bc

Bestfriend X

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
bxg
bold
witty
rebirth/reborn
like
intro-logo
Uraian

Agung sudah mati. Namun tiba-tiba, dia kembali ke lima tahun sebelumnya. Mengira ini hanya mimpi, Agung melakukan kesalahan fatal. Dia menarik Arumi ke pelukan dan menciumnya sepanjang malam. Di pagi hari, dia sadar ini nyata dan Arumi kini sudah ternodai olehnya. Tak peduli akan dibenci, Agung membulatkan tekad. Di kehidupan lalu, sahabat yang diam diam ia cintai terbunuh, dan kali ini, dia akan melindunginya. Menjauhkan Arumi dari predator gila itu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Malam yang Panjang
Agung sudah mati. Hal yang dia ingat terakhir kali adalah rasa sakit di paru-parunya ketika air mulai terhirup ke dalam. Namun dia tak memberontak. Sambil memeluk mayat Arumi yang penuh darah, dia membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kegelapan dan sunyinya dasar lautan. "Hahhahahha ... Lawak banget sumpah. Aduh, gak bisa berhenti ketawa, aku Gung ...." Tiba-tiba, suara tawa itu membawanya kembali sadar. Mata yang meremang, samar-samar mulai melihat dengan jelas. Wanita yang diam-diam dia cintai selama 32 tahun, kini sedang tersenyum dengan indahnya. Mata berbinar dengan sedikit air mata di sudut. Jalannya sempoyongan, lalu melemparkan tubuh ke sofa yang empuk sambil terus terbahak. Tidak ada air. Tubuhnya hangat. Agung celingak-celinguk mengamati tempat mereka berada. Aroma tembakau yang samar menempel, meyakinkan bahwa tempat ini adalah kamar lamanya. "Muka Pak Revan udah merah banget loh tadi ... Si Theo pake berani-beraninya minum banyak padahal ga kuat. Jadi nyembur kan ... dasar penjilat level dewa." Theo? Revan? Nama itu nampaknya pernah muncul beberapa kali dalam kehidupannya dulu. Apa ini kilas balik? Apa ini adalah menit terakhir yang Tuhan ciptakan untuk mengingat momen momen paling bahagia saat hidup? Jika ya, Agung tak ingin menyia-nyiakannya. Dia ingin memandangi wajah berseri itu hingga puas. "Kira-kira Theo masih berani dateng gak ya besok?" Tak bosan Arumi membahasnya. Sementara Agung berkelut dengan pikiran. Melangkah demi selangkah, berhati-hati menghampirinya, seolah takut wanita itu akan menghilang jika dia sembarangan bertingkah. Hingga, tak terasa jarak yang tersisa hanya satu helaan napas. "Bau miras!!" Arumi menutup hidung sambil mengibaskan tangan. "Kamu minum berapa gelas sih tadi? Gak—" Celotehnya terpotong karena Agung tiba-tiba menempelkan kecupan singkat di bibir Arumi. Wanita itu terkejut dan memperbaiki posisi duduknya, sedikit menjauh dari Agung. "Gung? Kamu mabuk ya? Aku pulang kalau gitu." Dia bersikap setenang mungkin. Berusaha berpikir bahwa sahabatnya mungkin sedang tak sadar. Tapi saat kakinya mulai kembali menapak di lantai, Agung menarik tangan wanita itu, memeluk tubuhnya erat. "Jangan pergi!" Suara Agung bergetar. Arumi terpaku. "Hah?" Mata Agung berkaca-kaca. Ini adalah pertama kalinya dia memeluk Arumi dalam keadaan hidup. Sulit dipercaya hingga untuk berkedip pun dia tak berani. Hangatnya pelukan itu makin membuat jantung Agung berdebar. Degupnya terdengar. Sentuhannya makin membuat ia ingin lari dari kematian. Atau mungkin, dia sendiri tak percaya bahwa mereka sudah mati. "Jangan pergi!" "Agung, kamu kenapa, hah?" Ragu-ragu, Arumi membelai lembut kepala Agung. "Mimpi buruk, kah? Tidur juga belum." "Jangan pergi, Arumi." "Ya ini aku kan ga pergi! Tanganmu erat gini. Awas!! Aku pengap!" Arumi memukul bahu Agung tanpa tenaga. Tiba-tiba pria itu justru membalikkan tubuhnya, menindih Arumi sembari menjatuhkan ciuman yang kasar. "Agung!!" Kini pukulannya sedikit bertenaga. Tapi Agung enggan melepas. Kesempatan yang Tuhan beri mungkin akan lenyap. Sensasi nyata dari sentuhan ini mungkin akan menghilang sebentar lagi. Dia takkan membuang waktu. Dia takkan membiarkan perasaannya kembali tak tersampaikan. "Agung! Eling, Gung! Ini aku, Arumi!" Dorongan wanita itu semakin kuat ketika Agung menciumi lehernya, sembari berusaha membuka kardigan yang ia kenakan. Wajah Agung tiba-tiba menjauh. Matanya menyiratkan kerinduan yang tak tertahan. Berkilau seperti orang yang telah lama tak bertemu. "Aku cinta kamu, Rum. Aku sayang kamu. Aku minta maaf aku terlambat. Aku minta maaf ga bisa lindungin kamu. Tapi tenang aja, aku udah balesin dendam kamu. Kita bisa tenang sekarang. Kita bisa bareng lagi di kehidupan setelah kematian." Agung mengaku sambil menangis. Luapan emosi itu membuat d**a Arumi ikut sesak. Meski tak mengerti apa yang sebenarnya Agung bicarakan, raut takut kehilangan yang dia lihat telah sampai kehatinya. Dia? Mereka? Mati? Arumi sudah ketakutan dengan sikap agresif Agung. Apalagi ditambah dengan membahas kematian? Jelas-jelas ia masih hidup, baru saja pulang dari makan malam perusahaan. Sepanjang perjalanan mereka tertawa. Apa yang membuat suasana hatinya tiba-tiba berubah? Pria itu kembali membenamkan kepalanya di leher Arumi. Ciuman yang sejak tadi hanya memaksa, kini mulai lembut dan intens saat Arumi terdiam bingung oleh pengakuan sebelumnya. Erangan protes berubah menjadi desahan kecil yang menggelitik. Desiran aneh mengalir ke ubun ubun. Menjadikan sentuhan yang hanya pelepas rindu, mulai memanas jadi gairah yang tak terbendung. Ditambah oleh pengaruh alkohol, membuat keduanya sama-sama dituntun oleh gejolak nafsu. Melupakan status persahabatannya. Tangan Arumi melingkar di tubuh Agung. Membuat kemejanya terangkat sedikit demi sedikit. Pakaian Arumi juga sudah berantakan. Merosot sampai setengah belahan d**a. Ketika Agung tiba-tiba berhenti, dia nampak ragu untuk melanjutkan dan terlalu takut untuk untuk bertanya. Seakan tahu yang akan dia dengar adalah penolakan. Jadi, kali ini Agung sedikit memaksa adrenalin. Agung membuka kemejanya. Membuat mata Arumi membulat sempurna. Protes tertahan di tenggorokan, karena detik berikutnya Agung sudah menyekap mulut Arumi dengan ciuman. Lumatan demi lumatan menjadi semakin dalam. Lidahnya bergulat dengan ahli, menelusuri setiap sudut di mulut Arumi. Wanita itu terpejam dengan setetes air mata mengalir ke pipinya. Merasakan perasaan campur aduk yang anehnya tak ingin ia hentikan. Tangan Agung mulai bermain lihai. Memainkan p****g Arumi yang kini tanpa penutup. Membuat desahan menjadi erangan dan kaki Arumi menggeliat tak karuan. Agung menurunkan celana jeans Arumi, membuangnya sembarangan. Sementara wanita itu tak sadar dengan keadaan tubuhnya sendiri. Keningnya hanya mengkerut saat merasakan sesuatu tiba di depan k*********a dan menggesek-gesek mencari pintu masuk. Jantungnya berdebar kencang. Seketika kesadarannya terkumpul utuh dan dia melihat Agung seperti sosok yang berbeda. Dia akan diperkosa!! "Agung ... aku gamau." Arumi menggeleng lemah. Dia terlalu lengah karena dimanjakan. Tak sadar bahwa sentuhan fisik selalu menuntut lebih, sedikit demi sedikit hingga mereka lapar dan mendambakan seutuhnya. Tapi suara itu terlalu pelan. Agung masih berkutat bahwa ini hanyalah mimpi yang tak boleh dia sia-siakan. Arumi terbaring tak berdaya di atas sofa dan tubuh itu seakan dipersembahkan untuknya, tanpa perlawanan. Selangkangan Arumi menegang. Kejantanan Agung mencoba menerobos pertahanan terakhir yang sulit ditembus. "Sakit. Agung, sakit ..." lirih Arumi. "Sumpah ini sakit!" Agung menyadari rintihan itu dan kembali mencium bibir Arumi, memanjakan payudaranya. Membuatnya Rileks, meski rasa linu kembali menyergap setiap kejantanan Agung mencoba masuk sedikit demi sedikit. "Ah!" "Arghh!!" Agung turut meremang ketika jepitan itu semakin erat. Membungkusnya dengan sempurna. Hangatnya berada di dalam Arumi membuat pria itu bahagia. Seolah wanita itu tlah jadi milih dia seutuhnya. "Aku sayang kamu, Rumi. Aku sayang kamu." Agung mengecup pipi kiri, pipi kanan, kening dan terakhir mendarat di bibir wanita itu. Senyumnya merekah. Sementara Arumi terlihat habis mengalami perjuangan yang luar biasa. Nyaris terlelap. Agung mulai menggerakkan pinggulnya pelan pelan. Karena dia tak yakin apakah Arumi sudah merasa nyaman. Ketika desahan demi desahan mulai keluar, barulah dia berani menaikan sedikit demi sedikit ritmenya. Wajah Arumi berkeringat. Terlalu lemah untuk membuka mata. Terlalu lemah untuk marah dan meminta penjelasan. Wanita itu hanya pasrah, membiarkan Agung melakukan apa yang dia inginkan. Meski diam diam dia juga menikmati sensasi baru itu. Saat kejantanan Agung tiba-tiba keluar dari miliknya, Arumi merasa lega. k*********a berkedut. Arumi merasa nyaman. Hingga tiba-tiba, Agung berbisik. "Ayo nungging, Rum."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.6K
bc

Kali kedua

read
219.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.2K
bc

TERNODA

read
200.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook