Alya masih menggenggam ponselnya, ia masih terkejut dengan apa yang Eza katakan tadi. Merelakan? Melupakan? Seharusnya Alya senang tapi kenapa Alya merasa kecewa. Alya meletakkan ponselnya, ia mencoba memejamkan matanya, tapi bayangan saat tadi siang ia berada di dalam pelukkan Eza tiba-tiba muncul begitu saja. Perusahaan kita, uang kita, saham kita. Kata-kata itu pun terngiang jelas di telinga Alya. Kenapa dirinya harus mengucapkan kata-kata itu, kenapa dirinya tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri. Mungkin saja saat ini Eza sedang berpikir bahwa Alya masih menyimpan rasa, walaupun kenyataannya memang begitu. Tiba-tiba suara dering ponsel Aldy terdengar, Alya mengambil ponselnya, nama Frea terpampang di layar ponsel Alya. Dengan ragu Alya mengangkatnya. * * * Eza menatapi

