Irgi termenung menatap ke arah luar jendela di ruangannya, pikirannya melayang pada kejadian yang ia lihat tadi siang, saat Terra tersenyum, asyik bercanda bersama Eza.
"Mungkin sekarang kamu ingat siapa kamu, tapi aku ngerasa mulai kehilangan kamu." Gumam Irgi, Irgi tahu suatu saat kejadian ini akan terjadi, cepat atau lambat.
* * *
Pagi ini Frea bangun dengan perasaan gelisah. Setelah kejadian pertengkarannya dengan Terra di ruang rawat Eza waktu lalu, Eza belum menghubungi Frea sama sekali.
Setibanya di kantor Frea segera pergi ke ruangan Eza namun Eza tidak ada di ruangannya, Frea yakin Eza pasti ada di rumah sakit. Kemarin Esa memberitahu Frea bahwa Eza sudah pulang, dan jika itu benar maka seharusnya Eza sudah masuk kantor hari ini.
"Masih pagi, udah di sini aja lo."
Frea menoleh saat mendengar suara Rissa yang menyapanya dengan kejudesannya.
"Dia belom masuk, padahal kantor lagi keadaan genting gini." Rissa melanjutkan ucapannya, "ya, mungkin Alya lebih penting daripada perusahaan sampe-sampe dia lupa kalau beberapa proyek lagi macet." Ucapan itu keluar dari mulut Rissa dengan begitu santainya namun bagi Frea jelas itu seperti api yang perlahan menyulut emosinya. Rissa sengaja memancing Frea untuk marah.
Frea mencoba untuk tidak meladeni Rissa, ia berbalik dan hendak pergi meninggalkan Rissa.
"Lo emang gak bisa diandelin kaya Alya." Rissa benar-benar sedang menguji kesabaran Frea, "hah," Rissa berpura-pura menghembuskan nafas kasar, " Aldy bisa ngendiliin hati Eza, Alya bisa jalanin proyek betapapun sulitnya proyek itu dan hebatnya dia adalah satu-satunya orang yang dipercaya bokap gue, sekalipun dia bukan anak kandung seorang Rahardian."
Frea tersenyum licik, matanya benar-benar tidak bisa menyembunyikan emosinya lagi. "Bahkan elo gak bisa jadi kepercayaan ayah elo sendiri, bukankah harusnya elo malu?!"
"Gue gak gila harta, sekalipun gue cuma jadi cadangannya seorang cadangan."
Frea tidak menyangka Rissa akan menjawab petanyaannya dengan santai seperti itu.
"Siapin hati lo Nona, buat semua yang akan terjadi setelah Alya inget semuanya." Rissa menyibakan rambut poni Frea yang sedikit berantakan. "Apa yang pernah lo curi, bakal diambil balik sama sang empunya."
Rissa lalu pergi meninggalkan Frea yang masih menahan amarahnya di tempat, Rissa benar-benar puas melihat Frea tidak berkutik sama sekali.
* * *
"Ayo ganti baju," Eza menyodorkan sepasang pakaian, kaos dan celana pada Terra. "Aku bantuk kamu ke kamar mandi, biar aku washlap-in badan kamu pake sarung tangan."
Terra melotot mendengar hal itu. Apa maksud Eza, pikir Terra. Eza yang melihat ekspresi Terra, kembali berucap. "Tenang saja, aku pernah lihat setiap inci tubuh kamu, bahkan aku hapal bagian mana yang paling kamu suka waktu aku sentuh kamu."
Sial, batin Terra. Ada apa dengan perasaannya kenapa mendengar ucapan itu keluar dari mulut Eza membuatnya merasa tersipu bahkan saat ini kedua pipinya terasa panas.
"Ayo, aku bantu kamu."
"Gak, aku bisa sendiri, sekarang kamu keluar biar aku sendiri yang ganti baju." Saat itu pintu ruangan sedikit terbuka, Terra menoleh dan mendapati Irgi ada di sana. Seketika raut wajahnya berubah, Terra merasa tidak enak pada Irgi. Ia lalu kembali menatap pada Eza. "Keluar gih, biar aku urus sendiri yang semuanya."
