18

1226 Kata
Eza menatap Rissa tidak suka, tangannya masih menahan lengan Rissa yang hendak menampar Ana. "Sa, tolong." Dengan lembut Eza memohon pada adik kembarnya itu. Rissa menarik tangannya, dengan masih menatap tajam pada Ana, Rissa berlalu meninggalkan Ana. * * * Meski Rissa sempat mmebenci Eza karena meninggalkan perempuan sebaik Alya, namun ia juga tak mau melihat Eza harus kembali berurusan dengan perempuan seperti Frea. Bagi Rissa, Ana tidak ada bedanya dengan Frea. Wanita ular yang dulu merebut Eza dari Alya bahkan menghancurkan hidup Eza. Membuat Eza harus melepaskan Alya yang sudah hidup bertahun-tahun bersama Eza. Semuanya tampak begitu sama, Frea yang hanya seorang sekertaris, perlahan tapi pasti merebut hati Eza dan membuat Eza berpaling. Membuat Eza mau memberikan separuh hartanya pada Frea. Andai dulu Alya tidak menolong Eza, melepaskan Eza dari jerat Frea, mungkin sekarang keluarga Rissa sudah jatuh miskin. Sekarang Ana, Ana pun sama. Ana memanfaatkan kedekatannya dengan Eza untuk mendapatkan sebuah kunci menuju pintu yang akan mengangkat kehidupannya. Melepaskannya dari jerat kemiskinan. Itu semua memang hanya kesimpulan Rissa, tapi bagi Rissa perempuan seperti Ana memiliki akal bulus dan tujuan hidup yang sama. Mencari pangeran yang mampu membawa mereka menjadi seorang putri di kerajaan. Rissa harus mencari cara agar Ana tidak betah dan memilih untuk resign dari kantornya. Rissa menekan tombol interkom di atas mejanya, ia menghubungi sekertarisnya, Nina. "Nina, tolong ke ruangan saya." Rissa harus mencari tau dari mana asalnya Ana. Setidaknya Rissa bisa mendapatkan satu celah agar Ana bisa menjauh dari Eza. * * * Ana memasukkan kedua tangannya ke saku blazer yang ia kenakan. Ana dan Eza sedang berada di tangga darurat, tempat di mana Ana biasanya beristirahat, menikmati kopi instan yang ia ambil di pantry kantor. Mereka berdua berdiri, menatap lurus ke arah depan. Dari sebuah jendela besar yang terpasang di lantai tangga darurat itu. Sinar matahari pagi menembus ruangan itu. Ana mendongakan wajahnya, menikmati sinar matahari yang secara tidak langsung mengenai wajahnya. Sesekali ia menghirup nafas dalam-dalam, meembuskannya perlahan. "Kamu tidak apa-apa?" Eza memulai pembicaraan, tanpa menoleh pada Ana, ia bertanya. "Hmmm ..." Mendengar jawaban Ana, Eza menoleh pada Ana. Tepat saat itu, mata Eza menatap wajah Ana. Kulitnya yang putih, hidungnya yang tidak terlalu mancung dan tahi lalat di bawah mata sebelah kirinya, tiba-tiba semuanya tampak begitu indah. Mendebarkan hati Eza. Rasa ingin melindungi itu kian muncul dalam diri Eza. Menatap wajah Ana membuat rasa iba akan kemalangan Ana seolah tampak begitu nyata. "Saya pernah melewati yang lebih dari ini, Pak." Ana menoleh pada Eza, senyum tersungging di bibir Ana. Tatapan mereka berdua saling bertemu. Debar jantung yang kian tak menentu, terasa oleh keduanya. Wajah Eza tampak begitu menawan, Ana merasakan hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan yang membuat Ana merasa nyaman dan tidak menentu. Pun dengan Eza, untuk pertama kalinya ia melihat senyum Ana. Meski cara berpakaian Ana tak pernah serapi para gadis lainnya yang bekerja di kantor ini, rambutnya yang tidak pernah Ana rapikan, tapi bagi Eza Ana memiliki wajah yang cantik. "Ditendang, dipukuli, bahkan ditusuk, bukankah bapak menyaksikannya sendiri?" Ana kembali berucap. Eza tersenyum sebelum menjawab ucapan Ana, "Rissa orang yang baik, saya yakin dia juga akan bersikap baik setelah mengenal kamu lebih dekat." Ana teringat akan cerita Irgi, Rissa memang orang yang baik. Bahkan Rissa juga sempat membantu Alya untuk kembali pada Eza. "Untuk apa bu Rissa harus mengenal saya lebih dekat?" Melibatkan perasaan dengan Eza, rasanya adalah hal yang mustahil. Bagi Ana keadaannya sekarang adalah seperti langit dan bumi. Jika Ana sampai berharap akan hubungannya bersama Eza, maka Ana layaknya manusia yang tidak punya rasa malu. Harusnya Ana membalas hutang budi pada Eza. Meski Ana tak pernah ingin memiliki hutang budi pada orang lain, namun ini semua ia lakukan demi Maria. Demi kehidupan Maria. "Hari ini saya meminta Irgi dan mamahnya untuk membawa Maria ke dokter yang saya rekomendasikan." Eza mengalihkan pembicaraan, ia tau untuk saat ini ia tidak mau membicarakan hal lainnya. "Iya, Maria menelfon saya tadi pagi." "Soal tempat tinggal, apa tidak sebaiknya kamu tinggal di apartemen saya?" Bagi Ana hidup dalam sebuah kehimpitan justru membuat Ana menjadi seorang yang tangguh. Daripada Ana harus hidup dengan bantuan Eza. "Bukan saya menolak bantuan bapak, tapi untuk saat ini saya harus tinggal di kontrakan itu terlebih dahulu." "Kenapa?" "Agar saya bisa mendapatkan pendonor untuk Maria." Ana tersenyum, senyum yang membuat Eza bingung. "Maksud kamu, Ayah Maria?" * * * "Sial!" Hendra membanting sebuah kursi hingga kaki kursi itu patah. Kacir yang ia suruh untuk mencari keberadaan Ana sama sekali tidak mendapatkan emosi sama sekali. Sejak kejadian pemukulan di apartemen, Hendra belum bertemu lagi dengan Ana. "Bang, sabar, Bang!" Kacir mencoba menenangkan Hendra. "Gimana gue mau tenang, duit gue habis, si mucikari tua itu makin hari makin memuakkan. Belum lagi soal pisau, gue belum bisa mendapatkan pisau itu!" "Bang, kalau memang pisau itu ada di tangan mereka, abang pasti sudah diseret ke kantor polisi, bang." Brak! Seseorang dari luar pintu mendobrak pintu dengan kerasnya. Dua orang bertubuh tegap, tinggi besar, dengan model potongan rambut yang cepak berjalan masuk. Wajahnya yang begitu suram mendekat pada Kacir dan Hendra yang masih diam berdiri karena mereka masih terkejut. "Hendra!" Salah seorang laki-laki dengan tato di tangan kanannya itu mendekat pada Hendra. "Lu yang namanya Hendra?" Tangan lelaki itu mencengkram kerah baju Hendra. "Gue, kenapa?!" Hendra sama sekali tak gentar dengan laki-laki bertato itu. "Ikut!" Laki-laki itu menarik Hendra begitu saja. Hendra tak mau menuruti laki-laki itu, Hendra sama sekali tak pernah melihat kedua orang itu. "Gue gak kenal kalian, kenapa gue mesti ikut kalian?" "Ikut! Sekarang!" Bug! Satu pukulan melayang di perut Hendra. "Bang, bang Hendra!" Kacir mencoba menolong Hendra, namun satu orang lagi memegangi Kacir. "Diam!" Lelaki lainnya membentak Kacir untuk diam dan tidak menolong Hendra. "Lu mau ikut atau gue perlu buat lu babak belur?" Hendra sudah tersungkur di lantai, darah segar dari sudut bibirnya mengalir keluar. "b*****t!" Hendra masih sanggup untuk mengumpat. Bug! Satu pukulan kembali melayang di wajah Hendra, kali ini lukulan itu menumbangkan Hendra. Hendra tak sadarkan diri. * * * "Bagaimana?" Eza sedang menghubungi orang yang ia suruh untuk memcari Hendra. ".........." "Bagus, masukkan dia ke tempat yang sudah saya beri tau." Sambungan telfon terputus, Eza memasukkan kembali ponsel miliknya. Ternyata tidak butuh wkatu lama untuk menemukan Hendra. Bahkan Hendra belum semoat menemui Ana, dengan begini Eza akan lebih mudah membuat Hendra setuju untuk melakukan donor sumsum tulang belakang pada Maria tanpa membuat Ana curiga kalau Eza lembali membantunya. Eza berjalan menuju lemari besinya, memutar sebentar pengunci di lemari besi itu. Ia membuka lemari besi itu, menatap sesuatu yang ia temukan malam itu. "Anda tidak akan bisa berkutik Bapak Hendra." * * * Setelah pulang dari rumah sakit, Maria hanya terdiam. Mendegar ucaoan dari dokter tadi membuat Maria merasa bahwa kesempatan untuk ia bisa hidup dengan umur yang panjanga hanyalah harapan belaka. Apalagi soal calon pendonor sumsum tulang belakang Maria, Maria tak yakin jika ayahnya akan mau melakukan operasi pendonoran itu.  Jika harus menunggu adanya donor dari orang lain, kemungkinannya kecil dan juga lama. Jika Maria meminta pada Ana untuk melakukan operasi itu, Maria rasa itu tak pantas. Mengingat selama ini Maria sering merepotkan Ana. Bukan merepotkan lagi, bahkan Ana sepertinya tak pernah memikirkan kehidupannya sendiri. Ana juatru selalu menomorsatukan Maria dalam hidup ana sendiri. "Maria, apa yang sedang kamu pikirkan?" Mamah Irgi bertanya pada Maria.. "Memikirkan hal, saat aku sembuh nanti apa yang akan aku lakukan di masa depan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN