Bagaimana bisa orang yang sakit berpura-pura baik-baik saja, menahan kebencian yang mungkin jika bisa diungkapkan akan seperti anak gadis tadi.
Kelopak mata Eza terbuka, bayangan wajah kekasihnya buyar seketika itu juga, kenapa bisa tiba-tiba ia mengingat gadis berambut biru yang mengumpat di pemakaman tadi. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir apa yang saat ini bertandang di pikirannya.
Kali ini ia melangkah menuju sofa yang selama ini ia jadikan tempat bersantai bersama kekasihnya. Bercengkrama membahas bagaimana pekerjaan di kantor dan bagaimana mereka berdua bisa saling membenci, menyalahkan satu sama lain.
"Maaf ..."
Bibir itu berucap penuh beban, penuh penyesalan. Maaf pada benda mati yang menjadi saksi bagaimana cinta itu bermula dan kebencian itu berakar. Menyadari betapa tololnya ia dulu sampai buta dan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tempatnya berbagi kasih, tempatnya berbagi kebahagian, malah ia jadikan kubangan kebencian dan kemarahan yang seolah menenggelamkan dirinya sendiri.
* * *
Tumpukan kemeja yang masih tertata rapih di dalam lemari pakain itu seolah masih percis dengan apa yang dulu selalu kekasihnya rapihkan.
"Mau kemana kamu, Za?"
"Aku benci tempat ini, di sini kita berdua cuma akan saling nyakitin."
"Jangan pernah berpikir kamu bisa keluar dari rumah ini."
"Apa lagi yang bisa kita pertahankan?"
"Cinta, cinta di antara kita!"
Kilasan pertengkaran itu kembali muncul begitu saja. Eza berdiri tepat di mana dulu ia menyiramkan sebotol wine di atas tumpukkan baju yang ia keluarkan dari dalam lemari.
Eza mengambil satu kemeja berwarna putih yang masih terlipat rapih di dalam lemari kaca itu, ia berjalan menuju kamar mandi dan kemudian memakainya. Tidak lupa ia pasangkan dasi hitam, tangannya sibuk membuat simpul dengan dasi itu.
"Itu gak cocok, harusnya pakai yang ini."
Dia tersenyum mengingat kalimat itu, matanya menatap pantulan dirinya pada cermin. Bayanga kekasihnya berdiri di ambang pintu sembari membawakan dasi pilihannya muncul begitu saja. Seolah masih hidup seperti dulu.
Eza memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup meneruskan sampul pada dasinya, air matanya terjatuh begitu saja. Perasaan sesak memenuhinya, ia menangis tersedu
Kini ia beralih duduk di tepian ranjang. Menatap lantai kayu berwarna cokelat muda dengan corak garis cokelat tua. Dulu kekasihnya sering sekali memotong kuku di sana. Di bawah temaram lampu sembari menatap ke arah luar dari jendela besar di hadapannya.
"Jangan di situ, " Eza memeluk kekasihnya itu dari belakang.
"Kenapa?"
"Orang bisa lihat tubuh kamu yang gak pake celana itu,"
Lagi-lagi bayangan itu membekukan perasaan Eza. Tangannya meremas kuat-kuat sprei putih yang membungkus kasur itu.
Tubuhnya merosot di lantai, ia menangis tersedu. Menatap nanar gambaran kekasihnya dan anak angkatnya di atas nakas tempat tidur. Betapa bahagianya mereka kala itu. Merencanakan masa depan, menerawang mendahului takdir. Berhayal kebahagiaan tanpa sedikitpun menyelipkan perkara yang mungkin akan menyesatkan takdir mereka. Kenyatannya tak sejalan, badai itu atang menerpa. Menggoyahkan perasaan Eza pada kekasinya, ia memilih untuk membuka hati pada orang ketiga. Pada akhirnya karma yang ia terima, bukan hanya anak angkatnya yang pergi, kaksihnya pun lebih memilih untuk pergi meninggalkan Eza selama-lamanya. Menghukum Eza dengan kekecewaan dan penyesalan dalam kesendirian. Menjalani hidup dengan penuh penyesalan.
Merelakan dan melupakan adalah beban yang berat, namun harus Eza lepaskan satu persatu meski sulit sekalipun.
Belajar menerima, mungkin itu adalah jawabannya.