Eza merasakan keanehan saat mendengar ucapan Terra barusan, Eza mengikuti arah pandang Terra. Eza sadar ada seseorang di balik pintu, tapi Eza tidak tahu siapa orang itu. Eza kemudian meletakkan baju itu di atas ranjang dan meninggalkan Terra di kamarnya. Begitu ia keluar, Eza menatap punggung Irgi yang berjalan perlahan menjauhi kamar rawat Terra.
* * *
"Dia, dia mulai ingat namanya." Irgi memulai pembicaraan. "Alya Dini Fahreza. Terra atau Alya, nama mana yang harus aku sematkan padanya? Mungkin dia mulai inget semuanya dan perlahan aku mulai kehilangan semuanya." Ucap Irgi penuh kekecewaan pada Eza.
Eza yang mendengar kata-kata itu hanya diam saja, ia membiarkan Irgi meluapkan perasaanya saat ini padanya.
"Aku gak tahu, setelah ini apa yang akan dia hadapi. Gimana kalo dia tahu masa lalunya, gimana kalo dia inget sama semua rasa sakitnya." Irgi tampak putus asa saat menyadari kenyataan yang akan Terra hadapi setelah ingatannya pulih.
"Semuanya akan membaik," ucap Eza, meski dia tahu saat Alya mengingat semuanya, Alya tentu mungkin akan membencinya.
"Gimana bisa semuanya begitu sederhana di pikiran kamu? Gimana semudah itu kamu berpikir soal cinta dan perasaan? Apa? Membaik? Kamu lupa? Kamu ninggalin dia, dan dia, dia hampir mati karena kecelakaan pesawat itu. Kamu, kamu adalah orang yang mendorongnya ke jurang kehancuran! Kamu campakkan dia, setalah kamu mencampakkannya dan dia hampir mati. Kenapa? Selama tiga tahun ini sedikitpun gak ada ingatan tentang kamu di otak Alya. Kenapa, kenapa kamu buat aku jatuh cinta sama dia?! Kenapa setelah semua itu terjadi kamu datang dan bilang semuanya akan membaik? Bahkan karena perasaan aku buat dia, aku merasa tercekik karena perasaanku sendiri, aku merasa hampir gila karena tersiksa." Irgi meluapkan emosinya di hadapan Eza. Matanya yang memerah tak bisa lagi menahan bendungan air di pelupuk matanya. Irgi benar-benar merasakan sakit hati.
"Kalo emang gue sama Alya gak bisa balikan, biar gue mulai semuanya dari awal, sama seperti waktu pertama kali gue ketemu sama Alya. Sekalipun samudera yang harus gue lewati, sekalipun jurang yang dalam ada di depan gue, gue gak akan jadi pengecut lagi, gue gak bakal lari lagi, gue bakal selalu ada buat Alya."
"Apa yang akan kamu mulai dengan Alya? Dia bukan Alya yang dulu, Alya yang dulu sudah mati, Alya yang kamu bilang hidup dan mati kamu itu, dia sudah mati, mati bersama semua rasa cinta yang dulu kamu tinggalkan! Sekarang yang ada di hati dia cuma rasa benci buat kamu!"
"Terserah apa kata elo, gue tahu siapa Alya, gue tahu sebesar apa rasa cintanya buat gue, dia Alya, orang yang dulu bahkan sampai sekarang masih gue cinta."
"Oh ya?" Irgi tersenyum sinis, "mungkin itu dulu, tapi dia bukanlah Alya yang dulu, Alya yang dulu sudah mati dan sekali lagi aku pastikan, dia tidak akan pernah ada di masa depan kamu lagi." Irgi hendak beranjak dari duduknya namun kemudian ucapan Eza menghentikannya.
"Biarkan Alya yang memilih saat ingatannya kembali nanti." Ucap Eza.
"Itu bagus, dan aku rasa setelah dia ingat semuanya, yang akan kamu terima adalah hukuman atas apa yang sudah kamu lakukan selama ini pada Alya."
* * *
Sore itu Terra sudah diperbolehkan pulang, bukan Eza yang membantu Terra untuk membereskan keperluannya yang harus dibawa pulang, tapi Irgi. Irgi membereskan baju Terra dan mulai memasukannya ke dalam tas yang akan mereka bawa pulang.
"Gi," Terra duduk di kursi roda yang akan ia gunakan sementara waktu sampai dia melepas perban di kakinya.
"Hem ..." Irgi hanya menjawab seadanya tanpa menoleh ke arah Terra.
"Aku rasa, aku gak bisa tinggal di rumah kamu lagi."
Ucapan Terra membuat hati Irgi tersentak kaget dan jelas menyakitkan bagi Irgi, tapi cepat atau lambat Terra pasti akan mengatakan hal itu padanya. Irgi menutup tas itu lalu berbalik menatap Terra, ia berjalan sedikit menghampiri Terra, Irgi berjongkok di hadapan Terra wajahnya tepat ada di hadapan Terra. "Kamu tahu? Aku gak akan ngelarang kamu pergi dari rumah aku, tapi setidaknya setelah kaki kamu benar-benar sembuh baru kamu pergi."
"Tapi Gi,"
"Aku mohon." Irgi lalu tersenyum getir pada Terra, jujur untuk tersenyum pun Irgi tidak bisa tapi Irgi pun tidak ingin menunjukkan kesedihannya pada Terra.
* * *
Eza duduk di ruang kerjanya, ia masih menatap dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Ia benar-benar lupa dengan kantor, ia hanya memikirkan Aldy dan Aldy saja.
Tok tok tok!
"Boleh aku masuk?"
Eza menoleh ke arah pintu, di sana Frea berdiri menunggu jawaban dari Eza untuk diperbolehkan masuk.
"Masuk aja." Eza menatap Frea yang berjalan ke arah mejanya, Frea tampak membawakan minuman dan makanan untuk Eza.
"Aku bawain kamu hot coffee sama cake, aku yakin kamu pasti capek sama semua kerjaan kamu."
Eza rasa ini waktu yang tepat untuk memberi tahu Frea yang sebenarnya, ia ingin memebatalkan pernikahannya dengan Frea, mood Frea sedang bagus dan Eza harus memanfaatkannya. "Ada yang mau aku bicarain Fre."
Frea tahu apa yang akan Eza bicarakan tapi Frea tidak akan membiarkan Eza membicarakan hal itu, "minum dulu Za, seenggaknya kopi itu bisa membuat kamu kembali segar."
"Fre,"
"Cake ini, kamu lama banget gak pernah makan cake ini lagi, lagi pula kamu baru sembuh sakit dan kamu gak boleh telat makan."
"Fre, tolong."
Frea berhenti berbicara, ia menatap Eza yang menatapnya seolah dengan tatapan yang memelas padanya tapi tidak, Frea bersumpah tidak akan membiarkan Eza mengatakan kata-kata itu untuk Frea. Tiga tahun bukanlah waktu yang cepat untuk Frea, selama tiga tahun ia menunggu Eza membalas cintanya meskipun hanya ada Alya di hati Eza. "Banyak yang harus kita bicarakan Za, bukan cuma kamu yang perlu bicara tapi aku juga, dan aku rasa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk kita berbicara. Aku sibuk sama semua kerjaan aku, kamu sibuk sama kegiatan kamu dan gak segampang itu kita bicara, kita butuh waktu, dan ketenangan dalam membicarakan semuanya." Eza yang mendengar itu hanya terdiam. "Aku mesti kembali ke ruangan, aku permisi." Frea lalu meninggalakan ruangan Eza tanpa mengatakan apapun lagi.
* * *
Pukul tujuh malam Terra dan Irgi sudah sampai di rumah, Mama Irgi membuatkan makan malam spesial untuk menyambut kepulangan Terra bahkan di meja sudah tersaji semua makanan kesukaan Terra.
"Gi, ada acara apa?" Terra yang baru saja sampai di rumah merasa heran saat melihat ruang makan yang dihias dengan lilin dan ada beberapa balon di pojok ruangan.
"Mama yang bikin, dia bilang mau nyambut kamu pulang." Irgi mendorong kursi roda yang Terra duduki. "Ma?" Irgi berteriak memanggil mamanya.
"Terra," mama Irgi membenahi rambutnya sembari berjalan menghampiri Terra. Ia lalu membungkuk dan memeluk Terra erat. "Gimana kaki kamu? Tante minta maaf karena tante sama sekali gak temenin kamu di rumah sakit, dan sebagai permintaan maaf tante, tante buat makan malam spesial buat kamu."
Terra menatap mama Irgi penuh kesungguhan, ia lalu memegang tangan mama Irgi, Terra merasakan ketulusan dari setiap perkataan yang keluar dari mulut mama Irgi. "Gak apa-apa tante, makasih ya."
"Sekarang kamu ganti baju dulu, habis itu kita makan."
Terra hanya mengangguk, ia menahan tangis di matanya. Bagaimana bisa Terra pergi begitu saja disaat orang yang selama ini merawatnya begitu menyayanginya, begitu mengkhawatirkannya. Begitu sampai di kamarnya, Irgi segera mengambilkan baju untuk Terra dan meninggalkannya sendiri. Seketika tangis itu pecah, Terra tersedu menangis, bagaimana jika ia benar-benar pergi dari rumah ini, apakah ia tidak melukai perasaan Irgi dan mama Irgi, belum lagi janji, janji yang pernah Terra ucapakan pada mama Irgi, bahwa Terra tidak akan meninggalkan Irgi sekalipun ia sudah mengingat semuanya. "Maafin Terra tante, maafin Terra."
Irgi meremas kenop pintu yang belum sempat ia tarik, ia mendengar tangisan Terra yang terisak, ia tahu saat ini bagaimana perasaan Terra, Irgi tidak ingin egois, ia akan melepaskan Terra tapi tidak semudah itu jika Eza ingin kembali pada Terra.
* * *
Terra perlahan menyuapkan makananya ke mulut, semuanya benar-benar terasa lezat. Setiap suapan dan senyum yang terukir di bibir mama Irgi membuat Terra semakin merasa bersalah, bagaimana kalau mama Irgi mendengar keputusan Terra untuk keluar dari rumahnya.
"Tante rasa, setelah kamu sembuh total kamu bisa memikirkan hubungan kamu sama Irgi, Te. Apa kalian gak mau melangkah ke arah yang lebih serius?"
Irgi tersedak saat mendengar ucapan mamanya, "uhuk,"
"Minum Gi," Terra menyodorkan air putih pada Irgi.
"Kamu gak apa-apa kan Gi?"
"Enggak ma,"
"Syukurlah, makanya kalo makan jangan buru-buru. Jadi gimana, Te?"
"Eh?" Terra menoleh menatap Irgi tidak tahu harus menjawab apa.
"Ma, jangan bahas ini sekarang, Terra baru pulang dari rumah sakit dan kita gak tahu kapan dia bisa sembuh total dan lepas dari kursi roda, sekarang lebih baik kita fokus sama kesembuhan Terra."
Mama Irgi tampak kecewa mendengar jawaban Irgi tapi ia tidak akan memaksakan kehendaknya. "Iya, mama ikut kalian, yang penting kalian selalu bahagia mama pasti bahagia."
Terra kembali merasa bersalah, jika setiap hari ia dihadapkan dengan keadaan seperti ini bisa-bisa dia gila.
Saat mereka sedang menikmati makan malam, bel rumah terdengar, Mama Irgi segera beranjak dari duduknya, ia membukakan pintu untuk tamu yang datang ke rumahnya.
* * *
Makan malam baru saja selesai, kini Terra sedang duduk di balkon lantai dua rumah Irgi. Di hadapan Terra ada Frea yang berdiri menatapnya tajam.
Ya, orang yang bertamu tadi adalah Frea, Frea pergi ke rumah sakit untuk menemui Terra tapi sayang Terra sudah pulang, jadi Frea segera menyusul ke rumah Irgi.
Frea melipat kedua tangannya di depan d**a, ia menatap Terra penuh kemarahan.
"Gue kira kaki elo bakal patah, harusnya kemarin gue pukul kaki lo lebih keras lagi."
"Kenapa kamu lakuin itu?"
"Karena itu elo!" Frea menunjuk penuh emosi pada Terra.
"Aku? Memangnya siapa aku sampai kamu sebegitu bencinya sama aku? Apa yang udah aku lakuin ke kamu di masa lalu?"
Frea terdiam, ia menahan kekesalannya saat ini. "Harusnya Irgi dulu gak nolongin elo, harusnya elo mati di makan binatang buas, mungkin itu cara mati yang bagus buat seseorang yang hidupnya seperti binatang,"
"Apa? Siapa yang kamu maksud? Apa sampai kematianku yang kamu inginkan Fre? Setalah aku ingat semuanya, kita harus bicara."
"Gue tunggu waktu itu tiba, dan sekarang gue cuma mau ingetin elo, jangan melewati batas!"
"Batas?"
Frea mengangangkat jemarinya di hadapan Terra, Frea memarkan cincin yang terpasang di jemari manisnya. "Kamu tahu ini apa Te? Ini cincin yang Eza sematkan buat aku, dan kamu tahu ini artinya apa? Artinya kami sudah ada dalam satu ikatan, ikatan pertunangan. Jadi apa pantas kamu peluk dia?"
"Apa maksud kamu?"
"Kamu pikir aku gak lihat apa yang kalian lakuin di rumah sakit? Kalian berbagi earphone, kalian duduk berdua di taman rumah sakit seolah dunia milik kalian berdua!" Plak! Frea tiba-tiba menampar Terra. "Kamu anggap aku ini apa Te? Kamu anggap perasaan sepupu aku, Irgi ke kamu itu apa Te? Kamu mau permainin hati Irgi? Kamu mau kasih dia harapan palsu?!" Suara Frea mulai meninggi.
Terra masih menunduk, ia memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Frea. "Aku bahagia waktu dia ada di deket aku, aku merasa nyaman saat dia senyum buat aku, aku ngerasa gundah setiap kali dia gak dateng buat nyari aku."
"Apa? Gundah? Siapa kamu Te sampai harus merasa gundah?!"
"Aku mengatakan apa yang aku rasakan saat aku bersama Eza, aku gak bisa bohongin perasaan aku lagi Fre,"
Frea tersentak kaget mendengar jawaban yang keluar dari mulut Terra. "Jadi? Kamu mau bilang kamu akan tetap menyimpan perasaan itu sama Eza? Kenapa kamu lakuin itu, padahal kamu tahu dia tunangan aku! CALON SUAMI AKU! Berhenti! buang semua perasaan yang kamu simpan buat Eza, kamu gak akan pernah tahu apa yang bakal aku lakuin ke kamu kalo kamu masih nekat simpan perasaan itu buat Eza, mungkin aku akan buang kamu ke api neraka sampai Eza gak akan cium bau kamu sedikit pun." Frea benar-benar sudah emosi, dia tidak bisa menahannya lagi. "Harusnya kamu sadar, kamu hanya dimanfaatkan oleh Eza, dia sedang bingung, dia merasa kalo kamu itu adalah mantan kelasihnya dulu! Jadi jangan pernah kamu anggap serius apa yang Eza lakukan ke kamu!"
"Entahlah, tapi yang jelas aku merasa bahagia saat bersamanya. Dan kamu, kamu tenang aja, aku bisa mengurus perasaanku sendiri, aku tahu apa yang harus aku lakukan dengan perasaanku ini. Yang perlu kamu lakukan adalah jaga dia baik-baik, bukan dari aku, tapi dari masa lalunya, masalah kamu sekarang adalah antara kamu sama semua kenangan di antara Eza dan mantan kekasihnya itu-!"
"Diam!" Lagi, Frea menampar Terra dengan tangannya begitu kencang. "Aku bersumpah, sampai aku mati aku gak akan lepasin Eza buat kamu, setiap hari aku selalu berdoa, berharap malaikat kematian mencabut nyawa kamu, menjauhkan kamu dari kehidupan aku. Selama kamu masih hidup, aku gak akan pernah bisa tenang!"
"Fre,"
"Banyak hal yang akan terjadi setelah ini, aku bakal nunggu waktu yang tepat buat lakuin itu semua ke kamu.!"