenangan yang sudah saya ciptakan bersama Terra." Irgi menaruh sobekkan kertas itu di atas meja dan meninggalkan Alya terlebih dahulu. Saat itu air mata Irgi mengalir di pipinya, ditolak oleh Terra tak ada rasanya dibandingkan harus melihat orang yang sama dengan ingatan yang berbeda.
* * *