Irgi segera memanggil dokter yang menangani kaki Terra setelah ia sampai di kamar rawat Terra. Irgi sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun pada Terra sampai Terra selesai di periksa oleh dokter.
"Gi," panggil Terra terlebih dahulu tapi sepertinya Irgi tidak menghiraukan.
"Istirahat, aku taruh ponsel kamu di sini kalo kamu butuh apa-apa kamu bisa telfon aku."
Terra benar-benar merasa tidak enak pada Irgi, Terra yakin Irgi marah.
"Maafin aku Gi."
"Istirahat yang cukup, kaki kamu gak bisa banyak digerakin dulu."
"Irgi," Terra mencoba memaksa.
"Terra!"
Terra terdiam saat mendengar Irgi membentaknya. Terra lalu melepaskan tangannya yang saat itu sedang memegangi pergelangan tangan Irgi. Terra tidak pernah melihat Irgi semarah ini padanya.
"Tolong dengerin aku, sekali aja." Pinta Irgi.
Terra benar-benar merasa tidak enak, ia tidak menjawabi ucapan Irgi sama sekali. Pun dengan Irgi tak ada kalimat lagi yang keluar dari mulut Irgi setelah itu, Irgi keluar meninggalkan Terra tanpa menatap Terra lagi.
* * *
"Elo mending balik sekarang Fre." Rissa mencoba untuk tidak melakukan kekerasan pada Frea, selain ia tidak ingin ada keributan lagi, ini di tempat umum jadi Rissa tidak ingin terlihat arogan dengan cara bermain fisik pada Frea.
"Gak Sa!"
"Gue mohon, biarkan keadaan tenang dulu. Perawat juga ngelarang elo masuk sekarang Fre. Percuma elo ada di sini!"
"Kamu pikir aku bisa tenang?!"
"Elo emang gak bisa dibilangin ya, Fre." Kesabaran Rissa mulai habis. "Elo pulang sekarang atau selamanya elo gak bakalan ketemu Eza lagi, lo mau?"
"Kenapa kamu ikut campur urusan aku sama Eza? Harusnya kamu diem karena ini bukan urusan kamu!"
"Ngapain gue ikut campur? Siapa juga yang mau ikut campur, gue cuma peduliin keadaan Eza. Gue pusing gak ada dia di kantor! Jadi elo gak usah ke-pd-an kalo gue bakal ikut campur urusan kalian!"
Frea tak lagi menjawabi ucapan Rissa, tapi ia kini mencoba memaksa masuk ke ruangan Rissa.
"Sialan lo ya!" Teriak Rissa. "Gue panggilin satpam lama-lama, elo mau kalo sampe nyokap gue yang turun tangan? Gue bilang balik Fre, gue yakin Eza pun saat ini gak bakal mau elo ajak bicara." Rissa tidak bisa terus begini akhirnya ia mengambil seribu langkah, ia mencengkram tangan Frea dan menarik Frea menuju lift rumah sakit, lebih baik seperti ini, setidaknya Frea segera pergi dari rumah sakit. Rissa tidak peduli lagi dengan orang-orang yang saat ini sedang memperhatikannya.
* * *
Irgi duduk termenung di kursinya, mungkin sudah saatnya dia menemui Almira dan memberitahu semuanya pada Almira. Terra harus kembali pada keluarganya, biarkan dia yang memilih bagaimana akhirnya nanti.
Irgi segera mengambil ponselnya, ia mencari nomor Almira sebentar dan kemudian menelfonnya. Ia membuat janji dengan Almira untuk bertemu. Untungnya sore ini Almira bisa untuk bertemu, ia mengajak Almira untuk bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Semakin cepat Irgi mempertemukan Amira dengan Terra maka semakin cepat pula ingatan Terra akan kembali dan Irgi harus siap dengan itu semua. Apapun yang terjadi nanti Irgi akan menerimanya dengan lapang d**a.
Setelah selesai menelfon, Irgi menatap jam tangannya, sudah pukul tiga sore tidak terasa, Irgi harus melakukan kunjungan pada pasien, Irgi pun berencana untuk menemui Eza setelah kunjungannya selesai nanti.
* * *
Irgi sudah naik ke lantai di mana Eza di rawat, dari kejauhan Irgi melihat Rissa yang sedang mondar-mandir dengan ponsel di telinganya. Irgi segera mendekat namun ia tak langsung mengajak Rissa berbicara karena Rissa masih mengobrol di ponsel. Irgi duduk di sebuah bangku, kakinya ia lipat, tangannya ia lipat pula di depan d**a. Sejenak ia memejamkan matanya, ia benar-benar merasa lelah hari ini.
"Astaga!"
Irgi membuka matanya saat medengar suara terkejut Rissa.
"Sejak kapan elo di sini?"
Irgi melihat jam di pergelangan tangannya, "10 menit yang lalu mungkin."
"Elo nguping pembicaraan gue?"
Irgi tampak tidak minat untuk membalas celotehan Rissa. "Aku mau lihat Eza, boleh?"
"Elo mau pukulin dia? Atau elo mau kasih dia suntikkan mematikan?" Rissa benar-benar julid.
"Boleh enggak?"
"I-iya, iya masuk." Rissa mempersilahkan Irgi untuk masuk.
Eza tampak duduk di ranjangnya, ia sudah tampak sehat dari sebelumnya.
"Elo,"
Irgi masih diam saja, ia menarik sebuah kursi ke hadapan Eza, ia lalu duduk berhadapan dengan Eza.
"Terra mulai ingat siapa kamu." Ucap Irgi. "Dia bilang, kamu selalu ada di mimpinya. Entah itu cuma khayalan dia atau emang kamu bagian dari masa lalunya-"
"Terra itu Alya, gak mungkin di dunia ini ada tiga orang kembar." Potong Eza pada ucapan Irgi.
"Jangan sakitin dia lagi, jaga dia baik-baik." Irgi mencoba menahan perasaanya, ia harus terlihat tegar ia tidak ingin terlihat rapuh meski hatinya saat ini begitu sakit. "Aku lepasin dia, karena aku yakin kamu bisa bahagiain dia. Atau mungkin lebih dari sekedar bahagia." Irgi lalu beranjak pergi meninggalkan Eza, Irgi tak mau mendengar lagi ucapan dari Eza, semakin ia mendengar ucapan Eza semakin pahit kenyataan yang harus Irgi terima. Jadi lebih baik dia menyudahi percakapannya dengan Eza.
* * *
Terra baru saja menyelesaikan makan malamnya. Seharusnya Irgi sudah datang ke ruangannya, tapi sampai Terra menghabiskan makananya Irgi belum juga datang. Biasanya Irgi menemani Terra makan, sekedar duduk ataupun menyuapi Terra. Terra khawatir jika karena kejadian siang tadi, Irgi berpikir yang tidak-tidak.
Terra mengambil ponselnya yang ia simpan di bawah bantalnya. Terra mengecek ponselnya sebentar berharap ada pesan dari Irgi, tapi ternyata tidak ada. Saat Terra hendak menaruh ponselnya kembali, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Terra kira itu dari Irgi, ternyata itu Eza.
"Halo?" Jawab Terra setelah ia menerima panggilan dari Eza.
Gimana kaki kamu?
Entah kenapa perasaan hangat itu mulai menjalar kembali di tubuh Terra, setelah kejadian tadi siang ia berpikir jika Eza tidak akan mempedulikannya lagi. Tapi ternyata Eza semakin perhatian. "Dokter bilang gak apa-apa, aku cuma harus pake kursi roda dulu. Gimana keadaan kamu?"
Baikkan, besok udah dijinin pulang.
"Oh ..." kenapa Terra merasa kecewa saat mendengar bahwa Eza akan pulang. "Baguslah,"
Hmmm ...
Tak ada percakapan lagi di antara mereka, lama mereka terdiam, sebenarnya ada yang ingin Terra tanyakan. Tapi apa itu boleh Terra tanyakan?
"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Terra ragu.
Tentu,
"Gimana dan di mana kamu ketemu sama Alya?" Terra menggigit bibir bawahnya, itu tanda ia tidak begitu terlalu yakin dengan pertanyaannya pada Eza.
Kamu mau denger ceritanya? Aku ketemu dia waktu kita duduk di bangku sekolah menengah atas.
"Oh ... pasti Alya cantik sekali, sampe kamu bisa tergila-gila sama dia?"
Gak juga tapi, kebaikan hatinya, kelembutan hatinya itu yang bikin aku jatuh hati sama Alya.
"Apa yang paling kamu sukai dari Alya?" Entah kenapa perasaan Terra seolah begitu bahagia mendengar setiap jawaban yang keluar dari mulut Eza.
Cara dia manggil aku, cara dia bermanja sama aku, cara dia sayang ke aku, cara dia perhatian ke aku, cara dia merawat aku, gak cukup kalo aku sebutin satu-satu.
"Terus kenapa kalian pisah?" Terra benar-benar penasaran dengan jawaban dari pertanyaan ini.
Karena rasa cintaku yang begitu dalam sama dia, membuat aku begitu benci sama dia waktu dia bikin satu kesalahan yang sebenarnya itu adalah takdir yang udah Tuhan tentuin. Keegoisan aku ngebuat dia harus pergi.
Terra bisa mendengar kesedihan dari ucapan-ucapan Eza barusan dan anehnya lagi, perasaan Terra pun seolah dicubit setelah mendengar jawaban Eza. "Ya udah, aku rasa ini udah waktunya buat istirahat. Selamat malam." Terra memilih untuk mengakhiri sambungan telfonnya dengan Eza. Ia lalu mematikan ponselnya dan menaruhnya lagi di bawah bantal. "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakuka. Apa yang sebenarnya aku rasain sama Eza sekarang." Terra mengusap wajahnya pelan, ia benar-benar bingung dengan semua keadaan ini.
* * *
Irgi sudah datang terlebih dahulu di sebuah kafe yang ada di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Segelas orange juice ada di hadapannya saat ini. Sejenak Irgi menebar pandang ke sekitarnya, mencari Almira yang mungkin saja tidak melihatnya.
Sepuluh menit sudah berlalu, tapi Almira belum tampak juga. Irgi masih setia menunggu. Kini ia mengambil ponselnya, ia ingin menghubungi Terra dan bilang pada Terra kalau malam ini dirinya tidak bisa ke rumah sakit karena ada urusan tapi sayang nomor Terra sedang sibuk, sampai dua kali Irgi mencoba menelfon tapi tetap sama.
"Sorry, ya. Udah lama nunggu ya?"
Suara itu mengagetkan Irgi yang sedang menatap ponselnya, entah kenapa suara itu begitu mirip dengan suara Terra. "Ah, enggak kok, silahkan." Irgi bisa melihat batapa repotnya seorang Almira, ia menggandeng anak pertamanya dengan anak keduanya yang ia taruh di kereta bayi. "Adek?" Irgi bingung harus memanggil siapa karena Irhi waktu otu lupa tidak bertanya siapa nama anak Almira.
"Jevan." Jawab Almira yang masih sibuk membenarkan posisi anaknya lalu menggeser kursi yang ada di sampingnya untuk kemudian menaruh kereta bayinya.
"Oh, Jevan duduk di sini," Irgi memberi isyarat pada Jevan untuk duduk di sebelahnya. "Jevan mau pesan minum dulu?" Jevan tidak langsung menjawab, ia menatap Papanya terlebih dahulu. Irgi tampak paham dengan isyarat yang diberikan oleh Jevan. "Ra kamu mau pesan apa? Kayaknya anak kamu udah kehausan juga nih."
"Aku air mineral kamu mau apa Je?" Tanya Almira pada Jevan.
"Hot chocolate," jawab Jevan lirih.
Setelah mendengar itu, Irgi segera memesan minuman itu pada pelayan.
"Om Irgi pak dokter loh Je, kamu mau gigimu ompong karena makan dan minum cokelat-cokelat terus? Coba tanya om Irgi kalo gak percaya."
Irgi tersenyum pada Jevan.
"Emang benel om?"
Irgi hanya mengangguk lalu mengacak rambut Jevan.
"Sorry ya, gue bawa anak-anak. Soalnya bapaknya anak-anak lagi di luar kota, terus Nda juga sibuk jagain Nek Na jadi anak-anak gak bisa gue tinggal, ngomong-ngomong ada masalah apa?"
"Gak apa-apa, aku sebenarnya mau ngomong soal saudara kembar kamu."
Almira mengernyitkan alisnya, ada apa lagi pikir Almira.
"Mungkin kamu gak akan percaya, tapi ini kenyataannya. Saudara kembar kamu masih hidup." Jawab Irgi dengan penuh keyakinan.
Almira benar-benar terkejut, jadi Alya benar-benar masih hidup. "Jangan becanda pak dokter."
"Iya, ini serius aku yang temuin dia waktu dia ngalamin kecelakaan pesawat tiga tahun yang lalu. Aku benar-benar gak tahu kalau Terra, maksud aku orang yang aku selametin itu adalah saudara kembar kamu. Awalnya aku gak percaya tapi setelah Rissa ngajak aku buat ketemu kamu, aku mulai percaya kalo dia itu Alya saudara kembar kamu dan Terra punya keluarga. Dan Terra berhak buat kembali ke kalian."
"Bohong kamu Gi!"
"Aku mohon kamu dengarin aku dulu."
"Di mana dia sekarang? Kenapa selama tiga tahun itu Kak Alya gak nyoba nyari kita?" Alby benar-benar tidak percaya. "Nda sampe kaya orang mati, setiap malem dia nangisin Kak Alya, dia selalu ngerasa bersalah atas kematian Kak Alya!" Air mata itu mulai turun di pipi Almira. Kedua kalinya ia menangis karena Alya.
"Dia hilang ingatan, Ra. Maka dari itu dia ganti semua identitasnya dia."
"Di mana dia sekarang Gi?! Aku harus ketemu Kak Alya, aku harus kasih tahu papah." Almira mulai panik.
"Tenang dulu, ingatan Terra belum pulih ya meskipun dia sudah mulai ingat dengan nama Raihan. Dia ada di rumah sakit di mana aku bekerja, kalo kamu mau kamu bisa temuin dia, tapi aku harap kita bisa pelan-pelan buat kembaliin semua ingatannya, aku takut terjadi sesuatu kalo dia terlalu dipaksa untuk mengingat semuanya."
"Dirawat? Dia sakit apa Gi? Kenapa Kak Alya dirawat di rumah sakit?"
"Kamu tenang Ra, dia operasi pergelangan kakinya, hampir dua setengah tahun ini dia harus berjalan dibantu tongkat penyangga."
"Cacat maksud kamu?"
"Bukan, hanya saja ada bagian tulangnya yang memang agak sulit untuk dibenahi, dan itu butuh proses berulang-ulang."
"Syukurlah, cuma itu." Almira merasa lega.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Siapa Raihan dan apa hubungannya sama Eza, tunangan Frea?"
* * *
"Gue jadi kasihan sama si Irgi." Gumam Rissa tak jelas.
"Apa Sa?"
"Eh? E-enggak, gak apa-apa."
Eza menaruh remote tv dan meminta Rissa untuk memberikan buah yang sudah Rissa kupas barusan.
"Sekarang, apa yang bakal elo lakuin?" Sembari menyodorkan buah kupas di piring Rissa juga menyodorkan pertanyaan pada Eza.
"Apa lagi? Gue berjuang lah buat Alya."
"Terus?"
"Apa?"
"Yaelah." Rissa memutar bola matanya malas. "Itu nenek lampir mau elo gimanain? Emang elo udah putus hubungan ama dia? Gue bilangin ya Za, dia itu wanita pshyco, kalo sampe lu salah jalan bukan cuma Aldy yang dalam bahaya tapi juga elo!"
"Gue tahu apa yang mesti gue lakuin."
"Buruan ya elo putusin dia, gue gak mau kalo di kantor ada rapat dewan direksi buat ganti nama kepemilikan saham dari nama Alya ke nama Frea!"
* * *
Eza dan Kak Alya itu, pasangan yang saling melengkapi. Kak Alya tipe orang yang pendiem, ya karena di masa lalu dia anti sosial. Dia hidup benar-benar seperti Putri kerajaan. dia bahkan gak sekolah di sekolah umum, dia home schooling. Ya, Eza butuh waktu lama buat naklukin hati Kak Alya. Aku inget, gimana dia dengan setianya nunggu Kak Alya yang koma karena percobaan pembunuhan atas Kak Alya, padahal waktu itu Kak Alya dibawa ke Belanda buat pengobatan, mungkin kalo bukan beneran cinta Eza udah bisa cari pasangan lain. Tapi nyatanya Eza setia nunggu Kak Alya.
Jangan kira Kak Alya langsung nerima Eza begitu dia balik dari Belanda. Kak Alya ngegantungin Eza selama masa kuliah Eza, tapi karena memang cinta yang ada di hati Eza tulus, itulah yang ngebuat mereka bisa bersatu.
Kak Alya dan Eza itu sama-sama pekerja keras. Dulu Kak Alya bersusah payah nolong keluarga Eza yang hampir bangkrut. Tapi berkat Kak Alya perusahaan properti milik keluarga Eza bisa selamat. Dua tahun mereka hidup bersama sebagai pasangan, tapi Kak Alya ternyata gak bisa kaya aku ataupun Nda yang bisa mengandung seorang anak. Karena Kak Alya gak mau depresi mikirin itu semua. Kak Alya dan Eza putusin buat adopsi anak, mereka kasih nama Raihan. Raihan tumbuh jadi anak yang sehat, meski Kak Alya gak ngurus langsung Raihan, mama Eza yang mengurus Raihan. Eza tidak mempermasalahkan itu, awalnya. Sampai hari itu tiba, Kak Alya telat jemput Raihan dari sekolahnya. Karena hanya tinggal Raihan di dalam kelas jadi guru Raihan bawa Raihan ke depan gerbang sekolah, buat nunggu Kak Alya jemput. Tepat saat itu, Kak Alya keluar dari mobilnya dan genggaman tangan Raihan terlepas dari gurunya, Raihan berlari menghampiri Kak Alya, dan kamu tahu apa? Saat itu sebuah motor dengan kecepatan yang luar biasa kencang, menabrak Raihan sampai Raihan terpental dan tubuhnya sampai tertabrak oleh mobil dari alah berlawanan. Akhirnya nyawa Raihan gak tertolong. Sejak itulah, kebahagian Kak Alya terenggut. Eza menyalahkan kematian Raihan pada Kak Alya. Apartemen yang tadinya rumah terhangat bagi mas Alya dan Eza berubah menjadi neraka. Dan tepat saat itu Frea masuk sebagai orang ke tiga.
Kak Alya udah nyoba sekuat tenaga buat pertahanin hubungannya sama Eza tapi nyatanya Eza lebih memilih buat berpisah dan meninggalkan Kak Alya ke Kanada bersama Frea.
Jujur, mungkin kalo aku yang di posisi Kak Alya saat itu, aku akan bunuh diri. Kehilangan anak, kehilangan pasangan hidup. Tapi aku salut,Kak Alya bisa bertahan dari itu semua. Dia belajar buat nata hidupnya kembali, meski aku tahu luka di hatinya gak akan semudah itu sembuh.
Sampe suatu hari Kak Alya putusin buat ke Makssar dan kecelakaan pesawat itu terjadi.
Irgi merasakan sakit yang luar biasa di hatinya.
Aku rasa aku mulai suka sama dia, Gi.
Aku mohon kamu jangan nunggu aku lagi.
Dan kata-kata itu semakin membuat hati Irgi sakit, tangis Irgi tak bisa dibendung lagi. Irgi menahan rasa sakit hatinya.
"A-aku lepasin kamu Te, A-aku lepasin kamu." Hatinya benar-benar sakit, ia tidak mungkin terus menahan Terra untuk di sisinya, karena ia berhak untuk bersama keluarganya kembali. Tapi ia tidak rela jika Terra kembali mengingat ingatannya maka ia akan mengingat semua rasa sakit yang sudah Eza ciptakan untuknya.
* * *
"Gimana tidur kamu nyenyak?"
Terra kaget saat ia membuka matanya di pagi hari, Eza sudah ada di atas ranjangnya dan memeluk pinggangnya.
"Selamat pagi,"
Wajah bersemu merah Terra tak bisa Terra sembunyikan lagi, saat ini jantungnya benar-benar berdegup kencang. Bagaimana tidak, wajah mereka kini beradu tatap. Terra bisa merasakan hembusan nafas Eza. Terra merasa bahwa suasana seperti ini tak asing baginya.
"Za ..."
"Hmmm ..."
"Kenapa aku deg-degan kaya gini?"
Eza tersenyum lalu semakin mendekatkan wajahnya di hadapan Terra. "Gimana kalo gini?"
Terra tidak bisa menahan perasaannya lagi, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Eza yang melihat itu segera mencoba membuka kedua tangan Terra.
Cup!
Eza mengecup kening Terra lama. Setelah itu Eza memeluk Terra. "Apa kamu denger degup jantung aku Al?"
Tak ada jawaban tapi hanya anggukan yang Terra berikan.
"Jadi?"
"Apa?" Terra mendongak.
"Apa kita bisa memulai semuanya lagi dari awal?"
Terra tampak berpikir sebentar, apa ini tidak terlalu cepat?
"Aku gak bisa kasih jawaban sekarang. Kalo kamu ngerasa aku mirip Alya, aku gak yakin kalo kamu bakal nerima aku apa adanya karena aku juga gak tahu apa aku bener Alya atau bukan. Dan aku gak tahu gimana kalo di saat aku udah sama kamu Alya kamu datang lagi. Dan gak ada jaminan Alya masih sayang kamu dan mau balikan lagi sama kamu atau enggak."
Eza melepas pelukannya, ia lalu memalingkan wajahnya dari Terra.
"Tapi yang aku tahu aku mau nyoba buat sayang sama kamu." Terra memegang lengan Eza.
Irgi mendengar itu semua, bahkan melihat bagimana Eza memeluk Terra saat ini. Apakah ini sakit yang akan Irgi rasakan nanti saat ia benar-benar melepaskan Terra. "Kamu berhak bahagia Te." Irgi mengusap air matanya dan pergi meninggalkan kamar rawat Terra.