Pengkhianatan tetaplah pengkhianatan. Memaafkannya mungkin gampang. Tapi melupakannya? Aku tak bisa janji akan hal itu. -Revan Ramandha Arsyad- •||• "Mas Revan sering kesini?" tanya Fina pada sosok Revan yang duduk di seberangnya dengan kaus polo hijau dan celana jeans putih selutut. Rambutnya yang baru saja di pangkas tadi pagi ia tutupi dengan topi cokelat s**u miliknya. Revan menggeleng pelan, ia menarik tisu dan mengelap bibirnya. "Nggak sering, sih, cuma dulu pas aku masih kuliah aku suka ke sini sama Dimas buat makan cuanki ini." "Mas Revan suka banget sama cuanki?" tanya Fina lagi. Saat ini, mereka sedang makan di salah satu rumah makan yang menyajikan cuanki dan batagor sebagai hidangannya. "Suka banget. Dulu aku sampai pernah ngeborong dagangan abang-abang cuanki

