Layar monitor memantulkan cahaya kebiruan ke wajah Agung yang tegang. Grafik merah dan hijau bergerak liar, naik turun dengan pola yang bagi orang awam tampak seperti kekacauan. Namun bagi Agung, setiap garis adalah potongan masa depan.
Ia menyipitkan mata, menghitung dalam kepala.
Klik.
Kursor berhenti tepat di tombol beli.
“Eh, kok kamu beli saham itu sih? Kata temenku jelek loh. Grafiknya gak bagus. Investor besar aja pada keluar.”
Suara itu muncul tiba-tiba dari samping. Zivana berdiri terlalu dekat, bahkan ikut mencondongkan tubuh ke arah layar, seolah paham betul apa yang sedang terjadi.
Agung refleks menggeser kursi sedikit menjauh. “Enggak, kok. Cuma lihat-lihat,” jawabnya santai.
Padahal barusan transaksi sudah masuk.
Ia tidak gegabah. Ia tahu saham itu sedang anjlok. Semua orang panik. Semua orang keluar. Tapi ia bukan “semua orang”. Ia datang dari waktu yang berbeda. Beberapa bulan lagi, perusahaan itu akan mengumumkan kerja sama besar. Harga akan melonjak.
Zivana tersenyum tipis. “Kamu mau aku ajarin main saham gak?”
“Enggak, gak usah. Aku belum sekaya itu buat main saham.”
Bohong. Portofolio kecil sudah ia susun diam-diam.
“Ih gapapa. Modal kecil juga bisa profit kok. Aku udah cuan lumayan.”
Nada itu terdengar seperti pamer yang dibungkus niat baik. Agung hanya mengangguk tipis, berusaha mengakhiri percakapan tanpa memancing diskusi lebih jauh.
Di kehidupan sebelumnya, Zivana juga seperti ini. Selalu mencari celah untuk mendekat. Selalu hadir di momen yang tak tepat. Dan saat itu, Agung terlalu sibuk menolak dengan halus sampai tak sadar Arumi perlahan menjauh karena salah paham.
Ia tidak mau mengulang kesalahan yang sama.
“Oke guys! Udah jam dua belas. Break ya!”
Tepukan tangan manajer membuat seluruh staf spontan berdiri. Kursi bergeser, suara tawa mulai terdengar. Beberapa langsung meraih dompet dan ponsel.
“Makan bareng, yuk!” ajak Zivana cepat, seolah takut kehilangan momen.
Di belakang pintu, Arumi tak sengaja melihat kedekatan mereka. Senyum di wajahnya dengan cepat memudar. Padahal yang terjadi tak seperti yang ia pikirkan. Memang tak ada hubungan spesial di antara mereka, tapi Arumi tetaplah wanita yang gampang terbawa perasaan. Dia takut jika terlalu dekat dengan Agung, akan menghambat pria itu mendapatkan jodoh. Jadi daripada mengganggu, Arumi memutuskan untuk kembali ke ruangan divisinya tanpa diketahui Agung..
Pria itu masih berurusan dengan Zivana. Berusaha memberi penolakan yang blak-blakan. Dia menggandeng tas kerjanya dengan ketus. “Sorry, aku ada urusan sama Pak Revan,” ucapnya datar.
"Loh? Sekarang? Kan Pak Revan udah ngomong break!"
Agung tak mempedulikan raut kecewa atau bahkan protes kecil Zivana. Juga tak menjelaskan bahwa urusan yang dia maksud adalah merokok bersama di ruang kerja pribadi manager itu.
Aroma kopi hitam dan tembakau langsung menyambut saat ruangan terbuka. Agung langsung duduk di sofa. Sementara Revan menyesap kopinya sambil menghadap ke jendela.
"Eh Agung ... lain kali ketuk pintu dulu, ya ..." ucap Revan dengan nada seperti ibu guru TK yang mengajari bocah tentang sopan santun.
Tapi Agung tak peduli. Lagipula Revan masih sepupu jauhnya.
"Rev ...," panggil Agung. Dari nadanya, terdengar dia akan mengeluhkan sesuatu.
“Diam, Gung… jangan satu kata pun keluar dari mulutmu dulu. Kepalaku masih berdentam seperti genderang perang. Badmood-ku belum reda sejak tubuh ini dihujani muntah bawahan sendiri. Rasanya bukan cuma pakaian yang ternodai, tapi harga diriku ikut tercabik. Aku ingin menguliti diri sendiri, mencabut lapisan demi lapisan kulitku, membuangnya jauh-jauh seperti kain kotor yang tak layak disentuh. Jijik… aku jijik pada tubuh ini. Setiap tetes yang sempat menempel terasa seperti racun yang merembes pelan, menyusup ke pori-pori, menggerogoti sisa-sisa kepercayaan diri yang kubangun susah payah. Seolah-olah dunia menertawakanku, dan aroma itu masih menghantui, menempel di ingatan lebih kuat daripada di kulit. Jadi tolong… jangan goda aku sekarang. Kalau tidak, bisa-bisa aku benar-benar meledak.”
"Kamu mau naik jabatan,ga?"
Seketika, mata Revan langsung cerah.
"Apakah sepupu jauhku ini memiliki ide?"
Agung mengangguk pelan.
Revan duduk tepat di hadapannya, menyilangkan tangan di atas meja dengan sikap serius yang jarang ia tunjukkan di luar rapat resmi.
Tanpa banyak basa-basi, Agung mulai memaparkan rencananya. Bukan sekadar gambaran besar, melainkan rincian demi rincian yang tersusun rapi. Ia menjelaskan alur pergerakan dana, momentum yang harus dimanfaatkan, hingga titik masuk dan keluar yang sudah ia hitung dengan cermat. Bahkan skenario terburuk pun tidak luput dari pikirannya. Jika pasar bergerak di luar prediksi, jika sentimen negatif tiba-tiba mencuat, jika investor besar menarik diri lebih cepat dari perkiraan, ia sudah menyiapkan langkah antisipasi untuk menekan kerugian seminimal mungkin.
Revan mendengarkan dengan saksama. Tatapannya tajam, sesekali mengangguk kecil. Ia menyela dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, menguji celah dalam strategi itu. Dan sebagai seseorang yang terlahir kembali, Agung menjawab dengan detail seolah sudah tau apa yang pasti terjadi.
"Bagus, bagus. Aku setuju sama idemu," sahut Revan. Wajahnya penuh kepuasan. Akhirnya awan hitam yang menyelimuti hari ini pergi meninggalkan pelangi. "Tapi ... apa hal yang membuatmu tiba-tiba ambisius begini, sobat?"
Agung menghela napas panjang. "Gajimu berapa, Rev?"
"Kurang ajar manusia satu ini. Tidakkah orang tuamu mengajarkan bahwa bertanya soal gaji seseorang itu melanggar privasi."
"Halah, bacot. Berapa?" Nada Agung meninggi.
Nyali Revan seketika ciut. Sepertinya bukan dia yang sedang tak boleh disentil, melainkan Agung dan segala pikiran yang mengganggu pria itu.
"Dua digit sih. Kadang 20jt kalau perusahaan kasih bonus."
"Hmmm ..." Agung memangku dagunya. "Cukup lah ya ..."
"Buat apa?"
"Kawin"
"Hah?"
"Rev, kalau kamu udah naik jabatan, aku mau gantiin jabatanmu sekarang. Itu aja persyaratanku," tegas Agung.
"Oke. Ga ada masalah soal itu," ucap Revan. "Tapi, kamu mau kawin sama siapa?"
"Kawinnya sih udah. Tinggal nikahnya aja yang belum. Aku harus buru-buru nikahin dia sebelum dia hamil," jawab Agung dengan santainya.
"What the fuvk bro! Kukira anak Mamah Maemunah ga akan ngalamin kenakalan remaja!" Revan nampak syok. Soalnya dia kenal Agung dari lama. Pria itu penurut, rajin bekerja, menabung dan ibadah. Jauh dari kata sesat dan nakal.
"Aku juga ga sengaja, Rev. Tapi kan tetep harus tanggung jawab."
"Nice. Memang harusnya laki-laki tuh begitu." Revan mengangguk-angguk. "Trus ceweknya gimana? Dia emang mau nikah sama kamu?"
"Justru itu. Ceweknya malah biasa aja. Dia bahkan ga masalah meski aku ga tanggung jawab. Artinya apa ya, Rev?"
"Ya mungkin dia ga suka sama kamu."
Agung langsung termenung. Jika itu alasannya, apa dia bisa membuat Arumi berubah pikiran?