"Kita mau ke mana?" Irgi bertanya pada Rissa yang sedang fokus mengendarai mobilnya. Pagi-pagi sekali Rissa sudah bertemu dengan Irgi. Hari ini Esa akan membawa Irgi untuk bertemu dengan Almira.
"Elo mau tahu kan siapa Alya Dini Fahreza itu, hari ini gue bakal temuin elo sama dia."
Tiga puluh menit berkendara, mobil Rissa berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar. Rumah tiga lantai dengan warna cat putih tulang itu tampak sepi dari luar. Taman yang cukup luas dengan kolam air mancur di tengah-tengahnya.
"Rumah siapa ini?"
"Turun," Rissa membuka sabuk pengamannya lalu bergegas turun dari mobil. Rissa segera menekan bel rumah yang terpasang di dekat pagar rumah. Tak lama seorang perempuan setengah baya keluar dari arah garasi, Rissa sudah tidak asing lagi dengan perempuan itu. Bagaimana tidak, Rissa sering berkunjung ke rumah ini.
"Bi Nur," Rissa dengan sumringnya menyapa asisten rumah tangga di sana.
"Ya Allah, Non Rissa," Asisten rumah tangga itu menjawab dengan penuh senyum, "sebentar den, bibi bukain." Bi Nur segera membuka gembok yang terpasang pada pagar rumah, kemudian ia membuka pagar itu dan memberikan jalan agar Rissa bisa masuk. "Masuk Non, mobilnya mau di masukin?"
"Gak usah, biar di depan aja. Almira di rumah, bi?"
"Ada Den, kebetulan sudah empat hari ini Non Almira nginep di sini, soalnya bapak sendirian, nyonya besar lagi di rumah sakit."
"Makasih ya Bi, Rissa masuk dulu."
Irgi hanya menatap heran pada Rissa, kenapa dia bisa ramah pada asisten rumah tangga di sini sedangkan padanya tidak. "Kenapa sifat ketusnya hilang tiba-tiba," gumam Irgi, Irgi lalu mengikuti Rissa yang berjalan masuk ke dalam rumah.
* * *
"Non duduk dulu, bibi panggil Non Almira dulu ya, sekalian mau dibuatin minum apa?"
"Apa aja deh bi, Rissa pasti minum kok."
Dari arah dalam terdengar suara Jevan yang sedang tertawa terbahak bersama Kavin, Rissa yang mendengarnya segera masuk ke dalam meninggalkan Irgi yang tampak kebingungan di ruang tamu.
"Jevaaan ..." Rissa memanggil Jevan yang sedang asyik menonton tv.
"Aunty Rissa," Jevan berlari dan segera memeluk Rissa erat. "Kapan Aunty dateng?"
"Emmm baru aja, Jevan gak sekolah?" Pasalnya ini bukan hari libur dan Jevan malah asyik nonton tv di rumah.
"Ribet gue anterinnya," Almira menyahuti pertanyaan Rissa tiba-tiba. "Tumben lo ke sini, ada apa?"
"Mau ketemu Eka." Ledek Rissa.
Plak!
Itu suara tangan Almira yang menendang p****t Rissa.
"Sial, sakit Almira."
"Lupa lo kalo Eka udah punya dua buntut? Masih aja elo nafsu."
Rissa hanya mengerlingkan matanya mendengar ucapan Almira. "Ada yang mau ketemu sama elo,"
"Siapa?"
"Noh," Rissa menunjuk ke arah ruang tamu dengan tatapannya, Almira segera mengikuti arah pandang Rissa. Almira sedikit berpikir, siapa dia, rasanya Almira tidak pernah mengenal orang itu.
"Buru keluar, Jevan di sini dulu ya, Aunty sama Mamah keluar dulu."
* * *
Irgi membelalakkan matanya, ia tampak terkejut saat melihat Almira yang kini berdiri di hadapannya.
"Almira Mardiya Fahreza."
"I-irgi." Irgi menjabat tangan Almira.
"Silahkan duduk." Ujar Almira pada Irgi. "Apa saya sebelumnya pernah mengenal anda?"
"Dia nyari Alya, By." Celetuk Rissa.
Almira menoleh pada Rissa, terus kenapa elo bawa ke sini, batin Almira. "Kak Alya?"
"I-iya,"
"Memangnya ada urusan apa?" Almira menyembunyikan keterkejutannya.
* * *
Sepulang dari rumah Almira, Irgi seolah tertampar oleh kenyataan. Kenyataan yang mungkin membuat pendiriannya berubah.
Sesampainya di rumah, Irgi langsung mengambil semua uang cash miliknya dan beberapa buku tabungan dengan nominal yang cukup besar. Irgi lalu membawa pergi semua itu.
Irgi segera memalirkan mobilnya begitu tiba di sebuah gedung apartemen.
"Kenapa apartemen kamu berantakan gini?" Irgi mengambil satu persatu barang milik Frea yang tergeletak di ruang tengah apartemen Frea.
