“Seperti hujan yang tak sempat melihat senyum pelangi,memang tak ditakdirkan bersama namun tak terpisahkan satu sama lain.” @yang.terdalam USAI menyetujui permintaanku untuk menikahi Annisa, Gibran tidak banyak bicara setelah itu. Perjalanan kembali ke Jakarta kami habiskan dalam diam. Keheningan itupun bertahan hingga kami sampai di rumah bahkan saat pria itu berangkat bekerja. Sepeninggalan Gibran, aku menelepon ibu untuk memberitahu bahwa Gibran setuju. Wanita paruh baya itu nampak begitu bahagia selepas mendengar kabar dariku. “Alhamdulillah, makasih Afra, makasih! Kalau gitu ibu akan siapkan lamarannya minggu ini juga. Bilang ke Gibran suruh pulang ke rumah hari Jum’at, sabtu siang kita berangkat ke kediaman Annisa.” “Iya bu.” Dengan segenap kekuatan, aku berusaha tersenyum. Memaks

