Arumi menarik Agung masuk ke pusat perbelanjaan tempat ia dulu membeli kardigan kesayangannya. Dia melangkah cepat, seolah harapan masih bisa dikejar walau logika sudah memberi tanda. Begitu sampai di toko, firasat itu pun terbukti.
“Maaf, Kak. Edisi itu sudah habis dari beberapa bulan lalu.”
Jawaban pramuniaga terdengar ringan, tapi wajah Arumi langsung berubah. Sedih, kesal, dan kecewa bercampur jadi satu. Ia ingin marah, namun pada siapa? Waktu tak bisa diputar, stok tak bisa dipaksa muncul.
Agung memperhatikan raut itu tanpa banyak bicara. Ia lalu mengajak Arumi berkeliling, menunjuk beberapa model baru.
“Kamu transfer aja deh 500 ribu. Nanti aku cari thrift di online,” ucap Arumi akhirnya.
Agung menggeleng pelan. “Masa thrift? Cari dulu aja di sini.”
Arumi sebenarnya bukan tak tertarik. Tapi harga model model baru jelas sedang digoreng tinggi.
Ia melirik satu kardigan yang bentuknya hampir sama dengan milik lamanya. Hanya ada tambahan pita kecil di sisi kiri dan kanan. Detail sederhana yang justru membuat harga melonjak dua kali lipat. Bukankah ini pembodohan?
"Ya terserahku lah. Yang penting kan kamu udah tanggung jawab."
"Kamu suka yang itu, ya?" Agung tiba-tiba menunjuk kardigan yang sejak tadi jadi perhatian Arumi. Cepat dia menarik wanita itu ke sana.
Arumi cepat-cepat mengalihkan pandangan. “Enggak, ih. Gak suka. Ada pitanya gitu. Norak.”
"Bagus, loh. Kamu yang pake pasti lucu." Agung tersenyum membayangkan. Malahan dia yang antusias mengotak atik pakaian itu, memastikan tak ada cacat bahan. Mensejajarkannya dengan tubuh Arumi, takut jika sizenya tidak pas.
Arumi termenung. Malu-malu kucing. "Boleh emangnya?"
"Boleh, dong." Agung langsung melepaskan hanger dan menggantungkan pakaian itu di lengan. "Mau beli apa lagi?"
"Ih, aku kan belum gajian. Gausah jadi setan, deh." Arumi memukul bahu Agung dengan kesal, tapi tak benar-benar marah. Pukulan itu lebih mirip protes manja daripada teguran. Matanya masih melirik ke arah etalase yang memajang koleksi terbaru bulan ini. Potongannya sederhana, warnanya lembut, tapi entah kenapa seperti punya daya tarik yang menahan langkah. Ia berbalik cepat, berjalan menjauh dengan langkah yang dibuat-buat tegas, seolah benar-benar ingin menjaga jarak dari godaan.
Sementara itu, Agung tidak ikut menyusul. Ia justru melangkah mendekati rak yang tadi membuat Arumi terpaku. Tangannya menyentuh beberapa helai kain, merasakan teksturnya, membayangkan bagaimana jatuhnya di tubuh Arumi. Tanpa banyak komentar, ia mengambil satu atasan dengan warna yang lembut, lalu memadukannya dengan rok bernuansa senada. Setelah itu, ia mengangkat kardigan, membandingkannya di udara.
Saat tiba di kasir, Arumi terkejut melihat beberapa potong pakaian diletakkan di meja.
“Gung—”
Namun Agung sudah sibuk membuka dompet.
“Totalnya empat juta empat ratus ribu, Kak. Pembayaran apa?”
“Debit, Mbak.” Agung menyerahkan kartu tanpa ragu.
Jantung Arumi berdegup tak karuan. Empat juta empat ratus. Hampir setara UMR. Sementara mereka baru bekerja beberapa bulan.
Mesin berbunyi. Transaksi berhasil.
“Ini barangnya, Kak. Terima kasih.”
Mereka keluar dari mal membawa beberapa paper bag. Arumi tak berhenti melirik Agung sepanjang jalan. Begitu sampai di area parkir yang lebih sepi, ia akhirnya bersuara.
“Kamu punya uang dari mana, Gung?”
“Nabung,” jawab Agung singkat.
"Itu tadi udah hampir UMR loh, Gung. Kita kan baru kerja beberapa bulan."
"Kamu pernah liat aku hedon kah Rum?" tanya Agung. Arumi menggeleng. Dia sadar Agung memang jarang jajan, bahkan tak punya hobi tampil mewah. "Nah. itu bukan karena aku kere, Rum. Itu aku lagi nabung," lanjutnya
Arumi menyipit. Masuk akal sih. Soalnya tiap dia ngajak Agung jajan, cowok itu mau mau aja dan pasti mampu bayar. Berarti benar semua gajinya selama ini memang hampir tak tersentuh.
"Tapi kan tadi mahal banget, Gung. Aku cuma minta 500 loh," ucap Arumi.
"Duit bisa dicari, nyenengin kamu kapan lagi?" kata Agung sambil mencubit dagu Arumi dengan gemas.
"Geli, Gung. Kayak Om-om gadun."
" Kalau kamu mau, aku juga bisa kok jadi g***n kamu," ucap Agung sambil ketawa.
Arumi ikut terkekeh. "g***n mana yang gajinya UMR?" timpalnya.
Agung tertawa lagi, kali ini sedikit lebih keras, seolah ingin menutupi sesuatu. Namun di balik tawanya, ada pikiran yang diam-diam mengendap. Memang benar, gajinya sekarang belum cukup untuk membahagiakan Arumi, apalagi membangun rumah tangga yang layak. Ia tak ingin sekadar menikah, lalu memaksa Arumi hidup serba pas-pasan. Ia ingin memberi yang terbaik. Rumah yang nyaman. Lemari yang tak perlu diisi dengan baju diskon semata. Kehidupan yang tidak membuat Arumi harus menghitung setiap rupiah dengan cemas.
Berarti ia harus bekerja lebih keras. Lebih cepat. Ia tak boleh menunda. Tak boleh membiarkan Daniel mencuri start lagi seperti di kehidupan sebelumnya.
Mereka memang masih sangat muda. Tapi Agung tidak benar-benar memulai dari nol. Ia sudah hidup dua kali. Ia tahu di mana ia pernah gagal. Ia tahu di mana ia pernah terlambat. Dan kali ini, ia yakin bisa mendapatkan hasil yang berbeda. Demi meyakinkan Arumi untuk memilihnya. Untuk menikah dengannya.
“Agung…” panggil Arumi pelan, nadanya berubah hati-hati.
Agung menoleh. “Kenapa?”
“Kamu nggak ngelakuin ini karena kasian sama aku, kan?”
Kerutan halus muncul di dahi Agung. “Kasian kenapa, Rum?”
Arumi menunduk, ujung jarinya memainkan tas kecil di tangannya. “Ya… kamu tahu sendiri kan orang tuaku dari dulu kayak gimana. Aku nggak pernah punya baju bagus. Makanya sekarang aku sayang banget sama baju-baju aku. Apa karena aku ngomongin kardigan mulu, jadi kamu kasian dan beliin aku beberapa baju?”
Agung terdiam sepersekian detik. Hatinya seperti diremas.
“Ya ampun, Rum… ya enggak lah. Ini murni karena aku pengin. Bukan karena kasian,” ujarnya lembut.
Arumi menggigit bibirnya, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Atau… karena rasa bersalah?”
Ucapan itu menggantung di antara mereka.
Padahal Arumi sendiri yang sejak awal ingin melupakan kejadian semalam. Tapi kini justru ia yang memulai pembahasan
“Aku beneran nggak apa-apa kok, Gung,” lanjutnya cepat. “Aku juga yang salah. Harusnya aku dorong kamu. Harusnya aku buru-buru pergi pas tahu kamu udah mulai agresif. Anehnya aku malah nerima gitu aja. Jadi kamu nggak usah merasa terbebani sendirian.”
Agung langsung berhenti berjalan.
“Cewek sama cowok beda lah, Rum,” katanya pelan, tapi tegas.
Arumi mendongak.
“Kalau aku kebablasan, itu tanggung jawab aku. Bukan kamu. Jangan pernah ngerasa harus nyalahin diri sendiri buat sesuatu yang harusnya bisa aku kendaliin.”
Tatapannya serius sekarang. Tidak ada lagi tawa.
“Dan soal baju ini, atau apa pun yang aku lakuin… itu bukan karena kasian, bukan karena bersalah. Aku cuma pengin kamu punya hal-hal yang dulu nggak sempat kamu punya. Bukan buat nebus apa-apa. Tapi karena aku mau.”
Hening sejenak.
Dalam hatinya, Agung menambahkan kalimat yang tak ia ucapkan.
Di kehidupan sebelumnya, aku terlalu sering terlambat menyadari luka kamu. Kali ini, bahkan sebelum luka itu datang, aku ingin sudah ada di depanmu.