Tidak biasanya Antara sarapan di rumah. Tetapi pagi ini, dia sudah duduk di kepala kursi makan. Di atas meja itu pula, telah tersaji beberapa jenis makanan; roti, s**u, nasi goreng, buah-buahan, dan lain sebagainya. Ketika Kinanti turun dari undakan tangga, gesture tubuhnya menunjukkan keterkejutan karena matanya menangkap sosok Antara yang berada di sana. Padahal, tadinya Kinanti ingin sarapan dengan tenang. Antara seharusnya pergi seperti yang umumnya pria itu lakukan selama ini. “Tidak mau semeja denganku?” Sial, Kinanti menggerutu dalam hati. Mengapa pria itu tahu ada dirinya tanpa repot-repot mendongakkan wajah? Ini tidak adil, bahwa Antara diciptakan sebegitu waspada, sedang Kinanti amat ceroboh. Kalau Kinanti tahu ada Antara di meja makan, dia tentu akan memilih sarapan di dalam k

