'Bisakah aku bertemu dengamu, malam ini saja. Aku merindukanmu.' 'Aku baru saja terbangun dari mimpiku, menatap satu bintang di langit dari jendela kamar. Kenapa bintang itu redup?' 'Aku teringat, saat orang meninggal maka dia akan menjadi satu bintang di langit.' 'Apa itu kamu, Al?' Seolah tertembak satu peluru kemudian bersarang tepat di jantung, tak lepas. Menyakitkan. Tak bisa lagi merasakan rasa sakit, mati rasa, katanya. Hanya bisa tertawa, tawa yang mengejek sebuah takdir yang sudah terjadi. Tertawa sampai dia terjatuh dan kembali meneteskan air mata di tengah tawanya. Andaikan bisa bertanya, mungkin Eza akan bertanya. Kenapa ia harus berpisah? Kenapa ia harus melepaskan Alya untuk selama-lamanya? Kenapa Alya memilih untuk pergi bukan untuk berjuang? Kenapa? Di dalam relung h

