45

2020 Kata
Ana sedang membantu asisten rumahtangga keluarga Rahardian membereskan meja makan bekas makan malam. Dengan terampil ia menata piring yang sudah ART itu cuci, kemudian menatanya di dalam lemari. "Sudah, Non. Biar bibi saja yang selesaikan. Non bisa naik ke kamar." Ana hanya mengangguk kemudian menutup pintu lemari itu. "Kalau begitu saya naik dulu, ya, Bi. Terimakasih buat makan malamnya." "Sama-sama, Non." Ana tidak langsung naik ke atas, ia berjalan menuju taman yang ada di dekat ruang tengah. Hampir satu minggu Ana tinggal di rumah Eza. Sebenarnya Mamah ataupun Papah Eza tidak pernah bersikap jahat pada Ana, hanya saja Ana merasa tidak pantas untuk berbicara dengan orangtua Eza. "Apa yang kamu cari?" Ana terlonjak kaget, suara Papah Eza begitu menggema di ruang tengah. Ana kira kalau Papah dan Mamah Eza sudah di kamarnya. "Tidak, tu-tu-an." Ana masih bingung bagaimana cara Ana menyapa Kedua orangtua Eza. "Sudah sampai mana hubungan kamu dan Eza?" Papah Eza tiba-tiba bertanya pada Ana. "Maksud Tuan?" "Setelah 2 tahun depresi karena kehilangan Alya, akhirnya Eza sudah bisa membuka pintu hatinya kembali. Entah saya harus bagaimana, harus berterimakasih atau justru berharap Eza tidak membuka pintu hatinya." 'Depresi, apa maksudnya?' "Pah!" Belum lanjut Papah Eza berbicara, Eza sudah memotong terlebih dahulu. "Ayo An, kita naik." Ana yang tidak tau apa-apa menurut saja saat Eza menarik pergelangan tangan Ana dan berjalan menaiki anak tangga. * * * Ana dan Eza duduk di balkon, mereka berdua saling berdiam diri. Ana sebenarnya masih memikirkan apa maksud dari ucapan papah Eza tadi. "Kalau ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, sebaiknya kamu katakan sekarang." "Banyak. Tapi, apa bapak yakin bisa menjawabnya?" "Kalau memang bisa, pasti saya akan menjawabnya." "Kenapa bapak sampai depresi setelah kepergian bu Alya?" Ana langsung menembak Eza dengan pertanyaan yang jitu. "Karena saya mencintai Alya." *Flashback on "Za!" Alya masih memunggungi Eza yang sedang berdiri memegangi kenop pintu. "Kita bisa mulai lagi dari awal." Ucap Alya. Eza tersenyum sinis mendengar ucapan Alya itu, memulai dari awal semudah itu kah untuk membalikan keadaan seperti semula. "Baru kemarin Reihan pergi ninggalin kita, bahkan bunga yang nyelimutin pusara dia masih bisa kamu cium wanginya, sekarang kamu bilang kita bisa ulang semuanya dari awal, Al?" Alya kini berbalik, menatap punggung Eza yang masih berdiri memegangi kenop pintu. "Aku udah lupa, Za. Aku udah lupa sama anak kecil yang meninggal itu. Bukankah dia udah tenang di surga?!" Geram rasanya Eza mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Alya itu. Tangannya kini makin keras menggenggam kenop pintu itu. "Buat apa kamu mengingat orang yang jelas udah gak ada di dunia ini, itu cuma buang waktu." Alya ingin Eza melupakan semuanya, duka karena kehilangan Reihan. Eza melepaskan genggamannya pada kenop pintu, kini ia mengepalkan tangannya di kedua sisi setelah mendengar perkataan Aldy yang menurutnya tidak pantas diucapkan oleh seseorang yang baru saja kehilangan seorang anak, manusia macam apa yang sanggup untuk mengatakan hal seperti itu. "Andai kamu nggak lalai Al, mungkin Reihan masih ada sama kita!" "Bukan, itu semua bukan salah aku, Za. Takdir Reihan meninggal sudah ditentukan Tuhan, kamu nggak bisa nyalahin aku terus-terusan!" Alya mencoba menahan perasaannya, tidak, kali ini dia tidak akan menyalahkan dirinya lagi atas kematian Reihan. Bagaimanapun hidupnya harus tetap berlanjut, ia masih punya Eza, seseorang yang harus ia pertahankan. "Kita bisa adopsi anak lagi, bahkan yang jauh lebih baik dari Reihan." Alya mengalihkan pandangannya, tidak lagi menatap punggung Eza. "Semua, kita bisa mulai dari awal lagi dan mungkin aku bisa seperti Almira, aku bisa hamil." Alya pun sebenarnya tidak sanggup untuk mengatakan hal itu, tapi ia harus mengembalikan Eza pada kenyataan. Kenyataan bahwa Reihan sudah pergi untuk selama-lamanya dan Eza harus tetap melanjutkan hidupnya, meski tanpa Reihan di antara dirinya dan Alya. "Cukup!" Eza dengan segera menarik kenop pintu, ia keluar dan membanting daun pintu begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi pada Alya. Hari-hari Eza kini bagai neraka, tidak ada lagi cinta-kasih di apartemen itu, tidak ada lagi tawa canda antara dirinya dan Alya, yang ada hanyalah pertengkaran dan pertengkaran. Eza ingin melepaskan semuanya, termasuk melepaskan Alya. Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan di antara dirinya dan Alya. Semakin Eza mencoba maka semakin bertambah pula kebencian Eza pada Alya. Saat menatap wajah Alya, kecelakaan yang menimpa Reihan akan terbayang di pikirannya. Bagaimana Reihan berjuang di ruang operasi, dan bagaimana Reihan terbaring lemah di rumah sakit dengan berbagai macam peralatan rumah sakit sebelum akhirnya Reihan pergi untuk selamanya. Memang benar masih banyak anak-anak yatim piatu di luar sana yang bisa Eza dan Alya adopsi tapi tidak semudah itu, apakah lalu Eza tidak akan merasa bersalah karena menghilangkan nyawa seseorang, bagaimana jika ibu kandungnya tahu, betapa hancurnya hati seorang ibu itu ketika tahu anaknya diadopai oleh orang yang sama sekali tidak bisa menjaga titipan. * * * Alya masih berdiri menatap pintu yang tertutup, sakit rasanya. Bagaimana pun Alya tidak pernah menginginkan kejadian ini terjadi. Alya menyayangi Reihan, Alya mencoba menjadi sosok seorang ayah yang menyayangi Reihan sepenuh hati. Bahkan Alya rela untuk keluar dari tempat ia bekerja demi fokus mengurusi Reihan, tapi sayang takdir berkata lain, apa yang bisa Alya lakukan, jika Tuhan yang mengambil Reihan selama-lamanya dari tangannya. "Maaf, maaf." Alya menggigit bibir bawahnya, berapa kali pun ia meminta maaf, semuanya tidak akan lagi seperti dulu. Tak ada lagi ciuman di pagi hari, tak ada lagi pelukan di pagi hari. Tak ada lagi canda tawa di antara dirinya dan Eza. Eza kini sedingin es, sama sekali tak ada kehangatan yang bisa Alya rasakan seperti dulu. * * * Alya berjalan menuju kamar tidurnya, ia menatap ranjang dengan sprei putih yang masih tertata rapih. Ya, Eza tertidur di sofa, di ruang kerjanya. Dan Alya tidak bisa tidur sama sekali. Mereka dekat tapi terasa jauh. Seolah tak ada lagi malam yang bisa mereka habiskan bersama di atas ranjang itu. Alya membuka pintu ruang kerja Eza dan menatap Eza yang tertidur dengan earphone di telinganya. Alya tahu Eza tidak tidur, Eza sedang menghindari Alya untuk tidak mengobrol tentang apa pun. Alya berjalan mendekati Eza, ia mengelus pundak Eza perlahan. Memijat-mijat pelan bahu Eza. Eza yang sedang memejamkan matanya merasakan sentuhan tangan Alya di pundaknya, ia tidak menolak atau pun menghindari Alya, Eza segera membuka matanya tanpa menoleh ke arah Alya sedikit pun. "Aku pingin kita pisah." Semua itu keluar dari mulut Eza begitu saja tanpa ada keraguan sama sekali. Alya berhenti mengelus pundak Eza saat mendengar rentetan kata yang keluar dari mulut Eza. "Nggak, nggak akan pernah!" Tatapannya sudah penuh dengan Emosi. Alya sudah mewanti-wanti untuk menahan amarahnya, tapi Eza selalu memancingnya. Tanpa berpikir dua kali, ia membanting segala macam barang-barang yang ada di meja kerja Eza. "Atas dasar apa kamu minta pisah, Za?!" Eza tidak menjawab pertanyaan Alya, ia beranjak keluar dari ruangan kerjanya. Ia masuk ke kamar yang diikuti oleh Alya. "Aku nggak akan pernah lepasin kamu Za, kita nggak akan pernah pisah!" "Nggak ada lagi yang bisa kita pertahanin. Cukup, buat kita saling nyakitin satu sama lain." "Kalo kamu mau move on dari kematian Reihan, kita nggak akan saling nyakitin Za. Kamu yang perlu benahin sikap kamu!" Eza menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu lemari. Sejenak ia menatap Alya yang sedang berdiri di sampingnya saat mendengar perkataan Alya, tapi sedetik kemudian dia kembali fokus pada lemari baju yang ada di hadapannya. Ia mengeluarkan semua pakaian Alya yang ada di rak lemari, dari rak yang paling atas hingga rak yang ada di bawah, ia lalu kembali membuka pintu lemari yang lainnya mengeluarkan semua baju yang ada di lemari itu. Sedangkan Alya hanya berdiri mematung melihat apa yang sedang Eza lakukan. Eza berjalan keluar kamar, ia membuka lemari yang ada di dapur. Mengambil sebotol wine dan kembali ke kamar. Alya memunguti satu persatu baju miliknya, dan saat itu Eza sudah kembali berdiri di hadapannya. Tanpa berkata apa-apa, Eza menuangkan wine itu di atas tumpukkan baju milik Alya. "Za!" Eza terus menuangkannya sampai semua isi botol itu habis. "Kita, cuma bisa saling ngancurin satu sama lain!" "Cukup, Za! Cukup!" Eza tertawa sinis. Botol wine yang ia pegangi, ia lemparkan begitu saja di sudut ruangan. Alya yang melihatnya, segera bangkit dan mendorong Eza hingga punggungnya menabrak dinding. Alya mencengkram kerah baju Eza, ia menatap Eza dengan penuh kemarahan. "Kamu pikir, cuma kamu yang sedih karena kepergian Reihan, Za?! Kamu salah! Aku yang paling terpukul, aku, Za! Aku!" Mata Alya mulai berkaca, "kenapa kita harus ngeributin orang, yang bahkan sekarang udah gak ada di antara kita?!" Eza menggenggam pergelangan tangan Alya, ia menghentakkannya kuat-kuat di udara. "Itu semua karena kamu! Reihan mati karena kamu!" Eza menunjuk tepat di wajah Alya, ia memandang Alya penuh kebencian, tanpa sepatah katapun Eza meninggalkan Alya yang masih berdiri mematung, Eza jelas bisa melihat tetesan air mata yang sudah mengalir di pipi Alya, tapi itu sama sekali tidak meluluhkan hati Eza. Eza sudah terlewat kecewa pada Alya. "Aku bahkan gak kenal siapa Eza yang sekarang, ke mana Eza yang dulu?" bertanya pada siapa, bahkan saat ini Eza saja meninggalkan Alya begitu saja. Seolah tak pernah ada rasa cinta di antara mereka. Dulu mereka seperti lem dan perangko karena cinta, dan sekarang mereka seperti air dan minyak, saling membenci, itu pun karena cinta. Semuanya Hancur, bahkan sumpah yang pernah Eza ucapkan untuk tidak meninggalkan Alya berlalu seperti hembusan angin begitu saja. Begitu cepatnya roda berputar, kenapa kehidupannya tidak sejalan dengan apa yang Alya inginkan. Takdir seolah mempermainkan Alya. * * * "Kak apa gak sebaiknya kamu keluar dari sana?" Hanin menatap Alya yang sedang memegangi gelas minumnya. "Gak bisa, Alya harus pertahanin hubungan Alya sama Eza.. Banyak hal yang gak bisa Alya lepasin gitu aja." "Tapi kalian berdua itu berantem terus dan si Eza makin kurang ngajar!" Almira ikut memberikan komentarnya sembari memberikan sebotol s**u pada anak ke duanya. "Dan harusnya lo gak diem aja waktu lo lihat baju lo digituin, lo kan masih punya harga diri, Kak!" Hanin menepuk pelan pundak Almira, "udah, bawa masuk anak kamu ke kamar, tidurin dulu, gih." "Tapi Nda, ini gak bisa dibiarin!" "Udah-udah, jangan teriak-teriak nanti anak kamu bangun." Hanin tidak ingin membuat Alya tambah pusing dengan segala ocehan Almira. Kadang Almira memang keterlaluan saat berbicara. Setelah Almira pergi, Hanin kembali mengobrol dengan Alya. "Apa perlu Nda ngobrol sama Papah kamu?" Alya segera mendongak mendengar pertanyaan dari ayahnya itu, "jangan, Nda." Ini masalahnya dengan Eza, Alya tidak ingin orang tuanya ikut campur. Alya akan menyelesaikan masalahnya sendiri, bagaimanapun caranya. "Kak," Hansa mengelus lengan Alya perlahan, Hanin merasa kasihan pada Alya, kenapa Alya tidak sebahagia Almira? Kenapa Alya tidak bisa seperti Almira yang memberikan dua anak pada Eka. "Sabar, pasti akan ada kebahagian buat kamu. Nda memang gak bisa jamin, tapi Nda percaya Tuhan udah siapin kebahagiaan buat kamu." "Rasanya jauh banget, dulu apartemen itu kaya surga buat Alya sama Eza, tapi sekarang hari-hari kita udah kaya di neraka, kita selalu berantem, adu mulut." Alya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Belum lagi, Eza sekarang jarang pulang. Dia lebih memilih menghabiskan waktunya di kantor." Rasanya hati Hanin sakit melihat anaknya seperti ini, kenapa dulu dia harus menyetujui Alya dengan Eza kalau tahu akhirnya akan seperti ini, ke mana janji Eza dulu. Yang ingin melindungi Alya, ingin mencintai Alya dalam suka maupun duka, bersama Alya dalam susah dan senang. Semudah itukah Eza mengingkari janjinya. Saat Hanin hendak berbicara, Alya mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya. "Ini apa Kak?" Hanin mengambil amplop itu dan membukanya pelan. Foto, banyak sekali foto. Dan di foto itu ada Eza yang sedang duduk bersama seorang wanita, Hanin mengambil foto itu sembari menatap Alya. Kini perlahan tatapannya beralih pada foto-foto yang ada di tangannya. Hansa bisa melihat, di sana Eza tampak tersenyum dengan wanita yang sepertinya Hansa kenali. "Ini ..." "Iya, itu Frea." Alya meneguk air putih di gelasnya, ia mencoba menghilangkan kegelisahan di hatinya. "Gimana bisa Alya pergi, kalau ada seseorang yang mau rebut milik Alya, Nda. Alya bakal pertahanin semuanya." Hanin tidak tahu lagi harus berkata apa, Hanin tahu bagaimana sifat Alya. Jika Almira memiliki sifat seperti dirinya, maka lain halnya dengan Alya, Alya lebih keras kepala meski tidak seperti Faris. Bagaimana pun Hanin menasehati Alya, Alya pasti akan melakukan hal yang sesuai dengan apa yang ada di hati dan pikirannya. Jadi Hanin tidak akan melarangnya. "Alya tahu, apa yang harus Alya lakuin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN