Aku melepasmu dari genggamanku, seperti ranting pohon yang menggugurkan daunnya. Tak apa, aku sudah kuat. Jadi pergilah.
"Elo yakin Al?" Rissa masih mencoba meyakinkan Alya untuk tidak meninggalkan perusahaan. Jelas perusahaannya saat ini masih sangat membutuhkan Alya. "Lo tahu kan, keluarga gue bergantung sama elo."
"Aku dan Eza udah gak punya hubungan apa-apa lagi, jadi gak ada yang perlu aku lakuin lagi di sini."
"Tapi Al-"
"Aku gak mau ikut campur lagi sama kehidupan Eza, ataupun keluarga kamu. Aku udah kasih surat pengunduran diri aku ke Papa."
Alya mulai memasukkan semua barang-barangnya ke dalam kotak hitam. Ia saat ini hanya ingin menenangkan diri, mungkin melepaskan adalah jalan yang terbaik, untuk tidak lagi menyakiti hati Eza dan hatinya sendiri.
"Gue gak bisa maksa," Rissa menyerah untuk melarang Alya pergi. Dia tau betapa menderitanya Alya dengan kehadiran Frea. Mungkin saat ini Alya memang sudah benar-benar muak dan semua pertahanan yang selama ini ia bangun runtuh juga.
"Sekarang jalan kamu terbuka lebar buat duduk di kursi ini." Alya menepuk-nepuk kursi jabatan presdir itu, Alya tidak mempermasalahkan lagi siapa yang akan duduk di kursi itu, Alya tidak peduli lagi. "Aku gak akan jadi penghalang lagi buat kamu."
"Gue gak pernah anggap elo penghalang, Al. Sama sekali." Meski dulu Alya adalah rival Rissa saat harus mendapatkan Eka si masa SMA
Alya tersenyum saat mendengar hal itu, meskipun dulu saat pertama kali Alya menginjakan kaki di rumah Eza, hubungan di antara Risssa dan Alya sangat canggung, bagaimana tidak, orang yang Rissa sukai lebih memilih untuk bersama saudara kembar Alya, dan parahnya lagi,4 pernah melakukan percobaan pembunuhan pada Alya Tapi nyatanya, saat ini Esa memihak sepenuhnya pada Alya, waktu yang membuktikan siapa yang baik untuk dijadikan saudara dan siapa yang pantas untuk dijadikan musuh. "Semoga bener ya, Sa."
"Yaelah."
Alya sudah selesai membereskan semua barang-barangnya, ia tidak mau berlama-lama di kantor lagi, ia tidak mau bertemu dengan Frea. Saat Alya keluar dari ruangannya, di sana sudah berjejer para manager dari setiap divisi, bagaimanapun Alya adalah atasan yang sangat dihormati dan punya wibawa yang tinggi di kantornya.
"Kenapa kalian gak kerja?" Dengan nada datar Alya bertanya pada karyawannya. Mereka hanya terdiam, Alya lalu berjalan meninggalkan karyawannya. Di ujung pintu keluar seseorang berdiri, Alya tahu benar siapa dia. Masih berani saja dia menampakkan wajahnya di hadapan Alya.
"P-pak ..."
Alya berhenti lalu menoleh ke arah Frea yang berdiri di ujung pintu. Alya menatap Frea dengan penuh ketenangan, tak ada raut marah atau pun senyum di wajah Alya.
"Ma-maaf,"
Alya mendongakan kepalanya, ia menaikan satu alisnya, tidak ada gunanya jika dia meluapkan segala kekecewaannya saat ini di hadapan karyawannya. "Tidak perlu minta maaf, kalo kamu tahu kamu salah, seharusnya kamu berhenti sejak awal."
Dalam hati, Frea benar-benar merasa bersalah karena merebut Eza dan membuat Alya harus pergi dari perusahaan.
"Mungkin, salah pemilik rumah. Sampai rumahnya harus kemalingan, pemilik rumah yang tidak pandai menjaga, tapi ingat. Apa yang kamu curi suatu hari nanti akan kembali dicuri, jadi selama kamu memilikinya, sebaiknya kamu jaga dia baik-baik." Setelah mengatakan hal itu Alya tidak menoleh lagi ke arah Frea, dia masuk ke dalam lift, meninggalkan Frea yang masih kaget dengan ucapan Alya. Itu adalah kata-kata yang Frea ucapkan pada Esa waktu lalu, dan ternyata Alya mendengarnya.
"Sampai kapanpun, aku bakal jaga Eza."
* * *
Tidak hanya memutuskan untuk hengkang dari perusahaan, Alya pun memutuskan untuk keluar dari apartemen tempatnya tinggal bersama Eza. Alya membiarkan apartemen itu kosong dan memilih untuk tinggal bersama Hanin dan Faris.
Dan hampir tiga bulan ini, Alya tinggal bersama kedua orang tuanya. Tak banyak yang Alya lakukan, ia hanya mengurus panti asuhan yang Hansa dirikan. Ya, jika Eza pikir Alya menelantarkan anak-anak di panti asuhan yang Alya gusur, maka itu salah. Alya membangun sebuah panti asuhan dengan uangnya sendiri, Alya sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari, saat Eza masih menjabat presdir di perusahaan ayah mertuanya, Alya ingin menebus rasa bersalahnya, kekecewaannya atas meninggalnya Reihan untuk Eza namun sayang, semua tidak berjalan seperti kehendak Alya.
"Nda, minggu depan Alya mau ke luar kota, lagi."
"Ada keperluan apa Al?" Faris menanggapi ucapan Alya.
"Alya mau ke Makassar."
Hanin yang mendengar kota Makassar segera berhenti menyendokkan nasi di piring, "kamu mau jenguk Kakek?"
Alya mengangguk dan menerima piring nasi yang Hansa berikan. "Dan rencananya Alya mau ngadain bakti sosial."
"Kapan kamu pergi?"
"Minggu depan,"
"Wah, Nda mesti beli oleh-oleh buat kakek kamu, nanti Nda telfon nenek dulu, nenek mau dibawain apa."
Faris hanya menggeleng mendengar Hanin yang sudah heboh sendiri. "Alya ke sana bukan liburan, Han."
"Biarin ya, Kak?" Ucap Hanin meminta persetujuan pada Alya. "Papa kamu itu sirik aja," Hansa menjulurkan lidahnya di hadapan Faris. Meledek Faris adalah hobi Hanin.
Alya yang melihat sikap kedua orang tuanya hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, Alya bahagia saat ini. Hidup bersama kedua orang tuanya dan mengabdikan hidupnya untuk anak-anak yang membutuhkan kasih sayang seorang ayah dan ibu. Rasa sedih, sakit hati, dendam yang ia rasakan dulu, sampai saat ini masih ia rasakan namun tidak akan ia ungkit lagi, biarlah semuanya ia pendam di hatinya. Alya tidak pernah bertanya, bagaimana, atau di mana keberadaan Eza saat ini, yang Alya tahu, Eza dan Frea pergi ke Kanada. Mungkin saat ini mereka sudah bahagia dan Alya berharap dia pun akan bahagia.
"Aunty Aya ...," dari arah luar terdengar suara anak kecil yang berteriak memanggil Alya itu Jevan, anak pertama Almira. Seperti biasa di akhir pekan Almira, Eka dan anak-anaknya akan menghabiskan waktu bersama di rumah Hanin
"Jevan, ya?" Hansa menoleh ke arah ruang tamu, ya Jevan sudah pintar berjalan. Usia Jevan baru dua tahun, dan Almira baru saja melahirkan anak keduanya. Namanya Kavin Frananda Loki. Hanin yang melihat Jevan berlari sempoyongan segera menghampirinya. "Hati-hati sayang. Sini Nda gendong." Ya, meskipun seharusnya Hanin dipanggil oma tapi Hanin tetap di panggil Nda, itu semua karena Faris. Dia tidak mau mendengar Hanin dipanggil Oma. bagi Faris Hanin tidak pantas menjadi seorang oma-oma, mana ada oma-oma imut seperti Hanin. "Jevan bawa apa?" Hanin bertanya sembari menggendong Jevan dan berjalan ke ruang makan.
"Totat" Jevan mengacungkan sebungkus cokelat pada Hansa, Hansa tersenyum lalu menciumi Jevan.
"kamu percis banget kaya mamih Almira, doyannya makan cokelat."
"Onti onti," Jevan yang melihat Alya segera mengulurkan tangannya meminta untuk di gendong.
"Onti lagi makan sayang," Hanin mencoba menahan Jevan untuk tidak mengganggu Alya.
"Sini Nda, gak apa-apa." Alya segera menggendong Jevan dan memangku Jevan di pahanya. "Jevan bawa apa?"
"Totat, totat,"
"Buat onti ya?"
"Buta, buta."
"Buka?"
"Buta."
"Iya, iya, onti kupasin." Alya segera mengupas bungkusan cokelat itu, tanpa menunggu lama setelah cokelat itu terpisah dari bungkusnya, Jevan menyautnya dengan cepat. "Pelan-pelan makannya, dek Jevan."
"Kaaak ... kenapa Kak Alya kupas? Dia baru abisin tiga bungkus permen cokelat!" Almira berteriak keras sekali sembari menggendong anak keduanya saat melihat Jevan sedang menikmati cokelatnya.
"Rasain kamu, dulu pas kamu kecil juga gitu, kalo disuruh makan cokelat marah-marah, sekarang anak kamu gila cokelat." Faris mengomel sendiri sembari menikmati makanannya, dulu Faris sampai pusing melihat Alby yang suka sekali makan cokelat, itu semua dari Hanin, Hanin yang menurunkan gen untuk suka berbagai makanan yang berbahan cokelat.
"Udahlah Ra, biarin aja. Masih kecil ini." Eka menyauti perkataan Faris.
"Ih kamu mah, nanti giginya jelek, mau gigi anaknya item-item?" Almira tak mau kalah.
"Kamu dulu juga gitu," sahut Faris lagi.
"Mas ih, " Hanin mencubit lengan Faris.
"Apa sih, emang iya kok." Ujar Faris sembari mengelus tangannya yang dicubit Hanin tadi.
Pagi itu suasana sudah ribut sekali, bagaimana bisa Alya mengingat Eza jika semua keluarganya membantunya untuk melupakan Eza. Alya sangat bersyukur memiliki Keluarga yang utuh, yang menyayanginya dengan sepenuh hati.
"Papih kamu bawel banget, ya, Jev." Alya berbisik di telinga Jevan.
"Awen... awen..."
"Apa, Jev?"
"Mami Awen, mami awen."
Mereka teratawa mendengar ucapan Jevan, Jevan memang sedang aktif-aktifnya. Dia menyerap apa yang dia lihat dan dengar.
* * *
Alya sudah bersiap, satu tas ransel dan satu koper berukuran sedang sudah ia siapkan, penerbangannya ke Makassar akan take off pukul 10.45 , pukul sembilan Alya sudah bersiap untuk pergi ke bandara. Karena Hanin tidak bisa mengantar Alya maka Alya hanya diantarkan oleh supir nenek Ratna.
"Nda, Alya berangkat dulu, ya."
"Iya sayang, nanti kalo udah nyampe di rumah kakek kamu, kamu telfon Nda, ya."
Alya mengangguk lalu memeluk Hanin dengan erat, entah mengapa Alya merasa ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Hanin.
"Nda, Alya pasti balik kok, Alya gak lama."
"Iya sayang,"
Setelah berpamitan Alya segera masuk ke dalam mobil, ia melihat Hanin yang masih berdiri di teras rumahnya. Alya kemudian menurunkan kaca mobilnya, "Alya pergi dulu ya, Nda." Alya melambaikan tangannya dan Hansa pun membalas lambaian tangan Alya, mobil kian berjalan menjauhi rumah Hanin. Entah mengapa ada perasaan begitu berat meninggalkan Hanin.
Sepanjang perjalanan Alya melakukan panggilan vidio bersama Jevan, ia merasa kangen pada Jevan, padahal baru kemarin dia bertemu dengan Jevan.
"Alya gak lama kok, Nda."
* * *
Bunyi telfon rumah tak kunjung berhenti, Hanin yang sedang terlelap tidur siang segera bangun dan mengangkat telfon itu.
"Ha-halo?"
"Nda, Nda udah lihat berita belum?!"
"Ada apa?"
"Pesawat yang ditumpangin Kak Alya, Nda. Pesawatnya jatoh."
"Astaga, kamu jangan bercanda Ra."
"Almira gak bercanda Nda, sekarang Eka lagi di jalan mau jemput Nda buat ke bandara, buat pastiin semuanya. Almira dari tadi coba telfonin ke pihak maskapinya tapi linenya sibuk terus."
"I-iya." Tangan Hanin sudah gemetar, tidak mungkin ini semua terjadi pada Alya. Dengan segera Hanin menelfon Faris, pasti ini semua bohong. "Ha-halo, Mas."
"Han, Han, kamu tenang dulu, mas sebentar lagi pulang."
"Mm-mas ... A-Alya Mas."
"Iya, mas udah suruh orang buat cari tahu, sekarang kamu tenang, kita berdoa semoga Alya baik-baik aja." Faris mulai mendengar isakkan tangis keluar di sebrang telfon, Hanin pasti sudah menangis. "Han, Han." Tak ada jawaban, hanya ada suara isakkan. "Han, Han,"
"Mmass, Alya, mas." Isakan itu semakin menjadi. Kenapa harus Alya, kenapa sedari dulu selalu Alya yang mengalami hal buruk. Hanin melepas gagang telfon itu sedang di sana masih terdengar suara Faris yang memanggil Hansa. "Kenapa harus Alya ya Tuhan, kenapa?" Hanin meremas ujung bajunya penuh kemarahan, ia merasa gagal mnjadi seorang ibu.
* * *
Karena aku tahu, yang menyakitkan bukanlah sebuah rasa menyimpan rindu, tapi saat rindu itu tak bisa terobati. Sebab orang yang aku rindukan tak bisa lagi aku temui. Itulah perpisahan yang menyakitkan.
Satu tahun kemudian
"Eza harus tahu, Pa."
"Ma,"
"Gimanapun Alya itu orang yang pernah Eza cintai."
Papa Eza terdiam sejenak, tidak mungkin jika selamanya mereka akan menyembunyikan kematian Alya. Cepat atau lambat Eza pasti akan mengetahuinya.
"Kenapa mama harus kasih tahu Eza? Apa peduli dia? Rissa yakin dengan kabar buruk itu sekalipun, dia gak akan batalin pernikahannya sama Frea."
"Sa,"
"Pa, sampai kapanpun Rissa gak akan menyetujui hubungan Frea sama Eza."
"Ini sudah pilihan kakak kamu, suka tidak suka, mau tidak mau kamu harus menerima itu." Papa Eza mencoba untuk bersikap netral, ia tidak memihak Eza maupun Esa.
"Mama juga gak suka kalo perempuan itu harus tinggal di sini."
Baru saja mama Eza menutup mulutnya, Eza dan Frea masuk ke ruang makan. Semua orang yang ada di sana kembali terdiam, seolah menghiraukan kedatangan Eza dan Frea.
"Selamat malam," Frea menyapa semua orang yang ada di meja makan itu. Mama Eza hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus pada makanannya. Eza yang melihat sikap mamanya pada Frea, mencoba membuat Frea merasa nyaman, ia menarik kursi di sebelah Mamanya dan menyuruh Frea untuk duduk. Sedang Eza berjalan memutari meja dan duduk di sebelah Rissa.
"Undangannya udah selesai," ucap Eza sembari mengambil sepiring nasi lalu memberikannya pada Frea. "Besok Eza dan Frea bisa mulai nyebar undangan."
"Baguslah," Rissa menutup sendok dan garpunya di atas piring, padahal makanannya masih setengah dari piringnya. Rissa lalu beranjak dari tempat duduknya, ia tidak mau melihat drama di antara Frea dan Eza. Biar saja mereka menjalani hidupnya, Rissa sudah bosan untuk menegur Eza.
* * *
"Kak Terra, Gani ngompol lagi." Anak berumur tujuh tahun itu berlari sembari membawa selimut yang masih basah. "Ini kak, Gani ngompol lagi, Kak!"
"Eh?" Pemuda yang bernama Terra itu membungkuk di hadapan anak laki-laki itu. "Ganinya di mana?"
"Masih nangis di ranjangnya, Kak."
"Ya sudah, kita ke kamar Gani sekarang, ya." Tangan kiri Terra merangkul bahu anak laki-laki itu sembari berjalan menuju kamar Gani. Tak lama mereka berdua sampai di kamar yang berukuran 4×5 meter itu, salah seorang anak laki-laki, yang di panggil Gani tadi sedang di kerumuni oleh anak-anak yang lain.
"Kak Terra, Kak Terra!" Semua saling bersahutan ketika mereka tahu Terra berdiri di ambang pintu.
"Kak, Gani ngompol lagi kak!"
Terra segera menghampiri Gani yang masih menangis tersedu. Terra lalu duduk di samping Gani. "Gani kenapa?" Tak ada jawaban, Gani masih menangis tersedu. Terra lalu menoleh ke arah anak-anak yang masih mengerumuninya, pasti Gani malu pada teman-temannya, pikir Terra. "Ehm," Terra pura-pura melihat ke arah jam tangannya, "ini sudah pukul setengah sembilan, sebentar lagi dokter Irgi akan sampai, bagaimana kalau kalian duduk di ruang tengah dan menunggu dokter Irgi datang?" Tak ada sahutan, mereka hanya saling menatap satu sama lain. Terra mencoba merayu anak-anak itu kembali, "kalian tahu kan, hari ini adalah jadwal kalian imunisasi, pasti dokter Irgi bawa banyak banget permen, siapa yang mau permen cokelat?" Dengan mata berbinar Terra meneriakkan senjata ampuhnya, permen cokelat. Semua anak-anak memang menyukai cokelat.
"Mau!" Semua anak-anak itu berteriak sekencang mungkin.
Terra tersenyum di hadapan anak-anak itu, "ya sudah, sekarang kalian duduk manis di ruang tengah, dan tunggu sampai dokter Irgi datang." Semua anak-anak itu menuruti ucapan Terra, mereka berjalan keluar dari kamar itu. Kini setelah suasana sepi, Terra kembali berhadapan dengan Gani. "Gani?" Terra mengelus rambut Gani perlahan, "Gani gak mau cerita sama Kakak?"
"Ma-ma-ma-af," ucapan Gani masih diiringi dengan segukannya, ia masih menangis meski sedikit lebih pelan. "A-a-ku ngompol lagi."
Terra kembali tersenyum, "kak Terra udah maafin Gani, karena Gani udah mau jujur sama kakak, nanti malam Gani belajar lagi, ya. Sebelum tidur Gani harus pipis dulu, dan kalau malam Gani mau pipis, Gani gak boleh males bangun, Gani harus pipis di kamar mandi."
"Aku takut, Kak."
"Loh? Gani kan anak cowok, masa takut?"
"Kata Aldo kalo malam banyak hantu."
Terra menggelengkan kepalanya, Aldo benar-benar anak yang jahil. Baru kemarin dia menyiram anak-anak yang lain dengan air bekas cucian, dan sekarang dia menakuti Gani. "Kalo gitu nyalain lampunya aja,"
Tok tok! Suara pintu diketuk terdengar.
Terra menoleh ke arah pintu, Irgi berdiri di ambang pintu, ia tersenyum menatap Terra, "boleh masuk?"
Terra membalas senyum Irgi lalu mengangguk, mengijinkan Irgi masuk.
"Wah, pagi-pagi sudah ada yang ngambek kayaknya." Irgi berdiri tepat di samping Terra, ia melipat kedua tangannya di depan d**a. "Kak Terra galak, ya?"
Gani hanya menggeleng pada Irgi. "Atau Gani yang nakal?" Gani kembali menggeleng pada Irgi.
"Ya sudah, sekarang Gani mandi, setelah itu Gani gabung sama yang lain." Gani menghapus air matanya lalu mengangguk, mengiyakan permintaan Terra. Gani beranjak dari ranjangnya, ia mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandi.
Kini hanya ada Terra dan Irgi di kamar itu, Irgi kini duduk di samping Terra. "Gimana?"
"Ehm?" Terra mengernyitkan sebelah alisnya.
"Betah gak, di sini?"
"Hmmm, masih adaptasi."
"Aku udah dapet dokter spesialis buat kaki kamu, nanti malam jam 7 aku udah buat janji, kita konsultasi dulu. Dan benturan di kepala kamu, aku takut kalo lama dibiarin, malah memperparah kondisi kamu."
"Gi,"
"Hem?"
"Kamu udah berbuat banyak banget buat aku, aku gak tahu mesti bales pake apa."
Kamu gak perlu balas semua kebaikanku, Te. Cukup kamu selalu di sampingku, aku udah bahagia. "Kan aku udah bilang, aku lakuin ini semua itu tulus, jadi kamu gak usah repot buat balas ini semua."
"Tapi, Gi-"
"Sssttt, gak ada tapi-tapian. Kamu nurut aja apa kata aku, yang terpenting itu kesembuhan kamu, dan setelah itu kita cari keluarga kamu." Irgi tersenyum lembut pada Terra, bagaimanapun Irgi tidak bisa menahan Terra selamanya untuk tetap bersamanya, Terra punya keluarga dan dia berhak untuk bahagia.
Sejujurnya Terra merasa nyaman tinggal bersama Irgi, tapi, benar kata Irgi. Dia punya keluarga dan dia harus hidup bersama keluarganya.
* * *
"Mas mau ke tempat Alya,"
"Mas yakin mau undang dia?" Sebenarnya Frea tidak mau Eza berurusan lagi dengan Alya. Frea takut, takut jika Eza kembali jatuh cinta pada Alya. Sebab menghapus cinta dari hati tak semudah membalikkan telapak tangan. Frea masih ingat, bagaimana sikap Eza saat di Kanada. Hampir setiap malam dia memanggil nama Alya dalam tidurnya, yang Frea lakukan hanya pura-pura tidak tahu dan berharap itu hanya sebuah mimpi.
"Mas pingin hubungan kita baik-baik aja, dan kamu bisa di terima sama kaluarga Mas." Eza ingin berdamai dengan Alya, entah mengapa bayang-bayang Aldy seolah berkutat di pikiran Eza. Menjauh dari Alya, mencoba tuli tentang Alya, mencoba buta tentang Alya, nyatanya tak membuat Eza tenang tetapi membuat Eza semakin merasa bersalah. Kenapa saat itu wajah Alya yang memohon, wajah Alya yang marah terbayang selalu di pikiran Eza. Eza ingin meminta maaf, Eza ingin memperbaiki hubungannya dengan Alya, meski hanya sekedar seorang teman.
Belum lagi soal Frea, entah bagaimana lagi Eza harus bersikap, keluarganya benar-benar belum bisa membuka hati untuk menerima Frea. Tapi ini sudah menjadi pilihan Eza, Eza harus membahagiakan Frea.
* * *
"b******k!" Almira menarik kerah baju Eza, ia sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Bagaimana tidak, Eza datang ke rumah Almira dengan membawa sebuah undangan pernikahan untuk Almira dan Alya. "Ini semua gara-gara elo!" Alya mendorong Eza hingga tubuh Eza menabrak tembok. "Lo datang ke sini, dan elo bawa undangan buat Alya?! b******n!"
"Ra, udah, Ra." Eka mencoba melerai Almira. Ia memegangi tubuh Almira dengan kedua tangannya.
"Lepasin, Ka. Biar b******n ini tahu, kalo dia itu pembunuh!"
Saat itu juga kebingungan meliputi Eza, Pembunuh? Apa maksudnya, siapa yang mati, dan kenapa dirinya di tuduh pembunuh.
"Apa maksud lo, Ra?"
"Mending sekarang elo pulang, Za, gue mohon." Tanpa menunggu jawaban dari Eza, Eka segera membawa Almira masuk ke dalam rumah.
Sedang Eza masih kebingungan apa yang sebenarnya terjadi, apa maksud dari perkataan Almira. Tanpa berpikir lama lagi, Eza segera pergi dari rumah Almira, ia hendak menemui Rissa, Rissa pasti tahu benar apa yang terjadi.
* * *
Eza sudah sampai di tempat Rissa bekerja, tanpa babibu Eza segera masuk ke ruangan Rissa. Rissa yang sedang fokus pada layar komputernya tersentak kaget.
"Ketok pintu gak bisa?"
"Lo kasih tahu gue, di mana Alya?!"
Jemari Rissa yang sedang beradu dengan papan keyboard segera berhenti saat mendengar pertanyaan Eza.
"Kenapa elo diem aja? Jawab! Di mana Alya?! Elo pasti tahu di mana dia!"
"Kenapa elo harus tahu?" Rissa mencoba menanggapinya dengan santai.
"Gue mohon, elo jawab. Di mana Alya? Gue datang ke apartemennya dan mereka bilang apartemen itu udah kosong sejak tujuh bulan yang lalu, gue datang ke rumah orang tuanya tapi gue juga gak nemuin Alya di sana, sekalipun di rumah Almira."
Jelas kamu tidak akan menemukan Alya, Za.
* * *
Mobil sedan hitam itu berhenti di sebuah gerbang pemakan, tak lama dua orang lelaki keluar dari mobil itu.
"Kenapa elo bawa gue ke sini?"
Rissa tak menggubris pertanyaan Eza, ia terus berjalan menyusuri jalan setapak yang dibuat dari paving block yang ada diantara pemakaman-pemakaman yang ada di sana. Hingga, sampai lah Eza pada satu makam dengan rumput hijau yang tebal namun rapih. Di sana tertulis nama ALYA DINI FAHREZA BIN FARIS HAQIF MAULANA.
"Kuburan siapa ini?"
"Alya Dini Fahreza,"
* * *
Kau hanya akan memerlukan cahaya saat duniamu terasa gelap, merindukan matahari saat salju tak kunjung berhenti turun. Dan kau akan tahu, kalau kau benar-benar mencintainya saat kau melepasnya pergi.
Let her go- passenger
Pagi-pagi sekali Frea sudah ada di rumah Eza, sejak kemarin Eza tidak bisa dihubungi, bahkan Eza tidak datang menjemput Frea untuk melihat apartemen yang baru dibelikan oleh papa Eza. Maksud hati datang ke rumah Eza untuk bertemu dengan Eza, namun bukan Eza yang Frea temui tapi Rissa.
"Elo emang cewek yang penuh ambisi." Rissa kini duduk berhadapan dengan Frea.
Frea tampak tidak takut dengan sikap Rissa yang begitu ketus padanya, apapun yang terjadi ia tidak akan menyerah begitu saja pada Eza.
"Elo pikir elo bisa jadi kaya Alya? Jadi kepercayaan bokap gue?"
Frea belum bisa menangkap apa maksud dari pembicaraan Rissa.
"Gak ada yang bisa gantiin Alya, apa sih yang elo mau? Jelas lo tahu, elo gak diterima di rumah ini, dan elo masih nempel kaya parasit buat Eza."
"Mungkin kamu nganggap aku parasit, tapi yang aku tahu Eza cinta dan sayang sama aku."
Rissa tersenyum mencibir pada Frea, "gue mau tanya sama elo, pernah elo denger Eza bilang sayang sama elo? Pernah elo denger Eza bilang cinta sama elo?"
Frea kembali terdiam.
"Lo pikir, dulu Eza dan Alya pisah karena elo? Bukan! tapi karena anak angkat mereka."
"Memangnya apa yang terjadi pada anak angkat mereka?"
"Reihan meninggal karena kecelakaan, dan Eza nyalahin Alya atas itu semua."
Frea mulai berpikir, jadi ini yang membuat Eza begitu membenci Alya.
"Hiduplah dengan baik, gak perlu jadi orang serakah. Elo gak akan pernah bisa duduk di posisi Alya, elo pun gak akan bisa gantiin posisi Alya di hati Eza. Elo itu gak punya apa-apa, elo cuma sekertaris perusahaan yang jadi pelarian seorang anak CEO, setelah dia bosan elo bakal ditinggalin dan elo, elo tetep Frea yang gak punya apa-apa." Rissa melipat kedua tangannya di depan d**a. "Jangan pernah bermimpi jadi ratu di rumah ini, karena aelo gak akan pernah dapetin singgasana."
Frea terdiam mendengar semua perkataan Rissa, memang benar apa yang dikatakan Rissa. Eza sama sekali tidak pernah mengungkapkan perasaanya pada Frea. Atau mungkin memang benar, kebencian Eza pada Alya hanyalah sebagian kecil dari rasa cintanya pada Alya.
* * *
"Kamu gak perlu cerita ke Eza soal Alya, Ma."
"Apa salahnya kalo Mama cerita ke Eza, Pa?"
Papa Eza menutup buku di tangannya, "papa yakin dia pasti akan menyesal. Eza pasti akan merasa bersalah atas kematian Alya, kalau mereka tidak berpisah pasti Alya tidak akan mengurus panti asuhan sampai harus pergi ke Makassar. Dan Alya tidak akan sampai mengalami kecelakaan pesawat."
"Bukannya itu lebih bagus? Jadi dengan rasa bersalah itu, Eza bisa membuat alasan untuk membatalkan pernikahannya dengan perempuan itu."
"Sudahlah, Ma. Ini saatnya kita membiarkan Eza bahagia. Biarkan Eza hidup dengan plihannya."
Mama Eza mendengus kesal mendengar ucapan Papa Eza. Bagaimana bisa ia menerima Frea begitu saja.
* * *
"Aku bantu ganti perbannya, ya." Irgi masuk ke kamar Terra sembari membawa kain kasa dan kotak obat. "Kamu duduk di pinggiran ranjang aja." Terra menuruti perkataan Irgi.
"Gi, gimana kalo sebenarnya aku ini orang jahat?"
Tangan Irgi berhenti membuka perban yang melilit pada pergelangan kaki Terra, ia kini mendongak menatap Terra. "Kamu ngomong apa sih, Te."
"Ya, bisa aja kan. Aku orang jahat, orang yang mengerikan, kamu bilang waktu kamu nemuin aku, aku udah berlumuran darah, gimana kalo ternyata aku kaya gitu karena aku mau dibunuh sama orang."
Irgi hanya tersenyum mendengar perkataan Terra, bagaimana bisa ada orang yang mau membunuhnya. "Kalo emang dulu kamu itu orang jahat, biar kamu yang tahu. Yang aku tahu, Terra yang aku kenal itu Terra yang baik, Terra yang sayang sama anak-anak."
"Entahlah, aku aja gak yakin gimana aku dulu, sekarang aku cuma bisa jadi Terra seperti yang kamu mau, Gi. Aku bingung, aku kaya lagi ngumpulin kepingan-kepingan puzzle yang hilang. Dan aku gak tahu kalo semua potongan itu udah terkumpul, gambaran apa yang akan muncul. Aku takut kalo aku adalah orang yang dibenci orang lain, atau bahkan orang yang selalu menyakiti orang lain."
Irgi kini berlutut di hadapan Terra, ia tiba-tiba memeluk Terra. Terra yang terkejut hanya terdiam, ia tidak menolak ataupun membalas pelukkan Irgi. Irgi lalu melepas pelukannya, ia kini menggenggam jemari Terra. "Gimanapun kamu, yang aku tahu kamu yang sekarang.
Kamu yang ada di hadapanku, kamu yang aku sayang." Ini bukan kali pertama Irgi mengungkapkan perasaannya. Dan ini bukan pertama kalinya pula Terra hanya terdiam, tak menjawab apa yang Irgi ungkapkan. "Udah, gak usah mikir aneh-aneh lagi." Irgi kembali mengganti perban di kaki kanan Terra. Sedangkan Terra hanya terdiam, Terra merasa bersalah, kenapa sampai saat ini Terra tidak merasakan apapun di hatinya pada Irgi, jelas Irgi orang yang baik. Irgi membawa Terra dari Makassar ke Jakarta hanya untuk mengobati Terra, bahkan orang tua Irgi mau menampung Terra. Tapi kenapa sedikitpun tak ada perasaan untuk Irgi.
* * *
"Kamu ke mana aja Za? Dua hari ini kamu di mana?"
Eza baru saja sampai di rumah dengan keadaan begitu lusuh, kantung hitam di bawah matanya begitu jelas terlihat. Sepertinya Eza tidak tidur dua hari ini.
"Apa yang terjadi sama kamu?" Mama Eza yang melihat kondisi Eza tampak khawatir.
"Kenapa Mama gak beritahu Eza?"
Mama Eza terlihat kebingungan, apa yang sedang Eza bicarakan, memberitahu apa, tak ada yang dirinya sembunyikan kecuali soal kematian Alya. Atau jangan-jangan Eza sudah tahu.
"Jawab, Ma!" Suara Eza mulai meninggi saat pertanyaan yang ia lontarkan tak kunjung mendapat jawaban. "Kenapa Mama gak kasih tahu Eza, kalo Alya meninggal dalam kecelakaan pesawat!"
"Eza,"
"Kenapa Mama gak jujur sama Eza? Kenapa Ma?!"
"Bagian mana yang Mama gak jujur sama kamu? Apakah ketika Mama bilang kalau Alya sudah meninggal kamu akan langsung kembali dari Kanada dan meninggalkan Frea? Atau setelah Mama kasih tahu kamu, Alya bakal bangkit lagi dari kematiannya?"
"Ma!"
"Sudahlah, lanjutin hidup kamu, itu jalan yang kamu pilih." Mama Eza meninggalkan Eza tanpa peduli dengan Eza yang terus memanggilnya. Mama Eza benar-benar kecewa pada Eza, benar apa yang dikatakan oleh Papa Eza, andai Eza dan Alya tidak berpisah pasti semuanya tidak akan seperti ini.
* * *
"Aku gak suka stylenya, kenapa semua warna catnya abu-abu, hitam dan putih? Kenapa lantainya harus seperti ini." Frea menunjuk ke sana ke mari, dia memberantakkan seluruh isi apartemen yang sudah tertata rapih. Frea dan Eza diberikan sebuah apartemen oleh Papa Eza. Eza terperangah melihat Frea marah-marah hanya karena sebuah design apartemen.
"Kalo kamu gak suka, kita bisa ganti." Jawab Eza pelan.
"Kamarnya terlalu sempit, dan lemari ini, lemari ini terlalu kecil."
Eza memberikan sebotol air mineral pada Frea, berharap Frea bisa tenang. Eza tidak mau terpancing emosi hanya karena tingkah Frea. Namun apa yang terjadi, Frea membanting botol air mineral itu ke pojok ruangan.
"Al!" Nama itu terucap begitu saja dari mulut Eza.
Frea tampak begitu kesal, Alya lagi, Alya lagi. "Alya lagi, Alya lagi. Mau sampai kapan kamu sebut nama perempuan itu di depan Aku Mas? Bahkan di Kanada sekalipun kamu tetap bawa-bawa nama itu, di mimpi kamu sekalipun!"
"Cukup, Fre. Aku mohon kamu jangan mulai lagi."
"Kita gak akan pernah bisa bersatu kalo kamu selalu bawa-bawa Alya dalam hubungan kita! Kamu gak pernah benar-benar lepasin dia, Mas. Kamu benci sama dia, tapi kamu cuma benci di mulut kamu! Di hati kamu masih ada dia, dan selalu akan ada dia Mas!"
"Aku udah lupain dia."
"Pembohong!" Sanggah Frea begitu saja.
"Aku udah lupain dia, aku benar-benar udah lupain dia." Eza mengulang kata-kata itu lagi.
"Oh, ya? Lalu kenapa kamu masih nyimpan semua foto kamu dengan Alya? Kenapa?!" Frea mengamuk seperti orang gila. "Itu sebabnya kamu gak lamar-lamar aku?" Frea kini semakin menjadi. "Aku tanya sama kamu, apa pernah kamu bilang cinta sama aku? Sekalipun cuma bercanda kamu gak pernah ngucapin itu ke aku mas. Kamu gak cinta sama aku, makanya kamu gak pernah bilang cinta ke aku."
Eza hanya terdiam mendengar ucapan Frea, entahlah pikirannya saat ini hanyalah terfokus pada Alya. Semua bayangan Alya terbayang jelas di fikirannya. Dan yang terakhir adalah makam Alya. Mengingat makam Alya membuat hati Eza begitu terasa sakit.
"Tapi tenang mas, aku akan nunggu kamu sampai kapanpun itu, sampai kamu bilang cinta ke aku dan ngelamar aku. Dan lupain perempuan sialan itu."
"Dia udah meninggal." Ujar Eza lirih.
"Dia? Maksud mas?"
"Alya, Alya udah meninggal." Sebulir air mata terjatuh dari sudut mata Eza.
"Apa maksud kamu mas?" Frea tampak tidak percaya, tapi bukankah ini sebuah keuntungan bagi Frea? Batu sandungan terbesar dihidupnya sudah disingkirkan oleh alam, dia tidak perlu lelah lagi untuk membuat Eza benar-benar melupakan Alya.
"Aku mohon, berhenti bawa-bawa nama Alya," Eza membanting pintu dan keluar dari apartemen itu tanpa menghiraukan Frea.