44

1120 Kata
Irgi bergegas menuju rumahsakit di mana Maria dirawat. Irgi hendak menggantikan Hanin, ibunya Almira yang menjaga Maria. "Tante bisa pulang sekarang, saya sudah di sini." Hanin seolah tidak rela harus meninggalkan Maria di rumahsakit sendiri. "Iya sayang, kamu pulang dulu iatirahat." Suara Faris, suami Hanin, menengahi obrolan Hanin dan Irgi. "Tapi, aku gak tega mas kalau harus ninggalin Maria di sini sendirian." Hanin merajuk manja pada suaminya itu. Irgi tersenyum tipis melihat tingkah keduanya. Sejak dulu memang hubungan Faris dan Hanin adalah pasangan yang mungkin dibilang sebagai pasangan yang bisa untuk dijadikan panutan. Pasang surut dalam hubungan mereka tak bisa dihindari, apalagi yang awalnya hubungan Hanin dan Faris tidak direstui oleh Ibu Ratna, ibu kandung Faris. Sampai-sampai ibu Ratna tega untuk memisahkan Faris dan Hanin dari anak mereka, yakni Alya. Almira dan Alya adalah saudara kembar. Alya diambil sejak ia lahir dan diberikan pada seroang wnaita yang dulunya hendak dijodohkan dengan Faris. Takdir tampaknya begitu kejam, bahkan Hanin tak diijinkan merawat Alya. Alya lebih dulu meninggal karena gagal ginjal yang dialaminya tanpa sedikitpun usaha dari Faris ataupun Hanin untuk mengobatinya. "Irgi janji bakal jagain Maria tante." Irgi kembali membujuk Hanin. * * * "Kenapa sayang?" Faris bertanya pada Hanin yang tampaknya masih khawatir meski sekarang ini Hanin sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang. "Tadi aku cerita soal Alya sama Maria, Mas." Faris tersenyum, luka yang sudah bisa diceritakan pada orang lain sebagai pengalaman hidup, tentu sudah bisa dikuasai dengan baik. Faris tau betul butuh waktu berapa lama agar Hanin bisa kembali bangkit setelah kematian Alya. Bayangkan saja orangtua mana yang rela melihat anaknya meninggal twrlebih dulu. Hanin dan Faris harus menguburkan anaknya terlebih dahulu, apalagi anaknya itu dulu adalah abak yang harus dirawat oleh orang lain. Hanya karena rasa benci, hidup seorang anak harus hancur. "Kasihan dia Mas, orangtuanya sudah meninggal. Kakaknya mengalami kekerasan, bahkan dilakukan oleh ayahnya sendiri. Adiknya harus menderita leukimia, ya, kita tau berobat untuk leukimia itu tidak murah." "Tapi, beruntungnya mereka berdua dipertemukan oleh orang-orang baik seperti kamu, Irgi, mamahnya dan juga Eza." "Iya, mungkin Tuhan kasih mereka rejeki lewat kita. Han gak bisa bayangin bagaimana hidup mereka sebelum ini. Kakaknya harus mencari uang untuk makan, untuk biaya hidup mereka, biaya rumahsakit. Bahkan yang Han dengar, Mereka berdua pernah berbagi 1 cup mie instan untuk makan siang mereka berdua." Hanin menerawang jauh ke luar kaca mobil. Menatap langit yang mulai meredup. "Kita yang kelebihan makanan kadang membuang makanan begitu saja, padahal masih banyak orang yang membutuhkan makanan." Tangan Faris menggenggam tangan Hanin, ia kemudian mengecup punggung tangan Hanin dengan perasaan yang mendalam. "Inilah salah satu hal yang membuat Mas begitu mencintai kamu, Han." "Terimakasih, Mas." Faris tidak menyesal pernah mengkhianati ibunya untuk urusan cinta, tob orang yang ia perjuangkan adalah orang yang menurutnya tepat. Satu-satunya orang yang bisa Faris jadikan The only one dalam hidup Faris. "Mas dengar dari Almira katanya Eza meminta ijin untuk bisa menikahi Kakak dari anak itu?" Hanin hamoir saja lupa soal ini. Setelah obrolan Hanin di telepon bersama Eza soal siapa yang akan merawat Maria, Eza menemui Hanin di rumah sakit. Eza berbicara banyak tentang Ana dan Maria. Dari Ezalah Hanin bisa tau soal kehidupan Ana dan Maria yang Hanin ceritakan tadi pada Faris. "Entahlah, Han masih belum yakin." "Han ... apa kamu masih belum bisa memaafkan Eza?" "Bukannya Hanin gak bisa maafin Eza, tapi hati Hanin selalu merasa kalau Eza itu tidak adil. Dia kejam." "Mau sampai kapan kamu punya fikiran seperti ini? Kalau kamu maaih tidak bisa menerima kematian Alya dan tetap menyalahkan Eza, kamu tidak bisa menerima takdir. Suatu saat kamu akan menyalahkan Tuhan." "Han gak sanggup rasanya kalau harus melihat Eza menikah dengan orang lain." Hanin kembali membuang muka, air matanya sudah hampir terjatuh hanya dengan membicarakan nasib Eza dan Alya. "Eka dan Almira sudah bahagia, Rissa dan Edrick juga sudah bahagia..Sekarang kita harus membiarkan Eza bahagia, toh Tuhan mungkin sudah menegur Eza saat ia harus mengalami depresi setelah kematian Alya." "Hati Hanin sebagai ibunya jauh lebih sakit rasanya Mas." Hanin memejamkan matanya, mencoba menghindari Faris. Ia tak ingin memperpanjang topik ini lagi. Andaikan saja perselingkuhan di antara Eza dan Frea tidak pernah terjadi dan Eza dengan Alya berpisah secara baik-baik, Alya pasti tidak akan menyembunyikan penyakitnya. Dan saat itu, Hanin akan bisa membawa Alya berobat ke luar negeri. Memcari dokter yang bisa menyembuhkan Alya tanpa cacat sedikitpun. Soal uang, rasanya Hanin dan Faris akan bisa mencukupinya. Tapi, sayang sekali sebanyak apapun uang yang Hanin dan Faris miliki nyatanya tak bisa menyelamatkan Alya dari kematian. Kpeutusasaanlah yang membuat Alya harus menyerah aka hidupnya. Memutuskan untuk menyembunyikan penyakitnya dari orang-oramg terdekatnya. Hati alya yang begitu sakit membuatnya merasa kalau kematian adalah jalan terbaik untuknya. Jadi, bagi Hanin sebab kematian Alya adalah Eza. Eza yang tidak punya pendirian atas hidupnya. Eza yang terlalu mudah dipengaruhi, Eza yang tidak bisa melihat pada dirinya sendiri bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan, pernah bersalah juga. Dan seharusnya ia berpikir, bagaimana jika suatu hari nanti, dirinyalah yang membuat kesalahan. * * * "Kata tante Hanin kamu gak mau minum obat?" Maria tersenyum tipis dengan wajah pucatnya itu. "Obat itu justru membuat saya semakin sakit Mas Irgi." "Kakak kamu sudah keluar dari rumahsakit." "Benarkah?" "Iya, memangnya kamu tidak mau pulang?" "Apa dia ikut dengan Pak Eza?" Irgi seidkit terkejut dengan pertanyaan Maria, pasalnya Irgi belum.bercerita apapun tentang kemana Ana pulang. "Kenapa kamu tau?" "Dua hari yang lalu aku dengar Pak Eza dan Tante Hanin mengobrol. Pak Eza nialng kalau dia akan membawa Kak Ana setelah kak Ana sembuh nanti ke rumahnya. Dan Pak Eza akan menikahi Ana." Maria kembali tersenyum, sesekali ia memgangi dadanya yang sedikit terasa sesak. "Mar ..." "Gak apa-apa dok, Maria baik-baik aja." Maria mencoba menjeaskan kondisinya pada Irgi. "Apa dokter sudah bilang pada Kakak saya soal ketidakcocokan donor sumsum tulang belakang Ayah Hendra dan saya?" "Belum Mar." "Jangan katakan itu, Maria mau Kak Ana bahagia. Hanya ini yang bisa Maria berikan, tidak merepoti kak Ana. Apa saya boleh minta tolong dengan Mas Irgi?" "Minta tolong apa?" "Saya mau Mas Irgi bujuk Kak Ana agar mau menerima lamaran Pak Ezq. Saya yakin Pak Eza tidak akan membuang waktu." Memang Eza tak akan membuang waktu, tapi masih akan ada banyak rintangan kalaupun Ana menikah dengan Eza. Akan ada Rissa yang mungkin menjadi garda terdepan untuk memberikan pertidaksetujuan soal pernikahan Ana dan Eza nanti. Belum lagi soal keluarg Alya yang pastinya juga tidak akan rela melihat kebahagiaan Eza dengan Ana. Irgi rasanya tak yakin kalau menikah dengan Eza, Ana akan bahagia. "Tapi ada syaratnya." "Apa itu?" "Kamu harus kemabli melakukan kemoterapi dan minum obat rutin." "Harus seperti itu?" Irgi tak mau membuang kesempatan, ia juga harus bisa mengambil kesempatan dalam sebuah penawaran. * * * "Ana apakah kamu mau menikah dengan saya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN