Kinanti menempati rumah yang diwariskan Papanya setelah meninggal dunia. Rumah yang berada di tengah-tengah hamparan kebun teh; luas, berasitektur Belanda, dan rindang sebab dipayungi pohon beringin. Kinanti senang bisa tinggal di sana meski hanya untuk beberapa hari saja. Karena lusa, ia dan kakaknya, Aksara, akan pergi ke Jerman lalu menetap di negara tersebut. “Non, kok enggak istirahat?” Bi Fatma, asisten rumah tangganya menegur saat Kinanti sedang melihat-lihat isi rumah tersebut—berjalan tapi merenung. “Doker bilang Non Kinanti harus bedrest selama seminggu, loh.” “Kinanti sudah sehat, Bi.” Kinanti mengulas senyum kecil yang membuat orang-orang terdekatnya lega—setidaknya gadis itu sudah mulai bangkit dari kesedihan. “Kinanti justru bosan kalau tidur terus di ranjang. Hari ini mau

