47

4876 Kata
Pergi mungkin bukan menjadi sebuah solusi, jika saat itu kenangan masih merangkulmu untuk kembali pulang ke "rumahmu" Satu butir pil penenang sudah di tangan Alya, tanpa obat itu Alya tidak bisa memejamkan matanya walau hanya sebentar saja. Beban pikirannya terlalu berat semenjak Eza pergi meninggalkannya. Alya menatap sebuah bingkai foto, di sana, di foto itu, Eza menggendong Alya dengan penuh senyum di wajahnya. Tak pernah terbayang jika foto itu akan menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang menyakitkan. "Saya Eza Rahardian berjanji, mencintai Alya Dini Fahreza dalam suka maupun duka, dalam susah dan bahagia, dalam sakit maupun sehat." Kata-kata itu terngiang di ingatan Alya, bagaimana dulu Eza berjanji di hadapan orang tuanya, Faris dan Hanin. Tapi janji tinggalah janji, yang tersisa hanyalah sebuah omong kosong dan luka. Perasaan sesak itu kembali memenuhi hati Alya, saat itu pula ia teringat bagaimana Eza menikmati ciuman Frea saat di kantor. "Sial," Alya meremas selimut yang menutupi kakinya, jika saja membunuh adalah hal yang biasa, saat itu pula Alya akan melempar Eza dan Frea dari lantai tujuh, gedung perkantoran. * * * "Kak elo harusnya labrak Frea saat itu juga," Almira yang sedang mengurusi anaknya segera menyaut saat Alya berbicara kejadian di kantor tempo hari. "Almira," "Kenapa Nda? Kalo aku yang ada di situ, udah aku jambak tuh perempuan." Dengan penuh emosi Almira memberikan pendapatnya. Alya tidak menggubris ucapan adiknya itu, Alya tidak seperti itu. Dia punya cara sendiri untuk membalaskan sakit hatinya. "Jadi Eza udah pindah?" Tanya Hanin pada Alya. Alya hanya mengangguk, ia menghela nafasnya dan menyenderkan tubuhnya pada punggung sofa, seolah mencari kenyamanan. "Dia minta semua aset yang kita miliki, dibagi dua." "Lalu, kamu setuju Kak?" Hanin duduk di sebelah Alya, mencoba memberikan nasehat pada anaknya itu, dia yakin anaknya saat ini sedang butuh perhatian. "Alya belum mau urus, Nda." "Apa gak bisa kalian bicarain lagi?" Alya sudah mencoba, mencari jalan yang terbaik. Memulai kembali semuanya, menata ulang kembali keadaan hubungan mereka berdua, tapi nyatanya Eza lebih memilih mencari sebuah pelarian. Pelarian untuk melupakan Alya. "Alya gak bisa lepasin ini semua gitu aja, Nda." "Gimana sama orang tua Eza?" "Alya rasa mereka belum tahu, papanya Eza belum menghubungi Alya." * * * Alya sudah bersiap untuk pergi ke kantor, ini masih terlalu pagi sebenarnya, tapi karena ia menginap di rumah orang tuanya, mau tidak mau ia harus berangkat lebih pagi. Jarak rumah orang tuanya dengan tempat Alya bekerja cukup jauh, dan Alya tidak mau jika dirinya terlambat. "Nda, Alya berangkat." "Nda udah siapin bekal sarapan, kamu makan kalo udah nyampe kantor ya, Kak." Hanin membawakan dua susun container makanan yang berisi sandwich dan bubur labu buatannya. "Makasih, Nda. Alya berangkat dulu." Entah kenapa setiap pagi Alya selalu malas untuk pergi ke kantor, di sana dia harus bertemu dengan Eza dan Frea. Tapi jika ia tidak bekerja, justru Frea akan semakin merasa menang, dan Alya tidak mau itu terjadi. Hari ini Alya berencana untuk menemui Eza, dia akan membicarakan soal pembagian aset yang dimiliki oleh mereka berdua. Alya sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu, hanya saja semakin ke sini Eza semakin kehilangan kewarasan otaknya. * * * Rasanya masih terlalu pagi untuk memulai perang, tapi bagaimana bisa ditunda lagi jika saat ini yang ada di hadapannya adalah, Eza dan Frea yang sedang berdiri di depan lift. Alya tidak mungkin berbelok ke lain arah lagi, mau tidak mau Alya harus menaiki Lift yang sama dengan mereka berdua. Saat itu Eza menoleh ke arah pintu loby, dan di sana Alya sedang berjalan ke arah dirinya dan Frea. Tak lama pintu Lift terbuka. Eza, Frea dan Alya masuk ke dalam lift yang sama. Beberapa detik tak ada percakapan di dalam lift itu, namun tiba-tiba Alya memulai