Makin hari, Arumi sadar ada yang bergeser dari diri Agung.
Bukan sepenuhnya. Bukan pula sesuatu yang buruk. Pria itu memang perhatian sejak lama. Selalu ada di garda terdepan tiap Arumi dalam masalah. Saat ia sakit, Agung yang lebih dulu datang membawa obat. Saat ia lembur dan hampir tertidur di halte, Agung yang muncul entah dari mana, menyodorkan helm cadangan tanpa banyak tanya.
Namun kini ada satu tambahan yang tak bisa ia abaikan.
Pagi ini, motor Agung sudah mejeng di depan kosannya, bahkan ketika Arumi masih sibuk mengucek mata dan mengikat rambut asal-asalan di depan cermin kecil yang retaknya membelah wajahnya jadi dua. Udara masih dingin, sisa embun menempel di dedaunan pot milik ibu kos. Tapi Agung sudah duduk santai di atas motornya, dengan helm yang tergantung di stang dan setelan yang rapi.
Kadang dia masuk dulu ke kamar, membantu Arumi membereskan tempat tidur yang selalu berantakan. Menggulung selimut, menepuk-nepuk bantal supaya tampak lebih layak dilihat. Bahkan sesekali membawakan sarapan. Nasi uduk, roti bakar, atau sekadar kopi hangat dalam gelas kertas.
Ibu kos sudah tak asing dengan kedatangannya. Perempuan paruh baya itu selalu tersenyum tanpa ada rasa curiga. Ia tahu Agung sebagai “saudara” Arumi. Dulu, saat Arumi pertama pindah, ibunya memang berkata kalau ada apa-apa hubungi saja Agung. Dan sejak itu, Agung seperti memegang amanah tersebut dengan terlalu serius.
“Kamu ga perlu nganter jemput aku tiap hari, Gung.” Omel Arumi sambil naik ke jok belakang. Tangannya refleks mencengkeram ujung jaket pria itu saat motor mulai bergerak. “Apartemenmu kelewatan jauh gara-gara nganterin aku. Kamu muterin setengah kota.”
“Oh, iyakah? Ngerinya…” jawab Agung dengan nada dibuat-buat.
“Ihh! Malah bercanda.” Arumi memukul bahu Agung, tidak keras, lebih mirip sentuhan yang disengaja. “Boros tau! Boros bensin, boros waktu, boros tenaga.”
Agung berpura-pura berpikir. “Iya juga ya…”
“Nah kan?”
“Gimana kalau kita nikah aja biar serumah?”
Arumi nyaris tersedak udara. Pegangannya di jaket Agung menguat.
“Gung!”
“Apa? Solusi paling efisien itu.”
“Kamu tuh ya…” Arumi memukul pelan punggungnya. “Kenapa sekarang jadi tukang gombal begini sih?”
Agung terkekeh. Suaranya teredam angin pagi. “Aku realistis.”
“Realistis dari mana nikah dijadiin solusi transportasi?”
“Logistik itu penting dalam pernikahan,” jawabnya santai. “Bayangin. Hemat bensin, hemat waktu, dan aku bisa ngawasin kamu tiap hari.”
“Ngawasin?”
“Iya. Biar gak ada yang macem-macem.”
Arumi memutar mata. “Siapa juga yang mau macem-macem sama aku?”
Agung tak langsung menjawab. Motor berhenti di lampu merah. Ia menoleh sedikit, cukup untuk membuat Arumi bisa melihat garis rahangnya yang tegas.
“Banyak,” ucapnya pelan.
Satu kata itu tidak terdengar seperti candaan.
Angin pagi menyapu rambut Arumi yang tergerai di balik helm. Namun yang membuat tengkuknya meremang bukan udara, melainkan nada suara Agung. Terlalu dalam. Terlalu yakin.
Dan dalam sepersekian detik, pikiran Agung tak lagi berada di persimpangan jalan itu. Ia terlempar pada kilasan masa lalu yang masih terasa nyata. Pada kehidupan sebelumnya. Pada dirinya yang berdiri terlalu jauh.
Ia pernah berkata cinta. Berkali-kali. Di dalam hati. Dalam doa yang tak pernah sampai ke bibir. Tapi apa gunanya cinta yang hanya disimpan? Apa artinya rasa yang tak dibarengi keberanian?
Katanya cinta, tapi ia tak melindungi. Katanya cinta, tapi ia tak peka. Katanya cinta, tapi ia justru mundur saat Arumi membutuhkannya.
Terlalu sibuk merasa tak pantas. Terlalu takut merusak persahabatan. Terlalu pengecut untuk mengakui bahwa ia ingin lebih.
Dan akibatnya?
Ia menyaksikan perempuan yang ia cintai perlahan terseret ke dalam tangan pria yang ia kira bisa membahagiakannya. Ia meyakinkan diri bahwa itu pilihan terbaik. Bahwa melepas adalah bentuk ketulusan.
Padahal itu hanya dalih untuk menutupi kelemahannya sendiri.
Bayangan terakhir itu masih jelas. Tubuh Arumi yang tak lagi bergerak. Darah. Tangan dingin pembunuh berdarah dingin yang dulu ia anggap sebagai sumber kebahagiaan Arumi.
Agung menggenggam setang motor lebih kuat. Buku-buku jarinya memutih.
Saat mengingat kesempatan hidup kembali, sesuatu di dalam dirinya bergejolak. Semangatnya memburu. Ia tak lagi ingin jadi penonton. Ia tak lagi mau berdiri di pinggir dan menyebut itu pengorbanan.
Jika semesta memberinya satu kesempatan lagi, maka ia akan menggunakannya. Ia akan memperkuat dirinya. Bekerja lebih keras. Mengambil posisi yang seharusnya ia ambil sejak dulu.
Mengejar Arumi. Menjadikan wanita itu miliknya sepenuhnya. Bukan untuk mengekang. Bukan untuk memiliki secara egois.
Tapi agar tak seorang pun bisa merenggutnya. Tak seorang pun bisa menyakitinya. Tak seorang pun bisa menyentuhnya dengan niat kotor.
“Sejauh ini kan yang berani macem-macem sama aku cuma kamu,” celetuk Arumi tiba-tiba.
Kalimat itu meluncur begitu saja, ringan, tanpa filter. Namun begitu sadar apa yang ia ucapkan, napasnya tersendat. Pipinya memerah seketika.
Ia teringat malam itu. Saat jarak di antara mereka terlalu dekat. Saat sentuhan Agung bukan lagi sekadar sahabat yang membantu. Saat detak jantung mereka bertabrakan dalam sunyi yang panas.
Arumi menunduk, pura-pura membenarkan posisi tasnya. “Maksudku… ya itu… kamu kan suka iseng.”
Agung tidak tertawa. Ia pura-pura tak mendengar. Tatapannya lurus ke depan, seolah lampu lalu lintas adalah satu-satunya hal yang layak diperhatikan. Ia tahu, jika kalimat itu dibahas, perjalanan ini akan dipenuhi kecanggungan yang sulit ditarik kembali. Dan untuk pertama kalinya, ia memilih mundur setengah langkah.
Klakson mobil di belakang mereka meraung panjang. Lampu berubah hijau. Agung memutar gas lebih dalam dari biasanya. Motor melesat membelah jalan, meninggalkan persimpangan yang masih ramai oleh suara mesin dan teriakan pedagang kaki lima.
Kecepatannya bertambah. Namun bukan hanya roda yang bergerak lebih cepat. Pikirannya pun berpacu.
Revan.
Nama itu muncul seperti alarm yang tak bisa dimatikan. Sampai mana progres proyek mereka? Bukankah sudah waktunya menagih janji? Jika semuanya berjalan sesuai rencana, ia akan punya pijakan yang jauh lebih kuat. Kekuatan finansial. Koneksi. Pengaruh.
Ia tak bisa hanya mengandalkan perasaan untuk melindungi Arumi.
Tangan Agung mencengkeram setang lebih erat. Sementara itu, Arumi justru tenggelam dalam pikiran yang berbeda. Ia mengira Agung marah. Karena ia tak sengaja menyinggung malam itu. Suasana berubah drastis. Sunyi sepanjang jalan.
“Agung?” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
Suara angin menelan panggilan itu. Atau mungkin Agung memang memilih diam.
Arumi menggigit bibir bawahnya. Ia ingin bertanya, ingin memastikan, tapi gengsi menahan. Akhirnya, tanpa banyak kata, ia bergerak mendekat. Tangannya yang semula hanya mencengkeram ujung jaket kini perlahan melingkar di pinggang Agung.
Gerakan sederhana. Namun cukup untuk membuat napas Agung tercekat. Ia merasakannya. Hangat telapak tangan Arumi menembus kain kemeja.
Agung tersenyum tipis, meski tak terlihat. Jantungnya berdebar lebih kencang daripada laju motor yang ia pacu. Untuk sesaat, semua rencana tentang Revan, proyek, ambisi, dan janji yang harus ditagih memudar di sudut pikirannya. Yang tersisa hanya satu kesadaran sederhana.
Arumi memeluknya.
Ia menurunkan sedikit kecepatan. Mengabadikan momen itu sedikit lebih lama.