Dua garis biru terpampang di sana, hampir dua minggu Ana telat datang bulan. Tanpa memberitahu Eza, Ana pergi ke apotik untuk membeli testpack. "Hamil." Ana memegangi perutnya, entah harus bagaimana ia menyikapinya. "An, sayang ..." Di luar kamar mandi, Eza mengetuk pintu kamar mandi. "Kamu masih lama sayang?" Testpack di tangan Ana terjatuh, ia benar-benar merasa panik. Ia mengusap wajahnya gusar. Ia berjalan mondar-mandir di kamar mandi. Ia menggigiti kuku jempolnya, perasaannya tidak menentu. "Sayang, kamu masih lama? ayo kita turun sarapan." Eza kembali mengetuk pintu kamar mandi, namun sayangnya tidak ada jawaban. "An? Kamu gak apa-apa, kan?" "I-iya, mas, sebentar." * * * Di meja makan Ana sama sekali tidak menikmati sarapannya, pikirannya melayang memikirkan ken