percakapan. "Udah kamu ungkapin Fre?" Tanpa menoleh ke arah Frea, Alya bertanya dengan penuh keangkuhan. Frea menoleh, menatap Alya dari sisi kirinya. "U-udah." "Lalu?" Frea menggeleng dan menggigit bibir bawahnya. Eza yang berdiri di antara Alya dan Frea hanya diam, masih memperhatikan apa yang sedang Alya dan Frea bicarakan. "Kalo gitu, aku harap kamu gak melangkah lebih jauh." Saat mendengar hal itu, Eza segera menyelak pembicaraan. "Cukup, Al." "Kenapa?" Alya kini menoleh menatap Eza. "Kamu harus sadar posisi kamu sekarang apa, gak ada lagi hubungan di antara kita berdua." Rasanya saat itu juga lutut Alya terasa lemas, sekuat tenaga ia mencoba untuk tetap menatap Eza tanpa memperlihatkan kesedihannya. Bagaimana Eza membela Frea, bagaimana Eza dengan mudahnya mengatakan kata-kata itu. "Aku bisa ngatasin ini semua, dan kamu gak perlu ikut campur, Al." Saat itu pintu lift terbuka, entah sengaja atau tidak, Eza menarik lengan Frea lalu keluar meninggalkan Alya yang masih berdiri mematung di dalam lift. Alya menatap genggaman tangan Eza pada Frea dengan air mata yang hampir jatuh di pelupuk matanya. Tepat saat pintu lift tertutup, tangan Alya memegang dinding lift, semudah itukah Eza melupakan dirinya. * * * Alya baru saja menyelesaikan meeting dengan beberapa kliennya, dia harus mewakili Eza karena Eza ada urusan di luar kantor. Sekembalinya Alya dari meeting, Rissa sudah duduk di ruangan Alya. "Baru selesai meeting Bu Alya?" Rissa menyapa Aldy terlebih dahulu. Alya hanya mengendikan bahu dan berjalan menuju kursinya, tumben sekali Rissa ke ruangannya. "Baru dapet hasil akhirnya,"Alya menyodorkan map berwarna biru muda ke hadapan Rissa. Rissa tersenyum puas lalu membuka map itu. "Tinggal tanda tangan Eza nih?" Alya tampak mengangguk pelan, ia kembali fokus dengan layar laptopnya. "Kamu ke ruangan dia aja, tapi dianya lagi pergi. Tunggu aja di sana." "Ngusir?" "Ya kalo mau pergi sekarang, silahkan. Kalau mau nunggu di sini, silahkan." Alya masih fokus pada layar laptopnya. "Nanti malem elu di undang makan sama bokap." Alya kini menggeser laptopnya, dan berfokus pada Rissa. "Ada acara apa?" "Gue rasa mau ngobrolin soal elo sama Eza." Ya, papa Eza memang sangat menyukai Alya, Alya termasuk salah satu orang kepercayaan papanya Eza di kantor, dan sebab itu juga yang membuat papanya Eza menyetujui hubungan Eza dengan Alya. "Gue cabut dulu, gue rasa dia udah balik." Rissa berpamit pada Alya. Alya hanya mengangguk pada Rissa, ia kemudian segera mengambil ponselnya. Sebentar dia mencari nama di daftar kontaknya, lalu menekan tombol hijau bergambar gagang telfon. * * * Mmmhhhh ... mmmhhh Frea sedang begitu ganasnya menciumi Eza yang duduk di kursi kerjanya, Frea duduk di atas paha Eza tangan kirinya meremas rambut Eza pelan sedang tangan kanannya menuntun tangan Eza untuk meremas buah dadanya, perlahan Frea menggesekan pantatnya pada gundukan yang ada di balik celana Eza. Mmmhhhh ... aaahh ... sebentar Frea melepas pagutan bibirnya, mengambil udara sebanyak mungkin, lalu ia kembali melahap bibir Eza yang masih terengah-engah karena ciuman ganas Frea. "Sial!" Sepersekian detik, Frea sudah terduduk di lantai. Entah bagaimana, tanpa mereka sadari Rissa sudah berdiri membelakngi Frea yang terjatuh di lantai. Rissa menarik Frea dari pangkuan Eza. Bugh! "b*****t!" Satu pukulan melayang di pipi kanan Eza. Rissa mencengkram kuat kerah Eza, Eza tidak sempat untuk melawan. "b******n lo, Za." Bugh! Frea yang melihat wajah Eza mulai berdarah segera berteriak meminta tolong. Tak berselang lama seluruh pegawai yang ada di luar ruangan Eza segera masuk dan melerai Rissa yang sedang memukuli Eza menggunakan tempat file-file yang begitu keras. Rissa berhasil dijauhkan dari Eza, tubuh Rissa dipegangi oleh dua pegawai laki-laki. Sedangkan Frea membantu Eza yang tersungkur di lantai untuk bangkit. Eza memang sengaja tidak membalas apa yang dilakukan oleh adik kembarnya itu. "Lepas!" Rissa mengenyahkan kedua tangan pegawai yang sedang memeganginya, kini ia menatap tajam ke arah Frea. "Lo!" Tangan Rissa menunjuk ke arah Frea. "Pelacur." Tanpa banyak berbicara lagi, Rissa meninggalkan ruangan Eza saat itulah Rissa melihat Alya yang berdiri di ambang pintu. "Al," Alya tidak menghiraukan Esa, ia segera masuk dan menghampiri Eza. "Kamu gak apa-apa, Za?" Alya memegangi ujung bibir Eza yang berdarah. Eza tidak menjawab pertanyaan Alya, ia memalingkan wajahnya dan berlalu meninggalkan Alya dan Frea. * * * Saat ini Alya sedang duduk bersampingan dengan Frea di depan kamar rawat inap sebuah klinik, setelah peristiwa tadi, Alya menemani Eza untuk beristirahat di klinik. "Dia, orang yang aku sayang." Alya mulai membuka percakapan. Frea masih diam mendengarkan ucapan Alya. "Dia yang merubah saya menjadi orang yang berani buat menatap dunia." Tak ada jawaban dari Frea. "Apa yang harus saya lakukan?" Frea kini menoleh ke arah Alya. "Elo ciuman sama Eza di kantor, bahkan ini bukan pertama kalinya, entah elo berani atau emang sebegitu cintanya elo sama Eza, gue gak tahu, Fre. Apa yang mesti gue lakuin supaya elo berhenti? Lo mau gue berlutut di depan elo? Atau elo mau ambil jabatan gue? Elo mau uang? Rumah? Gue kasih Fre, bilang apa yang lo mau, tapi tolong jangan ambil Eza dari gue." Frea berdiri di hadapan Alya, Frea tahu dia merebut seseorang dari hidup orang lain, tapi ini soal perasaan. Dia pun ingin mendapatkan Eza. "Bu Alya," Saat itu Alya berlutut di hadapan Frea, Alya benar-benar melakukannya, dia berlutut di hadapan Frea. "Gue cinta sama Eza, gue cinta sama Eza, Fre. Walaupun dia gak sebaik dulu, walaupun dia gak sehangat dulu, tapi bagi gue dia seseorang yang selalu gue butuhin, dia yang selama ini selalu ada buat gue, gue gak mau kehilangan dia." Alya menunduk, mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Saat itulah pintu kamar terbuka, Eza yang sedari tadi mendengarkan percakapan di antara Alya dan Frea segera keluar dan menarik Frea yang masih berdiri di hadapan Alya. Eza meninggalkan Alya begitu saja untuk kesekian kalinya. Eza benar-benar sudah mati rasa. "Gue sayang sama elo, Za." Bibir itu berucap begitu saja, namun Alya tak bisa membohongi dirinya sendiri, hatinya begitu sakit karena sikap Eza. * * * Alya, Eza, Rissa dan kedua orang tua Eza sudah duduk di meja makan. Alya memenuhi undangan papa Eza untuk makan malam di rumahnya. Alya bersikap biasa saja, seolah tak ada masalah di antara dirinya dan Eza. Hanya saja yang membuat suasana tegang adalah lebam di pipi Eza yang tidak lain disebabkan oleh Rissa. Papa Eza sudah mendengar perkelahian kedua anaknya di kantor siang tadi. Setelah makan malam selesai, mereka berkumpul di ruang keluarga. Alya duduk berdampingan dengan ibu Eza, meski dulu Ibu Eza tidak menyukai Alya toh nyatanya saat mendengar jika Frea hadir sebagai orang ketiga, ibu Eza memihak pada Alya. Di samping ibu Eza ada Rissa yang duduk bersebrangan dengan Eza. Papa Eza mengeluarkan sebuah map berwarna kuning, "Di dalam map itu ada surat kuasa." Papa Eza memulai pembicaraan. "Sesuai yang kamu minta, aset milik kalian berdua akan dibagi dua." Papa Eza membuka map itu dan memberikan selembar kertas kepada Eza. Dan selembar kertas pada Alya. Tanpa ragu Alya menandatangani surat itu, namun sesuatu mengehentikan Alya. "Papa sudah putuskan, tiga perempat dari harta kalian papa berikan pada Alya, dan sisanya menjadi milik kamu, Eza. Untuk sementara kamu papa berhentikan dari jabatan kamu, dan selama kamu berhenti Alya yang akan menggantikan kamu." "Pa!" Suara Eza meninggi setelah membaca surat kuasa itu dan mendengar pernyataan dari papanya. Eza tidak terima dengan keputusan papanya. "Kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan kamu, Za." "Tapi, Pa-" "Papa harap ini sudah selesai, jadi silahkan kalian keluar." Alya merasa puas dengan keputusan papa Eza, semua berjalan seperti yang ia inginkan. Alya keluar terakhir dari ruangan itu, ia ingin mengucapkan terimakasih pada ayah mertuanya. "Terima kasih, pa." Tak ada senyum yang tampak di wajah Alya, namun di hatinya ia merasa puas. "Kamu harus tahu, papa gak pernah setuju kalian pisah. Papa akan usahakan untuk menahan Eza, supaya kalian berdua tetap bersama." Alya adalah orang yang sangat dipercaya oleh papa Eza, bahkan sangat diandalkan. Alya tahu cara bekerja, Alya tahu cara menjadi seekor anjing yang melayani tuannya. "Terima kasih karena papa sudah berpihak pada Alya." * * * "Makasih ma," Alya memegang erat tangan mama Eza, mungkin begini rasanya mendapat dukungan dari seorang ibu mertua. "Mama gak mau perempuan jalang itu nikmatin harta papa kamu gitu aja, seharusnya kamu lebih bisa jaga Eza," Alya tersenyum mendengar ucapan mama Eza, lihat saja bahkan keluarga Eza tidak menyetujui hubungannya dengan Frea, yang notabene Frea bisa melahirkan seorang anak dan mewariskan segala kekayaan keluarga Rahardian. Bahkan predikat jalang sudah mama Eza sematkan pada Frea. Kedudukan sudah Alya dapatkan, kepercayaan sudah Alya genggam, Eza hampir kehilangan semuanya, yang perlu Alya lakukan adalah menggertak dua manusia yang saat ini memenuhi pikirannya, Eza dan Frea. Jika perasaan cinta tidak bisa membuat Eza untuk bertahan maka paksaan adalah jalan satu-satunya, biarlah Alya menjadi manusia licik. Siapa yang membuat Alya menjadi seperti ini? Tentu saja semua sikap Eza selama ini pada Alya, jadi jangan salahkan jika Alya berubah menjadi monster yang mungkin lebih kejam dari seorang Eza. * * * Eza sudah tidak pergi kantor, karena isu berpacaran Eza dan Frea sudah tersebar maka papanya menyuruh Eza untuk berhenti dan untuk sementara waktu jabatan Eza digantikan oleh Alya. Papan nama Alya Dini Fahreza sudah terpajang di meja presiden direktur, bagaimana bisa Eza menyingkirkan Alya begitu saja, bahkan sekarang Eza yang justru tersingkir. Lalu bagaimana dengan nasib Frea? Alya masih punya permainan untuk menyingkirkan Frea. Alya hanya perlu menunggu waktu, dan setelah itu dia akan menyingkirkan Frea. Pok ... pok ... pok... Suara tepuk tangan menyadarkan Alya yang sedang berdiri mematung menatap kursi presdir yang dulu di duduki Eza. Alya menoleh ke arah pintu yang terbuka ternyata Rissa yang datang ke ruangannya. "Selamat, Ibu Presiden direktur Alya Dini." Alya mengacuhkan Rissa yang tersenyum lebar kepada Alya. "Walaupun gue saudara kembar Eza, tapi entah kenapa gue bahagia lihat elo duduk di kursi itu." "Ini gak penting, ada yang jauh lebih penting." "Apa?" "Frea," Rissa terkekeh mendengar nama itu, "Kalo elo udah duduk di kursi itu, anak tikus itu gak mungkin berani sama elo." Jika hanya seekor anak tikus, Alya sudah bisa mengusirnya dari dulu, nyatanya Frea adalah ular yang bisa mengelak kapanpun dia mau. "Elo pecat dia, selesai kan?" Ya, memecat Frea mungkin menjadi salah satu solusi agar Frea keluar dari kantor ini. Tapi bukan itu yang Alya inginkan, jika Frea keluar maka Eza dan Frea jelas lebih bebas untuk bertemu. Alya ingin membuat jarak di antara Frea dan Eza, Alya ingin menyiksa Frea terlebih dahulu sebelum dia benar-benar mendepak Frea untuk selamanya. * * * "Jadi kamu diberhentiin?" Frea menatap Eza yang ada di hadapannya. Eza mengangguk pelan, dia kini menatap ke arah Frea, "Itu bukan masalah Fre, yang jadi masalah sekarang itu kamu, kamu kerja sama Alya. Aku gak tahu apa yang bakal dilakuin Alya ke kamu." Frea tersenyum dan menggenggam tangan Eza, "jangan khawatir Za, selama ada kamu di sisi aku, aku pasti baik-baik aja." Cinta adalah cinta, bahkan cinta bisa melukai pemiliknya sendiri. Dan cinta bisa jadi kebencian terbesar. 'Aku gak akan pernah nyesel nyuri kamu dari Alya, Za. Aku harap ini bukan cinta sesaat di antara kita. Aku harap ini selamanya untuk kita.' Frea mendekat pada Eza, perlahan ia senderkan kepalanya pada d**a bidang Eza. Frea tidak akan melepaskan Eza, sekuat Alya mencoba maka sekuat apapun pula Frea akan menggenggam Eza. * * * Bagi Frea kini di kantor adalah neraka, bagaimana tidak, Alya benar-benar memberinya banyak sekali pekerjaan bahkan yang bukan pekerjaannya pun harus Frea kerjakan. Frea harus berangkat lebih pagi karena kadang Alya sudah sampai terlebih dahulu dan meminta segala macam laporan yang terkadang sudah Frea berikan. Bukan karena Alya nyinyir tapi Alya pekerja keras dan tidak mau ada kesalahan sedikit pun. Pagi itu Frea diantar Eza pergi ke kantor, Frea turun dari mobil mewah milik Eza. Ya, kini Eza menjadi supir bagi Frea, mengantar dan menjemput Frea ke dan dari kantor. "Merasa terhormat di antar sama anak seorang pemilik perusahaan?" Frea menoleh ke arah datangnya suara, tidak ada yang seberani ini kecuali bos dan rivalnya, Alya Dini Fahreza. "Kaya putri raja, naik kereta kencana." Dengan tanpa ekspresi Alya masih mencoba mengintimidasi Frea. Baginya ini hal biasa, tapi bagaimana dengan Frea? Frea hanya menunduk, entah merasa bersalah atau memang takut. "Jangan bangga, apa yang kamu rebut gak bakal bertahan lama." Setelah selesai berbicara Alya segera melenggang masuk ke loby kantor, meninggalkan Frea yang masih berdiri di pelataran kantor. "Cantik, tapi sayang pencuri." Belum juga hati Frea tenang, satu serangan sudah meluncur lagi dari mulut Rissa. Entah kenapa Rissa pun membenci Frea, harusnya Rissa mendukung Eza berasama Frea. Frea wanita pintar, dan juga wanita muda. "Seburuk-buruknya pencuri itu, pencuri pasangan orang lain." Jika disandingkan maka Rissa sama levelnya dengan Almira adik dari Alya, yang selalu berbicara seceplosnya saja dan jelas tidak memikirkan perasaan lawan bicaranya. "Bu Ri-ssa." "Kalo elo deketin Eza secara fair mungkin gue bakal dukung elo," Rissa tidak peduli jika saat ini dia sedang berada di kantor bahkan di perhatikan oleh bawahannya. "Tapi sayang, cara lu picik." Rissa berlalu meninggalkan Frea begitu saja. "Apa anda fikir ini semua kesalahan saya?" Ucapan Frea menghentikan Rissa yang sudah melangkah meninggalkan Frea. "Jadi pencuri memang buruk, tapi lebih buruk orang yang kecurian. Kalau memang dia mencintainya seharusnya dia bisa menjaganya, dia bisa menggenggamnya, melindunginya. Sudah diambil orang masih tetap mengaku memiliki dan tidak mau melepaskan, apa itu namanya bukan egois?" Rissa menyeringai mendengar setiap perkataan Frea, dia yang hendak pergi kini kembali berbalik menghampiri Frea lagi. Rissa mendekat ke arah Frea, sampai hanya ada jarak sejengkal di antara mereka. Rissa menatap Frea dengan seksama. Tangan kanannya kini naik, mengelus pipi Frea. Rissa mengangkat satu alisnya sembari tersenyum sinis, "jaga baik-baik bibir ini." Bisikan Rissa di telinga Frea nyatanya membuat Frea ketakutan, kaki kanannya seolah tak kuat menopang tubuhnya. Apapun bisa Rissa lakukan, bahkan dulu Rissa pernah melakukan percobaan pembunuhan pada Almira, bukan? Rissa tak pernah ikut campur dalam urusan hubungan Alya dan Eza, tapi kali ini Rissa harus ikut campur. Jika bukan karena Alya mungkin saat ini keluarganya sudah menjadi gembel, Alya bekerja keras untuk memajukan perusahaan milik ayahnya, bahkan orang tua Alya membantu menyuntikkan dana pada perusahaan orang tuanya yang hampir bangkrut, jadi bukankah sekarang saatnya untuk Rissa membalas budi pada Alya? * * * "Serahin ke Alya, Pa." Alya sedang duduk berhadapan dengan papa Eza, sepulang kerja tadi Papa Eza menyuruh Alya untuk mampir ke rumah, bagaimanapun orang tua Eza ingin agar Eza dan Alya tidak berpisah. "Elo yakin, Al? Dari jaman Eza aja urusan itu tanah susah banget." "Saya akan berusaha, Sa." Rissa menertawakan ucapan Alya barusan, ya mungkin benar saudaranya itu terlalu lembek sampai urusan seperti ini saja tidak bisa dia atasi. "Papa percaya sama kamu," Alya tahu kenapa Eza tidak menyegerakan pembebasan lahan itu, alasannya satu, lahan itu masih digunakan sebagai panti asuhan dan di panti asuhan itulah Eza dan Alya mengadopsi Reihan. Jadi, bagaimana mungkin Eza tega menggusur tempat itu. Alya tahu, dari dulu pun Eza tidak pernah menyetujui usulan ayahnya untuk membangun sebuah pusat perbelanjaan di atas tanah itu. Tapi, kali ini Alya yang akan mengurusnya, dengan cara halus atau dengan cara kasar sekalipun Aldy akan melakukannya. "Apa yang mau kamu lakuin?" Alya yang baru saja keluar dari ruang kerja papa Eza terperanjat kaget, tangannya di tarik begitu saja oleh Eza. "Apa yang mau kamu lakuin, Al? Jawab!" Sejenak Alya berkedip, tapi ia kembali mengangkat kepalanya, ia tidak ingin terintimidasi oleh Eza ataupun perasaannya sekalipun. "Apa?" "Aku harap kamu gak setega itu Al buat hancurin panti asuhan itu!" "Kenapa?" "Kenapa, kamu bilang? Al, kamu pasti gak lupa, di sana kita ketemu Reihan." Alya menyeringai, tepat sekali dugaan Alya, arah pembicaraan Eza akan kembali pada anak kecil yang sudah mati. "Aku cuma jalanin tugas, bertanggung jawab sama kerjaan aku." Setelah itu Alya melenggang pergi meninggalkan Eza yang masih berdiri mematung, Alya yakin saat ini Eza benar-benar marah padanya. 'Apakah kamu peduli Za saat aku marah? Apakah kamu peduli Za saat aku sedih? Apakah kamu peduli Za saat aku merasa kecewa? Kita lihat Za siapa yang bakal hancur terlebih dahulu. Ini antara kamu dan aku. Atau kita yang bakal hancur bersama.' * * * Seperti memakai baju yang tidak sesuai di tubuhmu, bukankah itu menyakitkan jika terlalu dipaksakan? "Udah beres, Nda?" "Udah, Kak. Nda udah urus semuanya." "Makasih ya, Nda." Hanin mengelus pundak Alya pelan. Hari libur ini Alya sengaja habiskan di rumah orang tuanya, ia mencari keramaian. Karena setiap hari minggu pun Almira dan kedua anaknya ada di rumah orang tuanya. "Jadi, apa yang bisa papa bantu?" Hanin menoleh ke arah Faris, dia tahu Faris tidak akan tinggal diam mendengar anaknya disakiti oleh Eza. "Buat sekarang cukup ini dulu, Alya masih harus lakuin sesuatu." "Papa bisa aja hancurin mereka dalam sekejap kalo kamu mau, Kak." Alya mengangguk berkali, ia tak ragu kepada ayahnya itu. Jangankan hanya Eza dan Frea, keluarga Eza sekalipun bisa ayahnya hancurkan. "Nda, Papa sama Almira akan selalu ada buat Kakak, Mama Rena, Papa Nendra pun begitu. Jadi, Kakak jangan pernah merasa sendirian, ya." Hanin menggenggam telapak tangan Alya, ia tidak mau anaknya merasa sendirian hanya karena Eza pergi meninggalkannya. "Iya, Nda." * * * Eza sudah mendengar kabar dari Frea, bahwa penggusuran panti asuhan itu akan dipercepat. Eza mencoba menghubungi pemilik panti asuhan namun tak ada jawaban sama sekali. Tak ada yang bisa Eza lakukan, dia sudah tidak punya kuasa dalam hal ini. Yang Eza tahu, masih banyak sekali anak-anak yatim piatu yang tinggal di sana. "Kamu gak bisa ngulur waktu, Fre?" "Aku gak punya kewenangan Za, cuma Alya yang bisa lakuin itu. Mungkin kamu bisa ngobrol sama Bu Rissa, yang aku tahu anak-anak di panti itu belum dapat tempat tinggal karena uang ganti rugi dari perusahaan tidak cukup untuk membangun tempat baru." "Ya, mas tahu itu, karena tanah itu pun bukan milik mereka." Satu-satunya jalan keluar adalah menemui Alya, Eza harus membicarakan ini dengan Alya. Tidak ada pilihan lain, Eza tidak mungkin membiarkan panti asuhan itu digusur begitu saja. "Kamu bisa temenin saya?" "Ke mana?" "saya harus temuin Alya, Aldy udah kelewat batas." "kamu yakin?" Frea nampak tidak yakin dengan rencana Eza ini, mereka berdua menemui Alya? Sudah tidak waras, pikir Frea. Bahkan melihat Frea di kantor saja, Alya seperti melihat muntahan yang ingin cepat-cepat dibersihkan. "Aku gak yakin bisa ngomongin ini sama Alya. Keadaannya masih memanas, Za. Alya masih gak suka sama kita." Mungkin bukan masih, selamanya tidak akan suka. Frea tidak mau jika sampai di tempat Alya nanti, Frea hanya akan jadi bahan keketusan Alya. "Mungkin lebih baik mas ngobrol sama orang tua mas, siapa tahu mereka mau membujuk Alya." Bagaimana bisa Eza meminta tolong pada ayahnya, kalau apa yang akan Alya lakukan adalah perintah dari ayahnya. Alya sudah punya dukungan penuh, tidak ada lagi yang memihak Eza. "Kita coba dulu." Frea tidak yakin, tapi mungkin inj saatnya menjadi pembuktian cintanya pada Eza, menemani Eza saat sedang terpuruk. Dia harus bersiap bertemu dengan Alya, mungkin jika Eza di sampingnya Alya tidak akan seberani jika Frea tanpa Eza. * * * Eza dan Frea sudah sampai di apartemen milik Alya, ya, dulu milik Alya dan Eza, tapi sekarang sudah menjadi hak milik Alya sendiri. Eza menggandeng tangan Frea, Eza sebenarnya tahu Frea masih takut untuk menemui Alya. Eza menekan bel rumah yang ada di sisi sebelah kiri pintu apartemen. Dua kali Eza menekan bel tapi tak ada jawaban, sampai ketiga kalinya, suara kunci diputar baru terdengar. Dengan segera Frea berlindung dibalik tubuh Eza, kenapa juga dirinya harus ikut, seperti membuang diri di kandang singa saja, pikir Frea. Alya memutar kenop pintu, begitu daun pintu Alya tarik ke arah dalam, mata Alya menatap tepat di wajah Eza. Sekian detik hati Alya tersentak kaget, namun seketika juga berubah saat melihat rambut yang diikat ala ekor kuda nampak di belakang tubuh Eza. "Ada yang perlu kita bicarain." Alya melipat kedua tangan di depan d**a, "kalau kamu ke sini cuma mau ngomongin soal Frea, aku rasa tidak perlu. Aku sibuk." "Aku mohon, Al." Alya tampak berpikir sebentar. "Baiklah, cukup kamu yang masuk." Eza menoleh ke arah Frea, Frea mengangguk dan melepaskan tangan Eza. Namun Eza menahan jemari Frea dan tetap memegangnya. "Frea juga harus masuk." "Ini rumahku, aku yang berhak menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh masuk ke rumahku sendiri." Alya menatap ke arah tautan tangan Eza dan Frea. "Kalau sudah tidak ada urusan silahkan pergi." Alya hendak menutup pintu namun ditahan oleh kaki Eza. Alya masih menahan emosinya, Alya mengundurkan dorongannya pada pintu. "Ini rumahku juga!" Alya tersenyum miris mendengar ucapan Eza tersebut, jadi Eza masuh merasa kalau rumah itu adalah milik Eza juga. "Oh, ya?" "Sejak kapan kamu jadi seperti ini Al? Aku bahkan sekarang gak kenal kamu." Alya kini benar-benar tertawa, Alya melangkah keluar membuat Eza dan Frea harus menjauhi ambang pintu. "Kamu, kamu yang buat aku kaya gini. Dan perempuan ini," Alya kini menunjuk tepat ke arah wajah Frea, Frea segera menunduk melihat Alya yang sudah emosi. Entah bagaimana, Alya sudah kehilangan kesabarannya, melihat Eza yang terus melindungi Frea. Alya lalu mendorong Frea hingga tubuh Frea tersungkur di lantai. "Fre!" Eza dengan sigap melindungi Frea, dia memeriksa tubuh Frea. Pasti rasanya sakit, jelas Alya mendorongnya begitu keras. Eza membantu Frea untuk berdiri, Alya yang melihat itu segera saja mendorong Eza menjauh dari Frea. Dengan cepat Alya menarik tangan Frea dan membuat Frea berdiri. "Berani kamu Fre datang ke sini? Aku nunggu waktu buat nendang kamu dari kantor, dan sekarang kamu malah berani buat datang ke sini?!" Alya membentak Frea tanpa peduli di mana saat ini mereka sekarang. Eza yang melihat Frea ketakutan segera menarik Alya untuk menjauh dari Frea. "Kamu sekarang pergi, Fre." Frea yang mendengar ucapan Eza segera berbalik, meninggalkan Eza yang masih memegangi Alya. "Mau ke mana kamu p*****r! Siapa yang bilang kamu boleh pergi!!" Alya hendak mengejar Frea namun Eza memegangi Alya dengan kuat. "Kembali kamu Fre, kembali!" "Al! Berhenti Al!" "Apa kamu Za?!" Alya melepas tangan Eza yang menahan tubuhnya, "bahu ini," Alya mendorong bahu Eza dengan kuatnya, "tangan ini!" Alya kini membanting lengan Eza, "tega kamu, Za. Tega! Kenapa kamu lindungin dia? Kenapa?!! Jawab Za, jawab!" Alya benar-benar sudah marah, matanya memerah menahan tangis. Plak! Rasa panas akibat telapak tangan Eza yang beradu dengan bagian pipi Alya membuat Alya berhenti membentak Eza, baru saja Eza menampar Alya. Ini adalah kali pertamanya Eza memukul Alya. "Hah," Alya tersenyum sinis, tangannya memegangi pipi sebelah kanannya, matanya tajam menatap ke arah Eza. Rasa benci itu benar-benar sudah mencapai ubun-ubun Alya. Plak! Alya memukul Eza dengan kerasnya hingga Eza tersungkur ke lantai. Alya memukuli Eza tanpa ampun. Eza sama sekali tidak melawan, Eza membiarkan Alya melampiaskan kemarahannya. Entah berapa kali Alya melayangkan sebuah hiasan dan tepat terkena pelipis Eza. di wajah Eza, yang jelas saat ini darah segar sudah mengalir. Dengan nafas terengah-engah Alya karena menahan tangis dan emosi, menjauhi Eza yang sedang memegangi pelipisnya itu. "Aku gak akan pernah minta maaf karena udah lakuin ini ke kamu," Tanpa menoleh lagi Alya masuk ke dalam apartemennya. Setelah pintu tertutup, dengan tubuh yang lunglai Alya berjongkok di depan pintu, entah kenapa saat itu dia merasakan sesak yang luar biasa sampai tidak bisa meneteskan air matanya lagi. Rasa sesak bukan karena sakit hati, tapi rasa benci pada Eza. "Kamu bakal nyesel Za." * * * "Pak Andi, semua sudah siap?" "Sudah Bu Alya, pukul sembilan penggusuran akan dimulai." "Saya harap tidak ada kesalahan teknis dan pengganggu sekalipun." Alya melirik ke arah Frea yang saat itu ada di samping pak Andi. "Dan tugas kamu Frea, kamu stand by di sana." Alya sengaja melakukan itu, ia ingin Frea mengadu pada Eza, dan Eza bisa menyaksikan bagaimana panti asuhan itu diratakan. "Tapi Bu Alya-" sanggah pak Andi. "Saya mau semuanya berjalan lancar, saya tidak mau kalau tikus-tikus kecil panti asuhan itu menjadi penghalang usaha saya." Alyakembali duduk di kursi kerjanya, "sampai saya dengar ada keributan, kalian berdua yang harus bertanggung jawab. Kalau sudah jelas silahkan keluar dari ruangan saya." Eza benar-benar sudah menantang Alya dan membuat Alya marah. Lihat saja siapa yang kali ini akan berlutut. * * * Mendengar panti asuhan itu digusur ayah Eza segera menghubungi Alya, dia meminta Alyauntuk segera menemuinya siang itu juga. Tanpa berpikir dua kali Alya memenuhi permintaan ayah Eza. Pukul satu siang Alya sudah sampai di kediaman orang tua Eza, mama Eza dan ayahnya sudah menunggu di ruang makan. Saat Alya sampai mama Eza segera memeluk Alya dengan erat, bagaimana tidak, setelah ini aset milik keluarga Rahardian akan bertambah, usaha keluarga Rahardian akan berkembang pesat. Itu semua karena Alya, lalu bagaimana bisa keluarga Rahardian mengijinkan Eza melepas Alya hanya untuk seorang Frea. "Selamat, selamat." Papa Eza menjabat tangan Alya seraya memberi tepukkan pelan di bahu belakang Alya, ia terlihat begitu bangga dengan Alya. Semuanya berjalan lancar saat Alya yang memegang kendali. Sedang Alya hanya tersenyum sembari menyambut jabatan tangan ayah mertuanya itu, dia tahu ini akan memuasakan hati ayah mertuanya itu. Tapi jelas membuat Eza semakin marah padanya. Alya sudah duduk di meja makan, pun dengan Rissa dan kedua orang tuanya, hanya Eza yang tidak ada di sana. Saat acara makan hendak di mulai, tiba-tiba Eza muncul dengan wajah lebamnya. Alya yang melihat Eza berjalan ke arah meja makan segera menghampiri Eza namun tanpa di duga Eza tiba-tiba berlutut di samping kursi ayahnya. "Eza," Mama Eza membantu Eza untuk berdiri, sedangkan Aldy menatap Eza dengan banyak pertanyaan di benaknya. "Kamu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu?" Jadi dari kemarin sore Eza belum pulang? Lalu kemana Eza pulang? Tidak, tidak mungkin jika Eza pulang ke rumah Frea, pikiran Alya sudah penuh dengan berbagai pertanyaan. "Tolong jauhkan orang itu dari hidup Eza, Pa." "Eza!" Eza yang menunduk kini menatap kosong ke arah depan, tangannya ia tumpukkan di kedua pahanya. "Eza mohon, suruh Alya pergi dari hidup Eza. Eza mohon, Pa." Sebenci itukah kamu sama aku, Za? Apakah tidak ada kesempatan lagi untuk aku, Za? Sampai kamu harus berlutut di depan orang tua kamu, memohon supaya aku pergi dari hidup kamu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN