Pertengkaran terakhir kali dengan kekasihnya itu masih begitu jelas terbayang di mata. Andai saja saat itu Eza bisa memilih untuk lebih meredam emosinya, dia bisa beranjak dari kematian anak angkatnya itu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Ia tidak akan kehilangan kekasihnya untuk selama-lamanya.
Eza kembali melangkahkan kakinya, tangannya meraba almari yang ada di sisi kanannya saat ini. Memejamkan matanya sejenak, seolah menghirup energi yang selama ini ia rindukan namun juga ia takuti. Bayangan saat ia duduk bersama kekasihnya untuk terakhir kalinya merayap begitu saja di alam bawah sadarnya. Wajah pucat itu, tubuh ringkih yang duduk di atas kursi roda, tiba-tiba saja menyesakkan dadanya. Sore itu menjadi satu waktu yang paling Eza benci. Penyesalan yang ia rasakan seolah berpuncak di sana.
Dua cangkir teh rosela ada di hadapan Eza dan kekasihnya. Mereka berdua kini duduk saling berhadapan.
"Kamu perlu istirahat, aku antar kamu ke kamar, dan setelah itu aku bakal pulang."
Eza tidak tega melihat kekasihnya yang terlihat begitu kelelahan. Wajahnya terlihat begitu pucat.
Eza hendak bangun dari duduknya namun ucapan yang keluar dari mulut kekasihnya itu menghentikan langkahnya.
"Dari sekian banyak pasangan di dunia ini, terimakasih karena kamu udah milih aku buat jadi pasangan kamu."
"Al... kamu perlu istirahat sekarang." Eza mencoba mengajak kekasihnya itu ke kamar.
"Terimakasih, buat semua cinta dan kasih sayang-"
"Dulu, orang pikir aku jatuh cinta sama adek kamu. Tapi kenyataannya aku tahu, kamu bukan dia. Satu langkah aku nyoba buat maju, sepuluh langkah kamu nyoba menghindar. Karena kamu mungkin takut, takut kalo orang tahu semuanya, kalo kamu sedang berpura-pura menjadi adek kamu. Gimana bisa Eka gak kenalin siapa kamu." Eza memotong ucapan kekasihnya itu.
"Buat aku." Lanjut kekasihnya itu. "Terima kasih karena kamu mau jatuh cinta lagi sama aku, di waktu aku hilang ingatan dan di waktu ingatan aku kembali. Terima kasih buat selalu ada di samping aku."
"Aku rasa, aku mesti pulang sekarang. Kita bisa lanjutin obrolan kita besok." Eza tidak mau melanjutkannya lagi. Eza sudah bahagia hari ini dan dia tidak ingin merusak semuanya.
"Bukan kamu yang jahat, bukan kamu yang kejam. Bukan kamu yang nyebabin kita jadi kaya gini. Aku milih buat pergi dari kamu, lagi, itu karena aku mau menebus semua dosa aku ke Raihan, ke kamu. Aku mau kamu hidup bahagia, tanpa harus inget semua kenangan yang kaya neraka ini."
Eza menghampiri kekasihnya itu dan berjongkok di hadapannya. Tangannya perlahan menggenggam jemari kekasihnya itu.
"Bukan karena kamu kita berpisah. Sedikitpun gak ada rasa benci buat kamu di hati aku. Jadi jangan pernah ngerasa salah atau pun ngerasa kehilangan hanya karna aku gak ada di samping kamu."
Eza mulai menitikan air matanya. Sekuat tenaga ia mencoba menahannya dan ternyata tidak berhasil.
"Aku yang salah." Lanjut kekasihnya lagi.
"Enggak, aku yang lebih salah." Eza mengusap air mata di pipi kekasihnya.
"Aku cuma bisa ngancurin kebahagiaan kamu."
Eza tidak menjawab ucapan kekasihnya, dengan tangisan di pipinya ia mengecup bibir kekasihnya itu perlahan. Eza menatap lirih pada kekasihnya, memegangi kedua pipinya.
Kekasihnya menunduk, seolah tak punya keberanian untuk membalas tatapan Eza.
Eza memeluk kekasihnya erat, sedang kekasihnya mulai terisak di pelukkan Eza.
"Maaf ..." kata itu keluar lagi dari mulut kekasihnya itu.