Rissa baru sampai di sebuah rumah sakit, ia langsung mencari ruangan yang Hanin beritahukan di telfon tadi. Ia segera mencari lift untuk naik ke lantai tiga rumah sakit tersebut. Ia berdiri di depan lift tersebut menunggu lift itu turun.
Ting!
Pintu lift terbuka, Rissa segera masuk dan menekan angka tiga pada tombol yang tersedia. Setelah sampai di lantai tiga, Rissa segera mencari kamar rawat inap Ratna. Ruang rawat anyelir tiga belas, Rissa membacanya dalam hati, ia segera mengetuk pintu ruangan tersebut. Di dalam ada Hanin yang baru selesai menyuapi Ratna. Rissa membuka pintu dan melongok ke arah dalam.
"Kamu udah sampe Sa, masuk." Hanin yang melihat Rissa segera menyuruh Rissa masuk.
Rissa lalu masuk dan menyapa Hansa.
"Tante, gimana ke adaan oma?"
"Udah mendingan, Sa. Mama baru aja tidur, kita bicara di luar ya."
Rissa mengangguk dan mengikuti Hanin keluar dari ruangan itu.
"Ada apa?" Hanin memulai pembicaraan, mereka berdua duduk di kursi yang ada di depan ruang rawat inap.
"Ini," Rissa menyerahkan amplop cokelat yang ia bawa tadi.
"Apa ini?"
"Rissa mohon maaf sebelumnya, tapi Rissa pun masih gak percaya sama kematian Alya, Rissa tahu ini cuma bakal ngebuka luka lama yang Tante mungkin udah lupain, tapi ini penting tan."
"Sa, apa maksudnya?"
"Jasad yang di serahkan perusahaan penerbangan yang Alya gunakan dulu, ternyata itu bukan jasad Alya , tante."
"Cukup, Sa. Semua bukti menunjukkan kalo itu adalah Alya."
"Tante, Rissa mohon. tante lihat apa yang ada di amplop itu. Dan Eza, Eza bahkan bilang kalau Alya masih hidup."
Apa lagi ini, kenapa semua orang menganggap kalau kematian Alya adalah sebuah lelucon. Dan mengungkit semuanya kembali.
"Dan tadi pagi, ada orang yang nyari Alya di kantor Rissa."
Hanin mengernyitkan alisnya, selama tiga tahun ini tidak ada yang mencari Alya dan tiba-tiba ada yang mencari Alya. "Maksud kamu?"
"Iya, dia nyari Alya. Namanya Irgi, tante kenal dia? Apa dia teman sekolah Alya dulu? Dia tadi pagi datang ke kantor dan tanya soal Alya, Rissa rasa dia gak tahu kalo Alya itu udah gak ada."
Irgi, siapa Irgi batin Hanin, setahu Hanin Alya mulai memiliki teman saat ia berkuliah dan itu pun Hanin mengenal dengan baik beberapa teman Alya dan tidak ada yang bernama Irgi. Siapa Irgi.
* * *
"Kamu ke mana aja Za?"
Baru sampai di kantor Eza sudah ditodong oleh pertanyaan dan wajah penuh kemarahan dari Frea.
"Aku ada meeting di luar,"
"Berhenti bohong Za, kamu ke mana? Kamu temuin pacar sepupu aku Za?"
"Aku udah bilang aku ada meeting,."
"Sadar Za, dia itu bukan Alya! Dia bukan Alya,orang yang udah bunuh ANAK ANGKAT KALIAN BERDUA DULU!"
Kata-kata Frea membuat Eza tidak bisa menahan emosinya, ia menggebrak meja dan menatap Frea penuh emosi. "Cukup! Kamu gak ada hak buat ngungkit itu semua, kamu bukan siapa-siapa."
"Aku punya hak, Za. Aku calon istri kamu!"
* * *
Rissa hendak kembali ke kantor, ia membiarkan Hanin untuk mengambil kesimpulan dari apa yang ia berikan pada Hanin. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia menerima pesan dari pak Raffi, pesan itu berisi nformasi soal Irgi. Saat hendak meninggalkan lantai tiga rumah sakit itu, tiba-tiba ia melihat Irgi berjalan bersama dua orang suster. Ia segera menoleh dan memastikan bahwa itu adalah benar-benar Irgi. Rissa lalu mengikuti Irgi berjalan dan ternyata Irgi masuk ke dalam ruang rawat inap Ratna.
"Apa ini, kenapa kebetulan sekali atau ini memang sudah direncanakan oleh Frea?" batin Rissa
* * *
"Mau ke mana lagi kamu, Za?" Rasanya baru dua jam yang lalu Eza di kantor dan sekarang, sudah saja dia mau pergi lagi.
"Ada yang harus aku selesaikan," tanpa berbasa-basi lagi Eza meninggalkan Frea.
* * *
"Siapa elo sebenernya?" Tatapan tajam Rissa mengarah tepat di hadapan Irgi.
"Maksud anda?"
"Tadi pagi elo cari Alya dan ternyata elo juga yang ngerawat neneknya Alya."
"Neneknya Alya?" Irgi tampak kaget dengan ucapan Rissa barusan.
"Kenapa lo kaget gitu, gak usah pura-pura bego."
"Saya kira, anda dan saudara anda itu berbeda, ternyata tidak ada bedanya."
Rissa mengernyitkan alisnya, "kenapa jadi bawa-bawa Eza, jawab pertanyaan gue, apa yang sebenernya lagi elo rencanain sama mak lampir itu?"
"Siapa lagi mak lampir?"
"Sepupu elo itu," dengan acuhnya Rissa menjawab.
"Saya mencari Alya karena ada hal yang mau saya tanyakan sama dia,"
"Mau tanya apa lo?" Sanggah Rissa cepat.
"Anda bukan Alya jadi saya rasa, saya tidak perlu menjelaskannya kepada Anda. Silahkan keluar dari ruangan saya kalau anda sudah selesai. Karena saya tidak punya urusan dengan anda."
Rissa merasa terusir, ia lalu menciba membuat kesepakatan. "Oke-oke, kasih tahu gue apa rencana elo, abis itu gue bakal bawa elo ketemu Alya."
Irgi yang semula acuh kini kembali tertarik dengan ucapan Rissa.
* * *
Terra terus memikirkan ucapannya pada Eza tadi siang, dia tidak bisa tidur. Apakah dirinya sudah bersikap keterlaluan pada Eza.
"Ya Tuhan kenapa aku terus mikirin dia sih." Terra merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia berharap bisa melupakan ekspresi wajah Eza tadi siang, tapi sayang ia tidak bisa melakukannya.
"Apa aku harus nelfon Eza buat minta maaf?"
Tangan Terra meraba ke arah nakas yang ada di samping kanan ranjangnya, kemudian mengambil ponsel miliknya. Tapi, ponselnya berbunyi terlebih dahulu dan nama Eza-lah yang Muncul di layar ponselnya.
Dengan ragu Terra mengangkatnya, "Halo ..."
Tak ada jawaban hanya ada helaan nafas yang begitu berat. "Aku tahu ini kamu, Eza."
"Bahkan walaupun kamu tahu kalo ini aku, kamu masih mau jawab telfon dari aku? Bukannya kamu benci sama aku? Bukannya kamu gak mau aku deket-deket sama kamu?"
Terra hanya diam , jadi benar sikapnya memang benar-benar sudah keterlaluan. "Gak perlu berbelit-belit, langsung keintinya. Ada apa?"
"Intinya?"
"Iya, ini sudah malam, aku mau tidur."
"Aku kangen kamu, setengah mati aku kangen kamu. Seharusnya aku gak nyari kamu lagi, seharusnya aku acuh, seharusnya aku percaya kalo kamu udah gak ada.
Setiap malem aku mikirin kamu, lama-lama aku bisa gila. Dan kalau setiap hari aku ketemu kamu, bisa-bisa aku ... aku ..."
"Kalau kamu mabuk, telfon Frea jangan ganggu istirahatku. Ini sudah malam, aku mau istirahat. Selamat malam." Terra langsung menutup telfonnya, ia tak mau lagi mendengarkan ucapan dari Eza. Entah mengapa ucapan Eza barusan membuatnya tertegun, sesuatu yang besar seolah menghimpit perasaannya, Terra benar-benar tidak mengerti dengan perasaanya. Ia mampu merasakan dua hal sekaligus pada Eza, kebencian dan perasaan yang nyaman, yang jelas kedua rasa itu mampu membuat Terra gelisah.
* * *
"Seharusnya kita memulai lagi semuanya dari awal." Sembari menggenggam ponselnya Eza bergumam sendiri, suara Terra benar-benar membuatnya gila. Rindu yang ada di hatinya nyatanya bukan terobati, tapi semakin memuncak.
"Tadi siang sepupu Frea ke kantor." Suara Rissa mengagetkan Eza yang sedang memikirkan Terra.
"Siapa?"
"Irgi,"
Mendengar nama Irgi, Eza segera menoleh ke arah Rissa. "Ngapain dia ke kantor?"
Rissa memberikan tatapan curiganya pada Eza, "elo kenal?"
"Ngapain dia ke kantor?" Eza mengulangi pertanyaannya.
"Dia cari Alya," dengan santai Rissa menjawab peetanyaan Eza.
Brak!
Ponsel yang ada di tangan Eza kini sudah berserakkan di lantai.
"Elo kenapa Za?"
"Dia nyari Alya? Sedangkan Alya aja ada sama dia!"
Rissa benar-benar kaget dengan jawaban Eza. Jadi, selama ini Alya benar-benar masih hidup.
"Alya masih hidup Sa dan di kecelakaan pesawat itu Alya diselametin sama Irgi, sepupu Frea."
"Maksud lo?" Ini benar-benar membuat Rissa bingung.
"Dan hebatnya lagi, Irgi manfaatin Alya yang lupa ingatan dengan kasih dia identitas baru!" Emosi Eza kian memuncak.
Jadi, selama ini Alya tinggal bersama keluarga dari orang yang sudah menghancurkan hidupnya, bahkan membuatnya dikira sudah meninggal.
"Tapi gue gak bodoh Sa, serapih-rapihnya dia nyembunyiin tentang Alya, gue tahu siapa yang saat ini ada bersama Irgi, dia Alya, Alya Dini Fahreza orang yang gue cinta."
Rissa tidak lagi mendengarkan ucapan Eza, yang ada di pikirannya saat ini adalah tujuan Irgi mencari Alya, apa Irgi ingin memastikan soal Alya, bisa saja ini suruhan Frea, atau Irgi ingin mempertemukan Alya dengan orang tuanya.
"Frea tahu soal ini?"
"Itu masalahnya,"
Frea tahu, jelas, semuanya sudah jelas. Irgi bersekongkol dengan Frea. Tidak, tidak bisa, Rissa harus mencegahnya. "Kalo Alya amnesia, berarti dia lupa sama elo dan yang sekarang ada di ingatannya itu kehidupan yang sepupunya Frea ciptain?"
"Dia ganti nama Alya dengan nama Terra dan sekarang dia jadiin Alya calon tunangannya."
Tepat sekali, ini adalah rencana Frea. Frea memcoba untuk mempercepat pernikahannya dengan Eza dan menyuruh Irgi untuk bertunangan dengan Alya. Licik sekali perempuan itu, jangan harap itu semua akan terjadi, Rissa tidak akan membiarkannya. "Elo bego banget sih Za, buat si Alya inget lagi dong sama elo." Emosi Rissa menggebu-gebu, "bawa Alya ke tempat di mana dia bisa inget sama elo, apartemen kalian berdua, makam Raihan, atau bahkan makam Alya palsu itu sekalian."
Eza tampak berpikir sebentar, seharusnya sejak awal Eza melakukan hal ini, seharusnya dia membawa Alya ke tempat di mana dia bisa mengingat semua masa lalunya.
* * *
Sebelum pergi ke kantor, Frea sengaja menemui calon ayah mertuanya di rumahnya. Frea ingin membicarakan soal pernikahannya.
"Bagaimana kalo pernikahan Eza sama Frea dipercepat, Pa?" Suara Frea sedikit memohon.
"Memangnya semua sudah siap?"
"Kalau papa segera menemui kedua orang tua Frea, Frea rasa semuanya akan lebih mudah untuk dipersiapkan."
Papa Eza nampak berpikir sebentar, "baiklah, Papa akan bicarakan ini sama Eza."
Frea akan mengambil seribu langkah lebih cepat dari Eza, ia tidak akan membiarkan pernikahannya dibatalkan hanya karena Alya muncul lagi.
"Kenapa kamu memaksa calon mertua kamu buat dateng ke rumah orang tua kamu?" Pertanyaan ketus itu keluar dari mulut mama Eza, Frea baru saja keluar dari ruang kerja papa Eza dan ternyata sudah dihadang oleh mama Eza. "Kamu gak punya malu?"
"Mungkin dia takut kalo calon tunangan sepupunya ngerebut Eza, Ma." Rissa tiba-tiba muncul dari arah ruang tengah, sembari melipat kedua tangannya di depan d**a, ia mencibir Frea dengan penuh kepuasan.
"Maksud kamu?" Tanya Mama Eza heran.
Rissa tak menjawab pertanyaan Mamanya, ia justru kembali menyerang Frea. "Oh atau elo gak mau kalo dia inget semuanya dan pernikahan elo batal. Dan elo gak bisa jadi bagian keluarga Rahardian?"
Frea terkejut, kenapa arah pembicaraan Rissa seolah mengarah pada Terra, apa Rissa sudah tahu soal Terra.
"Maksud kamu apa Za?"
Rissa hendak menyahuti mamanya namun Frea menyelak terlebih dahulu.
"Frea cuma minta tante terima Frea, Frea janji, Frea bakal jadi istri yang baik, menantu yang baik dan Frea bakal kasih Eza keturunan. Kasih Frea kesempatan." Hanya ini yang bisa Frea lakukan, merebut hati Mama Eza.
"Kesempatan buat nguasain harta kita?" Tanya Rissa lagi. "Dia takut Ma, kalau kekasih sepupunya yang mirip banget sama Alya itu bakal buat Eza jatuh cinta dan berpaling dari dia."
Frea benar-benar ingin marah saat ini, bagaimana tidak, sikap Rissa benar-benar membuatnya murka. Rissa seolah sedang memancing amarah Frea namun Frea mencoba untuk menahannya, saat ini di hadapannya ada Mama Eza yang adalah calon mertuanya, ia tidak akan membuat dirinya terlihat buruk di hadapan calon mertuanya.
* * *
Pagi sekali Eza sudah sampai di depan rumah Irgi, rencananya hari ini dia akan mengajak Terra ke makam Raihan. Eza hendak keluar dari mobil namun sesuatu menghentikannya, sebuah mobil keluar dari rumah itu. Eza yakin itu mobil milik Irgi. Dengan segera Eza mengikuti mobil itu.
Eza mengambil ponsel di sakunya, ia mencoba menghubungi Terra. Ia ingin tahu ke mana mereka akan pergi. Namun sayang Terra tidak menjawab telfon dari Eza. Kamu mau ke mana? Eza mengetikkan pesan dan mengirimnya pada Terra.
Selang tiga puluh menit pesan milik Eza tidak dibalas oleh Terra. Eza terus mengikuti mobil milik Irgi, sampai mobil itu masuk ke sebuah rumah sakit dan Eza pun ikut masuk.
* * *
"Kenapa Eza bisa tahu kalo aku pergi?" Terra membatin saat melihat pesan yang masuk ke ponselnya. "Apa dia ngikutin aku?"
"Te,"
Mendengar suara Irgi, Terra langsung menyembunyikan ponselnya di bawah selimut. Ya, hari ini Terra akan melakukan operasi pada kakinya. Pagi-pagi sekali Terra harus datang ke rumah sakit, dan sore nanti jadwal Terra dioperasi.
"Kamu jangan tegang ya, semua pasti baik-baik aja." Irgi mencoba menghibur Terra.
"Iya, Gi. Makasih ya."
Irgi hanya tersenyum dan mengelus punggung tangan Terra. "Kalo kamu bosen kamu bisa ke taman, atau jalan-jalan dulu ya meskipun yang bakal kamu lihat cuma orang sakit."
Terra tersenyum mendengar canda yang keluar dari mulut Irgi.
* * *
Terra memutuskan untuk pergi ke taman rumah sakit, mungkin di sana dia bisa menemukan sedikit udara segar. Masih ada empat jam sampai waktu operasinya tiba. Terra duduk di sebuah bangku di bawah pohon belimbing yang cukup rindang, ia mengambil ponsel dan memasang earphonenya. Terra mulai memejamkan matanya, perlahan ia meresapi alunan musik yang ia putar di ponselnya. Tiba-tiba bangku yang ia duduki sedikit bergerak, satu earphone di telinga kanannya terlepas, ia menoleh sejenak. Eza, Eza mengambil earphone itu dan memasangnya di telinga.
Entah kenapa Terra hanya terdiam, seolah hatinya merasa begitu tenang. Ia kembali memejamkan matanya dan menikmati alunan musik dari ponselnya. Perlahan tangannya terasa begitu hangat, tangan Eza menggenggam tangan Terra. Perasaan hangat, nyaman, benar-benar Terra rasakan saat ini. Seolah hatinya menemukan sesuatu yang dulu pernah ia genggam dan ia rasakan.
* * *
Frea tidak bisa membiarkan semuanya terbongkar sebelum pernikahannya terjadi, ia harus menemui Irgi dan menyuruh Irgi membawa Alya pergi jauh dari Eza, ke luar kota atau ke luar negri bila harus. Frea membuat janji dengan Irgi namun karena Irgi tidak bisa keluar rumah sakit, ia menyuruh Frea untuk menemuinya di rumah sakit.
Setelah makan siang selesai Frea segera pergi ke rumah sakit untuk menemui Irgi. Sesampainya di rumah sakit Frea segera mencari ruangan Irgi di lantai dua rumah sakit namun sayang seribu sayang, bukan Irgi yang Frea temui tapi Eza. Eza tidak sendiri, ia bersama seseorang. Seseorang yang benar-benar membuat Frea muak dan Frea benci.
Deru nafas Frea benar-benar tidak bisa diatur lagi, emosinya mungkin saat ini sudah sampai di ubun-ubun. Dia benar-benar tidak bisa beralih sedikitpun dari Eza, jadi yang selama ini Eza lakukan di luar bukanlah mengurusi pekerjaan, tapi mengurusi Alya tanpa sepengetahuan Frea.
"Kamu tega, Za. Kamu tega." Air mata penuh kebencian itu menetes di pipi Frea, ia merasa terkhianati oleh Eza.
* * *
"Aku harus kembali ke kamar." Terra mematikan alunan musik yang ia dengarkan kemudian dia menarik tangannya yang masih digenggam oleh Eza. Eza yang merasa kaget hanya menuruti saja tingkah Terra. "Permisi." Terra membereskan ponsel dan earphonenya lalu memasukkannya ke dalam saku baju pasien yang ia kenakan. Ia lalu beranjak pergi meninggalkan Eza yang masih duduk terdiam di bangku taman.
"Bodoh, bodoh." Terra terus merutuki dirinya sendiri yang hanya diam saja ketika tangannya di genggam oleh Eza. "Dia itu tunangan Frea, kenapa kamu mau aja Te waktu dia deketin kamu," Terra terus bergumam sembari berjalan menuju kamarnya. Tanpa Terra sadari seseorang mengikutinya hingga ia masuk ke dalam kamar rawat inapnya.
Terra duduk di pinggiran ranjangnya, satu persatu kakinya ia naikkan ke atas ranjang. Setelah merasa nyaman ia sandarkan punggungnya pada tumpukkan bantal yang ada di belakang.
Suara pintu terbuka, Terra menoleh dan melihat Frea berdiri di ambang pintu.
"Fre," Terra menyapa Frea.
"Kenapa? Kamu kaget aku dateng ke sini?" Frea terdengar begitu ketus pada Terra. Frea berjalan pelan menghampiri Terra yang sedang berbaring di ranjang.
Plak!
Belum sempat Terra menjawab, tangan kanan Frea sudah menampar pipi Terra begitu kencang. "Gimanapun caranya aku bakal lindungin Eza, dan kamu, kamu gak akan pernah bisa ngerebut Eza dari aku."
Terra tertegun melihat Frea, ia tidak mengatakan sepatah katapun pada Frea sampai Frea berbalik dan meninggalkannya sendirian. Apa yang terjadi pada Frea pikir Terra.
* * *
Eza yang masih duduk di bangku taman terus menatap ke arah samping di mana Terra duduk tadi, tiba-tiba ia teringat semua kata-kata Aldy sebelum mereka berpisah dulu.
Kita bisa memulainya dari awal.
Aku mohon, kita bisa memulai semuanya dari awal.
Kematian Raihan takdir, dan kamu gak bisa nyalahin aku gitu aja. Kamu pikir aku gak sakit hati? Kamu pikir aku gak sedih?
Kalimat itu terus terngiang di telinga Eza, ia kini benar-benar menyesal, ia kini yang ingin memulainya dari awal. Andai saja saat itu dia tidak memilih Frea, andai saja saat itu dia lebih memilih memaafkan Alya, andai saja Eza bisa memutar kenbali waktu.
* * *
"Aarghhh!!" tangan Frea menyingkirkan semua file yang ada di atas meja kerjanya. Semuanya berserakkan di lantai. "Kamu bilang kamu mau lupain dia Za, kamu bilang kamu benci sama dia Za, kamu bilang kamu udah lupain semua kenangan kamu sama dia Za, tapi apa?! Bahkan saat di Kanada pun yang kamu panggil bukan aku Za, tapi Alya, Alya dan Alya!!" Frea menatap ke arah pajangan foto dirinya dan Eza. "Ini belum selesai, ya, ini belum selesai Al, ini baru awal. Dulu kamu gak terima maaf dari aku, maka hari ini aku yang akan buat kamu minta maaf sama aku. Kita lihat Al, siapa yang akan menginjak siapa." Hati Frea sudah benar-bemar penuh dendam, ia tidak lagi bisa bersikap biasa saja.
Di luar ruangan Frea, Esa berdiri. Ia mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Frea, Rissa tersenyum licik. "Baiklah, kita lihat siapa yang akan diinjak siapa, kamu gak tahu siapa yang akan kamu tandingi Fre."