58

4691 Kata
Lutut Alya masih terasa lemas, ia berpegangan pada tiang besar yang ada di sisi gedung apartemen Frea. Alya baru saja keluar dari apartemen Frea. Perkataan Frea masih terngiang di kepala Alya. Manusia seperti apa Alya ini, dulu. Kenapa sampai Frea membencinya sampai seperti itu. Ponsel Alya kembali bergetar, dengan segera Alya mengeceknya. Nama Eza tertera di sana, Alya hanya menatap layar ponselnya tanpa berniat menjawab panggilan dari Eza. Entah mengapa rasa takut itu muncul kembali, rasa takut yang terkadang muncul saat dirinya bersama Eza. "Maaf Za." * * * "Jadi, apa yang mau mas lakuin sekarang?" Hanin menaruh segelas air putih di hadapan Faris. "Apa lagi, gak ada pilihan lain, mas harus ambil alih perusahaan keluarga Rahardian." "Gak ada pilihan ke dua?" "Han, perusahaan itu hampir bangkrut, bahkan proyek yang sedang mereka garap pun gagal, gak ada satupun investor yang mau invest di sana dan mas gak bisa terus-terusan kasih talangan dana ke mereka. Saham atas nama Alya saat ini lebih dari setengahnya, hampir mencapai enam puluh persen, itu artinya Alya bukan lagi pemegang saham ke dua terbesar tapi Alya lah yang menjadi pemegang utamanya." Faris mencoba menjelaskan istri kesayangannya itu. "Mas, Han gak masalagin soal itu, jujur aja Han cuma gak mau berurusan sama keluarga mereka lagi, rasanya hati Han masih gak rela dan sakit hati aja kalo denger nama keluarga mereka disebut-sebut." Faris mengelus punggung tangan Hanin, "ini demi Alya, kalau ini berhasil toh kita bisa membesarkan yayasan yang Alya bangun dulu. Atau nanti kita bisa ubah nama perusahaan property itu dengan nama Alya." "Hmmm ..." Hanin tak mengucapkan sepetah katapun lagi, mungkin keinginannya begitu besar untuk bisa terlepas dati bayang-bayang keluarga Eza, namun Hanin yakin suaminya lebih tau cara terbaik untuk perusahaan itu. Faris lalu mengelus kepala Hanin, sadar tidak sadar mereka seperti kembali ke masa dulu, saat mereka pertama kali hidup bersama. "Sini." Faris menepuk pahanya, tanda ia menyuruh Hanin untuk duduk di sana. Hanin mengernyitkan dahinya, "jangan aneh-aneh, Almira lagi di sini, kalo sampe dia lihat dia gak akan berhenti ejek Han, mas." "Almira lagi ngurusin Kavin, udah sini." Faris menarik Hanin dan kini tubhb Hanin sudah di pangkuan Faris. Tangan Faris melingkar di pinggang Hqnin. "Mas kangen banget, lama banget kita gak kaya gini." Faris memeluk perut Hanin, dulu Faris suka sekali tidur sembari memeluk perut Hanin. Hanin dengan nalurinya segera mengelus rambut Faris, "iya lah gak bisa, cucu kamu aja udah dua." Balas Hanin. "Dulu kita maen sarang burung seminggu bisa lima kali lebih, sekarang boro-boro." Tangan Hanin tanpa terasa meremas rambut Faris seolah menandakan kekesalan. "Aduh, sakit dong Han, jangan kamu jambak." "Eh?" Hanin melepaskan tangannya dari Faris. "M-maaf mas, Han gak sengaja hehe ..." Faris yang melihat tingkah Hanin hanya menggeleng di depan Hanin. * * * Rissa tampak tidak tenang saat ini, ia berkali-kali mencoba menghubungi seseorang, ya, Rissa mencoba menghubungi Eza, tadi pagi Eza berangkat terlebih dulu ke kantor tapi nyatanya Eza tidak di kantor. "Sialan tu anak, ngurusin si Alya sampe lupa kerjaan." Baru selesai berbicara, pintu ruangan Rissa terbuka, sekertaris Rissa masuk ke ruangan Rissa. "Permisi Bu, Ibu dipanggil sama pak Rahardian." "Ah ... iya, makasih ya." * * * Irgi, Alya dan mama Irgi masih sarapan. Hari ini Alya sengaja yang menyiapkan sarapan. "Mah, hari ini mamah bisa ke panti asuhan?" Tanya Irgi tiba-tiba. "Kenapa? Mama hari ini ada wawancara sama chef baru di restoran kita." "Ada orang mau berkunjung, dia bilang dia mau bantu kelola panti asuhan, dia juga punya yayasan untuk anak-anak pengidap kanker juga soalnya." "Yayasan? Apa nama yayasannya?" Alya masih belum tertarik untuk menimpali, ia memilih untuk mendengarkannya saja. "Irgi lupa tanya, pokoknya orang itu tadinya adalah pasien Irgi di rumahsakit. Karena sering berobat, Irgi jadi akrab, namanya Tante Hanin." Suara sendok terjatuh tiba-tiba terdengar, Irgi dan mamanya menoleh ke arah Alya. "Te? Kamu kenapa?" Tanya mama Irgi khawatir. "E-enggak, maaf tante." Sesuatu seolah menggelitik ingatan Alya, perasaan yang sulit Alya jelaskan saat mendengar nama Hanin disebut. Rasanya Alya sudab akrab lama sekali dengan nama itu. Alya lalu mengambil sendoknya yang terjatuh. Alya terus memikirkan nama itu, Hansa, Hansa, sepertinya Alya sangat terbiasa dengan nama itu. "Kamu coba suruh ganti hari aja, gimana?" "Gimana kalo aku aja yang ke sana Gi? Aku kan gak ke mana-mana hari ini." Potong Alya tiba-tiba. "Eh?" Irgi tampak kaget dengan tawaran Alya. "Bener kamu bisa?" Alya mengangguk penuh keyakinan. Sore nanti ia rencananya akan menemui Almira, tapi lebih baik ia pergi ke panti terlebih dahulu lagi pula dia sudah lama tidak ke panti pasti anak-anak sangat merindukan Alya. Secara, Alya sangat dekat dengan anak-anak di panti. * * * Hanin sedang menyiapkan beberapa bahan makanan yang ia beli kemarin untuk ia bawa ke panti asuhan yang di kelola oleh Irgi. Ini adalah bentuk terimakasih Hanin pada Irgi karena sudah merawat Ratna, ibu mertuanya dengan begitu baik dan benar. "Ibu ikut ya, Han?" Tanya Ratna. "Bu, Hanin bawa mobil sendiri kalo ibu ikut Hanin nanti kerepotan deh kayaknya. Hanin mesti bawa makanan ini juga." Hanin menatap ke arah kardus berisi camilan dan biskuit yang akan diberikan pada anak-anak panti. "Nanti ibu sama siapa di rumah?" Ratna lalu merajuk pada Hanin. Baru saja Hanin hendak membuka mulutnya, menjawabi pertanyaan Ratna, Almira sudah lebih dulu menyahut. "Heran deh! Kaya anak kecil aja, kan Almira ada di sini lagian ada bi Nur juga." "Almira," Hanin mengingatkan. "Biarin Nda, kalo Nda turutin terus yang ada Nek Na makin manja!" Kalau sudah begini tidak ada yang bisa mematahkan argumen Almira kecuali papanya sendiri. "Udah, Nda kalo mau pergi, pergi aja Nek Na biar Almira yang jaga." * * * Alya baru saja sampai di panti asuhan, seperti biasa ia disambut hangat oleh anak-anak yang ada di sana. Alya mulai membantu merapikan tempat tidur, ia juga kadang membantu anak-anak bergantian untuk mandi. Setelah selesai Alya segera pergi ke salah satu ruangan yang digunakan untuk berkumpul, ya sebenarnya ruang serba guna. Di sana Alya mulai membantu suster-suster yang ada di sana untuk menyiapkan makan pagi anak-anak. "Loh? Cuma ini sus Makanannya?" Alya kaget, sarapan pagi ini hanya ada roti tawar tanpa selai serta segelas s**u segar di masing-masing meja anak-anak. "Kita lagi menghemat Mbak Terra, donatur kita sekarang berkurang, pak Raytama setelah meninggal, tidak ada yang mau meneruskan untuk menjadi penggantinya, bahkan anaknya saja tidak mau. Jadi mau tidak mau kita harus menghemat, belum lagi ada anak-anak baru." Alya baru tahu jika keadaan di panti seperti ini, ia sibuk saja memikirkan dirinya, mungkin sudah saatnya dia mencari kerja dan membantu keadaan di sini. "Ya sudah, Mbak Terra saya panggil anak-anak dulu, ya." Alya mengangguk lalu membereskan sisa makanan yang harus ia sajikan. Alya menatap ke arah jendela, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di pekarangan panti, pikiran Alya segera tertuju pada orang yang Irgi bicarakan tadi pagi. Alya lalu kembali melanjutkan kegiatannya lagi, menyiapkan sarapan untuk anak-anak panti. "Hey ..." Alya menoleh sebentar, "Irgi?" Irgi tersenyum pada Alya. "Kok kamu di sini?" "Hmmm ... setelah aku pikir-pikir, kamu pasti canggung kalo aku gak di sini, jadi aku putusin buat ke sini temenin kamu. Secara, aku kan yang kenal sama orangnya." Alya tersenyum pada Irgi, sepertinya Irgi memang terlalu paham pada dirinya. Dan lagi kenapa Alya mau ke sini, Alya terlalu penasaran pada orang yang bernama Hanin. * * * Dengan ragu Rissa memutar kenop pintu ruangan ayahnya. "Lihat! Mana yang kamu bilang kamu mau tanganin semuanya?!" Di sana, Frea sedang berdiri di sebrang meja kerja papa Eza. Dengan penuh amarah papa Eza tampak menegur Frea. Rissa tau papanya marah soal uang perusahaan. Apalagi tadi pagi, Faris datang ke kantor dan meminta agar kantor itu diambil alih oleh Faris selaku wali Alya, yang memiliki saham terbesar di kantor itu. Papah Eza kian merasa ketar ketir, bagaimanapun kantor ini memiliki banyak sejarah bagi papa Eza, sampai mati pun papa Eza tidak akan menyerahkannya begitu saja pada Faris. "Kita masih bisa mengajukan pinjaman, Pak." Satu-satunya jalan yang bisa Frea berikan pada papa Eza. Padahal Frea tau betul, pinjaman kantir papa Eza sudah menumpuk di bank. "Gila lo ya, itu bukan jalan keluar!" Rissa segera memotong setelah mendengar ucapan Frea. "Jaminan apa yang bakal elo kasih buat bank, huh?!" "Rumah, rumah yang kalian tempati, aku yakin itu lebih dari cukup buat nutup kerugian perusahaan ini." Frea benar-benar kalap. "Apa lo bilang? belum juga lo jadi istri Eza, lo udah mau bikin kita jadi gelandangan?!" Ujar Rissa penuh kemarahan. "Om, percaya sama Frea, Frea bisa atasin ini semua." Jawab Frea tanpa memperedulikan Rissa. "Enggak Pa! Jangan dengerin omongan wanita ular ini." Papa Eza masih diam, mungkin saat ini dirinya sedang memikirkan usulan dari Frea. Jika dengan menggadaikan rumah tinggal yang mereka tempati saat ini bisa untuk menolong keuangan perusahaan maka tidak ada pilihan lain. Lagipula Papa Eza tidak akan rela jika perusahaan ini bankrut dan benar-benar diambil alih oleh Faris. "Pa! Rissa mohon jangan dengerin Frea, kita masih bisa minta tolong sama om Faris, iya Pa, om Faris." "Itu sudah bukan pilihan." Papa Eza menolak usulan Rissa, "mau tidak mau kita harus setuju dengan saran Frea." "Pa! Rissa mohon!" "Terimakasih om, Frea janji, Frea akan urus semuanya." Frea seolah menang, dengan ini Frea akan membuktikan bahwa dirinya lebih baik dari Alya. Ia akan bisa membuat calon ayah mertuanya bangga dengan dirinya. "Andai kamu masih hidup Alya." Gumam Papa Eza tiba-tiba. "Alya masih hidup Pa!!!" Rissa sudah tidak bisa menyembunyikannya lagi, saat ini kantor benar-benar sangat membutuhkan Alya, hanya Alya yang bisa meminta tolong pada papanya. "Ya, Alya masih hidup, dan Alya bisa bantu kita Pa." "Jangan ngaco kamu Rissa!" "Mungkin Papa gak percaya, tapi itu kenyataannya, Alya masih hidup Pa, Alya sekarang ada di suatu tempat," Rissa melirik ke arah Frea. "Sekarang, Papa gak perlu terima saran Frea lagi, apa kurang cukup bukti buat Papa gimana cara kerja wanita ini?!" Rissa menunjuk tepat di hadapan wajah Frea. "Siapa yang membuat kita sekarang ada di posisi ini Pa? Dia!" Telunjuk Rissa masih tepat di hadapan Frea. "Rissa janji, Rissa akan bawa Aya kembali, tolong papa bisa ulur waktu buat ini semua." Rissa tidak akan membiarkan Papanya untuk menerima saran dari Frea. Frea hanya akan semakin mengubur perusahaan papanya dalam-dalam. * * * "Halo mas?" Hanin baru saja sampai di panti asuhan yang dikelola oleh mama Irgi, ponselnya berdering. "Aku? Aku baru sampe di panti asuhan, semalem kan aku udah cerita sama kamu." Hanin menutup pintu mobilnya. Ia lalu berjalan menuju pintu bagasi mobilnya, ia hendak menurunkan beberapa barang yang ia bawa dari rumah. Tangan Hanin baru saja mau membuka pintu bagasi tapi tiba-tiba tangan Hanin terkulai lemas saat mendengarkan ucapan Faris di ponsel. "M-maas ..." "Tante ..." Irgi yang sudah berdiri di belakang Hanin segera menyapa Hanin. Seketika Hanin menoleh, dan saat itulah pegangan tangan pada ponselnya terlepas, ponsel Hanin terjatuh sedangkan suara Faris masih terdengar dari sana. Hanin tersentak kaget, belum selesai ucapan Faris tadi, kini ia melihat seseorang yang Faris tadi bicarakan. Ya, Alya, anaknya, Faris baru saja diberi tahu oleh orang kepercayaan Faris bahwa jasad yang ada di makam Alya bukanlah jenazah Alya dan kemungkinan Alya masih hidup itu besar. Lutut Hanin terasa lemas sekali, matanya sudah berlinang air mata, Alya saat ini berada tepat di hadapannya. Pikirannya saat ini benar-benar kosong, sakit hati yang ia rasakan dulu karena kehilangan anak kesayangannya. "Tante kenapa?" Irgi segera menolong Hanin saat melihat tubuh Hansa sedikit terguncang. "A-A-Alya ..." gumam Hanin. Irgi yang mendengar gumaman Hanin segera menoleh ke arah Terra. Hanin melepaskan genggaman Irgi pada lengannya. Kini Hanin menatap ke arah Irgi. "Kenapa kamu di sini? Kenapa anak saya bisa ada di sini? Kenapa dia bisa ada di sini? jawab!" "J-jadi?" Irgi berkata terbata. "Gi, ada apa?" Alya yang kebingungan segera menghampiri Hansa. Hanin masih menangis tersedu, ia terduduk di tanah, tangisnya benar-benar pecah saat itu. Tak lama Alya menghampiri Hanin dan berjongkok di hadapannya, Hanin dengan segera memeluk Alya. Hansa meluapkan segala emosinya saat itu. * * * "Jangan selangkah pun kamu berani keluar buat cari Alya Sa!" Langkah Rissa terhenti saat mendengar ucapan Frea, Rissa kini berbalik, ia menatap Frea dengan penuh kebencian. "Elo tahu kenapa gue mau bawa Alya balik ke perusahaan ini lagi? Bukan karena gue takut keluarga gue bakal miskin, tapi karena emang Alya layak buat kembali. Separuh saham di perusahaan ini adalah milik Alya, kalau sampai perusahaan ini hancur gue gak tahu apa yang bakal keluarga Alya lakuin ke bokap gue. Mereka tahu Alya hancur karena Eza, Eza ninggalin Alya demi elo, gue gak kebayang apa yang bakal bokapnya Alya lakuin kalau sampai dia tahu elo pun masih kerja di sini. Apa lagi elo ngejalanin sepuluh persen dari saham perusahaan. And see, what you've done? Elo hampir bikin bangkrut perusahaan ini!" Rissa menunjuk ke arah Frea. "Gue harus balikin apa yang Alya punya, bahkan jika itu termasuk Eza, gue akan balikin dia ke Alya, udah saatnya buat elo sekarang akhirin permainan elo." Rissa kemudian berlalu meninggalkan Frea. Rissa tidak akan tinggal diam sekarang, Frea sudah cukup membuat masalah untuk keluarganya saat ini, dia akan menjemput Alya di rumah Irgi, ia akan membawa Alya kembali ke mana dia harus kembali. Frea hanya berdiri mematung, apa yang akan ia lakukan sekarang. Semuanya berjalan, jauh dari apa yang ia rencanakan. "Di mana kamu, Za, di mana kamu?!" Ucap Frea penuh kebencian. * * * "Sejak kapan kamu sembunyiin Alya di sini? Kenapa dia ada di sini? Terus Kenapa kamu harus suruh Alya buat urusin panti asuhan di sini? Kamu sengaja pura-pura baik sama keluarga saya, supaya kamu bisa memanfaatkan kami, iya?!" Hanin menunjuk-nunjuk wajah Irgi dengan begitu kasar. Saat ini Alya memakai celemek di tubuhnya, sembari berbicara Hanin menangis terisak. "Kamu sengaja lakuin ini semua?! Dia bahkan enggak bisa kenal sama sembarangan orang, dia bahkan gak bisa dengan cepatnya beradaptasi dengan orang asing. Tapi di sini dia diperlakukan seperti pembantu!" Air mata Hanin kian membanjiri pipinya. "Saya kira dia sudah pergi. Dan bahkan saya tidak tahu kalau Alya sedekat ini dengan saya. Alya, anak saya masih hidup, dan dokter hanya diam menyembunyikan ini semua dari saya?!" Tangis Hanin benar-benar pecah saat itu. Hanin menampar telak pipi Irgi, Hanin menatap benci ke arah Irgi. "Kenapa? Kenapa kamu sembunyiin Alya dari saya? Kenapa?!" Irgi masih tetap diam, dia hanya menunduk tidak menjawab pertanyaan Hanin. Irgi pun tidak tahu jika orang yang selama ini datang untuk berobat kepadanya adalah orang tua Alya. "Kamu pasti tahu kalau dia anak saya, kenapa kamu gak kasih tahu saya kalo dia ada sama kamu? Kenapa kamu sembunyiin dia? Jawab!" "S-saya ... tidak ada yang bisa saya katakan. Maafkan saya tante ..." "Maaf? Maaf apanya? Menurut kamu gimana perasaan orang tua yang kehilangan anaknya, dia harus percaya bahwa yang ia makamkan adalah anaknya meski hatinya sama sekali menyangkalnya. Apa kamu tahu arti kehilangan? Bagaimana sakitnya kehilangan orang yang kita sayangi?!" Hanin tak bisa menahan lagi emosinya, rasa sesak di dadanya benar-benar membuatnya mampu melakukan apapun pada Irgi saat ini. Matanya memerah, air matanya sudah deras membasahi pipinya. Bagaimana tidak, kerinduan yang ia tahan selama tiga tahun ini, kenyataan pahit yang harus ia terima meski ia berkali menolak, anak kesayangannya meninggalkan dirinya lebih dulu, dan dia sendiri yang harus ikut menguburnya. Hanin kembali menampar. "Kamu sembunyiin dia di sini supaya kamu bisa nyuruh dia buat ngurusin panti asuhan ini? Jawab?!" Hanin menarik baju Irgi sembari terus menangis. "Kamu tahu betapa saya menderita setelah tahu kalau anak saya meninggal? Apa kamu tahu rasanya seperti apa?! Dan ternyata diam-diam kamu sembunyikan dia di sini!" Hanin kembali mengulang pertanyaanya berkali-kali, dia benar-benar marah saat ini. "Cukup tante!" Alya menghampiri Irgi dan Hanin. "A-Alya gak tahu gimana tante lihat saya saat ini, tapi saya bahagia dengan kehidupan saya sekarang." Mendengar ucapan Alya perlahan Hanin melepaskan cengkramannya pada baju Irgi. "Irgi nyelamatin saya, Irgi kasih kehidupan buat saya, irgi rubah saya menjadi seseorang yang baru, di sini, bersama Irgi, saya merasakan kenyamanan dan kehangatan yang seolah hilang dari saya." Alya masih tetap memegangi tubuh Hansa yang hampir ambruk. Sedangkan Irgi masih tertunduk dan menangis. Ia tidak tahu harus berkata apa. Saat itu Faris muncul, ia di telfon Irgi dan segera menyusul ke panti asuhan setelah diberi alamat oleh Irgi. "Han ..." Hanin menoleh mendengar suara Faris, begitupun Alya dan Irgi. "M-mas ..." Faris menatap tak percaya ke arah Alya, ia baru saja di beritahu oleh orang kepercayaannya bahwa jenazah yang ada di makam Alya bukanlah jenazah Alya dan ternyata benar bahwa Alya masih hidup. "A-Alya ..." "Mas ... Alya, anak kita masih hidup mas." Ujar Hanin sembari menangis. Faris berjalan menghampiri Alya, ia menatap Alya tanpa berkata. Tak lama tangannya merangkul Alya dan memeluk Alya erat. "Papa lega, papa lega." Faris tidak menangis tapi rasanya dadanya saat ini begitu sesak. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang jelas dia merasa bersyukur. * * * Eza baru saja selesai bertemu dengan investor asing, ia harus bersusah payah meyakinkan investor itu untuk mau menanam modal di proyeknya. Eza tidak tahu apa yang terjadi di ruangan papanya tadi, andai dia tahu mungkin saat ini dia pun sudah menyusul Esa untuk bersama pergi menjemput Alya. Eza mengambil ponselnya dari saku, seharian Alya tidak memberinya kabar. Eza hendak menelfon Alya sebelum pintu ruangannya terbuka, Eza mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menatap siapa yang masuk ke dalam. Frea, dia masuk tanpa ragu ke ruangan Eza. "Kamu," nada kecewa tampak sekali pada ucapan Eza. "Kenapa? Kayaknya kamu kecewa banget lihat aku yang datang." "Ada apa?" Frea menarik kursi lalu duduk di kursi itu. "Apa harus kamu bersikap dingin seperti ini sama aku Za?" "Ini kantor Fre, aku harap kamu bisa bersikap profesional. Lagi pula aku sudah bilang sama kamu, kalo aku mau batalin semua rencana pernikahan kita." Jelas Eza pada Frea. "Tiga tahun yang lalu kamu enggak kaya gini, kamu begitu yakin meninggalkan Alya dan memilih untuk hidup bahagia sama aku." Eza menatap Frea setelah mendengar ucapan Frea tadi. "Dan kamu tahu apa yang aku rasain setelah itu semua aku lakuin? Aku nyesel Fre, rasanya pahit, melebihi empedu." Sanggah Eza. "Apa kamu tahu sesuatu Za? Yang sekarang kamu cintai itu bukan Alya Dini Fahreza, tapi orang lain. Begitu pun Alya, dia pernah bilang kalau saat ini dia suka sama kamu bukan karena kamu adalah mantan kekasihnya, tapi dia menyukai kamu karena kamu orang asing buat dia. Orang asing yang membuat dia merasa nyaman. Itu yang Alya bilang ke aku Za. Sekarang, kalian berdua terikat bukan karena perasaan yang dulu pernah ada di antara kalian tapi karena ketertarikan dan keasingan yang kalian saling rasakan tanpa pernah menyelesaikan apa yang terjadi di masa lalu kalian. Lalu apa yang mau kamu lakuin saat Alya ingat semuanya? Saat apa yang Alya tidak ketahui atau pun sebaliknya terungkap, apa kamu yakin saat itu kamu masih bisa berdiri buat ngadepin dia?!" "Cukup, kamu gak perlu bahas itu semua. Apa yang terjadi di antara kami biarkan kami yang mengatasinya. Apa mau kamu sekarang?" "Jawab pertanyaan aku dulu Za, jangan kamu menghindar!" Mata Frea sudah berkaca-kaca. "Dia, tetaplah Alya yang dulu. Gak ada yang berubah sama sekali, Alya, orang yang aku tinggalin pergi karena keterpurukkan aku. Tapi gak buat kali ini, apapun yang terjadi nanti, aku gak akan ninggalin dia lagi, aku akan tetap ada di samping dia." Jawab Eza penuh penekanan. Saat itu mata Frea tampak berkaca, seolah ia tak bisa menahan tangis lagi di matanya. "Terus kenapa dulu kamu perhatian sama aku? Berjanji untuk membangun rumah tangga bersama, pergi bersama melupakan semua masa lalu kamu. Kenapa kamu lakuin itu semua ke aku? Kenapa Za?!" "Maaf ... dulu aku lihat kamu sebagai orang yang mau menerima aku di saat aku butuh seseorang yang mau mengerti aku, Fre. Tapi aku sadar kalau itu semua salah. Aku menghargai perasaan kamu. Dan samapi sekarang aku masih menghargai kamu sebagai seorang wanita yang baik dan terhormat. Lindungi diri kamu sendiri, hargai diri kamu sendiri, dan pikirkanlah betapa berharganya diri kamu dan aku yakin pasti ada lelaki di luar sana yang lebih pantas buat kamu. Jadi aku mohon, jangan ikut campur urusan kami lagi. Biarkan kami berdua bahagia." Jelas Eza. Frea hanya menangis tersedu tanpa menjawabi ucapan Eza. "Jangan khawatirin gimana hubungan kami nanti, gagal atau enggak biarin kami berdua yang jalanin itu semua, berhenti ganggu kami berdua, dan kamu harus tahu ini bukan permintaan tapi peringatan." Mendengar ucapan Eza, Frea mendongak dan menatap Eza dengan derai tangis nnamun tatapannya srolah penuh kebencian. * * * Alya, Irgi, Faris dan Hanin duduk saling berhadapan. Hanin terus menangis di pelukkan Faris. "Gimana bisa anak kita sendiri gak inget sama orang tuanya." Gumam Hanin. Faris yang mendengarnya hanya mengelus pundak Hanin. "Hari itu, saya ditugaskan untuk pergi ke salah satu desa yang ada di daerah pelosok di Makassar. Seperti biasa setiap minggu pagi saya harus berjalan melewati hutan. Saat saya sampai di desa itu, saya langsung dibawa ke rumah salah satu pemangku adat, Alya sudah tergeletak di sana. Alya tidak sadarkan diri, karena saat itu saya hanya membawa peralatan pengobatan sederhana, saya hanya mengobati luka luar Alya. Butuh waktu dua minggu untuk saya membawa Alya ke rumah sakit, itu pun hanya puskesmas. Setelah di rawat satu bulan di puskesmas itu, saya baru mendapat bantuan dan membawa Alya ke rumah sakit di pusat kota. Dokter menyatakan Alya koma, dan tidak tahu kapan dia akan siuman. Kaki kanan Alya mengalami gangguan ankle kaki Alya megalami pergeseran dan mata kaki Alya hancur karena tertimpa benda keras, ada beberapa kali operasi yang harus Alya jalani untuk kakinya tapi semua itu di tunda karena kondisi Alya yang semakin menurun saat Alya mengalami koma." Irgi menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya, "hampir delapan bulan Alya koma, dan setelah itu ia siuman. Namun Alya belum bisa menggerakan tubuhnya. Setiap hari ia harus menjalani terapi. Saya mencoba mencari informasi, bertanya siapa namanya, apa yang terjadi, tapi Alya hanya diam. Alya tampak bingung dan tidak mengenali dirinya sendiri. Saya pikir seiring berjalannya waktu semua akan berubah dan Alya ingat dengan semuanya tapi sama sekali nihil. Sampai dua tahun kemudian, Alya sudah bisa berjalan. Karena Alya tidak tahu siapa dirinya, saya memanggil dia dengan nama Terra, nama mantan kekasih saya. Setelah itu saya putusin buat bawa Alya ke Jakarta karena rumah sakit di Makassar tidak bisa menindak operasi kaki Alya. Dan di sinilah dia sekarang." Hanin merasa bersalah karena sudah menuduh Irgi sembarangan. Mungkin seharusnya ia berterimakasih pada Irgi. "Om, tante, Irgi orang baik, dia nyelamatin saya. Jadi tolong berhenti menuduh Irgi yang bukan-bukan." Pinta Alya pada Hansa. "Kalau enggak ada Irgi mungkin sekarang saya udah enggak ada." "Terimakasih Dokter Irgi, saya tidak tahu harus membalas itu semua dengan apa." Ujar Faris tulus. "Enggak om, Irgi ikhlas nolong Alya karena menurut Irgi itu adalah tugas seorang dokter." Jelas Irgi. "Jadi, selama kamu berada di Jakarta siapa yang udah kamu temuin Kak?" Tanya Hanin pada Alya. Alya menatap Irgi, ia tampak ragu untuk menjawabnya. "E-Eza ..." jawab Alya ragu. "Mas!" Hansa berteriak pada Faris. "Apa kamu yang temuin Alya sama Eza?!" Tanya Hanin pada Irgi. "Mas kamu harus bawa Alya pulang, Han gak mau kalau Alya sampai kembali pada Eza." Ujar Hanin pada Faris. "Tenang Han, tenang." Faris mencoba menenangkan Hansa. "Han tenang dulu, biar mas yang ngomong sama Alya." "Kenapa Alya gak boleh ketemu sama Eza Pa?" Hanin menoleh pada Faris, Hanin lupa jika Alya masih mengalami amnesia. "Karena Eza, kamu mengalami-" "Han!" Ucapan Hanin terhenti saat mendengar namanya dipanggil Faris. "Alya harus tahu Mas!" "Kenapa sama Eza Pa?" Faris tidak tahu harus berkata apa lagi. Irgi memberi tanda pada Faris untuk tidak mengatakan semuanya sekarang. * * * Rissa belum bisa menghubungi Irgi, dia sudah pergi ke rumah sakit namun Irgi tidak ada. "Mesti ke mana sih gue nyari Irgi." Rissa tampak kebingungan, ia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Akhirnya Rissa memutuskan untuk bertanya alamat rumah Irgi pada salah satu perawat jaga yang sedang bertugas. "Permisi sus, saya mau tanya kalau Dokter Irgi itu alamat rumahnya di mana ya?" "Dokter Irgi?" "Iya, dia dokter umum di rumah sakit ini." "Oh, dokte lrgi, ada keperluan apa ya?" "Saya mau ketemu dia, tapi sepertinya sekarang dia enggak ada di tempat." "Bapak pasiennya?" Cerewet sekali, pikir Rissa. "Kakak saya pasien dia, saya mau bawa berobat tapi sekarang dianya gak ada, bisa kasih gak sih sus?" Ketus Rissa. "Iya, pak. Sebentar ya, saya lihat dulu." Perawat itu mengecek sebentar di komputernya. Setelah itu perawat itu menuliskan sebuah alamat di kertas dan memberikannya pada Rissa. "Ini pak." "Gitu dong dari tadi, Makasih." Rissa berlalu tanpa tersenyum sedikitpun dan segera meninggalakan perawat itu. * * * Ingatan Alya belum sepenuhnya kembali, kita gak bisa langsung menjejalkan semua ingatan yang dulu pernah ada pada Alya. Itu bakal mengganggu fungsi dari ingatan Alya nantinya. Selama perjalan pulang dari panti asuhan, Faris terus memikirkan ucapan Irgi. Faris dilema, ia tidak tahu hsrus mengambil tindakksn seperti apa. Jika ia memaksakan kehendaknya agar Alya segera pindah dari rumah Irgi maka resikonya mungkin terlslu besar bagi Alya, Ia tidak mau jika pada akhirnya Alya harus merasakan sakit lagi. "Sebaiknya kita gak paksa Alya buat tinggal sama kita dulu Han." Ujar Faris tiba-tiba. "Maksud Mas?" "Ya kita biarin Alya buat tinggal sama Irgi dulu aja," "Mas, mana bisa Han kasih Alya tinggal sama orang lain sementara mas tahu gimana perasaan Han selama ini. Mas tega lakuin itu?" "H-Han ..." "Kalau Alya tetap tinggal sama Irgi dia gak akan ingat sama kita mas! Kapan dia bakal inget sama kita? Mas mau kalo Alya gak pernah inget sama kita? Mas mau itu terjadi?" Faris terdiam, ia tidak akan menjawabi ucapan Hanin lagi, percuma itu hanya akan membuatnya semakin menjadi. Bagaimanapun prioritasnya saat ini adalah Alya. Faris harus menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Irgi dan rumahnya, agar Faris bisa tahu bagaimana kondisi Alya. Untuk sementara waktu Faris akan membiarkan Alya tinggal di rumah Irgi. * * * "Maaf Gi," ujar Alya tidak enak hati pada Irgi. "Buat?" "Sikap orang tuaku tadi." Irgi hanya tersenyum sendu pada Alya, ia sungguh tidak mempermasalahkan apa yang Hanin lakukan tadi. "Aku tahu maksud orang tua kamu itu apa, kenapa mereka marah sama aku. Mungkin ini juga salah aku, harusnya waktu aku ketemu saudara kembar kamu, aku harusnya langsung bawa kamu Te." "Bukan salah kamu Gi, mungkin kalo aku di posisi kamu saat itu, aku juga bakal lakuin itu semua." Alya tersenyum tulus pada Irgi. "Jadi, apa yang mau kamu lakuin sekarang?" Irgi mengalihkan pembicaraan. "Aku belum tahu Gi." "Kalo aku boleh kasih saran, mending kamu tinggal sama orang tua kamu. Bukan aku mau ngusir kamu tapi aku yakin keluarga kamu mau yang terbaik buat kamu. Apa lagi hampir tiga tahun kalian enggak ketemu." "Entahlah ..." Alya tampak berpikir setelah mendengar ucapan Irgi barusan. "Aku boleh tanya sesuatu?" "Boleh," Irgi mengangguk. "Aku harap kamu mau jawab jujur," "Soal?" "Apa yang sebenarnya terjadi di antara aku sama Eza, kenapa orang tua aku sampe segitunya benci sama Eza." Irgi tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Irgi tidak mungkin mengatakannya sekarang. Irgi tidak mau terjadi apa-apa pada Alya, biar waktu yang menuntun Alya untuk menemukan semua kebenarannya. Saat ini Irgi hanya bisa melindungi Alya sebagai seorang dokter yang melindungi pasiennya. "Apapun yang terjadi di antara kamu dan Eza, itu semua sudah terjadi di masa lalu. Kamu gak perlu khawatirin itu semua." "Gimana kalo di masa lalu itu aku nyakitin Eza, gimana kalo di masa lalu itu, aku orang yang sangat jahat." Bukan Al, bukan kamu yang jahat. Batin Irgi, ia tidak sanggup rasanya untuk mengatakan semuanya. "Let it be, semuanya udah terjadi. Sekarang kamu cuma perlu jadi diri kamu yang baru," ujar Irgi. * * * "Kamu tahu kalau Alya masih hidup?" Tanya papa Eza tiba-tiba. "Papa tahu dari mana?" Eza yang baru saja duduk di hadapan papanya terkejut dengan pertanyaan papanya. "Papa mau ketemu sama Alya. Apa kamu bisa bawa dia ke sini?" "Kenapa Eza harus bawa Alya ke sini?" "Untuk memngembalikan posisinya di perusahaan kita." "Gak ada lagi jabatan buat Alya, sekalipun Alya udah inget semuanya. Eza gak akan ijinin Alya buat balik ke perusahaan." "Boleh atau tidak boleh Alya harus kembali ke perusahaan, semuanya sekarang tergantung pada Alya. Hanya Alya yang bisa menolong kita. Dia sudah memiliki separuh lebih dari keseluruhan saham perusahaan kita." Eza mengepalkan tangan kanannya, sungguh orang tuanya tidak pernah berubah. Memanfaatkan Alya hanya untuk kepentingan harta. Tidak, ia tidak akan membiarkan Alya kembali ke perusahaan. Bagaimanapun ia yang akan bertanggung jawab pada perusahaan itu, bukan melimpahkannya pada Alya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN