Rahayu mencoba bersikap tenang ketika putranya turun dari kamarnya di lantai dua. Meski hampir satu jam menunggu, perempuan paruh baya itu tetap saja tak tega jika langsung mencecar sang putra mengenai berita pernikahan kilatnya dengan seorang gadis tanpa sepengetahuannya. Apalagi belum apa-apa Indira sudah mulai menasehatinya ini itu demi berpihak pada adik satu-satunya. “Astaga jam segini baru melek kamu, Dan?!” cibir Indira yang sudah berpakaian formal, siap berangkat ke rumah sakit. “Capek banget semalam, Mbak. Delay bikin mood berantakan, pusing juga nih kepala.” Dengan sebelah tangan, pria itu memang sedang memijit satu sisi kepalanya yang mendadak terserang migraine. “Sarapan dulu kam—” Rahayu sontak terkesiap dan kehilangan kata-kata ketika Danesh yang ia kira akan duduk di sebe