Frea hanya terdiam, sepatah katapun tidak ia keluarkan untuk menjawab pertanyaan Irgi. Matanya tampak begitu sembab kertas tisu berserakkan di ruangan itu, penampilan Frea pun tampak berantakan.
"Ini,"
Frea menoleh saat melihat amplop berwarna cokelat dengan ukuran yang cukup besar.
"Apa ini?"
"Itu uang buat biaya pernikahan kamu,"
"Gi,"
"Cuma itu yang bisa aku lakuin buat bales semua kebaikkan keluarga kamu ke aku Fre, aku harap kamu bisa mempercepat pernikahan kamu dan meminta Eza buat ngelamar kamu."
Frea heran, kenapa Irgi sekarang seolah mendukung pernikahannya dengan Eza, bahkan kemarin Frea masih ingat saat Irgi memintanya untuk meninggalkan Eza. "Kenapa Gi, ada apa emangnya."
"Dengan uang itu kamu bisa tinggal bersama Eza di luar negri, kalian bisa memulai usaha baru di sana dan kalian bisa hidup bahagia."
"Gi,"
"Aku udah tahu semuanya, siapa Terra sebenarnya dan siapa Eza sebenarnya. Pasti sulit kan?"
"Gi," Frea menatap Irgi dengan entah bagaimana, "apa kamu tahu Gi? Aku seneng banget waktu denger dia meninggal," Frea tersenyum miris sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Tanpa sadar, aku bersyukur, seolah Tuhan bener-bener memihak sama aku Gi."
Alih-alih menjawabi ucapan Frea, Irgi memilih untuk diam. Dia menyerahkan amplop itu pada Frea, "segera atur pernikahan kamu sama Eza, semakin cepat kalian lakuin itu akan lebih baik. Semua keadaan akan baik-baik saja setelah kalian menikah. Sekarang aku harus kembali ke rumah sakit." Tanpa menoleh lagi Irgi pergi meninggalkan Frea.
* * *
Eza masih berdiri di luar ruang kamar rawat Terra, dari kaca kecil yang terpasang di pintu itu Eza bisa menatap Terra yang masih terpejam tenang. Tak ada satu orang pun di sana bahkan Irgi yang biasanya menempel seperti benalu pada Terra nyatanya hari itu tidak ada.
Jam besuk pasien sudah habis, Eza tidak bisa masuk begitu saja, ia tidak ingin kedatangannya ke rumah sakit malam-malam hanya sia-sia begitu saja. Cukup melihat Alya dari kejauhan hatinya sedikit meraskan ketenangan.
"Terra,"
Eza kaget saat mendengar nama itu disebut, ia menoleh dan mendapati Irgi sudah berdiri di belakangnya.
"Orang yang sama sekali tidak anda kenal, orang yang sama sekali tidak anda pedulikan. Terra, yang lupa dengan ingatannya, dengan semua masa lalunya, saya juga tidak pernah tahu bagaimana masa lalu Terra sebelum dia bertemu dengan saya, sebahagia apakah dia dulu atau semenderita apakah dia dulu." Irgi menghela nafasnya sebentar. "Terra bisa tersenyum, tiba-tiba Terra bisa menangis saat dia terlelap dalam tidurnya, memohon untuk dimaafkan, untuk tidak ditinggalkan, tapi saya yakin saat itu orang yang ada di dalam mimpinya, meninggalkannya. "
Eza tertegun mendengar ucapan Irgi, kenapa seolah Irgi sudah mengetahui semuanya.
"Apa anda akan terus begini? Jangan seret Terra lagi untuk masuk ke neraka yang anda ciptakan. Saya tidak rela jika Terra yang saya kenal harus melupakan kembali cara tertawa, cara untuk bahagia. Saya mohon, lepaskan Terra, jangan bawa Terra untuk berjalan bersama anda, karena di sana hanya ada jalan buntu, atau bahkan jurang yang akan membuat anda, Terra dan Frea jatuh bersama-sama ke jurang itu." Setelah puas meluapkan perasaannya Irgi memegang pundak Eza sebentar dan berlalu meninggalkannya.
Kenapa rasanya sakit saat mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Irgi. Begitu banyak penyesalan yang saat ini ada di benak Eza dan tidak bisa Eza ucapkan pada Alya. Memang benar, jika saat ini dia kembali pada Alya maka yang bisa Eza berikan kembali hanyalah sebuah air mata.
Eza yang dulu melepaskan Alya, tapi sejujurnya saat ini ia yang merasakan kehilangan entah apa alasannya. Setelah berpisah dengan Alya bukan ketenangan yang ia dapatkan tapi rasa marah atas kebodohannya yang melepaskan Alya.
"Aku cinta kamu, Al. Aku cinta kamu. Ini semua salah aku Al, salah aku." Sakit rasanya saat mengatakan hal itu, seolah hati Eza terhimpit. Andaikan waktu bisa kembali Eza putar, kembali di waktu Alya mencintainya dengan sepenuh hati, Eza tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini. "Maafin aku, maafin aku Al. Aku gak tahu apa yang terjadi, aku ninggalin kamu dan kamu benci sama aku, aku bener-bener gak tahu apa yang terjadi." Eza tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini, jika memang benar hati Alya sudah bukan untuknya lagi. Sekalipun Alya ada di sisi Eza nyatanya itu bukan untuk sebuah perasaan cinta.
"Bahkan sekarang, aku ngerasa gak layak buat ada di sisi kamu, Al."
* * *
Mata Terra masih terpejam tenang, anestesi yang disuntikkan padanya masih mempengaruhi kesadarannya, satu jam yang lalu ia baru saja melakukan operasi pada kakinya.
Saat nanti kita udah lupa sama rasa yang ada di hati kita, saat tubuh kita termakan usia, satu yang aku tahu, aku gak akan pernah nyesal pernah kenal dan sayang sama kamu Eza Rahardian.
Alya Dini Fahreza, maukah kamu menjadi pendamping hidup aku, selalu ada di sampingku.
Reihan pasti suka sama kamarnya, setelah kita selesai urusin semua dokumen adopsi Reihan, kita segera bawa Reihan pindah ke sini, Za.
Terra perlahan menggerakkan kelopak matanya, nafasnya sedikit tersengal.
Rei, bangun Rei, Papa mohon bangun. Rei, Reihan sayang. Papa mohon bangun, jangan tinggalin papa.
Andai saja kamu gak telat jemput Reihan Al, semuanya gak akan terjadi. Andai aja kamu gak mentingin semua pekerjaan kamu Al Reihan gak akan ngalamin kecelakaan ini Al!
Rei, Reihan. Reihan denger papa kan? Reihan sayang papa kan? Reihan bangun, Reihan.
"Reihan ..."
Irgi menoleh saat mulut Alya bergumam, ia mendekat dan memeriksa Alya.
"Reihan ..." Dengan nafas tersengal Alya kembali memanggil nama Reihan.
"Te, Terra," Irgi mencoba membangunkan Terra.
"Reihan!" Terra berteriak, matanya terbuka ia menatap ke langit-langit kamar rawatnya.
"Te, kamu gak apa-apa kan?"
Terra menoleh ke arah suara, ia menatap Irgi yang tampak khawatir.
"Te?"
Terra masih terdiam, ia kini memalingkan wajahnya ke arah lain. Air matanya menetes, ia menangis tersedu. "Reihan," nama itu terus Terra panggil berulang kali.
* * *
"Tolong tan,"
"Frea, tante gak bisa usir Terra tanpa alasan yang jelas. Selama ini tante lihat, Terra gak ada masalah dan gak ada hal buruk yang terjadi sama Irgi. Nalah Terra kasih dampak positif ke Irgi." Mama Irgi mencoba menyangkal ucapan Frea.
"Tan, asal tante tahu, selama ini Terra gantungin perasaan Irgi dan lagi sekarang dia udah mulai berani dekatin Eza." Frea kembali mencoba meyakinkan mama Irgi. "Apa tante mau kalo Irgi hidup susah karena Terra? Apa tante mau kalo Irgi balik kaya dulu lagi? Dia jadi pendiem dan narik diri dari kehidupannya?"
Frea berharap dengan pembicaraannya ini mama Irgi bisa mengusir Terra dari rumahnya, tentu saja agar Terra pergi dan menjauh dari kehidupannya dan tidak mengganggunya lagi bersama Eza.
"Frea mohon tante pikirin ini lagi, Frea gak mau kalo Terra bakal jadi pengaruh buruk buat hidup Irgi, Irgi berhak buat dapet yang lebih baik dari Terra yang belum jelas asal-usulnya."
* * *
Eza berdiri di samping makam Alya, ia terus menatap batu nisan dengan nama Alya. Pikirannya benar-benar melayang ke masa lalu. Ia kemudian berlutut dan memegangi batu nisan Alya. Air matanya mengalir begitu saja, memang mungkin saat ini harusnya ia tak mencari Alya lagi. Bagaimana jika Aldy kembali mengingat semuanya apa ia akan tetap bersikap seperti biasa atau malah akan menghukumnya atas semua perlakuannya pada Alya dulu.
* * *
Dengan wajah yang seolah menggambarkan kelelahan, pukul delapan malam Eza baru sampai di rumahnya. Ia tak menghiraukan panggilan mamanya untuk makan malam bersama. Yang ia lakukan segera naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.
Di kamar, Eza tak segera menyalakan lampu kamarnya. Ia berjalan menuju pinggiran ranjang, ia kemudian duduk di lantai. Punggungnya ia sandarkan pada ranjang.
Bayangan wajah Alya saat menangis tiba-tiba terbayang oleh Eza.
Aku gak bisa maafin kamu, atas apa yang kamu lakuin hari ini. Kamu gak tahu apa yang udah kamu lakuin. Kamu rusak semua kebahagian aku. Sampai mati pun aku gak akan maafin kamu, bahkan sekalipun kamu mati lebih dulu, aku gak akan gerak sedikitpun buat berbalik ke arah kamu.
Apa yang mau kamu ulangin lagi? Kalo kamu bisa bangkitin Raihan mungkin kita bisa ulangin itu semua.
Pa, tolong jauhin orang ini dari Eza, Eza mau orang ini pergi jauh dari Eza. Eza gak tahan lagi buat hidup bareng dia.
Ucapan dari mulutnya untuk Alya dulu, terus terngiang di telinga Eza. Ia menunduk dan meratapi dirinya sendiri. Tak lama tubuh Eza tiba-tiba ambruk, ia pingsan dan tergeletak di lantai kamarnya.
* * *
"Aku mulai inget sesuatu Gi." Terra memejamkan matanya sebentar. "Semua yang ada di mimpi aku, samar-samar aku bisa ingat semuanya."
"Aku rasa ini efek dari obat bius yang kamu gunakan waktu operasi. Kamu cukup istirahat, jangan mikir yang aneh-aneh dulu."
"Aku inget, aku bawa tas kecil. Ada paspor ada semua kartu identitasku di sana."
"Apa kamu gak denger kata dokter?"
"Gi, aku rasa kalo kamu bawa tas itu sekarang aku bakal inget semuanya. Aku pingin inget semuanya, kamu pasti simpen kan tas itu?"
Sekalipun aku menyimpannya, aku tidak akan memberikannya padamu, batin Irgi. "Kamu masih lemah, istirahat dulu dan cukup kita bicarain soal ini."
"Hmmm ..." Terra mengangguk, "sementara aku istirahat kamu bisa pulang dan ambilin tas atau baju atau apapun itu yang kamu temuin waktu kamu nemuin aku Gi." Terra kemudian memejamkan matanya dengan tenang.
Setelah memastikan Terra beristirahat Irgi berjalan keluar dari kamar Terra, Irgi terus menatap ke arah Terra. Ia tidak rela jika Terra kembali mengingat semuanya.
* * *
Frea memeras handuk yang ia gunakan untuk mengompres dahi Eza. Pagi-pagi sekali Frea sudah datang ke rumah Eza saat tahu Eza terkena demam. Di dalam tidurnya Eza terus mengigau, ia memanggil nama Alya dan Raihan tanpa henti.
"Dasar bodoh." Frea mengumpat pada Eza yang masih terpejam tidur. "Kenapa kamu masih peduliin dia Za, apa lebihnya Alya dibandingin aku." Frea tidak tahu harus berbuat apa lagi. "Aku perjuangin cinta aku buat kamu, selalu nyoba buat jadi pusat perhatian kamu. Tapi tetap saja Alya yang kamu nomor satuin sekalipun semua orang bilang kalau dia udah mati."
Saat itu Eza membuka matanya, mungkin sedari tadi Eza mendengar ucapan Frea.
"Za,"
"Sejak kapan kamu di sini?"
Frea tidak menjawab pertanyaan Eza, ia malah mengambil secangkir teh di atas nakas kecil di sudut ruangan kamar Eza. "Minum ini Za,"
Eza menerimanya tanpa ragu, perlahan Eza meneguk teh yang ada di cangkir itu.
"Apa semalaman kamu di sini?"
Frea mengangguk berbohong, ia ingin mencoba menarik simpati Eza.
"Sebaiknya kamu pulang sekarang."
"Tapi Za,"
"Bukankah kamu harus ke kantor?" Eza menyingkap selimut yang menutupi setengah tubuh bagian bawahnya. Ia hendak turun dari ranjang. "Aku juga mesti ke kantor." Eza beranjak menuju kamar mandi.
"Tapi Za-"
Belum selesai Frea berbicara, Eza sudah ambruk terlebih dahulu.
"Za, Eza!"
Frea berlari menghampiri Eza yang sudah tergelatak di lantai, Frea mencoba membangunkan Eza tapi usahanya sia-sia Eza sama sekali tidak merespon. Frea segera berlari keluar kamar, ia berteriak memanggil Esa dan meminta tolong.
"Elo kenapa sih teriak-teriak?" Rissa berlari dari lantai satu diikuti oleh mamanya.
"Eza pingsan lagi Sa,"
Rissa segera masuk ke kamar Eza, begitu melihat Eza tak sadarkan diri.
"Ma, telfon ambulance ma, badan Eza panas banget."
* * *
"Kapan Frea datang?"
"Kemarin malem."
Mama Irgi baru saja menceritakan apa yang Frea ucapkan padanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Gi? Kenapa Frea tiba-tiba nyuruh mama buat ngusir Terra dan jauhin Terra dari kamu?"
Apa sebaiknya Irgi jujur pada mamanya, Irgi benar-benar bingung.
"Ma,"
"Cerita sama mama Gi, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ingatan Terra sudah kembali," Irgi mengambil nafas sejenak sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Dan yang menjadi masalah bukan itu sekarang, tapi ini soal masa lalu Terra ma."
"Masa lalu Terra?"
"Iya, ma. Laki-laki yang akan jadi suami Frea adalah laki-laki yang dulu menjadi kekasih Terra."
Mama Irgi tampak terkejut.
"Irgi rasa itu yang dijadikan alasan sama Frea, kenapa dia mau jauhin Terra dari kita."
"Tapi gimanapun nanti, Terra bakal ingat semuanya termasuk hubungan di antara Frea sama Eza."
"Dan itu pasti bakal bikin Terra sakit hati ma." Lanjut Irgi.
Mama Irgi merasa kasihan pada Irgi, kenapa harus serumit ini saat Irgi menemukan semangat hidupnya kembali.
* * *
Begitu sampai di rumah sakit Eza segera di bawa ke IGD untuk ditangani dokter.
Tiga puluh menit berlalu. Infus sudah terpasang di lengan Eza namun Eza masih terpejam. Frea, mama Eza dan Esa menemani Eza. Kebetulan Esa membawa Eza ke rumah sakit yang sama di mana Terra di rawat dan Frea baru menyadari hal itu saat Eza sudah di bawa ke ruang rawat inap.
"Ma, Rissa mesti ke kantor, jam 9 Rissa ada meeting. Mama Rissa tinggal gak apa?"
"Gak apa, kamu harus urus kantor biar mama yang jaga di sini."
Rissa lalu berpamitan pada ibunya, tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Frea, Frea benar-benar dianggap tidak ada oleh Rissa.
"Kenapa kamu masih di sini, kamu gak ke kantor?"
Frea menoleh saat mendengar mama Eza bertanya padanya. "Frea mau tungguin Eza di sini ma."
"Kamu itu tetap pegawai kantor, kalau kamu ada urusan di luar kantor harusnya kamu ijin. Jangan seenaknya aja, kamu pikir itu kantor keluarga kamu?"
"Tapi ma,"
"Fokus urusin kerjaan kamu, toh sekalipun kamu di sini itu gak akan buat Eza sembuh."
Terbuat dari apa hati wanita ini, pikir mama Eza.
Frea tidak mau berdebat di situasi seperti ini dan lagi di kantor memang banyak pekerjaan. "Frea bakal pergi, tapi Frea mohon kalo sampe Eza bangun Mama harus segera hubungin Frea."
Mama Eza mengacuhkan permohonan Frea, mama Eza benar-benar tidak tahan dengan sikap Frea.
"Frea pamit ma,"
Mama Eza hanya mengangguk tak berarti pada Frea.
* * *
Pukul sepuluh pagi Irgi sudah kembali ke rumah sakit, ia pergi ke ruangannya sebelum menemui Terra di kamar rawat inap. Ia menaruh tas kerjanya di atas meja kerja. Irgi lalu duduk di kursinya, perlahan tangannya menarik laci yang ada di meja kerjanya. Ia mengambil sebuah cincin yang ia bungkus menggunakan sebuah pelastik.kecil bening.
"Apa kamu akan inget semuanya Te kalo aku nunjukkin ini ke kamu?" Gumam Irgi.
Tak berlama-lama Irgi segera beranjak dari kursinya, ia mengantongi cincin itu dan berjalan menuju kamar rawat Terra.
Setelah naik ke lantai dua rumah sakit, Irgi segera masuk ke kamar rawat Terra. Terra ternyata tidak ada di kamarnya, Irgi segera menghubungi suster jaga yang ada di meja resepsionis lantai dua. Menurut suster jaga, Terra sedang ada di ruang terapi. Ia sedang belajar menggerakan kakinya untuk masa pemulihan.
Irgi lantas menyusul Terra ke ruang terapi, dari luar Irgi bisa melihat Terra yang belajar berjalan menggunakan alat bantu.
Tiba-tiba pikiran Irgi melayang pada semua kejadian yang akhir-akhir ini terjadi. Dan soal ingatan Terra yang akan segera pulih.
"Apa yang mesti aku lakuin, aku mau lindungin kamu. Aku gak mau lihat kamu sedih Te." Irgi bergumam sendiri. "Kenapa kamu harus buat aku jatuh cinta ke kamu Te? Setelah dua tahun kita bersama kamu buat aku nyaman, tapi semua itu hilang dalam sekejap hanya karena sebuah masa lalu yang tiba-tiba datang."
* * *
Terra menatapi cincin yang Irgi berikan padanya. Hanya itu satu-satunya barang yang melekat pada diri Terra saat Irgi menemukannya.
Terra tampak berusaha keras mengingat semuanya. Terra memakai cincin itu di jari manisnya. Tangannya ia angkat ke atas mencoba menutupi lampu pijar yang menyorotinya, perlahan ia memejamkan matanya.
"Raihan, nama itu ..."
"Ada yang kamu ingat?"
Dengan masih mata tertutup, "aku gak tahu kenapa nama itu terus berputar-putar di ingatanku. Dan dia, dia benar-benar nyata. Apa dia bagian dari masa lalu aku?"
"D-dia?"
"Eza."
Irgi tampak kecewa saat mendengar nama itu diucapkan oleh Terra.
"Jangan berusaha terlalu keras," kilah Irgi.
"Waktu dia bilang aku mirip seseorang yang dia sayangi, aku ngerasain sesuatu yang aneh. Sesuatu yang bisa buat aku nyaman, marah sekaligus takut. Aku gak tahu kenapa itu semua bisa ada. Dan suara yang sering muncul di mimpi aku, kali ini aku bisa lihat wajahnya. Apa aku yang ngarepin dia atau emang dia adalah bagian dari masa lalu aku? Apa aku munafik kalo aku bilang aku gak terpengaruh sama semua ini?"
Irgi mencoba menahan perasaannya.
"Kenapa aku terus ngarepin dia buat dateng, sekedar senyum atau ganggu aku." Lanjut Terra.
"Ada yang mau aku omongin," sanggah Irgi.
"Aku juga. Gi, aku rasa aku sayang Eza, sekalipun aku tahu dia tunangan Frea. Entah gimana aku bisa punya perasaan kaya gini. Aku selalu ngarepin dia datang dan entah kenapa bukan kamu. Gi aku mohon, jangan tunggu aku lagi."
Irgi tidak bisa berbohong, matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Bagaimana perasaannya saat ini, begitu terluka mendengar ucapan demi ucapan dari mulut Terra.
Irgi beranjak dari kursinya. Ia berdiri lalu memalingkan wajahnya, saat itu air matanya menetes dengan segera ia mengusap air matanya. Ia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di hadapan Terra.
"Istirahatlah, aku ada jadwal pemeriksaan pasien. Setelah makan siang aku ke sini lagi." Tanpa menoleh pada Terra, Irgi berjalan keluar dari kamar rawat Terra.
Sementara itu Terra pun menghapus air matanya, ia menyesal sudah membuat Irgi seperti itu.
"Maaf, Gi."
* * *
Irgi benar-benar tidak fokus bekerja, ia terus memikirkan ucapan Terra tadi pagi. Bahkan saat jam makan siang Irgi tidak kembali ke kamar Terra.
Irgi masih duduk di kafetaria rumah sakit, sebotol air mineral ada di hadapannya. Matanya menerawang lurus ke depan, menatap orang-orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit.
"Bolos kerja, gini ya kerjaan dokter jaman sekarang. Leha-leha di kantin rumah sakit. Bukannya kerja!"
Irgi mulai kenal dengan suara itu, Irgi menoleh ke arah samping, di mana suara itu berasal. Benar saja, Rissa sudah berdiri di belakang Irgi.
"Ada kepentingan apa kamu ke sini?" Irgi tidak berbasa-basi lagi.
"Ini fasilitas umum, gak boleh kalo gue sebagai warga negara datang ke faisilitas umum yang di sediain sama pemerintah negara gue sendiri?"
Irgi menyesal sudah bertanya pada Rissa mungkin seharusnya tadi ia diam saja dan tidak perlu menggubris Rissa. Irgi segera mengambil botol minumnya, ia hendak beranjak pergi dari kafetaria.
"Eza sakit."
Mendengar kalimat itu Irgi menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Rissa.
"Bukan itu yang mau gue kasih tahu sebenarnya, tapi dari kemarin malem Eza terus ngigau panggil nama Alya berulang kali."
"Kalo elo masih punya hati, harusnya elo tahu apa yang harus elo lakuin."
Rissa terlebih dahulu meninggalkan Irgi, Rissa tahu Irgi orang baik tidak mungkin Irgi akan seperti Frea yang licik dan akan melakukan hal apapun demi untuk.mendapatkan perhatian dan cinta. Mungkin dengan cara seperti ini Rissa bisa membantu Eza dan Alya kembali untuk bersama.
* * *
Hanin dan Faris baru saja menebus beberapa obat dan vitamin yang harus di konsumsi oleh Ratna setelah keluar dari rumah sakit, kondisi Ratna belum terlalu stabil tapi Ratna sudah ingin pulang ke rumah.
"Mas mau ke toilet dulu, kamu tunggu di sini gak apa-apa?"
Hanin hanya mengangguk, ia rasanya sudah lemas sekali. Merawat Ratna benar-benar melelahkan. Fara tidak bisa merawat Ratna karena ia harus mengikuti suaminya dinas di luar kota sedangkan Fadhil dan Nathasa sedang sibuk mempersiapkan pernikahan anak mereka yang ke dua. Jadi, mau tidak mau Hanin yang harus merawat Ratna.
Mata Hanin menerawang jauh ke depan, ia menatap ke arah ruangan rontgen yang tepat berada di hadapannya saat ini.
Hanin melihat seseorang, seseorang itu memakai dua tongkat penyangga di kedua sisi tubuhnya, pun baju rumah sakit menempel di tubuhnya. Seseorang itu berjalan masuk ke ruangan rontgen, seseorang itu seseorang yang sangat Hansa rindukan, Hansa tidak sedang bermimpi bukan? Seseorang itu benar-bemar percis dengan anaknya, Alya.
Hanin memegangi dadanya, kenapa begitu sakit rasanya. Pandangannya sedikitpun tidak terlepas dari seseorang itu, perlahan Hanin berdiri dari duduknya, matanya tak beralih pandang sedikitpun. Linangan air mata sudah di pelupuk mata, sekali Hansa mengedipkan matanya maka tangisan itu mungkin akan pecah seketika itu juga. Hanin terus berjalan ke arah ruang rontgen itu.
"Han," tangan Faris memegangi pergelangan tangan Hanin. Saat itu Hanin menoleh, buliran air mata itu sudah menetes di pipi Hanin. "Kamu kenapa?" Faris segera menghapus air mata di pipi Hanin.
"M-mash." Rasanya lidah Hanin kelu, apa saat ini ia sedang behalusinasi karena memang tubuhnya terlalu lelah atau memang hatinya yang teramat merindukan Alya, sampai yang ada di pandangannya saat ini pun ia anggap sebagai Alya.
"Kamu mau ke mana? Terus kenapa kamu nangis?"
"Ah?" Tidak, Hanin rasa ini hanya halusinasinya saja. Sebentar Hanin kembali menoleh ke arah ruang rontgen itu tapi seseorang yang tadi ada di sana sudah tidak ada.
"Kamu kenapa?"
"Enggak, mas. Han gak kenapa-kenapa."
"Kamu yakin?"
"Hmmm ..." Hanin mengangguk manja di hadapan Faris.
"Ya udah kita pulang sekarang, mas rasa kamu butuh istirahat."
Hanin berbalik kembali menatap ruang rontgen itu, ia berharap ini hanya ilusinya saja, Alya sudah meninggal dan tidak seharusnya ia berharap Alya kembali hidup. Alya sudah bahagia bersama Raihan di surga.
* * *
Hari ini Terra akan melepas perban di kakinya dan ia harus kembali mengecek bagaimana keadan tulang di pergelangan kakinya. Suster yang mengantar Terra menuju ruang rontgen, Terra sebenarnya menunggu Irgi yang bilang akan ke kamar Terra saat jam makan siang tapi ternyata Irgi tidak muncul.
"Makasih ya, Sus." Terra lalu masuk ke ruang rontgen. Ia mulai diperiksa oleh dokter. Terra memperhatikan dengan baik semua hal yang di jelaskan oleh dokter soal kondisi kakinya.
Hampir satu jam Terra di ruang rontgen, setelah selesai ia meminta pada suster untuk di antarkan ke taman rumah sakit yang ada di lantai dua. Terra bosan harus selalu di kamar, ia ingin menghirup udara segar.
Terra duduk di depan sebuah ruangan, matanya menatap ke arah ruang terbuka yang ada di lantai dua itu. Sesekali ia mengingat hal yang seolah berlalu lalang di kepalanya. Nama Raihan benar-benar menyita perhatian Terra, siapa Raihan dan siapa anak kecil itu.
"Ha?!"
Terra kaget saat mendengar suara itu, ia segera menoleh ke arah suara. Seorang pemuda dengan wajah yang tidak asing bagi Terra sedang berdiri memandanginya. Pemuda itu tampak terkejut dengan keberadaan Terra.
"Eza?" Tanya Terra.
* * *
Irgi benar-benar pusing, apa yang harus ia lakukan saat ini. Dia tidak tahu harus memposisikan dirinya di mana. Jika ia berkata jujur pada Terra maka ia harus merelakan perasaannya pada Terra tapi jika ia tidak jujur pada Terra maka Irgi yakin suatu hari nanti Terra akan membencinya karena menyembunyikan fakta yang Irgi ketahui.
"Ya Tuhan, apa yang mesti aku lakuin." Irgi meraup wajahnya kasar.
"Kamu harus tetap diam Gi."
Itu suara Frea, sejak kapan Frea ada di sini pikir Irgi.
"Fre,"
"Aku denger semua percakapan kamu sama Rissa tadi, ingat Gi, jangan sekalipun kamu berani bongkar semuanya di depan Terra."
"Terra berhak tahu Fre kalo dia masih punya keluarga, punya saudara kembar dan keponakan, yang aku yakin sangat Terra sayangi."
"Enggak, Gi. Enggak! Kalo kamu kasih tahu itu semua ke Terra terus gimana perasaan aku Gi? Aku yang udah berjuang buat dapetin cinta Eza, siang dan malam aku selalu ada buat dia. Kamu mau Terra tahu siapa dia sebenarnya dan kembali menginjak-nginjak harga diri aku kaya dulu lagi? Enggak Gi!" Emosi Frea sudah benar-benar di puncak.
Frea tidak akan membiarkan semuanya kembali seperti dulu, Alya kembali menjadi kepercayaan keluarga Rahardian, menjadi orang yang punya andil penting atas perusahaan dan saat itu terjadi mungkin Frea akan kembali menjadi seekor kutu di antara singa-singa buas. Lalu dengan mudahnya Alya akan menendangnya jauh-jauh.
* * *
"Jadi bener elo masih hidup," gumam Rissa tak jelas di hadapan Terra. Lutut Rissa seolah hendak copot, jantungnya berdegup kencang seolah tak oercaya melihat Alya ada di hadapannya sekarang. namun untungnya Rissa bisa menyembunyikannya.
"Maksud kamu? Oh, atau jangan-jangan kamu juga mikir kalo aku itu mantan pasangannya Eza? Aku juga gak tahu, aku gak kenal dia tapi semua orang bilang kalo aku mirip mantan pasangan Eza yang udah meninggal, aku rasa arwah mantan pasangan Eza gak tenang, dia pasti mau hantuin salah satu dari kalian yang pernah nyakitin mantan pasangan Eza. Dan dia reinkarnasi di tubuh aku yang mau mati dulu?"
Rissa sedikit merinding mendengarnya, Rissa bukan lagi menyakiti malah dia pernah mencoba untuk membunuh Alya.
"Gue saudara kembar Eza." Rissa menjelaskan pada Terra perlahan.
"Aku baru tahu kalo Eza punya kembaran. Aku teman sepupunya Frea tunangannya Eza, Terra." Terra menjabat tangan Rissa.
Rissa mengernyitkan alisnya, jadi benar yang dikatakan oleh Eza, Alya diberikan identitas yang lain sementara ia kehilangan ingatannya.
"Ngomong-ngomong, ngapain kamu di sini?"
Rissa sedikit merasa aneh saat melihat Alya terdengar sedikit lebih manusiawi saat bertanya.
"Ah, Eza sakit dia di rawat di rumah sakit ini."
"Sakit apa?" Respon yang tidak pernah Rissa sangka.
"Elo mau kalo gue ajak ketemu sama dia?"
Terra tampak berpikir sebentar tapi sekian detik kemudian ia mengangguk.
Dengan hati-hati Rissa membantu Terra untuk menggunakan tongkat penyangganya. Mereka berdua kemudian berjalan menuju kamar rawat Eza.
* * *
"Gue tunggu di luar, Elo masuk sendiri aja." Begitu sampai di depan ruangan Eza, Rissa segera membukakan pintu untuk Terra agar bisa masuk ke dalam.
Terra berjalan perlahan, ia melihat Eza yang sedang terbaring di ranjang dengan jarum infus terpasang di lengannya.
Terra menarik kursi yang ada di samping ranjang, ia menyenderkan kedua tongkatnya di samping ranjang lalu duduk di kursi itu. Terra membenarkan sedikit selimut yang menutupi Eza.
"Sa-sayang ..." suara serak dari Eza tiba-tiba terdengar. "Jangan pergi, aku mohon Al." Tiba-tiba tangan Terra digenggam oleh Eza begitu eratnya. "Jangan pergi, aku mohon maafin aku. Aku bener-bener mau minta maaf atas semua yang aku lakuin ke kamu." Mata Eza terbuka, ia kini menoleh ke arah Terra. Eza terus menatap Terra saat mengucapkan hal itu. Entah mengapa Terra merasakan sakit yang luar biasa saat mendengar hal itu. "Jawab, Al. Aku mohon."
Tangan kiri Terra meremas bajunya, ia merasakan perasaanya yang begitu sakit, kenapa saat ini ia harus terjebak di situasi seperti ini.
"Kenapa kamu cuma diem?" Tanya Eza dengan suara serak.
"Lepasin!" Frea membanting jemari Terra yang masih ada di genggaman Eza. Tiba-tiba Frea sudah ada di kamar Eza. Terra benar-benar terkejut.
"Frea!" Kini Rissa yang berteriak memanggil nama Frea.
"Diem kamu Sa!" Frea kini kembali menatap Terra dengan tajam. "Kenapa kamu di sini? Kenapa?! Keluar kamu!" Frea mencoba menarik Terra untuk keluar.
"Aku cuma mau jenguk Eza, Fre."
Rissa benar-benar kaget, sikap Alya tidak akan seperti ini apa lagi saat berhadapan dengan Frea.
"Emangnya siapa kamu? Kenapa kamu harus jenguk dia? Kenapa?!"
"Cukup Frea, elo mending keluar sekarang." Rissa menarik lengan Frea untuk keluar dari kamar Eza.
Tangan Frea mengambil tongkat penyangga milik Terra, dengan sengaja Frea memukulkan tongkat itu tepat di kaki Terra yang baru saja di operasi.
"Aargh!"
Eza yang melihat hal itu mencoba bangun dari tempat tidurnya.
"Sakit, Iya, sakit?! Itu gak seberapa sama apa yang udah kamu lakuin ke aku Alya! Setiap malam aku berdoa supaya kamu mati! Supaya kamu pergi dari hidup Eza!"
Eza dan Rissa hanya terdiam saat mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Frea, Frea memanggil Terra dengan nama Alya, bukan Terra lagi.
"CUKUP FRE!" suara itu mengagetkan Frea, Rissa dan Eza.
Saat itu ternyata Irgi juga ada di sana, Irgi seolah mengacuhkan ucapan Frea, ia melangkah masuk dan segera menolong Terra. Irgi melewati Frea dan Rissa yang terdiam.
"Irgi." Panggil Terra lirih. Irgi tidak menjawab, ia segera menggendong Terra dan berjalan keluar dari kamar rawat Eza.