4

399 Kata
Sepulang dari pemakaman Eza memilih untuk mampir ke apartemennya. Dua minggu yang lalu dia memutuskan untuk menjual apartemenya itu. Rencananya pagi ini ia akan menemui seorang agen penjual rumah. Hari ini rencananya ia akan mengambil beberapa barang-barang pribadi miliknya yang masih tertinggal di sana. Bukan beberapa, hampir semuanya masih tertinggal dan tertata rapih di apartemen itu. Sebelum kekasihnya meninggal apartemen itu sempat kosong. Banyak kenangan yang tercipta di apartemen itu. Ketika Eza memutuskan untuk melepas kekasihnya pergi, ketika Eza memohon untuk kembali menjalin huhungan dengan kekasihnya dan yang terakhir ketika Tuhan mengambil kekasihnya itu. Semua kejadian itu terekam oleh setiap benda mati yang ada di sana. Suara kunci diputar pada kenop pintu terdengar begitu renyah, helaan nafas Eza menyusul di belakangnya. Setelah ini pintu di hadapannya akan terbuka, portal menuju kenangan yang ia ciptakan bersama kekasihnya akan segera menyambutnya. Tangan itu perlahan memagang kenop pintu, memberi sedikit tekanan, membuat pergerakan pada pengganjal di antara pintu dan lubang tiangnya terpisah. Sejenak matanya mengerjap, menatap ruangan yang selama ini ia hindari. Sunyi itu menyergap begitu saja. Seolah kejadian itu baru saja terjadi. Eza melangkah masuk perlahan. Meneliti sebentar, tidak rugi rasanya bagi Eza menyewa jasa tukang bersih-bersih selama ini. Apa yang ia minta untuk dijaga masih tertata rapih dan tidak berubah sedikitpun. "Aku pingin kita pisah." Semua itu keluar dari mulut Eza begitu saja tanpa ada keraguan sama sekali. Kekasihnya itu berhenti mengelus pundak Eza saat mendengar rentetan kata yang keluar dari mulut Eza. "Nggak, nggak akan pernah!" Tatapannya sudah penuh dengan Emosi. Sang kekasih sudah mewanti-wanti untuk menahan amarahnya, tapi Eza selalu memancingnya. Tanpa berpikir dua kali, ia membanting segala macam barang-barang yang ada di meja kerja Eza. "Atas dasar apa kamu minta pisah, Za?!" Eza tidak menjawab pertanyaan kekasihnya itu, ia beranjak keluar dari ruangan kerjanya. Ia masuk ke kamar yang kemudian diikuti oleh kekasihnya itu. "Aku nggak akan pernah lepasin kamu Za, kita nggak akan pernah pisah!" "Nggak ada lagi yang bisa kita pertahanin. Cukup, buat kita saling nyakitin satu sama lain." "Kalo kamu mau move on dari kematian anak kecil itu, kita nggak akan saling nyakitin Za. Kamu yang perlu benahin sikap kamu!" Pertengkaran terakhir kali dengan kekasihnya itu masih begitu jelas terbayang di mata. Andai saja saat itu Eza bisa memilih untuk lebih meredam emosinya, dia bisa beranjak dari kematian anak angkatnya itu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Ia tidak akan kehilangan kekasihnya untuk selama-lamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN