Kinanti memeluk bayinya dengan erat, dan membelai kepalanya penuh sayang. Lucu. Bayinya sedang tidur dengan mulut mungilnya yang sedikit terbuka. Tidak bisa dipungkiri lagi, hanya dengan memandanginya, kebahagiaan di dadanya membuncah. Jadi, begini rasanya menjadi seorang Ibu itu? Di bibir Kinanti impulsif terlukis senyum kecil. Namun sekejap kemudian, senyumannya menghilang. Bagaimana—bagaimana jadinya jika ada orang jahat yang memisahkan mereka? Kinanti tak mau kehilangan bayinya, Kinanti tak mau kebahagiannya terampas lagi! Tetapi hal buruk itu benar-benar terjadi. Ada iblis yang masuk ke dalam kamar tidur mereka. Iblis itu datang dengan mata yang berkilat-kilat kejamnya, bagai guntur yang tak segan menggugat bumi. Kinanti merangsek mundur, merapatkan diri ke kepala ranjang

