19

1128 Kata
Jalanan tampak begitu sepi, sepulang dari kantor Eza langsung menemui orang yang ia suruh untuk mencari Hendra. Setelah menerima laporan bahwa Hendra sudah ditemukan, Eza langsung memberi perintah agar Hendra dibawa ke satu tempat yang sudah sengaja Eza sediakan. Sebuah gudang tua yang jauh dari pemukiman Eza jadikan untuk menahan Hendra. Untuk pertama kalinya dalam hidup Eza, ia harus berurusan dengan seorang preman dengan riwayat kriminalitas yang tak bisa dianggap enteng. Mobil Eza sampai di depan gudang tua itu, sesekali mata Eza meneliti ke sekitar, memastikan tak ada manusia lain di sana. "Bos," Seorang laki-laki dengan tatto khas di lengan kanannya mendekati Eza. Laki-laki itu adalah salah satu anak buah dari detektif yang Eza sewa. "Bagaimana?" "Aman bos," Eza melangkah masuk ke gudang tua itu. Hendra duduk di sebuah kursi dengan badan yang terikat kuat oleh tali. Hendra tersenyum jahat, tebakan Hendra ternyata benar. Orang yang mengintainya adalah orang yang sama saat Hendra menusuk Ana, yaitu Eza. "Akhirnya kita bertemu." "Apa yang membuat anda menunggu saya?" Eza menyeret kursi kayu dan duduk berhadapan langsung dengan Hendra. "Heh,"  Hendra tersenyum licik. "Apa yang menarik dari seorang Ana? Apa dia sudah menjual diri pada anda? Bagaimana rasanya?" Eza kembali berdiri, ia mendekat pada Hendra. Tangannya memijat pundak Hendra pelan, sebelum memberikan pukulan keras pada wajah Hendra. Bug! Satu pukulan melayang di pipi kanan Hendra. "Kalo gue jual dia ke elu, pasti elu berani bayar lebih mahal dibanding Si nenek peot Tini itu." Tak habis pikir, Eza benar-benar tidak paham dengan ucapan Hendra barusan. Menjual anak untuk dijadikan p*****r justru membuat bangga, bahkan Hendra mampu melelang anaknya demi uang. Bahkan seekor binatang pun mau untuk menjaga anaknya, bukan malah memberikan anaknya pada pemangsa dan pemburu. "Saya punya kesepakatan yang bagus untuk anda." Tanpa berbelit-belit lagi, Eza mengeluarkan sebuah koper berisi uang cash. "Seratus juta." Hendra kembali tertawa mengejek. " untuk seorang pemilik perusahaan besar seperti anda, seharusnya anda bisa memberikan lebih." Eza mengangguk, ia mengambil beberapa ikat uang pecahan seratus ribu itu. "Delapan puluh lima juta." Bukannya menambah nominal, Eza justru mengurangi nominal uang itu. Hendra tampaknya tidak tertarik dengan permainan Eza. Jika pun ia menolak, ia pasti akan mendapatkan uang yang jumlahnya lebih dari itu. Tak ada pilihan lain, Eza mengeluarkan pisau yang maish berlumuran darah yang ia masukan ke dalam sbeuah plastik. Hendra tampak negitu kaget saat melihat barang selama ini ia cari. * * * Ana berjalan di bawah temaramnya lampu, memikirkan keadaan Maria sekarang ini. Tak pernah sekalipun Ana berpisah dari Maria. Untuk pertama kalinya, Ana terlepas dari Maria. Ana pikir perasaannya akan lega, namun sebaliknya. Ana justru merasa kehilangan separuh hidupnya. Setiap kali ia makan, saat ada Maria, Ana akan membaginya menjadi dua. Mungkin lebih banyak milik Maria, Ana merasa kenyang. Tapi kini seporsi nasi bungkus saja tidak bisa Ana habiskan sendiri. Bahkan saat malam datang, Ana yang tidak pernah memakai selimut untuk tidur justru tertidur lelap saat selimut itu dipakai oleh Maria. Tapi, kini saat selimut itu menutupi tubuh Ana, Ana justru tidak bisa memejamkan matanya dengan mudah. Tanpa ikatan darah, nyatanya rasa sayang Ana pada Maria tak bisa dibandingkan dengan siapapun di dunia ini. Satu-satunya hal yang bisa Ana lakukan untuk Maria adalah membantu operasi Maria untuk melakukan donor sumsum tulang belakang itu. Meski Ana harus berhutang materi dan berhutang budi pada Eza, mungkin dengan kesembuhan Maria, ibu angkatnya akan bangga dan tersenyum dengan apa yang sudah Ana lakukan untuk Maria, anak kandung dari ibu angkat Maria. Pintu kontrakan terbuka, gembok yang ia pasang sudah lepas dari tempatnya. Ana menghirup nafas dalam-dalam. Ana sudah bisa menebak siapa yang ada di dalam kontrakannya itu. "Masih penasaran dengan pisau yang anda gunakan untuk menusuk saya?" Begitu masuk Ana segera bertanya. Ia menyalakan lampu, seornag laki-laki sudah duduk bersilah di sana, membelakangi pintu. Orang yang berbeda, Ana sadar kalau itu bukanlah Hendra. "Bang Kacir," Ana tampak kaget, sudah lama sejak Ana meninggalkan kawasan kumuh tempat tinggalnya dulu, Ana tak pernah sekalipun bertemu dengan anak buah Ayah angkatnya itu. "Baru pulang An?" Ana kembali membuka pintu kontrakannya, ia membiarkan pintunya terbuka sedikit. Bagaimanapun Kacir sekarang sudah dewasa, Ana tidak tau apa yang akan dilakukan Kacir sekarang ini. Apalagi Ana tau kalau Kacir sangat mematuhi perintah ayah angkatnya itu. "Iya, apa Hendra yang menyuruh abang ke sini?"  "Tidak, An. Ayahmu bahkan belum tau kalau kamu kembali ke kontrakan ini." Kacir berbalik, menatap Ana. Ana bisa melihat sebuah plastik kresek hitam Kacir pegang. "Ini, makanan, lo belum makan pasti kan?" "Terimakasih, Ana sudah makan." Ana menolak pemberian dari Kacir, ia mengembalikan bungkusan itu pada Kacir. "Apa yang dilakukan bang Hendra kemarin, sampai dicari oleh orang." "Maksud bang kacir?" Ana mencoba menyembunyikan kejadian penusukan yang dilakukan oleh Hendra padanya. "Soal penusukan, siapa sebenarnya yang Hendra tusuk sampai dicari oleh orang." Siapa orang yang Kacir maksud, pikir Ana. "Apa kamu tidak tau?" "Soal ini?" Ana hanya menggeleng, ia tidak mau Kacir sampai terlibat dengan urusannya dengan Hendra. "Ayah kamu dibawa oleh orang-orang itu, bahkan gua aja gak tau ke mana mereka bawa bang Hendra." Apa ini, siapa yang membawa Hendra pergi? "An, apa kamu tidak merasa lelah hidup seperti ini terus-terusan?" Mungkin Ana akan berhenti hidup seperti ini setelah Maria sembuh dan setelah Hendra mendapatkan ganjatannya atas perbuatannya selama ini. Jika Hendra masih hidup dengan bebas, rasanya Ana tidak akan bisa hidup dengan tenang dan bahagia. "Ana rasa itu bukan urusan bang Kacir." "An, gua bisa nikahin lu, kita bisa hidup bahagia. Gue akan kerja apapun untuk bisa bahagiain lu." Kacir mendekat pada Ana. "Bang ..." Ana berdiri dari posisi duduknya, ia sedikit menjauh dari Kacir. "Ana mau istirahat, silahkan bang Kacir keluar dari sini." Kacir kini mencoba memeluk Ana, namun Ana berontak. Ia mencoba mendorong Kacir namun tenaga Kacir lebih kuat. Plak! Kacir justru menampar Ana, kini ia memagangi tubuh Ana dengan erat. "Kenapa lu tolak gue? Gue mau nyelametin elu dari bang Hendra yang mau jual lu ke mamih Tini." "Lepasin, Bang, Lepasin!" Ana menendang kaki Kacir, Kacir meringis kesakitan, ia kemudian melepaskan cengkramannya pada tubuh Ana. "Keluar, atau Ana akan teriak supaya orang-orang datang ke sini." Kacir sepertinya tidak peduli, ia menerjang tubuh Ana sampai Ana tersungkur ke lantai. Ia menindih tubuh Ana, memegangi kedua tangan Ana di sisi. "Kenapa lo tolak gua? Kenapa?!" "Apa bedanya kalian berdua? Bukankah kalian sama-sama b******n?!" "Memang benar apa yang dikatakan oleh bang Hendra, lo wanita gak tau diri." Plak! Tangan Kacir kembali menampar Ana, kini sudut bibirnya kembali berdarah. Bahkan pergelangan tanag Ana sudah tampak memerah. "Jangan sok suci, bukannya laki-laki kaya raya itu sudah menikmati tubuhmu ini, An?!" Ibu, tolong aku. Aku lebih baik dipukuli berkali-kali daripada harus menyerahkan harga diriku pada laki-laki b*****t selerti suamimu itu. Plak! Kini bagian pipi Ana yang Kacir tampar. "Tolong! Tolong!" Kaki Ana berkali-kali mencoba untuk menendang tubuh Kacir, namun tetap tak bisa. "b*****t!" Bug!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN