Mungkin Ada Kesempatan

1091 Kata
Arumi terbangun oleh rasa nyeri yang menjalar dari pinggang hingga paha, seolah tulang baru saja diremas tanpa ampun. Ia melenguh pelan, satu tangan refleks meraba sisi tubuh yang terasa pegal. Langit-langit kamar tampak asing beberapa detik, sebelum ingatan tentang semalam menghantam tanpa aba-aba. Mata Arumi membelalak. "Sialan!" Umpatan itu meluncur begitu saja, menjadi pembuka pagi yang jauh dari kata manis. "Agung kesurupan apa sih semalam?" Ia menoleh ke belakang. Di sana, laki-laki penyebab segala kekacauan justru masih terlelap dengan wajah damai. Bahkan ada sisa senyum tipis di sudut bibir, seolah sedang bermimpi indah. "Bisa-bisanya…" gumam Arumi, kesal. Arumi bergerak turun dari ranjang, yang pada akhirnya mengganggu tidur nyenyak Agung. Pria itu menyusul membuka mata. Sorotan cahaya yang samar perlahan mulai terlihat jelas. Bersama bayangan wanita yang tanpa sehelai benang pun. "Arumi?!!" "KAGET!!!" Pria itu terduduk dalam satu gerakan cepat. Membuat Jantung Arumi hampir meloncar dari tempatnya. Buru-buru, wanita itu juga kembali masuk ke dalam selimut, menutupi tubuhnya. "Bisa gak sih biasa aja?!" protesnya sengit. Agung mengucek mata, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Dia tidak mengindahkan wajah kesal wanita itu. Malah menariknya kembali ke pelukan. Degup jantung mereka menyatu. Sama sama berdebar cepat. Yang satu karena senang, yang satu karena kaget. "Kenapa sih?" Tanya Arumi bingung sekaligus dengan nada sinis. "Rumi? ini beneran kamu kan? aku ga lagi mimpi kan?" tanya Agung. "Cubit aku Rum." Arumi tak tunggu lama. Langsung saja dia mencubit bagian tubuh Agung yang paling sensitif. "Aww!" Agung meringis, langsung mengusap d**a. Rasa perih itu nyata. Namun setelahnya, ekspresi Agung berubah menjadi tawa kecil yang hampir histeris. "Berarti bukan mimpi…" gumamnya. "Mimpi apaan? Mimpi basah?" sindir Arumi tajam. "Rum—" Kalimat Agung terhenti. Ingatan semalam menyeruak jelas. Sentuhan, pengakuan, dan keputusan yang diambil tanpa pikir panjang. "Aaaaaaaa!!!" Agung berteriak. Arumi melemparkan bantal ke wajahnya agar dia berhenti. "Yang harusnya teriak itu aku!!" tegasnya. Agung terdiam, wajah memucat. Setelah sadar bahu Arumi terbuka, ia menoleh ke bawah dan langsung menutup bagian tubuh sendiri dengan selimut. "Anu… jadi… semalam kita udah…" "Pakai baju dulu, gih! Malu gondal-gandil begitu," potong Arumi. Wajah Agung makin merah. Mereka saling membelakangi lalu memungut pakaian masing-masing. Saat melihat kain kardigan sobek di bagian lengan, Arumi melirik tajam ke arah Agung. Nyali pria itu ciut seketika. Ia hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk mengenakan celana. Perasaan Agung campur aduk. Saat mata tak sengaja menangkap kalender di dinding bertuliskan tahun 2025, napasnya terasa lega. Di tahun ini Arumi masih hidup. Belum terlalu dekat dengan Daniel. Masih jauh dari bencana. Masih ada waktu untuk memperbaiki segalanya. Namun masalah lain muncul. Ia telah menyentuh batas yang tak seharusnya. Tanpa rencana. Tanpa persiapan. Arumi pasti membencinya sekarang. Apakah masih ada kesempatan untuk tetap berada di sisi perempuan itu? Atau bahkan sekadar berteman? Saat Agung berbalik, Arumi berdiri sambil memeriksa kardigan rusak dengan wajah cemberut. "Rum…" panggilnya hati-hati. "Kamu apain kardiganku sampai sobek begini? Ini mahal, tau. Aku belinya pake gaji pertamaku." Wanita itu malah mengomel hal lain di sela kecemasan Agung. "Nanti kita beli lagi ya. Aku yang bayar." "Yaiyalah kamu yang bayar. Kan kamu yang ngerusak." "Iya, iya. Aku pasti ganti rugi kok." "Sekarang, ya! Aku suka banget edisi ini. Kalau kehabisan stok edisi ini, kuplintir kepalamu!" "Iya, iya, Arumi ..." Agung berusaha menenangkannya. "Tapi sekarang kan ada yang mesti kita bahas dulu." "Bahas apaan?" Arumi memelototinya seolah tak ada yang lebih penting dari ganti rugi kardigan saat ini. "Gausah nunda nunda begitu, ya!!" "Anu. Yang semalam ..." "Halah, kita kan sama sama udah dewasa. Dahlah, yuk kita beli kardigan!" ajaknya. Selesai? Begitu saja? Agung terkejut dengan reaksi Arumi yang jauh dari dugaan. Tak ada tangis, tak ada amarah. Apa karena Arumi tak punya perasaan apapun padanya? Bisakah kesalahan besar itu diabaikan hanya karena mereka sudah sama-sama dewasa? Bagaimanapun ... Agung merasa ini janggal. "Sama ... um ... beli ... pil KB ya .... Soalnya semalam kamu tumpah semua di dalam," bisik Arumi. Bulu kuduk Agung seketika meremang. "Rum!" Suaranya meninggi. Adegan semalam kembali terputar jelas dalam kepala. "Apa?" "Kamu beneran gak apa-apa?" Arumi terdiam beberapa detik. Lalu menjawab dengan nada lebih pelan. "Emang semua bisa balik ke awal kalau aku apa apa? Engga, kan? Jadi yang bisa kulakuin cuma nerima peristiwa semalam, mencegah kehamilan dan ganti kardigan!" ucap Arumi. Ternyata dia bukan tak peduli. Tapi tau kemarahannya tidak berarti. "Rum…" Agung mendekat. "Apa lagi?" "Ulang." "Hah?" Agung memegang bahu Arumi, menatap dengan sorot aneh antara serius dan nekat. "Ayo kita lakuin lagi. Udah terlanjur, kan? Aku janji tanggung jawab." Plak. Tamparan keras mendarat di pipi Agung. "b******n!" Agung justru tersenyum tipis, walau pipi terasa panas. "Kamu gak perlu pura-pura kuat di depan aku, Rum. Marah aja. Pukul aja. Jangan dipendam." Ia berdiri tegak, seolah siap menerima pukulan berikutnya. Tapi ... Arumi bergeming. Di kehidupan sebelumnya, Agung terlalu sibuk mengagumi ketegaran Arumi hingga tak pernah benar-benar melihat retak di balik senyumnya. Ia mengira diam adalah kedewasaan, mengira senyum tipis itu tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Ia tidak tahu bahwa setiap kata yang ditelan Arumi adalah jeritan yang dipaksa mati sebelum sempat terdengar. Ia tidak sadar bahwa sikap “kuat” yang selalu ia banggakan justru menjadi cara paling sunyi bagi Arumi untuk menghancurkan dirinya sendiri. Arumi menekan kecewa, menahan curiga, memeluk luka sendirian. Ia menenangkan semua orang, bahkan ketika hatinya sendiri porak-poranda. Dan Agung, yang merasa paling dekat dengannya, tak pernah membaca bahasa tubuh yang bergetar itu. Tak pernah benar-benar bertanya dengan sungguh-sungguh. Ia percaya semuanya akan baik-baik saja, karena Arumi selalu berkata demikian. Sampai kebenaran itu datang seperti petir di siang bolong. Ketika Agung akhirnya mengetahui Arumi diselingkuhi, ketika kabar tentang kekerasan dalam rumah tangga itu sampai ke telinganya, waktu seolah berhenti. Dunia runtuh dalam satu tarikan napas. Namun penyesalan selalu datang terlambat. Saat ia ingin menjadi tempat pulang, Arumi sudah terlalu lelah untuk bertahan. Saat ia ingin melindungi, segalanya sudah hancur tak bersisa. Pada akhirnya, Agung kehilangan wanita itu. Dan dia takkan membiarkan hal yang sama terjadi di kehidupan ini. "Bukan gitu ...," ucap Arumi pelan. "Aku salah. Aku gak nyesel, tapi aku salah. Kalau kamu benci, aku terima. Bahkan kalau kamu mau bunuh aku, aku gak bakal lawan." "Gung!" Arumi memotong. "Udah, gak usah dibahas lagi." Ia kembali mengusap pinggang dan paha, berusaha menahan sisa sensasi yang masih tertinggal. Bukan karena tak mau. Tubuh memang belum siap lagi "Kalau gitu… aku pengin nikahin kamu. Boleh gak, Rum?" tanya Agung tiba-tiba. Arumi terdiam. Ingatan pengakuan semalam terlintas. Namun ia ragu. Itu cinta, atau sekadar rasa bersalah? "Gak boleh. Kita baru lulus. Baru mulai kerja. Aku belum mau nikah." Ia meraih tas. "Udah, yuk. Katanya mau beliin kardigan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN