Pagi itu Terra harus sendirian di rumah sakit, Irgi harus masuk kerja karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Jadilah Mama Irgi yang menemani Terra.
"Tante," Terra memanggil Mama Irgi yang sedang membereskan bekas sarapan Terra.
"Iya, Te?"
"Tante, makasih. Makasih karena mau terima Terra, sekalipun tante gak tahu siapa Terra sebenarnya."
"Kamu ngomong apa sih, Te. Tante yang harusnya berterimakasih sama kamu, karena kamu Irgi kembali menjadi dirinya, Irgi mau kembali berjuang dalam hidupnya." Terra adalah obat bagi Irgi, mungkin jika Irgi tidak dipertemukan dengan Terra, Irgi tetaplah menjadi seseorang yang tidak akan pernah bisa menerima kenyataan. Itulah alasan Irgi kenapa dia mau menerima penugasannya di Makassar, ia mencoba lari dari kenyataan. Kenyataan kehilangan seorang kekasih. "Tante hanya mohon, satu. Saat ingatan kamu kembali nanti, tante harap kamu gak akan ninggalin Irgi, kamu gak akan lupain Irgi." Apakah Terra sanggup berjanji dalam keadaan seperti ini? Keadaan di mana diapun tidak tahu posisinya saat ini, apakah ia bebas atau terikat dalam suatu hubungan dengan seseorang. Tetapi Terra lalu hanya mengangguk begitu saja.
"Tante, Terra boleh tanya sesuatu?" Mama Irgi tersenyum lalu kembali mengangguk. "Tante tahu soal tunangannya Frea?"
"Kenapa kamu tiba-tiba tanya soal tunangannya Frea?"
"Enggak, Terra kaya gak asing aja sama dia."
"Setahu tante, dulu tunangannya Frea itu atasan Frea di tempat Frea kerja. Dulu calon mertuanya gak setuju, mereka berdua sempet tinggal di Kanada walaupun cuma setahun. Yang tante denger, mantan pasangannya tunangannya Frea meninggal dan saat itu calon mertua Frea menyuruh mereka balik ke sini."
Baru kemarin Terra bertemu dengan Eza tapi kenapa seolah Terra sudah lama mengenal Eza, apa lagi sikap Eza padanya.
"Ada apa Te?"
"E? Enggak, kok Tante."
Seseorang sedang mendengarkan percakapan Terra dan Mama Irgi di balik pintu masuk, ya, Eza sedang berada di sana, pagi sekali Eza sudah ada di sana. Ia bermaksud untuk menjenguk Terra, tapi apa yang di dengarnya hari ini adalah sebuah kenyataan yang tidak akan diragukan lagi oleh Eza. Dia Alya, Alya Dini Fahreza, kekasihnya, kekasih hatinya. Eza hendak memutar kenop pintu namun pintu itu segera terbuka, Mama Irgi keluar dari dalam ruangan.
"Loh Nak Eza kok di sini?"
"I-iya tante, Eza mau jenguk Al- maksud Eza Terra."
"Masuk silahkan." Mamah Irgi mempersilahkan Eza masuk tanpa merasa curiga sedikitpun. "Tante boleh sekalian minta tolong?"
"Boleh, tante."
"Sekalian tante titip Terra dulu ya, tante harus urus administrasi dulu."
Eza mengangguk, mungkin ini kesempatan Eza agar bisa lebih dekat dengan Alya. Setelah itu Mama Irgi berlalu meninggalkan Eza. Dengan perlahan Eza masuk ke ruangan Terra, ia melihat Terra yang sedang memejamkan matanya. Eza begitu lekat memandang wajah Terra yang begitu damai, rasa menyesal itu menyeruak di hati Eza hingga tak sadar ia menangis. Air mata itu berlomba keluar di pelupuk mata Eza.
"Tante,"
Mendengar suara Terra Eza segera menghapus air matanya. "Tante kamu lagi ke depan."
"Sejak kapan kamu di sini?"
"Baru aja, kamu butuh sesuatu?" Tanya Eza lembut.
"Aku mau ke kamar mandi, bisa ambilkan sandalku?" Dengan sungkan Terra meminta tolong.
Dengan segera Eza mengambilkan sandal rumah sakit milik Terra. Eza membantu Terra untuk bangun setelah itu dia berjongkok dan memakaikan sendal itu satu persatu di kaki Terra, saat itulah air matanya kembali turun. Ia mengingat semua kesalahannya dulu terhadap Alya. Sedangkan Terra yang diperlakukan seperti itu, tampak kebingungan. Setelah selesai memakaikan sendal Eza berdiri lalu menatap Terra, dengan keadaan masih menangis, Eza menarik Terra ke dalam pelukannya.
"Kenapa kamu menangis?" Tanya Terra bingung.
* * *
Irgi masih di meja kerjanya, paseinnya yang terakhir baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. Tiba-tiba Irgi
Teringat pada kejadian di restauran kemarin malam, saat Terra pingsan karena alerginya, Eza terlihat sangat panik dan terus memanggil-manggil nama Alya.
Irgi juga kembali mengingat ucapan Terra saat di rumah sakit, apa yang sebenarnya terjadi. Irgi mulai merasa khawatir, apakah Eza ada sangkut pautnya dengan masa lalu Terra, tapi bagaimana bisa semuanya kebetulan seperti ini.
* * *
"Kenapa kamu nangis?"
Eza tidak menjawab pertanyaan Terra, yang ia lakukan hanyalah membantu Terra menuju kamar mandi.
"Apa ada sesuatu di wajah saya?" Terra merasa risih, sedari tadi Eza menatapnya tanpa berpaling sedikitpun.
Eza tersenyum, ia menghela nafasnya dan mulai menatap ke arah lain. "Setiap aku lihat kamu, aku inget seseorang."
Terra menyipitkan matanya, seolah tak percaya..
"Orang yang dulu pernah menjadi bagian hidup aku."
Terra teringat pada ucapan Mama Irgi pagi tadi, bahwa sebelum berhubungan dengan Frea, Eza memiliki seorang kekasih. Mungkinkah dia yang dimaksud Eza saat ini.
"Mantan pacara anda yang meninggal itu?"
"Bagaimana kamu bisa tau?"
Saat itu pintu ruangan terbuka, obrolan Terra dan Eza terhenti. Terra belum sempat menjawab pertanyaan Eza dan Irgi sudah masuk ke dalam ruangan. Terra dan Eza menoleh ke arah pintu tanpa mengubah posisi, Eza masih duduk di tepian ranjang. Irgi sempat terpaku melihat jarak Eza begitu dekat dengan Terra.
"Hai Gi, masuk." Dengan senyum sumringah Terra menyapa Irgi. "Kamu udah selesai?"
Mendengar pertanyaan dari Terra membuat Irgi kembali percaya diri, ia mendekat ke arah samping Terra. "Udah, gimana keadaan kamu?" Irgi melenggang masuk, ia mendekat pada Alya tanpa mengabaikan Eza yang amsih di dekat Terra. Dengan sengaja Irgi mengelus punggung tangan Terra. Eza yang duduk di sebrang ranjang melihat dengan rasa ketidaksukaan. Irgi melirik ke arah Eza, Irgi ingin tahu bagaimana reaksi Eza saat melihat Irgi bersikap pada Terra.
"Harusnya siang ini aku udah boleh pulang," Jawab Terra.
"Nanti aku obrolin sama dokternya," Irgi melihat ke arah jam tangannya, "ini waktunya kamu istirahat, aku juga mesti cepet balik ke IGD." Ya, kebetulan Terra dibawa ke rumah sakit di mana Irgi bertugas. "Dan Za, saya rasa kamu juga harus pulang, Terra tidak bisa terus diganggu."
Eza menatap tidak suka pada Irgi, tapi benar Terra butuh istirahat Eza tidak bisa terus mengganggunya. "Baiklah, aku pulang dulu. Semoga kamu lekas sembuh." Eza tersenyum pada Terra, ia lalu beranjak keluar dari ruangan.
"Terima kasih." Terra menatap ke arah Irgi, Irgi sedang mengusir Eza secara halus. Entah mengapa Terra merasakan suasana di kamar rawatnya berubah mencekam, Irgi yang tidak biasanya bersikap ketus kini seolah sedang memperlihatkan sisi lain dari dirinya.
* * *
"Gue mau bicara." Eza ternyata belum pulang, ia masih menunggu di depan kamar rawat Terra. Ia sengaja menunggu Irgi keluar untuk diajak berbicara.
"Apa kita ada urusan?" Dengan nada datar Irgi balik bertanya pada Eza.
"Di mana elo ketemu sama dia?"
"Dia?"
"Alya," Eza kembali menyebut nama itu. "Maksud gue Terra."
Lagi, Irgi mendengar Eza memanggil Terra dengan nama Alya. "Apa itu hal penting yang harus anda ketahui?"
"Tolong jawab pertanyaan gue."
Irgi tersenyum di hadapan Eza, entah apa arti senyum Irgi itu. "Di mana dan bagaimana saya bisa kenal sama Terra itu bukan urusan anda."
"Tolong, jawab.."
"Saya rasa, saya tidak perlu menjelasnkannya pada anda."
Tanpa berlama-lama lagi Irgi meninggalkan Eza yang masih merasa penasaran. Irgi semakin yakin, ada sesuatu di antara Eza, Terra dan Frea.
* * *
Tuhan tidak akan lama membalas apa yang kita perbuat pada orang lain, menyakiti dan disakiti, dua hal yang akan terus berhubungan selama kita masih menghirup nafas di dunia ini.
Itu yang saat ini sedang Frea rasakan, Frea mencari tahu tentang kecelakaan pesawat yang terjadi empat tahun lalu, pesawat yang Alya tumpangi saat menuju Makassar, tak ada korban selamat dalam kecalakaan tersebut dan Alya, jasad Alya tidak ditemukan. Jadi bukan jasad Alya yang ada di makam itu.
Pagi-pagi Frea sudah sampai di rumah Eza, ia hendak menemui Eza tapi Eza sudah pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Terra tanpa sepengetahuan Frea.
"Frea pamit aja tante," ucap Frea pada mama Eza namun mama Eza menghiraukan Frea begitu saja.
"Kamu sudah di sini, tunggu Eza pulang aja, sekalian makan siang di sini." Ajak Papa Eza yang saat itu sedang duduk bersama Mama Eza.
Disaat keluarga Eza mulai menerima Frea, Eza malah sibuk dengan Terra yang kehilangan ingatannya. Frea benar-benar harus berusaha keras untuk menjadi seorang nyonya Rahardian.
"I-ya, Om."
"Sampai mana persiapan pernikahan kalian?" Tanya Papa Eza tiba-tiba.
"E-"
"Emang apa yang udah kalian siapin?" Tanya Rissa ketus.
Mama Eza tampak tidak tertarik dengan obrolan di antara Frea dan Papa Eza, setelah Mama Eza tahu bahwa Alya masih hidup, Mama Eza kembali menutup hatinya untuk Frea, meskipun belum ada kepastian tentang Alya dari Rissa tapi Mama Eza merasa yakin.
"Ma, kamu bantu Frea buat persiapan pernikahanya."
Mama Eza tersenyum sinis, "kalo kamu mau jadi menantu di rumah ini, taklukan hati Eza. Percuma kamu nikah sama dia, kalo hati Eza gak bahagia. Yang terpenting buat seorang ibu adalah kebahagian anaknya."
"Ma," papa Eza mencoba untuk menengahi.
"Papa mau terima perempuan ini silahkan, tapi maaf mama gak bisa. Alya jauh lebih baik dari perempuan ini." Mama Eza pergi begitu saja dari ruang tengah, sedangkan Frea hanya menunduk tak mampu menatap ke arah Mama Eza.
* * *
Benar kata Terra, mencari tahu tentang masa lalunya sama seperti mengumpulkan kepingan puzzle, entah gambar apa yang akan muncul. Jika Terra takut mengetahui tentang masa lalunya karena mungkin saja, di masa lalunya Terra adalah orang yang jahat, maka lain halnya dengan Irgi, ia takut jika sebenarnya Terra adalah milik seseorang dan hidupnya bahagia.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Frea mengernyitkan alisnya, ia tidak menyangka jika Irgi akan datang ke apartemennya dan bertanya soal Terra.
"Emangnya ada apa?" Frea balik bertanya pada Irgi, ia berpura-pura tidak tahu.
"Eza, kenapa dia bisa tahu semua tentang Terra?"
Tebakan Frea benar, Irgi pasti curiga tentang kejadian di tempat makan kemarin. "Eza pikir, Terra itu mantan kekasihnya dulu. Padahal mantan kekasih Eza itu udah meninggal dua tahun yang lalu."
"Kenapa Eza bisa berpikir sejauh itu?"
"Ya, karena muka mereka mirip."
"Kamu punya foto mantan kekasih Eza?"
Frea tersentak kaget, tidak mungkin Frea menunjukkan foto Alya pada Irgi. "Aku gak punya Gi, mungkin muka mereka emang mirip, tapi sikap mereka berdua itu berbeda."
"Apa yang membuat mereka berpisah? Apa itu karena kamu?"
Pertanyaan Irgi seolah menampar hati Frea, jika pun Frea penyebabnya toh tidak sepenuhnya hati Eza berpaling pada Frea.
"Apa maksud kamu, Gi?"
Irgi masih belum puas dengan jawaban Frea, ia harus melihat sendiri bagaimana wajah mantan kekasih Eza, semirip apakah wajah Alya dan Terra, sampai-sampai Eza mengira bahwa Terra adalah Alya. "Tinggalin Eza, Fre."
Frea membelalakkan matanya mendengar ucapan sepupunya itu. "Maksud kamu?"
"Eza bukan laki-laki yang baik, kalau dia pernah berkhianat sama kekasihnya yang dulu, apa kamu pikir nanti dia gak akan khianatin kamu?"
"Aku udah berkorban banyak buat bisa dapetin Eza, bahkan aku rela dihina dan dimusuhi orang-orang. Aku lakuin itu semua karena aku cinta sama Eza, dan sekarang tinggal selangkah lagi buat aku jadi istri Eza, aku harus lepasin dia? Gila kamu ya Gi. Udahlah, kamu urus Terra, jangan sampai dia ganggu Eza atau pengaruhin Eza."
* * *
"Maaf, aku mohon, jangan pergi."
Samar-samar Irgi mendengar suara Terra, ia menatap jam tangan di pergelangan tangannya, ini sudah pukul sebelas malam.
"Jangan, jangan pergi, aku mohon."
Irgi membuka pintu kamar Terra perlahan, Terra tampak terbaring di ranjang, ia menggigil. Irgi lalu masuk ke kamar Terra dan segera menghampiri Terra yang masih menggigil sembari mengigau.
"Te," tangan Irgi mengelus lengan Terra, ia mencoba membangunkan Terra.
"Aku mohon, jangan tinggalin aku."
Tangan Terra tiba-tiba mencengkram kuat tangan Irgi, sembari terus mengigau.
"Maafin aku, aku mohon, jangan pergi."
Irgi yang nampak iba kini berbaring di samping Terra, ia lalu memeluk tubuh Terra erat.
Siapapun kamu, gimanapun kamu, yang aku tahu kamu adalah orang yang baik, kamu adalah Terra. Terra yang aku sayang. Aku janji, aku bakal lindungin kamu, Te dan gak akan tinggalin kamu.
* * *
Rasanya lebih sulit bagi Irgi, kalau mengabaikan bisa menyelesaikan sebuah masalah mungkin Irgi akan melakukannya. Ia akan dengan mudah mengabaikan apa yang diucapkan oleh Eza padanya tentang Terra. Teka-teki tentang Terra benar-benar membuat Irgi tidak fokus.
Jika Irgi hanya diam saja maka konsekuensinya adalah suatu saat nanti saat ingatan Terra kembali maka ia harus bersiap untuk kehilangan Terra dan mungkin saat itu cintanya pada Terra sudah jatuh terlalu dalam. Dan jika saat ini Irgi tetap mencari tahu tentang Terra maka sakit hatipun tetap akan Irgi dapatkan karena bagaimanapun Terra tetap tidak akan tinggal bersamanya lagi, tapi setidaknya perasaan Irgi tidak akan sesakit nanti jika Terra benar-benar meninggalkannya.
"Mama gak mungkin jual restoran itu, Gi. Kalau mama jual resto itu, lalu bagaimana dengan panti? Uang dari para donatur tidak akan cukup."
Belum selesai masalah satu kini datang lagi masalah yang lain, Irgi sampai lupa dengan usaha milik keluarganya. Semenjak kepergian ayahnya, mama Irgi yang mengurus semua aset peninggalan ayah Irgi. Ya, meskipun mama Irgi dibantu oleh orang tua Frea tapi tetap saja semua tanggung jawab ada pada Irgi.
"Kita harus mengajukan pinjaman ke Bank Gi, Mama gak punya uang sebanyak itu buat nalangin semua usaha kita dan panti."
"Ma, Irgi yakin ada cara lain. Irgi bakal minta tolong temen Irgi buat urus ini, mama jangan ambil tindakan dulu." Irgi tidak mungkin mengorbankan rumahnya untuk menjadi jaminan pinjaman, terlalu besar resikonya. Ia harus mencari cara lain untuk menutup semua hutang usaha milik orang tuanya.
Terra berdiri di balik pintu ruang tengah rumah Irgi, ia mendengarkan peracakapan di antara Irgi dan Mamanya, Terra tidak pernah tahu jika Mama Irgi sedang mengalami kesulitan, dia hanya enak-enak saja menumpang tanpa tahu bagaimana kondisi dapur keluarga Irgi. Tapi apa yang bisa Terra bantu sekalipun dia sudah mengetahui permasalahannya, uangpun Terra tak punya, apa yang bisa Terra berikan.
"Apa aku telfon calon suami Frea, ya?" Gumam Terra.
"Te?"
Terra terlonjak kaget, entah sejak kapan Irgi sudah ada di sampingnya, mungkinkah Irgi mendengar gumaman Terra barusan.
"Eu?"
"Kamu mau telfon siapa? Terus kenapa kamu di sini, kok gak sarapan?"
"Ah enggak, ini aku mau panggil kamu sama tante, sarapannya udah siap."
* * *
"Nanti kalo kamu berangkat, kamu bawa tumpukkan majalah bekas sama koran bekas yang di garasi ya, Gi. Mama udah sumpek lihatnya." Ujar mama Irgi sembari membereskan meja makan. Irgi, Terra, dan Mama Irgi baru saja selesai makan pagi.
"Emang mau dibawa ke mana?" Tanya Terra pada Irgi sembari memberikan segelas teh rosela pada Irgi.
"Makasih, dibawa ke tukang loak." Irgi meneguk teh rosela yang Terra berikan padanya. "Kamu udah siap? Nanti sekalian jalan aku anterin ke panti."
"Gak usah, nanti kamu muter-muter." Terra merapikan kemeja yang Irgi kenakan. "Aku bisa naik taksi."
"Gak apa-apa kita bareng aja."
* * *
"Papa hari ini ke kantor?" Mama Eza kaget melihat papa Eza yang sudah rapih dengan kemeja dan jasnya.
"Anak kamu itu gak ada tanggung jawabnya sama sekali." Ujar Papa Eza.
Mama Eza menoleh pada Esa yang sedang menikmati sarapannya. "Ada apa?" Tanya Mama Eza pelan pada Esa.
"Eza udah dua hari ini ninggalin kerjaannya, bahkan dia ninggalin meeting sama investor dari luar negri."
"Apa yang sebenarnya kakak kamu lakukan, Sa?"
"Kenapa Papa gak tanya sama calon mantu Papa?"
Jawab Rissa ketus. "Bukannya dia udah ambil alih semuanya? Oh, iya, Rissa lupa kalo sekarang posisi Alya udah ditempatin sama Frea. Papa benar-benar luar biasa, dengan mudahnya kasih kepercayaan buat Frea."
"Maksud kamu apa Sa? Apa yang Mama lewatin dari semuanya?"
"Jadi Mama gak tahu kalau Frea sekarang sudah memegang sepermempat saham atas nama Alya? Kita tinggal nunggu waktu aja, kapan Papa urus balik nama atas saham itu." Dengan jelas sekali Rissa menjelaskan pada mamanya, Esa benar-benar menentang semua keputusan Papanya.
* * *
Terra tertawa bersama anak-anak panti, mereka sedang bermain air di taman yang ada di samping gedung panti asuhan itu. Anak-anak itu menyipratkan air pada Terra yang hanya duduk di kursi, ya, Terra masih belum bisa banyak berjalan.
"Haha, udah dong stop , kakak gak bawa baju ganti," sembari menutupi wajah dengan kedua tangannya Terra memohon pada anak-anak itu.
"Kakak belum mandi kan?"
"Siapa bilang? Haha ... ayo udah mainnya, udahan. Baju kakak basah semua." Terra tertawa melihat anak-anak itu bermain, Terra terlihat benar-benar bahagia.
Dari kejauhan Eza tampak terbawa suasana, entah kenapa perasaanya menjadi runyam. Bahagia, sedih, marah menjadi satu melihat Terra yang tertawa lepas bersama anak-anak panti.
"Radit, tolong ambilkan tongkat penyangga kakak, kakak mau ke dalam mau panggil Mbak Ida. Kalian harus cepet-cepet mandi." Saat Hendak menggapai tongkat yang Radit berikan entah kenapa Terra sedikit oleng, kepalanya terasa pusing. Brug! Terra terjatuh begitu saja dan tak sadarkan diri. Semua anak terlihat panik, mereka mencoba menyadarkan Terra. Eza yang melihat Terra terjatuh segera berlari menghampiri Terra.
"Alya, Bangun Al, Alya." Mata Terra masih terpejam, tak ada respon untuk panggilan dari Eza.
"Bawa masuk aja kak," salah satu anak memberikan saran pada Eza, tanpa berpikir lagi Eza segera membopong Terra dan membawanya masuk ke dalam.
* * *
"Wah terimakasih mas Irgi, saya kira mas Irgi sudah lupa gak kemari lagi."
"Gak pak, cuma saya lagi agak sibuk. Oh iya, bapak langsung turunin aja ya majalahnya."
Bapak itu mulai menurunkan ikatan koran dan majalah yang Irgi bawa dari rumahnya. Irgi selalu memberikan tumpukan koran dan majalah itu dengan cuma-cuma kepada para pemulung yang tinggalnya tidak jauh dari komplek perumahannya.
"Hati-hati, pak."
Salah satu pengikat majalah itu terputus. Majalah yang sudah tertata rapih kini bercecer di jalanan. Tanpa ragu Irgi membantu si bapak itu membereskan mahalah-majalah yang terjejer.
"Udah mas biar saya yang bereskan."
"Gak apa pak," pandangan Irgi tiba-tiba tertuju pada satu majalah. Di cover majalah itu terpampang seorang Wanita dengan setelan jas rapih dan laki-laki yang berdiri di sebelahnya juga tak asing. Perlahan Irgi mengambil majalah itu, benar saja nama Eza Rahardian terpampang di sana. Sebenarnya bukan nama itu, tapi nama Alya Dini Fahreza yang ada di urutan kedua yang membuat Irgi terjekut. Pikiran Irgi tertuju pada nama yang selalu Eza sematkan untuk Terra.
* * *
Eza memegangi jemari Terra yang masih terbaring di salah satu kamar panti asuhan itu.
"Euh"
Eza menoleh ketika mendengar Terra bersuara, perlahan Terra menggerakkan kelopak matanya.
"Al? Kamu udah sadar?"
"Kamu?" Terra kaget ketika melihat Eza ada di sampingnya.
"Kamu pingsan tadi waktu main sama anak-anak, kamu gak apa-apa kan?"
"Kepalaku sakit banget, rasanya kaya mau pecah."
"Apa yang bisa aku lakuin buat ngurangin rasa sakit di kepala kamu? Kamu bawa obat?"
"Gak perlu," Terra menyingkirkan lengan Eza yang memegangi pundaknya. "Sejak kapan anda di sini?" Terra terus memegangi dahinya, kepalanya benar-benar terasa sakit.
"Aku anter kamu ke dokter ya,"
"Gak usah, lebih baik anda pergi saja."
"Tapi-"
"Saya mohon,"
Tak ada pembicaraan lagi, Eza meninggalkan Terra sendirian ia tidak mungkin keras kepala di saat Terra seperti ini.
Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri Eza, "kak Terra sakit apa?"
Eza menoleh pada anak kecil itu, ia tersenyum lalu berjongkok di hadapan anak kecil itu. "Kak Terra cuma kecapekan, mungkin waktu main tadi kalian terlalu semangat."
"Aku sedih," anak kecil itu menunduk.
Sedang Eza merasa heran, "kenapa sedih?"
"Kak Terra pasti mau ingat lagi semuanya,"
"Maksud kamu?"
"Kak Irgi bilang, kalau kak Terra lupa ingatan, suatu saat nanti kak Terra akan ingat semuanya dan pasti kak Terra akan pergi ninggalin kita semua." Eza termenung mendengarkan jawaban dari anak itu, jadi Alya selama ini tidak berpura-pura, Alya benar-benar kehilangan ingatannya, dan lagi, Eza tidak Alya membiarkan Alya lupa dengan anak-anak itu jika suatu saat nanti Alya kembali mengingat semuanya.
"Kak Terra pasti selalu ingat kalian, dan gak akan ninggalin kalian."
"Ninggalin apa maksud kamu?"
Eza menoleh ke arah belakang ternyata Terra sudah berdiri di ambang pintu kamar.
"Kenapa kamu udah bangun?"
"Jawab pertanyaan saya, kenapa saya harus ninggalin mereka?"
"Suatu saat kamu akan ingat semuanya,"
"Ingat apa lagi? Saya rasa saya tidak perlu mengingat semuanya jika saat ini saja saya sudah merasa bahagia. Saya bahagia dengan kehidupan saya, saya bahagia bersama mereka, untuk apa saya mencoba mengingat masa lalu saya jika semuanya hanya akan membuat saya gila?" Terra tidak bisa lagi menahan emosinya. "Dan kenapa anda selalu mengusik saya? Apakah sebegitu miripnya kah saya dengan kekasih anda dulu itu? Lalu apa yang akan anda lakukan dengan hal itu?"
Eza masih terdiam, ia menatap Terra dengan ekspresi yang benar-benar sukar.
"Harusnya dulu anda bersama dengan kekasih anda, sekalipun dia membuat kesalahan yang mungkin tidak bisa anda maafkan. Kalau memang anda mencintainya harusnya anda terus bersamanya, bukan mencari pelarian dan berselingkuh."
"Tolong jangan ganggu saya lagi, anda adalah calon suami Frea, saya tidak mau jika Frea salah sangka dengan sikap anda kepada saya." Terra berjalan tertatih menggunakan tongkat penyangganya, tanpa menoleh sedikitpun pada Eza ia terus berjalan meninggalkan Eza. Entah kenapa hatinya terasa begitu sakit saat mengatakan hal itu pada Eza. Seolah dua tembok besar menghimpit tubuhnya, sesak.
* * *
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Irgi terus memikirkan majalah bisnis yang ia temukan tadi, siapa sebenarnya Alya Dini Fahreza apakah dia sama dengan Alya yang selalu Eza sebut.
Irgi menghentikan mobilnya di bahu jalan, tidak ia tidak bisa bekerja dengan rasa penasaran yang seolah akan membunuhnya, ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Irgi membuka halaman majalah itu yang membahas soal perusahaan properti milik Eza. Setelah menemukan halaman itu, Irgi membacanya sebentar, lagi, nama Aldy Fahreza di sebutkan di sana. Tanpa berlama lagi Irgi segera berselancar di dunia maya, ia mencari alamat perusahaan properti itu. Irgi harus menemui Alya Dini Fahreza agar semua pertanyaan yang ada di otaknya terjawab. Dengan segera Irgi melajukan mobilnya menuju alamat yang ada di layar ponselnya.
* * *
"Ma, Mama harus makan." Hanin duduk di samping ranjang Ratna, ia membawa semangkuk bubur di tangannya. "Mama mau cepet pulang kan?" Ratna masih tetap terdiam, dua hari yang lalu Ratna harus dilarikan ke rumah sakit, kesehatan Ratna menurun, semenjak kepergian Alya, kesehatan Ratna menjadi tidak stabil.
"Alya itu masih hidup, Han."
"Ma,"
"Mama yakin Alya masih hidup Han,"
"Ma! Han mohon berhenti bilang kaya gitu, Mama pikir cuma Mama yang sedih? Mama gak tahu gimana sakitnya perasaan Hanin, Ma." Hansa menunduk, air matanya kembali keluar. "Hanin mohon, ikhlasin Alya ma, biarin Alya tenang di sana."
"Kenapa kamu percaya gitu aja kalo yang ada di makam itu mayat Alya? Mama yakin itu bukan Alya."
Hansa tidak tahu harus bagaimana lagi, ia pun tidak rela Alya pergi begitu saja. Tapi jika memang Alya masih hidup seharusnya dia ada di sini, Alya sudah kembali bersamanya. Dan sekarang apa buktinya? Alya tidak ada, jadi apa lagi yang harus Hanin harapkan, harapan itu semakin hari hanya membuat Hanin tersiksa dan terjebak dalam kesedihan.
* * *
Irgi sudah sampai di perusahan properti milik Eza, dengan segera ia menuju meja resepsionis yang ada di depan pintu lobby .
"Ada yang bisa dibantu pak?"
"Saya mau bertemu dengan Alya Dini Fahreza,"
"Ibu Alya? Maaf beliau sudah tidak bekerja di sini pak."
Apa lagi ini, Alya sudah tidak bekerja di sini, kemana lagi Irgi harus mencari tahu tentang Alya Dini Fahreza.
"Irgi,"
suara seorang wanita mengagetkan Irgi, ia segera menoleh ke arah suara, "Frea,"
"Ngapain kamu di sini?" Frea tidak menyangka jika Irgi akan sejauh ini.
"Ah, aku mau ketemu Alya Dini Fahreza. Kamu bisa bantu aku Fre?"
"Alya?" Tidak mungkin jika Irgi sedang mencari tahu tentang Alya. Jika Irgi sampai bertemu adengan Rissa maka semuanya akan selesai. "Dia udah gak kerja di sini, jadi mendingan sekarang kamu balik Gi."
"Wah, Wah," Rissa tiba-tiba muncul sembari bertepuk tangan. "Selingkuhan baru?" Tanya Rissa sinis pada Frea. Rissa menatap Irgi dengan seksama.
"Elo pacar barunya Frea kan?" Tanya Esa dengan penuh ejekkan.
"Bukan, saya sepupu Frea, saya Irgi."
Rissa semakin heran, ia menoleh ke arah Frea yang tampak tidak tenang. "Jadi elo mau disuruh kerja di sini? Jangan bilang setelah elo masuk di sini, dia bakal bawa semua keluarganya buat kerja di sini dan jadiin perusahaan ini jadi dinasti keluarga elo."
Irgi nampak bingung, kenapa seolah Rissa tidak menyukai Frea sama sekali. "Bukan," Irgi tersenyum pada Rissa, "saya ke sini mau cari-"
"Dia mau cari kerjaan tapi aku bilang gak ada lowongan." Potong Frea tiba-tiba, tidak mungkin Frea membiarkan Irgi bertanya soal Alya pada Rissa, semuanya akan terbongkar dan Irgi bisa tahu jika Terra adalah Alya. "Kamu bisa pergi Gi, aku masih sibuk." Dengan segera Frea mendorong Irgi untuk keluar dari lobby kantor itu meninggalkan Rissa yang masih kebingungan. Frea yakin saat ini Rissa pasti curiga, tapi tidak, Frea tidak akan membiarkan Rissa bertanya pada Irgi.
"Sebentar Fre," Irgi melepaskan tangan Frea di lengannya. "Saya ke sini mau bertemu dengan Alya Dini Fahreza," ucap Irgi tiba-tiba.
* * *
"Alya?"
"Iya-" ucapan Irgi terhenti karena ponsel di dalam sakunya berdering, dengan segera Irgi mengambil dan mengangkat telfon yang masuk ke ponselnya, ia menjauh dari Frea dan Rissa. Sedangkan Frea tampak khawatir kalau sampai Rissa memberitahu semuanya.
"Kenapa lo?" Rissa dengan ketusnya bertanya pada Frea.
Apakah wajah Frea begitu jelas menampakkan kecemasan, "ke- kenapa, emangnya aku kenapa?"
Rissa melipat kedua tangannya di depan d**a, senyum licik tersungging di sudut bibir Rissa. "Apa lagi yang elo rencanain?"
"Ma-maksud kamu? Dia sepupu aku, emangnya salah kalo dia mau ketemu aku di sini?"
"Elo gak denger tadi, dia itu mau ketemu Alya, bukan ketemu elo. Ada apa?" Suara Rissa sedikit mengintimidasi Frea.
"Itu bukan urusan kamu, kamu gak perlu ikut campur." Tanpa mempedulikan Rissa lagi Frea segera meninggalkan Rissa yang hendak menyahuti ucapannya. Frea dengan segera menghampiri Irgi yang sedang menelfon di luar loby kantor. Ia tidak ingin jika Irgi harus mengobrol lagi dengan Rissa.
"Loh Fre, kok kamu di sini? Oh, iya mana saudara kembar tunangan kamu itu?" Irgi tampak mencari-cari ke arah dalam kantor tapi Rissa sudah tidak ada di dalam.
"Gi, aku mohon sekarang kamu pulang, lagian kamu ngapain cari Alya Dini di sini, dia udah gak ada di sini." Sembari berbicara Frea mendorong Irgi untuk segera meninggalkan kantor. "Dan aku udah bilang, kamu gak perlu ikut campur sama hubungan aku dan Eza."
Irgi tampak kecewa tapi ia tidak kembali menyanggah ucapan Frea, ia pun harus segera kembali ke rumah sakit karena dia sudah melewatkan jam pemeriksaan paseinnya.
* * *
Ada sesuatu yang mengganjal, Rissa benar-benar tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Sedari tadi ia terus memikirkan sepupu Frea yang tiba-tiba datang dan mencari Alya.
"Pak Raffi, ke ruangan saya sekarang." Rissa tidak bisa diam saja dia harus melakukan sesuatu, ya, dia harus mencari tahu apa yang sedang Frea rencanakan.
"Permisi Bu," Pak Raffi mencul dari balik pintu ruangan Rissa.
"Masuk pak, tolong bapak cari tahu soal keponakan Frea yang bernama Irgi, saya mau hari ini juga informasinya sudah sampai di meja saya."
Pak Raffi mengangguk dan segera meninggalkan ruangan Rissa.
"Aku harus hubungi Tante Hanin, mungkin dia tahu soal ini." Rissa segera mengambil ponselnya yang ada di saku jasnya, sebentar ia mencari nomor ponsel Hanin.
"Halo, Hanin."
........
"Enggak, Rissa cuma mau ketemu sama tante, ada yang mau Rissa bicarain. Bisa kita ketemu?"
........
"Gak usah, kalo boleh Rissa mau ke rumah tante aja, boleh?"
........
"Di rumah sakit? Siapa yang sakit, om Faris?"
........
"Oh, ok. Kalo gitu Rissa ke situ gak apa-apa, tante nanti tolong kirim alamat rumah sakitnya biar Rissa langsung berangkat ke situ."
........
"Ok, thank you, Tante."
Di luar ruangan Rissa, Frea ternyata berdiri mendengarkan percakapan Rissa di telfon dengan Hanin. Perasaannya saat ini benar-benar tidak tenang, kalau sampai Rissa benar-benar menemui Hanin maka perlahan semua rahasia tentang Alya yang masih hidup akan terungkap dan Alya akan kembali masuk ke dalam kehidupan keluarga Rahardian. Dan tidak diragukan lagi Papa Eza tentu akan mengajak Alya kembali ke perusahaan dan Mama Eza pasti akan menyuruh Eza kembali pada Alya dan meninggalkan Frea. Tidak, Frea harus melakukan sesuatu. Tapi apa yang bisa dia lakukan, bahkan saat ini pun dirinya tidak tahu di mana Eza berada. Kenapa ia harus kembali berjuang, ia sudah senang saat tahu bahwa Alya sudah meninggal tapi nyatanya tetap saja Alya tetaplah menjadi batu sandungan terbesar bagi Frea.
* * *
Kenapa hati Eza terasa sakit saat melihat tawa lepas Terra bersama anak-anak panti.
Buat apa aku ingat semuanya kalau dengan kehidupan sekarang aku lebih bahagia.
Dunia baru Alya terbuka, menjadi seorang Terra. Begitu pun dengan Eza, dunia barunya terbuka saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di Kanada bersama Frea. Bukankah saat ini seharusnya dia berbahagia bersama Frea? Mewarnai dunia barunya bersama kisah kasihnya bersama Frea. Tapi takdir benar-benar sedang menyiksa Eza, di saat dia memcoba melupakan Alya, merasa bersalah atas kepergian Alya, dia harus kembali bertemu dengan Aldy yang saat ini adalah Terra. Hatinya tersiksa, Eza berharap kembali Alya mau memyambutnya seperti dulu, rasa benci itu berubah menjadi sebuah rindu yang begitu menyiksa perasaannya. Ia bahkan tidak rela saat melihat Alya tertawa bersama orang lain. Eza ingin Alya bersamanya, di dalam pelukkannya dan dia ingin dirinya selalu menjadi dunia bagi Alya.
"Aku kangen kamu Al, aku kangen kamu." Jemari Eza meremas setir mobilnya, hatinya benar-benar sakit saat mengatakan hal itu, bahwa ia merindukan Alya dan tidak bisa memeluk Alya.
Gimana kalau ternyata masa lalu aku itu cuma buat aku sakit hati?
Bahkan di saat Alya lupa ingatan pun ia masih membenci Eza, ia bahkan takut untuk kembali pada masa lalunya. Sebegitu sakitnya kah Eza menyakiti hati Alya?
"Maafin aku, Alya." Air mata itu tidak bisa lagi Eza tahan, Eza seolah di tendang keluar dari semua mimpi yang pernah mereka impikan bersama, yang pernah mereka coba wujudkan bersama.
Lamunan Eza terhenti saat ponsel Eza berdering, nama Frea tertera di layar ponsel Eza.
"Iya, Fre."
Kamu di mana? Kamu lupa hari ini kamu ada meeting penting sama investor dari Singapura?
Eza benar-benar lupa, ia sampai lupa dengan pekerjaannya hanya karena Alya. "Iya aku ke kantor sekarang." Tak ada lagi kata-kata, Eza segera menutup telfonnya. Ia lalu memasang sabuk pengamannya dan bergegas menyalakan mobilnya.
* * *