46

1330 Kata
"Siang Bu Alya..." "Eza di dalem?" Tanya Alya pada sekertaris Eza. "Iya Mas, di dalem , baru selesai meeting, silahkan masuk Mas." Niat Alya hari ini ia ingin pulang bersama dengan Eza. Alya ingin memperbaiki hubungannya dengan Eza. Tak ada kata terlambat, selama masih ada cinta di hati, Alya yakin Eza tak akan berpaling. "Apa salahnya Mas? Aku cuma suka sama kamu, aku pingin milikin kamu, dan sekali lagi kamu sama Alya gak punya ikatan yang sah." "Fre," Belum sempat Eza berkata-kata, Frea mencium bibir Eza begitu saja. Hancur perasaan Alya, tepat di depan mata, dia melihat bagaimana Eza menikmati ciuman Frea. Apakah cinta mereka berdua sudah tidak ada lagi, apakah hubungan mereka hanya tinggal ucapan semata. Bagaimana bisa Eza berbuat curang. Alya berpaling, ia menahan amarahnya. Bukan dia tak ingin marah tapi ia tahu apa yang akan terjadi jika dia meluapkan amarahnya saat ini. "Fre ..." Ada jarak di antara Frea dan Eza. "Aku sayang kamu, mas," "Kamu salah kalo kamu sayang sama aku, kamu tahu aku udah punya Alya." Hati Aldy tersentuh mendengar ucapan itu, setidaknya Eza masih mengakui Alya di hidupnya. "Aku bukan kurir yang salah ketuk terus balik lagi cuma karena tahu kalo rumah itu udah berpenghuni, Mas." Saat mendengar kalimat itu, Alya merasakan sesak yang luar biasa. Tidak, dia tidak akan membiarkan Eza menjadi milik orang lain. Dia akan melindungi apa yang dirinya miliki. "Hai, Za," sikap tenang dan senyum di bibir, Alya tunjukkan. Anggap sedetik yang lalu ia tidak melihat dan mendengar apapun. "Oh, ada Frea." Alya mengulurkan tangannya, namun tatapan Alya penuh keangkuhan. Alya ingin agar Frea tahu apa posisi Alya saat ini, kalau Alya punya hak milik atas Eza. "Hai, Al." uluran tangan itu dibalas oleh Frea. Frea terlihat kikuk, segera mungkin ia berpamitan. "Kalo gitu aku permisi dulu," "Tunggu," Eza menoleh saat mendengar suara Alya menahan kepergian Frea. "Kamu mau pulang, 'kan, Fre?" Tak ada alasan untuk Alya menahan Frea, tapi Alya ingin memberi sedikit pelajaran pada Frea. "Bukannya rumah kamu searah sama apartemen kita?" Tatapan Alya kini tepat di wajah Frea, keangkuhan sudah mulai terpatri di dalam diri Alya. Itu demi Eza, demi hubungan mereka berdua. "Gak perlu, Al. Aku bisa naik taksi." Frea tersenyum pada Alya. "Gak apa-apa kan, Za?" Seolah ingin menantang, Alya meminta pendapat Eza. "Lagian ini udah malam, gak baik cewek pulang sendiri." Eza tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Alya pada Frea. Kenapa dia mengajak Frea pupang bersama. * * * Canggung, itu yang tercipta di antara tiga manusia yang saling membisu. Yang terdengar hanyalah gesekan roda mobil yang sedang berjalan di atas aspal. "Kita bisa mampir bentar ke tempat makan Za, Aku laper." Eza mencoba menerka apa yang akan Alya lakukan, jelas sedari tadi pun Alya tidak menegur Frea sama sekali, dan sekarang dia ingin singgah di tempat makan. "Kamu bisa makan di rumah, Al." "Aku lagi pingin makan nasi goreng, mampir yang terdekat sini aja. Gak apa-apa kan Fre? Sekalian kamu juga makan." Alya menoleh sebentar ke arah belakang. Frea mengangguk dengan sungkan, ia mengiyakan ajakan Alya. Alya tidak lapar, Alya sengaja ingin menjebak Frea dalam situasi yang Alya harap bisa membuat Frea sadar kalau Eza adalah milik Alya. Alya tidak akan begitu mudahnya melepaskan Eza. Meski ada masalah besar yang membuat hubungan Alya dan Eza merenggang, bukan berarti Frea bisa masuk begitu saja sebagai orang ke tiga. * * * Alya, Eza dan Frea sudah sampai di tempat makan. Alya duduk bersampingan dengan Eza, sedangkan Frea duduk di sebrang Eza. Di hadapan mereka sudah tersaji sepiring nasi goreng dengan uap yang masih bisa dilihat oleh mata. Alya menaruh sebanyak mungkin acar yang penuh dengan cabai dan ia menambahkan pula tiga sendok sambal ke dalam piring nasi gorengnya. "Cukup, Dy." Eza memegang lengan Alya yang hendak menyendok sambel kembali. "Kenapa? Aku lagi pingin makan pedes." Bukan, tapi suasana hati Alya sedang terasa panas. Eza mengambil piring nasi goreng milik Alya dan menukar dengan miliknya. "Kamu makan punyaku," pandangan Eza berfokus pada tangannya yang sedang memindahkan piring nasi goreng. Tanpa Eza sadari Frea menukar piring nasi goreng Eza dengan miliknya. Mungkin Eza tidak melihat tapi jelas Alya bisa melihatnya. Marah, itu yang sedang Alya rasakan saat ini. Frea benar-benar sedang berusaha keras. Mereka bertiga mulai menikmati nasi gorengnya. Alya bisa melihat Frea mulai kepedasan. Jika Alya tahu Frea yang akan memakannya, mungkin Alya akan menaruh seluruh isi sambal ke piring nasi goreng itu. Sesekali Alya bisa mendengar Frea yang terbatuk. * * * "Apa pantas kamu ciuman di ruangan kerja kamu?" Baru saja Alya dan Eza sampai di apartemen, Alya langsung memberondong Eza dengan pertanyaan yang sedari tadi Alya tahan. "Aku gak mau ribut, Al." "Jadi menurut kamu ini bukan masalah?" Eza tidak menjawab pertanyaan dari Alya, ia mengambil gelas kemudian menuangkan air dari teko. "Kamu gak bisa seenaknya kaya gini, Za." Terdengar suara gelas yang terbanting di wastafel. "Apa maksud kamu, Al?" "Aku dan kamu, kita masih punya status hubungan. Aku masih pendamping kamu, pasangan kamu Za!" Eza hanya menyeringai mendengar ucapan Alya itu. "Pasangan? Pendamping?" "Kita bisa memulainya dari awal lagi. Memperbaiki semuanya dan membuat semuanya kembali indah." "Apa kamu bisa hidupin lagi Reihan?" Lagi, nama itu Eza jadikan sebagai alasan. Kenapa Eza tidak bisa move on. Anak kecil itu lagi, bahkan Alya sudah lupa dengan dengan anak kecil itu. "Kenapa selalu mengungkit masa lalu? Aku aja udah lupa sama anak kecil itu, aku udah gak inget lagi. Cukup Za kamu bawa-bawa Reihan dalam hubungan kita. Kita gak akan pernah bisa melangkah kalau kamu masih aja inget-inget Reihan. Jangan jadikan kematian Reihan sebagai alasan buat kamu ngejauh dari aku, atau bahkan ninggalin aku demi Frea!" Alya menatap tajam ke arah Eza. Tidak, kali ini Alya tidak akan mengalah. Dia punya harga diri dan Eza tidak bisa mengabaikannya begitu saja. "Kenapa kamu bawa-bawa Frea?" "Kenapa aku harus berpikir dua kali buat sebut nama dia, jelas-jelas aku lihat kamu nikmatin ciumannya Frea!" "Al ..." "Aku gak semudah itu buat nyerah, Za. Sampai kapanpun aku bakal pertahanin hubungan ini." Alya berlalu meninggalkan Eza yang masih berdiri mematung, Alya tidak akan memgemis pada Eza untuk tidak ditinggalkan. Tapi Alya tahu apa yang harus Alya lakukan untuk membuat Eza tetap tinggal di sampingnya, kembali seperti dulu lagi. * * * Eza sedang membereskan semua pakaiannya yang ada di lemari, ia kemudian memasukannya ke dalam koper. Dua hari setelah pertengkarannya dengan Alya, Eza memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Bagi Eza sudah tidak ada lagi yang bisa Eza pertahankan bersama Alya. Kalau saja dulu Eza mendengarkan nasihat ibunya, untuk tidak hidup bersama Alya mungkin saat ini dirinya sudah bahagia bersama anak-anaknya. "Mau ke mana kamu, Za?" Pertanyaan datar itu keluar dari mulut Alya yang masih menggunakan piyama tidurnya. Sejenak Eza mengehentikan aktivitasnya saat mendengar pertanyaan Alya,, tapi sepersekian detik kemudian Eza meenghiraukan Alya. "Gak akan ada yang keluar dari rumah ini." "Cukup Al, kita nyakitin perasaan satu sama lain." Eza kini berbalik lalu menatap Alya yang masih berdiri di ambang pintu kamar Eza. "Gak ada yang bisa kita pertahanin, ego kamu terlalu tinggi." "Cinta." Eza mendekat ke arah Alya, tangannya kini mencengkarm kedua sisi bahu Alya. "Aku rasa," Eza menghentikan ucapannya, ia menghela nafas dengan kasar. "Aku rasa, di antara kita udah gak ada cinta, cuma ada kebencian yang tertanam di hati masing-masing. Cukup buat aku nyakitin kamu." Alya tidak akan menangis, Alya masih menatap tajam ke arah pandangan Eza. Bagaimana bisa dia mengatakan jika sudah tidak ada lagi cinta di antara mereka, semudah itukah perasaan itu menghilang? Nyatanya, Alya tidak bisa menahan kepergian Eza. Eza berlalu begitu saja melewati Alya yang berdiri di hadapannya, seolah tak ada penyesalan saat meninggalkan Alya. "Berhenti," ucap Alya dingin. Tidak, Eza sama sekali tidak berhenti. Suara roda koper yang berputar di atas lantai apartemennya masih terdengar di telinga Alya, sampai akhirnya terdengar bantingan pintu dengan kerasnya. Saat itu lutut Alya terasa lemas, ia berjongkok dan menunduk. Kedua tangannya meremas ujung celana yang ia kenakan. Sakit rasanya, apakah seperti ini akhir kisah cintanya dengan Eza? Kenapa Alya tidak pernah bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN