57

3042 Kata
Frea duduk termenung memikirkan ucapan Rissa kemarin malam di rumahnya. Frea tidak bisa diam saja, dia harus memisahkan Alya dan Eza, satu-satunya cara adalah dengan membuat Alya dan Eza kembali pada keadaan sebelum Alya hilang ingatan. Pada kebencian yang tertanam di hati Eza untuk Alya, begitupun sebaliknya pada kebencian yang tertanam pada Alya untuk Eza karena sudah berselingkuh dengan Frea. Frea harus melakukan itu. Tidak peduli jika semuanya menjadi berantakan, jika memang dirinya harus hancur karena sebuah cinta maka Frea akan menyeret Alya dan Eza pun dalam sebuah kehancuran. "Kalo aku gak bisa milikin Eza maka aku juga pastikan, kamu gak akan bisa bersama Eza, Al." Frea membuka file yang ada pada komputer jinjingnya, ia masih menyimpan beberapa foto saat dulu ia berpacaran dengan Eza. Disaat Eza masih bersama dengan Alya. Satu persatu foto itu ia pindahkan pada ponselnya, dengan ini semua maka ingatan Alya akan kembali dan jelas apa yang akan terjadi, pikir Frea. Dia tidak perlu merepotkan diri untuk memisahkan Alya dan Eza. * * * Alya masih menatap lekat ponselnya, Frea mengajaknya untuk bertemu. Frea memintanya untuk datang ke apartemen milik Eza dan Frea. "Jadi mereka berdua udah tinggal bareng," gumam Alya pelan. Entah mengapa Alya merasa kecewa setelah mengetahui bahwa Eza dan Frea sudah tinggal bersama. Alya kembali menghubungi Eza. "Halo ..." Iya, Al, aku udah jalan ke situ. "Mungkin aku ganggu kamu kerja, mending aku pulang aja Za." Gak, jangan ke mana-mana, aku udah mau sampe, jadi jangan ke mana-mana. Setelah itu Alya mematikan ponselnya, semua rasa senang yang muncul di dalam hati Alya kini sudah tidak ada lagi, ia malah merasa malas untuk bertemu dengan Eza. * * * Lebih dari sepuluh menit berlalu Eza juga tak kunjung datang, Alya memutuskan untuk menemui Eza di dalam kantor. Alya lalu bergegas masuk. Tak lama Alya sampai di loby kantor, beberapa orang menatap Alya dengan ekspresi yang entah Alya pun tidak bisa mengartikannya. Alya berjalan menuju meja resepsionis, ia akan bertanya di mana ruangan Eza. "Permisi," "Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" "Siang," Alya tersenyum sebelum meneruskan pertanyaannya, "saya mau ketemu Eza." "Nona sudah ada janji sama bapak Eza?" "Oh- belum, tapi tadi-" "Alya?" Suara itu menghentikan ucapan Alya, Alya dengab segera menoleh. "Rissa," "Elo ngapain di sini?" "Ah- aku mau ketemu Eza, tadi sih mau ketemu di luar tapi karena dia gak keluar-keluar jadi aku nyusulin dia." Rissa tersenyum, "biar saya yang urus Mel, dia tamu saya." Ujar Rissa pada perempuan muda yang duduk di meja resepsionis, perempuan bernama Mely itu mengangguk dan mempersilahkan masuk. "Kok elo bisa sampe sini?" Tanya Rissa penasaran. Pasalnya Alya belum ingat benar tentang ingatannya, jadi tidak mungkin kalau Alya tahu begitu saja letak kantor yang Alya pimpin dulu. "Oh soal itu," Alya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Ini," Alya menyodorkan secarik kartu nama dengan namanya yang tertera pada kartu itu. "Aku ngikutin alamat yang tertera di kartu itu Sa." Rissa mengambil kartu yang Alya berikan, Rissa membaca sebentar kartu itu, Esa tersenyum membaca nama Alya Dini Fahreza pada kartu itu. "Kenapa kamu senyum?" Alya menatap heran pada Rissa. "Ah?" Rissa terkejut, "e-enggak, dari mana kamu dapet kartu ini?" "Dari Irgi, Irgi bilang dia dapet dari saudara aku." "Maksud elo Almira?" Alya hanya mengangguk pada Rissa. "Ya udah gue anter elo ke ruangan Eza sekarang." Rissa berjalan mendahului Alya menuju ruangan Eza. * * * Mereka berdua sudah sampai di lantai tiga di mana letak ruangan Eza. Begitu keluar dari lift Alya langsung memeriksa ponselnya, sedari tadi banyak pesan yang masuk ke ponselnya. Alya segera membuka pesan itu, betapa kagetnya Alya melihat isi pesan itu. Beberapa foto Eza dan Frea terpampang nyata di layar ponsel Alya, foto kemesraan mereka berdua. Alya berhenti berjalan mengikuti Rissa, tangannya terus menyapu layar ponselnya, menatap foto-foto mesra yang Frea kirimkan. Bukankah Eza dan Frea memang memiliki hubungan, wajar kalau Frea dan Eza punya foto bersama. Tapi, apa yang mau Frea lakukan dengan mengirim foto ini pada Alya, pikir Alya. "Al," Rissa menoleh ketika ia sadar Alya tidak menyahuti panggilannya. Rissa menatap Alya yang berdiri mematung di koridor. "Al, elo kenapa?" Alya menoleh pada Rissa, matanya sudah berkaca. "Elo kenapa?" Alya tidak menjawab, ia malah berjongkok di lantai, tiba-tiba ingatannya melayang pada saat Alya berdiri di depan lift dan Eza meninggalkannya bersama Frea. Eza, Frea dan Alya masuk ke dalam lift yang sama. Beberapa detik tak ada percakapan di dalam lift itu, namun tiba-tiba Alya memulai percakapan. "Udah kamu ungkapin Fre?" Tanpa menoleh ke arah Frea, Alya bertanya dengan penuh keangkuhan. Frea menoleh, menatap Alya dari sisi kirinya. "U-udah." "Lalu?" Frea menggeleng dan menggigit bibir bawahnya. Eza yang berdiri di antara Alya dan Frea hanya diam, masih memperhatikan apa yang sedang Alya dan Frea bicarakan. "Kalo gitu, aku harap kamu gak melangkah lebih jauh." Saat mendengar hal itu, Eza segera menyelak pembicaraan. "Cukup, Al." "Kenapa?" Alya kini menoleh menatap Eza. "Kamu harus sadar posisi kamu sekarang apa, gak ada lagi hubungan di antara kita berdua." Rasanya saat itu juga lutut Alya terasa lemas, sekuat tenaga ia mencoba untuk tetap menatap Eza tanpa memperlihatkan kesedihannya. Bagaimana Eza membela Frea, bagaimana Eza dengan mudahnya mengatakan kata-kata itu. "Aku bisa ngatasin ini semua, dan kamu gak perlu ikut campur, Al." Saat itu pintu lift terbuka, entah sengaja atau tidak, Eza menarik lengan Frea lalu keluar meninggalkan Alya yang masih berdiri mematung di dalam lift. Alya menatap genggaman tangan Eza pada Frea dengan air mata yang hampir jatuh di pelupuk matanya. Tepat saat pintu lift tertutup, tangan Alya memegang dinding lift, semudah itukah Eza melupakan dirinya. Tatapan Alya sudah tidak jelas lagi, kenapa rasanya sakit sekali. Apa yang sebenarnya terjadi. "Al, elo gak kenapa-kenapa kan?" Alya masih tetap tidak menjawab, bayangan saat Eza meninggalkannya di dalam lift sendirian masih terbayang jelas di pikirannya. "Gue mesti cepet bawa dia ke ruangan Eza." Gumam Rissa * * * "Selamat siang bu Ratna." Irgi menyapa Ratna yang siang itu tampak lebih sehat dari biasanya. Hari ini adalah hari terakhir Ratna kontrol di rumah sakit. "Siang Tante." Sapa Irgi juga pada Hanin, ya Hanin meminta Irgi untuk memanggilnya dengan sebutan Tante. "Siang Dok." "Gimana keadaan bu Ratna hari ini?" Ratna tidak menjawab, sehingga Hanin yang mewakilinya. "Ibu udah bisa jalan-jalan kaya biasa dok, tapi yang beliau keluhkan sekarang adalah gusinya, beliau kalau makan suka ngeluh sakit." Hanin merawat Ratna dengan baik, meski dulu ia sempat ditolak mentah-mentah oleh Ratna tapi nyatanya Ratna lebih memilih untuk tinggal bersama Hanin dan Faris ketimbang bersama Fadhil atau pun Fara. Ratna bilang Hanin lebih memperhatikannya, dan Hanin selalu ada untuknya, itulah alasan Ratna lebih memilih tinggal bersama Hanin. "Kalau begitu hari ini saya cek tensinya saja, sesudah ini saya antar ibu Ratna ke poli gigi ya, biar di periksa." Ujar Irgi yang kemudian mulai mengukur tensi Ratna. "Gimana dok?" "Normal, sepertinya ibu Ratna makan dengan teratur dan terjaga ya?" "Hanin selalu buatkan bubur buat saya, bubur Hanin enak." Celoteh Ratna, Ratna memang sekarang terlihat kembali seperti anak kecil, maklum Ratna sudah tua. "Wah, bagus itu." Puji Irgi. "Kalau begitu saya antar ke poli gigi di lantai dua ya bu, mari." Hanin mendorong kursi roda yang duduki oleh Ratna dan Irgi berjalan di samping Hanin. * * * Rissa mengambilkan segelas air putih untuk Aldy, mereka berdua sudah ada di ruangan Eza saat ini. "Kenapa bisa jadi gini sih Sa?" "Elo tanya gue? Terus gue mesti tanya siapa?" Rissa menyodorkan segelas air itu pada Alya. "Kamu gak apa-apa kan Al?" Alya tidak menjawab, ia hanya menatap tajam pada Eza seolah kebencian sedang memenuhi hatinya. Eza pun tampak bingung, ada apa dengan Alya. "Apa kamu inget sesuatu Al?" Tanya Eza. "Apa sebenernya mau kamu?" Tanya Alya tiba-tiba. Rissa hanya terdiam melihat sikap Alya yang tiba-tiba berubah. "Al? Kamu inget sesuatu kan? Apa Al, apa? Ayo ngomong, apa yang kamu inget?" Eza semakin panik dibuatnya. Namun Alya masih diam membisu, matanya kini neralih menatap seisi ruangan itu. Saat itu, Alya teringat, saat Eza berciuman mesra dengan Frea di dalam ruangan itu. Saat Eza tersungkur karena dipukuli habis-habisan oleh Rissa menggunakan tumpukkan file, saat Frea ditarik keluar oleh Rissa dari ruangan itu dan saat dirinya berlari menghampiri Eza dengan wajah yang penuh memar dan sudut bibir yang berdarah. Tatapan kecewa begitu nampak di mata Alya. Melihat Alya yang masih terdiam Eza segera menggenggam kedua tangan Alya. "Aku gak tahu apa yang kamu inget," Eza menatap lekat di mata Alya, "aku gak tahu apa yang saat ini ada dipikiran kamu, entah itu hal buruk atau hal bahagia, tapi itulah aku Al, kalo kamu mau tanya, aku bakal jawab jujur Al, apapun itu pertanyaan kamu. Dan kalo kamu mau benci sama aku, aku bakal terima itu semua dan aku akan menunggu maaf dari kamu sampai kamu mau maafin aku dan kembali sama aku Al." Eza sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, ia menarik Alya ke dalam pelukkannya, ia terlalu takut untuk kehilangan Alya lagi. Ia pun sudah berjanji pada dirinya untuk tidak lari lagi, untuk tidak menjauhi Alya lagi. Berjanji untuk selalu ada di samping Alya. Alya meremas jas kerja yang Eza pakai, Aldy merasakan sakit yang luar biasa di hatinya saat dipeluk oleh Eza. "Kenapa aku terlalu takut buat ngadepin kamu?" Gumam Alya. Ya, entah kenapa seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat menatap Eza. "Apa yang mesti kita lakuin sekarang, aku yakin sesuatu yang buruk sudah menunggu kita di lain hari." "Jangan saling melepaskan." Ucap Eza sembari mengelus punggung Alya, "kita berdua, jangan saling melepaskan. Aku sayang kamu dan kamu sayang aku, selama kita bersama, kita bisa ngadepin semuanya bareng-bareng. Aku adalah kamu dan kamu adalah aku, cuma itu." Eza mengeratkan pelukannya pada Alya. * * * Rissa benar-benar seperti orang yang sedang menonton telenovela, bagaimana tidak saat ini di hadapannya ada Alya dan Eza yang sedang berpelukkan. Rissa membiarkan kedua makhluk itu menyelesaikan permasalahan mereka, tanpa menunggu lama lagi Rissa segera meninggalkan mereka berdua. "Kenapa jadi rumit gini sih," gumam Rissa. Tiba-tiba ponsel Rissa berdering, ia segera mengambil ponsel yang ada di saku celananya. "Irgi?" Gumama Rissa sebelum menerima panggilan dari Irgi, "halo ..." Halo, Sa. Apa saya ganggu kamu? "Gak," Rissa menatap jam di pergelangan tangannya, ini sudah masuk jam makan siang. "Kenapa?" Tadi pagi Terra pamit mau ke kantor kamu, apa sekarang dia udah di situ? Rissa menoleh ke arah ruangan Eza sebentar, "hmmm ..." Rissa mengangguk, mungkin dia lupa kalo dia sedang berbicara di telfon. "Iya, dia ada di sini. Dia juga udah ketemu Eza." Oh, begitu. Syukur kalo dia udah sampe, makasih ya. "Iya," Rissa lalu mematikan ponselnya, "beruntung banget sih Al hidup lo," ujar Rissa. * * * Frea masih duduk di meja kerjanya, ia masih menatapi foto yang baru saja dia kirim pada Alya. "Siapa yang ada di samping kamu Za, saat kamu terpuruk? Aku, bukan Alya. Siapa yang ada buat kamu disaat kamu bahkan dikeluarkan dari perusahaan milik kamu sendiri Za, itu aku, bukan Alya. Alya yang cuma bisa nyakitin kamu, Alya yang cuma bisa kasih kesedihan buat kamu." * * * "Sekarang kita makan siang," Eza mengelus pipi Alya pelan. "Enggak, kayaknya aku mesti pulang, kepala aku pusing Za." "Kamu kenapa? Apa yang sakit?" Eza mulai khawatir dan memegangi dahi Alya. "Mungkin ini gara-gara tadi, aku rasa aku cuma butuh istirahat, setelah istirahat mungkin akan lebih baik." "Jadi kamu gak mau temenin aku makan siang?" "Lain kali, kita bisa pergi lain kali." Tolak Aya. Eza pura-pura mengambek di hadapan Alya, Alya dengan tiba-tiba mencium bibir Eza. Eza yang tidak siap tampak terkejut dengan ciuman Alya. Eza menatap sayu pada Alya. "Ciuman orang lain, atau siapapun itu, kamu harus lupain. Yang harus kamu inget itu cuma aku, ngerti?" Alya berucap pada Eza. Eza masih menatap dalam pada Alya, ia lalu mendekat pada Alya, lalu meraih tengkuk Alya dan mulai memagut bibir Alya. Alya memejamkan matanya, perlahan menikmati pagutan bibir Eza. Mereka berdua semakin larut dalam ciuman itu. * * * Karena pukul dua siang Eza harus melakukan meeting bersama investor maka Alya berpamit untuk pulang. Untunglah seharian ini Frea sama sekali tidak ke ruangan Eza jadi Eza tidak merasa cemas kalau-kalau Frea melihat Alya sedang berada di kantor. "Kamu yakin aku gak perlu anter kamu?" Tanya Eza saat mereka sudah ada di depan loby kantor. "Gak, aku bisa naik taksi." Alya tersenyum pada Eza. "Baiklah, aku gak akan maksa, aku yakin kamu bisa jaga diri. Kalo ada apa-apa di jalan kamu telfon aku ya," pinta Eza. "Tenang aku juga kuat, sekedar menonjok orang aku masih bisa." Canda Alya pada Eza. Eza pun sedikit terkekeh, ia lalu memeluk Alya begitu saja. "Za! Kamu ngapain," "Padahal belum pergi, tapi aku udah kangen sama kamu." Rajuk Eza pada Alya. "Kamu pulang ke apartemen kita kan?" Tanya Eza sembari melepas pelukkannya. Alya lalu menggeleng, "gak, ada hal yang harus aku urus." "Apa itu penting?" "Hmmm ..." Alya mengangguk. "Kamu mau ketemu orang tua kamu?" Alya tampak berpikir sejenak, "enggak, jujur aku belum siap buat ketemu sama mereka." "Kenapa? Lalu kapan kamu mau temui keluarga kamu?" "Karena aku butuh rencana, rencana buat jelasin semuanya ke mereka. Gak mungkin kan aku tiba-tiba aja muncul setelah tiga tahun mereka pikir kalo aku ini udah gak ada?" Jawab Alya. " Ya udah, sekarang kamu masuk, taksi aku udah dateng." Rissa hanya menatap Alya sembari tersenyum. "Gih," Esa kembali memeluk Alya sebelum ia masuk kembali ke dalam. "Hati-hati." Ujar Eza sembari mengelus punggung Alya. * * * Irgi masih menatap ponselnya, ia baru saja menelfon Rissa untuk memastikan apakah Alya berada di kantornya atau tidak. "Dok pasien yang bernama bu Ratna sudah selesai di periksa," seorang suster memberitahu pada Irgi. Irgi segera menyimpan ponselnya dan menghampiri Ratna. Irgi segera menemui dokter spesialis gigi yang menangani Ratna. "Gimana dok?" "Bu Ratna cuma mengalami sedikit pembengkakkan pada gusinya, saya akan beri dia obat pereda nyeri yang sesuai dosisnya dengan rekam mediknya." "Terimakasih dok." Irgi kemudian mengantar bu Ratna keluar, Hanin sedari tadi menunggu di luar karena ia harus menelfon bi Nur, asisten rumah tangganya di rumah, Hanin harus memastikan apakah Jevan dan Kavin sudah makan, karena hari ini Almira menitipkannya pada Hanin. * * * Alya tidak langsung pulang, ia mampir terlebih dahulu ke rumah yang Irgi katakan adalah rumah orang tuanya. Sekita satu setengah jam jam perjalanan, Alya sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Alya sengaja tidak keluar dari mobil itu, ia hanya menatap rumah itu dari dalam taksi yang ia tumpangi. Alya mencoba mengingat sesuatu dari rumah yang saat ini ia pandangi itu. Tak lama sebuah mobil berhenti di depan rumah itu, lalu seorang perempuan paruh baya membukakan pinte gerbang untuk mobil itu masuk. Setelah mobil itu masuk, keluarlah seorang perempuan, Alya terus memperhatikan perempuan itu. Apakah itu yang bernama Almira? Ternyata benar, Alya punya seorang kembaran. Tak lama seorang anak laki-laki berlari keluar dari rumah itu. Anak laki-laki itu tampak memeluk perempuan yang mirip dengan Alya. Bukan mirip sebenarnya tapi sama. * * * Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Alya belum kembali ke rumah. Ia masih berdiri menatap gedung tinggi yang saat ini ada di sebrang jalan, tepat di hadapannya. Sebuah gedung apartemen, Alya memenuhi permintaan Frea untuk datang, sekaligus Alya ingin menanyakan kenapa Frea mengiriminya foto-foto saat dia bermesraan bersama Eza. Begitu sampai di depan pintu apartemen milik Frea, Alya segera menekan bel yang ada di samping kiri pintu. Frea tersenyum sinis saat melihat Alya berdiri tepat di hadapannya. "Aku pikir kamu gak jadi dateng," ujar Frea, ia kini melipat kedua tangannya di depan d**a. "Gimana? Apa ingatan kamu udah balik setelah lihat foto-foto itu? Oh, atau foto itu bikin kamu nangis-nangis?" Ejek Frea. "Menurut kamu? hmmm ... enggak, menurut kamu, apa yang kira-kira aku lakuin ke Eza setelah aku lihat foto-foto itu?" Tanya Alya dengan penuh penekanan. Frea mulai terpancing emosinya, tapi ia masih menahan kebencian dan kemarahannya. "Apa sama sekali gak terlintas di pikiran kamu?" Alya sengaja memancing Frea. "Apa?" "Sepersekian detik rasa benci itu muncul, tapi setelah itu kamu tahu apa yang aku lakuin ke dia?" Alya menghentikan ucapannya, "aku ci-um dia, cium dia." Alya memberi penekanan penuh pada setiap ucapannya. Frea yang mendengar itu sudah tidak bisa menahan amarahnya, ia sudah mengangkat tangannya di udara, ia hendak menampar Alya namun tangan Alya berhasil lebih dulu menahan tangan Frea. Alya mencengkram kuat tangan Frea, "kenapa kamu kirim foto-foto itu ke aku? Supaya aku inget semuanya? Atau membuat aku benci sama Eza? Aku belum ingat semuanya Fre, jadi kalau dengan foto itu kamu berharap aku terluka percuma, karena sebanyak apapun kamu kirim foto-foto kemesraan kamu sama Eza, itu sama sekali gak berpengaruh buat aku." Frea menarik lengannya, matanya sudah benar-benar merah, ia menahan tangis dan menahan perasaan marah di dadanya. "Apa kamu gak lihat keterangan waktu di foto itu? Disaat kamu sendirian, terpuruk, Eza ada di samping aku. Disaat dia terpuruk bahkan kamu tendang dia dari perusahaan supaya kamu bisa tempatin posisi dia!" Frea menunjuk penuh emosi pada Alya. "Itulah kamu, manusia egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri!" "Tapi saat ini berbeda, kami, aku dan Eza, kami berdua sedang kembali jatuh cinta pada satu sama lain, bukan karena dulu kami pernah bersama dan bukan juga karena dia kekasih aku Fre." "Kita tunggu aja, sampai kamu kembali menjadi diri kamu sendiri, seorang Alya yang dulu dibenci oleh Eza!" "Tunggu lah sampai saat itu tiba, cepat atau lambat semua ingatanku akan kembali pada akhirnya. Entah berapa banyak kemarahan dan kebencian yang tersimpan di lubuk hatiku, memaafkan atau tidak biar itu jadi keputusan aku nanti. Yang perlu kamu lakuin sekarang adalah jaga sikap kamu, jangan terlalu merasa bahwa Eza akan berdiri membela kamu lagi saat kita berargumen karena pada akhirnya dia akan tahu di mana dia harus berdiri." Perkataan Alya cukup membuat Frea benar-benar merasa marah, Frea benar-benar terkejut dengan semua jawaban yang dilontarkan oleh Alya barusan. "Aku rasa aku harus pergi," Alya beranjak meninggalkan Frea, namun kemudian langkahnya terhenti. "Satu hal lagi, jangan pernah sekalipun kamu telfon atau suruh aku buat bertemu sama kamu hanya untuk memperkeruh keadaan di saat aku sama sekali gak inget sama masa laluku dulu. Jangan terlalu berani, kalau pada akhirnya kamu sendiri yang akan kalah dan menangisi semuanya." Hati Frea seolah tercubit, bibirnya bergetar, air matanya sudah di pelupuk mata. Bukan tak berani, tapi Frea sadar cinta Alya dan Eza tak bisa terpisahkan begitu saja, meski kebencian membara di antara mereka berdua. "Awas kamu, Al!" Air mata Frea mengalir begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN