49

5000 Kata
"Apa yang terjadi sama Alya, om?" Hanan meneguk teh di cangkirnya, ia mencoba menenangkan perasaannya. Bukan hal mudah untuk mengungkit apa yang membuatnya sakit hati dan merasa sedih. "Dari mana Nda harus memulai?" Eza tidak menjawab dia hanya menunduk, ia terlalu malu untuk mendongak menatap wajah Hanin. "Nda rasa, Nda tidak perlu menjabarkan apa yang sudah om pendam selama ini. Karena kehilangan seorang anak, bukanlah suatu hal yang begitu saja bisa dilupakan." Hanin mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kunci rumah. Dengan gantungan dua huruf A&E, Eza tahu percis kunci rumah siapa itu. "Ini," Hanin menyodorkan kunci itu pada Eza. "Nda rasa kamu lebih berhak buat ngurusin apartemen itu. Bukan Nda ataupun keluarga Alya yang lainnya." "Tapi, Nda-" "Pembicaraan kita sudah selesai, Nda harap kamu gak datang lagi ke rumah Nda ataupun Alya, semuanya sudah berakhir. Dan Nda harap, ini pertemuan kita untuk yang terakhir kalinya." Tanpa basa-basi lagi, Hanin meninggalkan Eza yang masih terpaku di kursinya. Rasa bersalah itu benar-benar semakin memuncak di diri Eza, semua pertanyaan di benaknya belum ada satupun yang terjawab. * * * Eza pulang dengan perasaan yang entah bagaimana hancurnya, ia benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaannya saat ini. Marah, kecewa, sedih itulah yang saat ini Eza rasakan. Sesekali jemarinya meremas kemudi, melampiaskan kekecewaannya. Fokus menyetir Eza terganggu. Sampai ia tak sadar, mobil yang ia kendarai hampir saja menabrak seorang anak sekolah yang hendak menyebrang. Suara klakson terdengar begitu kencang, orang yang ada di sekitar tempat kejadian memukuli kaca mobil Eza, Eza yang masih syok hanya terdiam di dalam mobilnya. "Woy! Keluar, woy!" Teriakkan itu menyadarkan Eza, Eza perlahan membuka sitbeltnya, ia lalu keluar dari mobilnya. "Lo bisa nyetir gak sih? Lo gak lihat di depan anak-anak mau nyebrang?!" "Tanggung jawab lo!" Semua orang saling bersahutan, menunjuk-nunjuk ke arah Eza. Tatapan Eza kini beralih pada anak sekolah yang mengenakan seragam sekolah menengah pertama, anak lelaki itu memegangi siku dan lututnya yang berdarah. "Saya akan bertanggung jawab, saya akan bawa anak ini ke rumah sakit," Eza mencoba menenangkan massa, ia segera berjongkok dan menggendong anak itu masuk ke dalam mobilnya. * * * "Aku urus administrasinya dulu, kamu tunggu di sini ya." Irgi dan Terra baru saja sampai di sebuah rumah sakit, hari ini Terra akan memeriksakan kakinya. Terra duduk di sebuah bangku di loby sebuah rumah sakit, banyak orang berlalu-lalang di sana. Tiba-tiba mata Terra tertuju pada seorang lelaki yang baru saja masuk ke dalam rumah sakit, lelaki itu menggendong seorang anak laki-laki menuju ruang IGD. Terra terus menatap lelaki itu, entahlah sesuatu seolah menggelitik perasaannya. Seperti ia pernah mengalami kejadian ini. Melihat seorang lelaki yang menangis, kebingungan, dengan seorang anak lelaki yang terbaring di ranjang dorong dengan darah yang mengalir deras. Hati Terra tiba-tiba terasa sakit. "Te?" Panggilan Irgi menyadarkan lamunan Terra, dengan segera ia menoleh ke arah Irgi. "Iya, Gi." "Kamu lihatin apa?" "E? Enggak, udah selesai?" "Iya ini, kita naik ke lantai dua, daftar buat dokternya." Terra beranjak dari duduknya dibantu oleh Irgi, mereka lalu berjalan menuju lift. Sesampainya di lantai dua Terra kembali mengantri di salah satu ruang pendaftaran untuk dokter spesialis. Irgi menyuruh Terra untuk duduk di bangku yang sudah disediakan. Irgi bilang dokter ini cukup terkenal, oleh karena itu agak susah untuk membuat janji. Tiga puluh menit berlalu, Terra sudah selesai berkonsultasi dengan dokter, ia disarankan untuk melakukan rontgen pada kakinya, ia harus kembali ke lantai satu lagi karena ruangan rontgen berada di lantai satu tepatnya di samping ruang IGD rumah sakit tersebut. Terra kembali harus mendaftar untuk melakukan rontgen, untunglah Irgi dengan suka rela membantu Terra. Terra duduk di depan meja kasir, matanya fokus menatap ke arah layar televisi yang ada di hadapannya. Saat itu ruang pendaftaran begitu padat, entahlah kenapa rumah sakit ini begitu ramai. Karena terlalu pegal, Terra menarik satu bangku lagi, ia hendak meletakkan kaki sebelah kanannya di atas bangku. Namun sesuatu terjatuh tepat di hadapan Terra, membuatnya berhenti menarik kursi. Terra sedikit membungkuk, ia mengambil barang yang terjatuh itu. Sebuah cincin perak, Terra menatap cincin itu dengan seksama. Posisi Terra masih menunduk sembari memegangi cincin itu. "Maaf, itu punya saya." Terra mendongak lalu menyerahkan cincin itu, " oh, iya, ini." Lelaki itu tak kunjung menerima uluran tangan Terra, ia masih menatap lekat ke arah Terra. "Mas? Ini." Terra mencoba memanggil lelaki itu kembali namun tak ada respon, hingga Irgi datang. "Te?" Lelaki itu ikut menoleh ke arah suara, Te? Batinnya, siapa Te? "Siapa?" Irgi menunjuk ke arah lelaki itu. Terra hanya menggeleng, ia memang tidak tahu siapa lelaki itu. "Itu apa?" Mata Irgi menatap ke arah jemari Terra. "Ah, ini cincin, tadi jatuh di sini." Terra menunjuk ke arah bawah bangku. "Tapi ini punya masnya, udah selesai?" "Oh, udah nih. kita ke ruangan di sebelah." Irgi lalu membantu Terra untuk berdiri. "Mas, cincinnya saya taruh di sini." Lelaki itu masih terdiam, ia menatap kepergian Terra dengan penuh tanda tanya. Lidahnya seolah kelu untuk berbicara. Setelah Irgi dan Terra berlalu, lelaki itu baru tersadar, ia segera berlari hendak mengejar Terra dan Irgi. "Aku yakin, itu Alya. Tapi kenapa dia gak ngenalin aku?" Lelaki itu bergegas namun sayang, Terra dan Irgi sudah tidak ada. * * * "Kamu gak ke rumah sakit lagi?" "Aku sama Mama ada janji makan siang sama adik sepupu aku, dia baru balik dari Kanada dan sebentar lagi dia mau nikah, dia bilang dia mau ngenalin calon suaminya ke Mama." Terra dan Irgi sudah pulang dari rumah sakit, mereka berdua dalam perjalanan menuju sebuah tempat makan. "Kamu ikut aja," ajak Irgi pada Terra. "Itu acara keluarga, aku gak mau ganggu." Irgi tersenyum mendengar kata-kata Terra, " kamu juga bagian dari keluarga aku." Tangan Irgi tiba-tiba menggenggam jemari Terra. Terra yang sedang menatap ke arah luar jendela segera menoleh dan tersenyum pada Irgi. * * * "Apa yang sebenernya terjadi, Sa?!" Setelah kembali dari rumah sakit, Eza segera kembali ke kantor dan menemui Rissa. Eza butuh penjelasan atas apa yang dilihatnya di rumah sakit tadi. "Lo ngomong apa? Gue gak paham!" "Kuburan siapa yang lo tunjukkin ke gue?" Rissa mengernyitkan alisnya, tentu saja kuburan Alya. "Elo gak bisa baca di batu nisan itu di tulis nama siapa?!" Eza menyengkram kerah kemeja Rissa, ia lalu mendorong Alya ke dinding. "Lo jawab! Di mana Alya sebenernya?!" "Sial!" Rissa membanting lengan Eza di udara, ia lalu merapikan kerah kemejanya. "Lo gila, Za. Jelas-jelas lo lihat itu kuburan Alya, dan lo tanya di mana Alya? Waras gak sih lo?" "Kalo emang Alya udah meninggal, terus siapa yang gue lihat barusan di rumah sakit? Rissa tersentak kaget, rumah sakit? "Hari ini, gue lihat dia, gue lihat Alya!" "Apa maksud lo? Jangan ngaco!" Tidak ada korban yang selamat dalam kecelakaan pesawat itu, lalu bagaimana bisa Alya ada di Jakarta? Dan jika Alya ada di Jakarta kenapa dia tidak menemui keluarganya, apa yang sebenarnya terjadi. "Gak mungkin, Za. Jelas-jelas Alya udah meninggal dan gak mungkin sekarang dia masih ada." Eza tidak mau berlama-lama lagi, ia segera keluar dari ruangan Rissa tanpa menghiraukan Rissa. Percuma, ia tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Eza harus mencari tahu sendiri. Tunggu, jika tadi benar Alya, lalu kenapa dia sama sekali tidak mengenali Eza bahkan seolah seperti orang asing. Apa yang sebenarnya terjadi. * * * Irgi dan Terra sudah sampai di restoran milik orang tua Irgi, Irgi dan Terra sampai terlebih dahulu, mereka duduk di salah satu private room untuk tamu vvip, Terra duduk membelakangi pintu bersebelahan dengan Irgi. Sembari menunggu, Irgi dan Terra membicarakan hasil pemeriksaan kaki kanan Terra. Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Irgi menoleh dan ternyata itu Mama Irgi. "Udah lama, Gi?" "Baru sepuluh menit, Ma." Ucap Irgi sembari menatap jam tangannya. "Te, gimana hasilnya?" Mama Irgi duduk di sebrang meja di hadapan Terra. "Dua minggu lagi baru bisa dilakukan tindakan operasi, Tante." "Syukurlah, terus apa yang mesti kamu persiapin?" "Gak ada sih, paling cuma istirahat yang cukup sama minggu depan harus kontrol lagi." "Gi, jagain Terra, jangan sampe kamu kecolongan lagi, sampe Terra jatoh lagi kaya waktu itu." Irgi dan Terra saling tersenyum mendenger ucapan Mama Irgi, Mama Irgi memang memperlakukan Terra dengan sangat baik. "Terra mau ke kamar mandi dulu, Tan." "Aku anterin," Irgi hendak beranjak namun tangan Terra menahan Irgi. "Gak usah, kamu temenin tante aja, aku bisa kok sendiri." Terra kemudian berlalu ke kamar mandi yang ada di luar ruangan. * * * Eza kembali ke rumah sakit itu, ia mencoba mencari tahu di sana. Eza harus menemukan petunjuk. Bodohnya dia yang tadi hanya diam saja dan tidak berbuat apa-apa. Eza segera berlari ke tempat pendaftaran di mana ia bertemu dengan Alya tadi. "Permisi, sus, saya mau cari teman saya, dia di rawat di sini tapi saya tidak tahu di mana ruangannya. Suster bisa bantu saya?" "Iya pak, atas nama siapa?" "Alya Dini Fahreza." Suster itu tampak mencari sebentar di layar komputernya. "Maaf, Pak atas nama Nyonya Alya Dini Fahreza tidak ada." "Suster yakin?Coba cek lagi sus." Suster itu kembali mengeceknya, namun tidak menemukan nama Alya Dini Fahreza. "Maaf pak, pasien atas nama Alya Dini Fahreza tidak ada." Eza baru ingat, Alya dipanggil dengan nama Te, siapa Te, sial. Batin Eza. * * * "Tante," "Frea," Mama Irgi berdiri ketika melihat Frea berjalan masuk ke dalam, sepupu yang di maksud Irgi adalah Frea. "Apa kabar sayang?" "Aku kangen banget sama Tante, aku baik-baik aja, Tante gimana? Sehat kan?" "Sehat dong, sayang." Irgi tersenyum melihat Frea, banyak yang berubah sepertinya dari Frea. Dulu terakhir kali dia bertemu dengan Frea adalah saat Irgi hendak ditugaskan di Makassar. "Kamu gak kangen aku, Fre?" "Ya ampun, Irgi. Apa kabar?" Frea segera memeluk Irgi. "Pak dokter, makin kece aja." Frea menyenggol bahu Irgi sembari tersenyum menggoda Irgi. "Bisa aja kamu, Fre. Mana calon suami kamu?" "Dia lagi on the way, aku udah telfonin sih tadi. Ngomong-ngomong udah punya gandengan belum nih?" Irgi hanya tersenyum mendengar pertanyaan Frea. "Hmmm, Irgi udah punya pujaan hati," Mama Irgi segera menjawab pertanyaan Frea. "Oh, ya? Wah cepet nyusul yah, kenalin dong cewek mana yang beruntung dapat sepupu aku ini." Saat itulah pintu ruangan terbuka, Terra dengan perlahan masuk. Mama Irgi, Irgi dan Frea menoleh ke arah pintu. Betapa kagetnya Frea saat menatap wajah itu. "Nah, itu dia." Terra tersenyum dan segera menghampiri Irgi, ia kini berdiri di sebelah Frea. Frea masih berdiri mematung, siapa yang saat ini ada di hadapannya. "Fre, ini Terra, Terra ini sepupu aku, Frea." Ujar Irgi memperkenalkan Frea pada Terra dan sebaliknya. Terra mengulurkan tangannya, ia tersenyum menatap Frea, "Terra." Frea masih menatap Terra dengan penuh tanya di otaknya, siapa dia, ada apa ini. "Fre?" Frea menoleh, tepukan di bahu Frea menyadarkan lamunannya. "Oh, Frea." Dengan tingkah yang kaku Frea menerima uluran tangan Terra untuk berjabat tangan. "Ini loh pujaan hati Irgi." Ledek Mama Irgi. Frea menoleh pada Tantenya, tak ada raut sumringah lagi di wajah Frea, ia kini terlihat menahan marah. Tentu saja, bagaimana bisa perempuan yang menjadi batu sandungan Frea ada di sini dan bagaimana bisa dia hidup lagi. Bukankah dia sudah meninggal? Lalu apa Eza berbohong saat mengatakan itu semua? Tapi tidak, bahkan Mama Eza pun mengatakan hal itu. Lalu siapa orang ini? Tidak mungkin jika di dunia ini ada tiga orang yang sama percis. Eza tidak boleh melihat orang ini ada di sini, batin Frea. * * * Aku kembali belajar, bagaimana aku jatuh cinta pertama kali padamu. Sebab itu adalah rasa terindah yang pernah aku rasa dalam hatiku. Pukul tiga sore, Frea sudah berada di rumah Eza. Malam ini ia berencana untuk membicarakan soal pernikahannya dengan Eza. Frea ingin semuanya dipercepat sebelum Eza menemukan Terra atau siapapun itu. Sesampainya di rumah Eza ia bergegas menuju dapur, ia hendak memasak untuk makan malam nanti. Frea harus bisa mengambil hati Mama Eza bagaimanapun caranya. Celemek sudah Frea pakai, ia mulai memasak membantu Bi Minah, asisten rumah tangga di rumah keluarga Rahardian. "Dulu, Non Alya suka banget masakin ikan tim buat den Eza." Frea mencoba bersabar, Alya lagi Alya lagi. "Oh ya? Terus apa lagi Bi?" "Sama tumis pare yang pedes, Non." Frea mengangguk-ngangguk mendengar ucapan Bi Minah. Ya, mulai saat ini Frea harus belajar memasak. Frea harus menjadi wanita sempurna. Apapun akan Frea lakukan untuk bisa menjadi bagian dari keluarga Rahardian. "Ngapain lo di sini?" Frea menoleh saat mendengar suara Rissa. Tapi sejenak kemudian ia kembali fokus memasak. Rissa yang diacuhkan lalu duduk di kursi makan, ia menatap lekat ke arah Frea yang masih sibuk di dapur. Satu persatu masakkan sudah matang, Frea mulai menyiapkannya di meja makan. "Elo udah banyak berkembang ternyata. Dulu lo masih malu-malu, sekarang udah gak punya malu. Masuk ke rumah orang dan tiba-tiba masak di rumah orang." Frea masih diam tidak menjawabi ucapan pedas dari Rissa. Ia masih fokus pada masakannya. Ia kembali menyajikan ikan tim yang ia masak bersama bi Minah. "Gak usah terlalu angkuh jadi orang, inget elo itu cuma sampah. Tanpa Eza elo bukan siapa-siapa." "Bahkan ketika aku sampah, aku bisa melawan orang lain. Bukannya kamu bilang aku udah berubah? Tapi ya memang selalu seperti ini, kamu selalu gak sopan sama aku. Tolong lebih sopan, calon adik ipar." Pertengkaran itu terhenti ketika Mama Eza dan papa Eza datang. "Kenapa kamu Sa?" Mama Eza mencoba bertanya pada Rissa. "Tanya tuh sama calon menantu mama." "Silahkan Pa, Ma." Frea mempersilahkan mama dan papa Eza untuk makan. "Kamu yang masak semua ini?" Tanya Mama Eza. "I-iya, Ma." "Duduk, kita makan bersama." Ajak Papa Eza. Frea tersenyum mendengar ajakan calon papa mertuanya itu, ia segera membuka celemeknya dan duduk di samping Mama Eza. Dengan cekatan ia menyendokkan nasi ke piring dan memberikannya pada Papa Eza. * * * "Dia masih hidup, Fre." "Siapa?" Frea tersentak kaget, gelas di tangannya ia cengkram dengan erat, Frea berharap pembicaraan Eza tidak mengarah pada Alya. "Alya," "Jangan ngaco kamu, Mas!" Frea membanting gelasnya di meja makan. Mereka berdua kini sedang berada di apartemen. "Gak usah bahas orang yang udah mati," "Alya belum meninggal, Fre." "Cukup, Mas!" Frea menghela nafasnya, ia mencoba untuk tidak emosi "udah mas cukup, aku gak mau bahas hal ini lagi. Aku mau istirahat, jadi sekarang kalo mas mau pergi silahkan pergi." Frea beranjak dari duduknya, ia hendak masuk ke kamarnya. "Oh, satu lagi, mulai saat ini, kita persiapin pernikahan kita. Aku gak perlu nunggu kamu lamar lagi dan soal undangan, aku harap akhir bulan ini semuanya udah kesebar." Eza yang mendengar ucapan Frea hanya terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa tapi yang jelas ia harus menundanya, ia harus mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi pada Alya. * * * Terra sedang duduk di balkon kamarnya, kenapa pikirannya melayang pada laki-laki yang ia temui di rumah sakit siang tadi. Apalagi cincin yang ia pegang tadi, sepertinya Terra pernah melihat cincin itu tapi entah di mana. "Lagi ngapain, Te?" Terra tersadar dari lamunannya, ia menoleh saat Irgi duduk di sebelahnya. "Enggak, Gi. Ada apa?" "Lupa? Kamu harus kompres kaki kamu." Terra tersenyum, pikirannya benar-benar kacau sampai ia lupa dengan apa yang disuruh oleh dokter tulangnya tadi siang. "Sini kaki kamunya," Irgi mengangkat kaki sebelah kanan Terra dan meletakkannya di pahanya. Ia membungkus es batu yang ada di dalam plastik itu menggunakan kain lap bersih. "Kena?" Tanya Irgi sembari membenarkan posisi es batu di kaki Terra. "Udah, " Terra mengangguk lalu tersenyum pada Irgi, "Gi." Panggil Terra, pelan. "Hm?" "Akhir-akhir ini, aku sering mimpi seseorang, tapi aku gak tahu siapa." "Mimpi apa??" "Di mimpi itu, aku denger suara cowok, dia marah banget sama aku, setelah itu dia pergi dari aku, dan aku cuma bisa lihatin punggung dia yang makin ngejauh dari pandangan aku." Irgi kini menatap Terra, "jangan terlalu kamu paksain buat inget semuanya, mungkin itu sebagian dari memori kamu." "Gi," "Apa lagi?" "Gimana kalo ternyata aku orang jahat?" Irgi mengelus lengan Terra penuh kasih sayang, ia mencoba meyakinkan Terra. "Gak usah mikir aneh-aneh." Terra hanya takut, jika di masa lalu ia adalah orang yang benar-benat jahat, orang yang sangat dibenci oleh oarng lain. Apa yang harus Terra lakukan, semakin Terra pikirkan semakin membuat Terra pusing. * * * "Jangan bilang, Mama udah setuju sama hubungan Eza dan Frea." "Papa kamu yang terus-terusan bujuk Mama." Rissa dan Mamanya sedang mengobrol di ruangan kerja Esa. Mama Eza hari ini diminta oleh papa Eza untuk menemani Frea mencari gaun pengantin. "Alya masih hidup Ma." "Apa maksud kamu?" Mama Eza tersentak kaget. "Eza yang ngomong, dia bilang kemarin dia lihat cowok yang mirip Aldy di rumah sakit." "Gak mungkin, Sa." "Rissa juga gak yakin Ma, tapi Rissa penasaran." Rissa meneguk kopi di cangkirnya, " Rissa udah suruh orang buat nyari tahu, kita tinggal tunggu kabar." "Kalo gitu, sekarang kamu harus ngomong sama papa kamu, mama yakin papa kamu pasti bakal batalin pernikahan Frea sama Eza kalo dia tahu Aldy masih hidup." "Gak semudah itu, Ma. Kita harus cari tahu dulu." Tanpa mereka sadari, Frea berdiri di depan pintu ruangan kerja Rissa. Frea mendengarkan pembicaraan di antara Rissa dan Mama Eza. Frea tidak akan membiarkan ini semua terjadi, Frea harus mempercepat semuanya sebelum Alya kembali. "Rissa bakal urus semuannya, Mama bantu Rissa." "Apa yang harus mama lakuin?" "Mama harus ngulur waktu, jangan sampai Eza dan Frea menikah." Rissa ingin membalas Frea, jika memang ini waktunya maka Rissa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu lagi. * * * "Ini," amplop cokelat itu di sodorkan di atas meja kerja Eza. Eza segera membuka amplop berwarna cokelat itu, setumpuk foto kini ada di tangannya. Di sana, terpampang Terra yang sedang melakukan aktifitasnya, satu persatu Eza mulai memperhatikan foto itu. "Alamat tempat tinggal dan panti asuhan sudah saya letakkan di dalam amplop itu." Ya, langkah Eza untuk mencari tahu tentang Terra nyatanya lebih cepat dari siapapun, Eza sudah mendapat apa yang ia butuhkan dari seorang Terra. Tanpa menunggu lama ia segera minta diantarkan ke alamat yang diberikan oleh sekertaris pribadinya. "Pak Dani siapin mobil, kita pergi sekarang." "Baik pak." * * * Mobil sedan hitam itu berhenti di depan gerbang sebuah panti asuhan. Eza menatap sebentar ke arah papan penanda yang ada di depan rumah itu. "Kamu tunggu di sini." Setelah berbicara pada sekertarisnya, Eza turun dari mobilnya dan segera menuju ke panti asuhan itu. Esa mencoba mengetuk pintu gerbang, tak lama seorang perempuan tampak keluar dari arah dalam. Perempuan itu menghampiri Eza dan membukakan pintu gerbang untuk Eza. "Ada yang bisa saya bantu, Mas?" "Oh, saya hendak bertemu pemilik panti. " "Maaf, Mas dari mana ya? Ibu ketua sedang tidak di tempat, nanti kalau ada pesan bisa saya sampaikan." Eza sedikit memutar otak, bagaimanapun ia harus bisa masuk ke dalam. "Saya calon donatur baru untuk panti asuhan ini," Eza berharap dengan alasan ini ia bisa masuk ke dalam dan bertemu dengan Alya. "Kalau begitu Mas bisa bicarain sama Mbak Terra, silahkan masuk." Perempuan itu kemudian mempersilahkan Eza untuk masuk ke dalam, Eza mngikuti langkah perempuan itu, Eza berharap dia bisa bertemu Alya hari ini. "Mas tunggu di sini dulu, saya panggilkan Mbak Terra dulu." Eza duduk di sebuah ruangan, matanya menatap ke segala sudut ruangan. "Maaf membuat menunggu," Eza menoleh ke arah suara, suara yang benar-benar Eza rindukan, suara Alya. "Iya," Eza kemudian tersenyum. Ia yang melihat Alya berjalan menggunakan tongkat penyangga di kedua sisinya mencoba membantu Alya untuk duduk. "Oh, terimakasih." "Sama-sama." Eza kemudian kembali duduk di kursinya. "Jadi, Ibu atau Mbak?" "Ah, perkenalkan, Eza, Eza Rahardian." Eza menjabat tangan Alya. "Terra, Anindia Terra." Eza menatap tepat di bola mata Terra, ya, mata itu benar-benar mata yang dulu selalu menatap lembut pada Eza, tatapan yang selalu menenangkan hati Eza. "Mas Eza?" "Ah, iya." Eza tersadar dari lamunannya, ia melepas jabatan tangannya dengan Terra. "Maaf, ibu ketua sedang tidak di tempat, atau sebelumnya Mas Eza sudah atur janji sama ibu?" "Enggak, ini baru pertama saya ke sini, saya mendapat informasi tentang panti ini dari teman saya yang juga jadi donatur di panti ini." Eza terpaksa berbohong, ya, ini semua demi Terra. Terra menjelaskan apa yang jarus dilakukan seorang donatur dan hal apa saja yang harus dipatuhi, namun Eza sama sekali tidak memperdulikannya, ia hanya terus memperhatikan cara Terra berbicara dan semua sikap Terra, sama percis dengan sikap Alya, tapi kenapa Alya bisa lupa pada Eza, sama sekali tidak mengingat Eza dan apa keluarga Alya tahu kalau Alya masih ada? Atau memang orang tua Alya membohongi Eza untuk menutupi di mana Alya berada. Eza harus mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang terpenting saat ini Eza sudah menemukan di mana Alya berada. * * * Setelah kembali dari panti asuhan itu, Eza segera menemui Frea di apartemennya. Frea ingin makan malam bersama Eza. "Dari mana aja kamu mas?" Setelah jam makan siang Frea sama sekali tidak melihat Eza di kantor, ponsel Eza pun taidak bisa dihubungi. Eza memang tidak kembali lagi ke kantor. Ia berada di panti asuhan, menemui Alya. "Jangan bilang kamu nyari Perempuan yang kamu bilang mirip Alya." "Bukan mirip, Fre. Tapi itu emang Alya." "Gimana bisa kamu tahu?!" "Karena di dunia ini gak ada tiga orang yang sama percis!" "Alya itu udah meninggal, Mas. Dan kalau pun itu Alya, apa yang mau kamu lakuin? Kamu mau dia kembali ke kamu? Kamu mau dia hidup lagi bareng kamu?" "Bukan gitu, Fre," "Terus apa?" "Aku cuma mau pastiin, kenapa dia lupa sama aku, karena sekarang yang aku tahu, dia sama sekali gak inget siapa aku." Frea teringat pada pertemuan makan siang tempo hari, memang benar Terra tidak mengenali Frea, bahkan tak ada raut kemarahan di wajah Terra pada Frea. "Setelah dia ingat kamu mau apa?" "Fre, aku mohon." Eza mencoba tenang menanggapi Frea. Frea mencoba menahan amarahnya, ia tidak ingin memperkeruh keadaan, ia harus sabar. Ia tidak ingin Eza pergi darinya, yang harus ia lakukan sekarang adalah memperbaiki hubungannya dengan Eza tanpa harus melibatkan lagi Alya di antara mereka lalu mempercepat pernikahannya dengan Eza. "Sudahlah. Kita pergi sekarang, malam ini aku mau kenalin kamu sama sepupu aku," "Sepupu?" "Iya, karena kemarin kamu gak bisa ikut jadi aku harap kali ini kalian bisa bertemu. Dan aku juga nyuruh dia bawa pasangannya," ya, ini rencana Frea. Frea akan mempertemukan Eza dengan Terra. Frea ingin membuktikan siapa sebenarnya Terra. Alya atau bukan. Baiklah, kita akan buktikan, siapa kamu sebenarnya. * * * Jika aku bisa menghapus semua dosaku padamu, maukah kau memaafkanku? Irgi baru saja menjemput Terra, hari ini pasein di kliniknya sedikit ramai jadi Irgi telat menjemput Terra. "Kamu gak capek?" Irgi tersenyum, Irgi suka saat Terra memberikan perhatian padanya, sekecil apapun itu tapi membahagiakan bagi Irgi. "Enggak," "Kalo kamu capek, kamu batalin aja janji kamu sama sepupu kamu itu." "Gak usah, kita kan udah janji." * * * Sepanjang perjalanan menuju tempat makan, Eza terus memikirkan Terra, ya, Terra bukan Alya. Tapi bagi Eza dia tetaplah Alya, Alya kekasihnya. Eza dan Frea sampai terlebih dahulu di tempat makan. Frea masuk ke tempat makan terlebih dahulu sedangkan Eza hendak memalkirkan mobilnya. Eza baru sadar kalau Frea mengajak dirinya makan di restoran seafood yang cukup terkenal. Sampai di palkiran Eza melihat Terra yang turun dari sebuah mobil. Eza segera turun dari mobilnya, ia hendak menyapa Terra. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat Terra berjalan dengan seorang laki-laki. Eza terus memperlambat langkahnya, ia tetap berjalan di belakang Terra. Sesekali Eza mendengar Terra tertawa, entah kenapa hatinya merasa kesal. Ponsel Eza tiba-tiba berbunyi nama Frea tertera di sana, Eza segera mengangkatnya, Frea bertanya di mana Eza berada. Eza memberitahu Frea bahwa dirinya masih berada di palkiran mobil restauran tersebut. Setelah selesai menelfon, Eza kembali melihat ke arah Terra namun Eza sudah tidak melihat Terra karena Terra dan Irgi sudah masuk ke dalam restauran. Eza pun segera masuk ke dalam restauran, mata Eza kembali meneliti ke segala penjuru restauran itu. Namun Eza tidak menemukan Terra, Eza menghela nafas dalam-dalam, ia lalu segera naik ke lantai dua restauran tersebut. Mungkin ini memang kesempatan Eza, saat baru sampai di lantai dua Eza melihat Terra yang baru saja keluar dari toilet. Eza hendak menyapa Terra namun Terra ternyata sudah menyadari keberadaan Eza. "Loh, Mas Eza." Eza tersenyum, ia lalu mengangguk. "Kamu di sini juga, sama siapa?" Rasanya Eza seperti baru mengenal Alya, seolah semuanya kembali di masa ia mengenal Alya. "Saya sama teman saya, Mas Eza mau makan atau sudah selesai?" "Baru mau makan." "Loh Mas kenapa kamu di sini?" Saat itu Frea muncul, menengahi pembicaraan Terra dan Eza. "Te, kamu juga di sini?" Jadi Frea sudah tahu? Sejak kapan? Dan kenapa Frea terlihat begitu akrab dengan Alya, ah bukan Alya, Terra. "Jadi Mas Eza ini ..." Terra menatap Frea lalu bergantian menatap Eza. Frea tersenyum, ia mendekat ke arah Eza lalu memeluk lengan Eza, " iya Te, dia calon suami aku." Eza tampak menegang, "laki-laki yang paling aku cintai di dunia ini." Dengan bangga Frea memperkenalkan Eza pada Terra. Entah kenapa ada sesuatu yang membuat Terra merasa tidak enak ketika melihat senyum di wajah Frea. "Mas, dia yang mau aku kenalin ke kamu, Andini Terra pacar sepupu aku." Dengan penuh kebingungan Eza menatap Terra, kenapa bisa Terra bersama sepupu Frea? Apa yang sebenarnya terjadi. * * * Eza benar-benar masih terkejut, kenapa semuanya jadi seperti ini. Jadi yang dimaksud Frea pacar dari sepupunya adalah Alya, dan laki-laki yang selalu menemani Alya ke manapun adalah sepupu Frea, Irgi. Eza terpaku menatap Terra yang terlihat begitu dekat dengan Irgi. "Kita pesan makan ya," Frea mulai membuka buku menu, tak perlu memilih lagi Frea akan memesan hidangan olahan seafood. "Kita pesen makanan spesial di sini, kepiting asap." Frea tersenyum, kita lihat siapa dia sebenarnya, batin Frea. Jadi ini alasan Frea mengajaknya makan di restauran seafood, tidak Eza tidak akan membiarkannya. "Mbak, ada menu selain seafood?" Tanya Eza. "Ada mas, jamur goreng tepung, dan tumis sayuran." "Kalo gitu tambahin cah kangkung, sama jamur ya mbak." Eza tidak bisa membiarkan Alya memakan makanan yang bisa membuat tubuhnya dalam bahaya. Tanpa Eza sadari sedari tadi Frea memperhatikan Eza. Saat itu ponsel Frea berdering, ia keluar dari ruangan. Bersamaan dengan itu, makanan yang mereka pesan sudah diantarkan. Kepiting asap itu sangat menggoda, harumnya benar-benar menusuk ke hidung. Eza menatap Terra dengan penuh cemas, jangan sampai Terra memakan kepiting itu. "Sebaiknya kamu makan ini aja," Eza memindahkan kepiting asap itu lalu menggantikannya dengan cah kangkung dan jamur goreng tepung. "Loh kenapa?" Terra tampak heran dengan sikap Eza yang melarangnya melahap kepiting itu. "Mau aku pesenin lagi?" Tanya Irgi pada Terra. "Gak perlu, ini udah ada. Kalo kita pesen lagi jadinya lama." Terra mencoba menarik kembali kepiting itu, dan Eza tidak bisa melakukan apapun lagi. Eza hanya bisa melihat Terra menikmati kepiting itu dengan penuh kecemasan. Frea yang baru saja selesai menelfon, kembali ke ruangan itu, namun Frea tampak kesal karena melihat sikap Eza pada Terra. * * * Terra mencuci tangannya di toilet, setelah itu ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Betapa kagetnya Terra, seluruh bagian leher dan wajahnya di penuhi bintik berwarna merah. "Ini kenapa," gumam Terra. Terra menghiraukan bintik merah yang ada dikulitnya, mungkin saja itu hanya gigitan nyamuk atau gatal biasa. Terra kembali ke meja makan, Eza terkejut ketika melihat keadaan Terra, Eza yakin ini semua pasti disebabkan oleh kepiting itu. Saat itu wajah Terra sudah terlihat pucat, dengan perlahan Terra mencoba untuk berjalan menuju kursinya namun saat itu dia ambruk terlebih dahulu, Irgi segera menghampiri Terra namun respon Eza lebih cepat daripada Irgi. "Alya/Terra!" Eza dan Irgi berteriak bersamaan. Eza memeluk Terra sembari terus memanggilnya dengan nama Alya, Irgi saat itu hanya melihat dengan penuh keanehan, apa yang sebenarnya terjadi. Belum habis keheranan Irgi, kini Irgi melihat Eza yang panik mencoba menggendong Terra. "Gi, kita bawa Alya ke rumah sakit, tolong bantu aku." Demi Terra Irgi menghiraukan semua pikirannya, ia segera berjalan mengikuti Eza yang sudah keluar terlebih dahulu dengan menggendong Terra. Sedangkan Frea hanya menatap Terra dengan penuh kemarahan. * * * Irgi menyuruh Eza untuk pulang dan menjemput Frea, ia kini sedang menunggui Terra yang masih terbaring lemas di rumah sakit. Tak lama Terra pun tersadar, perlahan ia membuka kelopak matanya. "Gi," suara lirih Terra memanggil Irgi. "Syukurlah kamu udah siuman Te," raut ketegangan di wajah Irgi sudah tidak ada, ia merasa lega saat melihat Terra siuman. "Aku kenapa?" Irgi menjelaskan pada Terra apa yang dikatakan oleh dokter tadi bahwa Terra alergi dengan kepiting. "Apa yang akan terjadi selanjutnya Gi?" "Maksud kamu?" "Aku alergi sama kepiting tapi aku tetep makan kepiting itu, aku yakin hal lain yang gak terduga juga bakal terjadi lagi. Dan masalahnya aku gak tahu siapa diri aku jadi aku gak bisa mengantisipasi kejadian kaya ini. Dan tunangan Frea tadi, dia ngelarang aku buat makan kepiting, apa dia tahu? Atau ini cuma kebetulan?" Irgi pun sama penasarannya dengan Terra, andai Terra tahu bagaimana ekspresi Eza tadi saat melihat Terra jatuh pingsan dan bagaimana khawatirnya Eza terhadap Terra, mungkin Terra akan semakin penasaran. * * * "Jadi kamu udah tahu kalo Alya masih hidup?!" Ya, Eza emosi. Frea lebih dulu tahu soal Terra tapi Frea diam saja dan tidak mengatakannya pada Eza. "Kamu gak denger Mas kalo dia bilang namanya Terra? Dia itu Terra, pacaranya sepupu aku, Irgi. Bukan Alya, mantan kamu itu." Frea mencoba menahan amarahnya. Frea tidak pernah melihat Eza begitu khawatir padanya sama seperti kejadian saat Terra pingsan tadi. Bahkan saat di Kanada Frea harus pergi sendiri malam-malam, atau Frea yang seharian tidak menghubungi Eza, sama sekali tidak membuat Eza khawatir. Atau mungkin jika Frea menggilang pun, Eza tidak akan peduli. "Irgi cinta sama Terra dan mereka berdua udah tinggal sejak setahun yang lalu. Dia itu Terra, bukan Alya." "Apa yang mau aku omongin ke kamu itu cuma bakal nyakitin kamu Fre, jadi aku nyoba buat jaga perasaan kamu, aku cuma mau kasih tahu ke kamu sesuatu. Dia bukan Terra, dia Alya, Alya Dini Fahreza. Aku tahu betul gimana dia. Seperti yang udah aku bilang ke kamu, aku cuma mau tahu kenapa dia lupa sama aku, kenapa keuarganya bilang kalo dia udah meninggal. Apa dia emang sengaja lakuin itu buat balas semua sikap aku yang dulu ke dia, atau ini emang benar-benar kecelakaan." "Kamu jangan ngayal mas, dia itu Terra, tanteku bilang dia itu Andini Terra pacar Irgi, apa mas perlu cek identitas dia?" "Fre, bukan. Dia bukan Terra dia Alya." Frea benar-benar terluka mendengar ucapan Eza, ia tidak menyangka jika semuanya akan seperti ini. Kenapa semuanya harus terulang lagi dan saat ini posisinya lah yang terancam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN