Bimbang

1004 Kata
"Liat! Mereka dateng barengan lagi." Bisik-bisik langsung berembus begitu Arumi melangkah ke ruang divisi. Beberapa kepala menoleh cepat, lalu berpaling seolah sangat sibuk ketika tatapan mereka bertemu miliknya. Sementara itu Agung masih harus melanjutkan langkah menuju ruang di divisi lain sehingga mereka harus berpisah. Arumi menarik kursi dan duduk tanpa komentar, berusaha mengabaikan suasana yang terasa berbeda. “Rum,” salah satu rekan mendekat dengan senyum tertahan, “ngaku aja deh. Kalian sebenarnya bukan adik-kakak, kan?” Arumi mengernyit. “Hah? Siapa yang bilang kami adik-kakak?” “Loh, bukan? Sejak kalian masuk kantor, kalian barengan terus. Kupikir emang saudaraan. Trus, Zivana juga sempet ngomong gitu ... " Vanila menjelaskan, bahwa tebakan dia ada sumbernya. Begitu nama Zivana disebut, Arumi langsung terdiam. Apa jangan-jangan, Agung yang memberi tahu Zivana bahwa mereka saudara, hanya supaya wanita itu tak salah paham dengan kedekatan mereka? Ah tapi ... harusnya Agung kasih tau Arumi dulu. Lagian, siapa yang adek dan siapa yang kakak? Mereka cuma beda beberapa hari, bukan bulan apalagi tahun. Mukanya juga gak mirip. "Berarti ... kalian pacaran, nih?" tanya Vanila lagi. Seolah, belum puas untuk mencari tahu. "Hah? Enggak!" bantah Arumi cepat. Arumi merasa canggung. Bantahan itu bahkan terdengar seperti orang yang ketahuan. Arumi berusaha mengontrol napasnya, menyamarkan wajah yang memerah karena gejolak perasaan yang tak biasa. Dekat tapi gabisa dibilang pacaran, kan? Jika dia sembarangan bicara, nanti Agung kena dampaknya. Tapi ... Arumi rasa mereka memang sudah melenceng dari kata persahabatan. Sahabat macam apa yang tidur bareng dan bahas bahas nikah? “Udah ngaku aja. Adegan kemarin udah jadi bahan omongan se-gedung, loh.” Arumi yang sedang mengetik langsung berhenti. “Adegan yang mana?” “Yang bule nembak kamu itu,” jawab Vanila semangat. “Kalau bukan pacar, kok Agung mukanya marah banget? Sampai narik kamu keluar segala.” Arumi mendesah pelan. “Ah, kamu kebanyakan mikir. Agung cuma tau aku gak nyaman dikerubunin orang.” “Segitunya mikirin perasaan kamu?” Vanila menyeringai. “Jangan-jangan dia suka sama kamu.” “Vanila,” Arumi menatap tajam, “kerjaan kamu udah selesai belum?” "Ah elah masih pagi," ucap Vanila. "Jadi, kamu suka juga gak sama Agung?" Arumi tak membalas lagi. Ia hanya menatap layar tanpa benar-benar membaca apa yang tertulis. Pikiran melayang ke hal lain. Sejak semalam, Daniel terus menghubungi. Telepon. Chat. Voice note panjang menanyakan kejelasan hubungan mereka. Awalnya Arumi memang tak pernah menganggap serius. Daniel hanya teman yang kebetulan perhatian. Bukan seseorang yang ia rencanakan untuk masa depan. Lagipula, ia selalu berpikir cepat atau lambat Agung akan dekat dengan Zivana. Mereka satu divisi, sering berdiskusi, terlihat cocok dari luar. Kalau itu terjadi, Arumi tak mungkin bertahan di tengah. Ia bukan tipe yang mau jadi gangguan. Namun sikap Agung beberapa hari terakhir mengacaukan logika itu. Cara ia menatap. Cara ia melindungi. Cara ia berdiri di depannya saat Daniel terlalu agresif. Arumi menghembuskan napas panjang. Kalau bukan karena Agung menghentikan tingkah Daniel kemarin, hari ini Arumi pasti sudah berstatus sebagai pacar orang. Hubungannya dengan Agung akan semakin canggung. Jarak akan tercipta. Tawa mereka takkan lagi sama. Tapi ... memikirkan kemungkinan itu, kenapa d**a Arumi mendadak sesak, ya? “Hei, hei! Ayo mulai kerja! Fotokopi dulu ini, habis itu ke ruang rapat.” Suara Bu Melinda memecah suasana. Arumi langsung berdiri, bersyukur interogasi ala Vanila terhenti. Setumpuk berkas berpindah ke tangannya. Vanila yang tadi paling semangat bergosip mendadak menghilang, pura-pura sibuk di meja sendiri. Arumi mendengus pelan. Ia melangkah ke area persimpangan antara ruang divisi dan pantry. Mesin fotokopi berdiri di sana, setia jadi korban setiap kali rapat mendadak diumumkan. Ia menyalakan mesin. Lampu indikator berkedip. Lalu mati. “Jangan bilang…” gumamnya. Ia menekan tombol lagi. Mesin berbunyi sebentar, lalu layar kecil menampilkan tulisan error yang sama seperti tadi pagi. “Pantesan Vanila gak ngikut,” desis Arumi pelan. Ia berdiri beberapa detik, memandangi mesin seolah bisa menyala hanya karena ditatap. Waktu terus berjalan. Rapat tak mungkin menunggu. “Kalau aku gedor, hidup gak ya…” gumamnya frustasi. “Kamu mau mukul mesin kantor?” Suara itu datang bersamaan dengan aroma kopi hangat. Arumi menoleh. Agung berdiri di belakangnya, memegang gelas kertas dengan uap tipis mengepul di permukaan. “Mesinnya rusak lagi,” keluh Arumi singkat. Agung melirik layar kecil mesin lalu terkekeh pelan. “Emang udah waktunya diganti. Tapi jangankan mesin fotokopi, komputer tim IT aja udah sekarat dari zaman purba. Tetep dipaksa hidup.” Arumi makin manyun. Agung menyodorkan gelas. “Nih. Minum dulu. Calon istriku jangan cemberut begitu. Nanti kantor ini bisa meledak.” “Apa hubungannya, dah?” balas Arumi cepat. “Lagian siapa calon istri kamu?” “Loh, kamu gak mau daftar?” tanya Agung santai, mata dan tangan tetap sibuk membuka panel samping mesin. “Ogah.” “Yah… telat. Formulirnya udah aku isi.” Arumi mendengus, tapi tak sempat membalas. Mesin tiba-tiba berdengung kembali. Lampu indikator menyala normal. “Coba sekarang,” ujar Agung. Arumi memasukkan berkas. Kertas keluar satu per satu dengan suara ritmis yang menenangkan. Namun pikirannya justru tak setenang itu. Calon istri? Nikah? Dia? Suka? Sama aku? Alur pikirannya berloncatan tak jelas. Jantung berdetak sedikit lebih cepat tanpa alasan yang mau ia akui. Ia berdiri terlalu lama menatap hasil fotokopi yang sudah rapi tersusun. “Rum.” Tak ada respons. Agung berdiri di depannya, lalu mencubit ringan ujung hidung Arumi. “Jangan melamun mulu. Nanti setan lewat, aku jadi gak keliatan.” Arumi tersentak. “Apaan sih!” Agung tersenyum tipis, lalu berjalan menjauh ke arah ruangan Pak Revan, seolah tak terjadi apa-apa. Hening. Mesin kembali berdengung normal. Pantry ramai oleh suara sendok dan cangkir. Namun Arumi berdiri diam, memandangi punggung Agung yang makin menjauh. Candaan itu terlalu sering untuk sekadar bercanda. Atau mungkin ia yang terlalu banyak berpikir? Arumi menarik napas pelan. Apa benar… Agung suka padanya? Arumi masih mengkhawatirkan apa yang terjadi malam itu. Tanpa bisa ditepis, sikap Agung memang berubah sejak mereka tidur bersama. Dan sebelumnya, Arumi juga berpikir yang Agung dan Zivana adalah pasangan. Dia tak bisa salah kaprah. Mengartikan perasaan bersalah dan tanggung jawab sebagai cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN