Bab 1
Prolog
Langkah Zahra terhenti mendadak di tengah lorong belakang fakultas. Jantungnya berdegup tak beraturan ketika matanya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Zahra membeku. Ada rasa dingin merambat dari tengkuk hingga tulang belakangnya. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi instingnya berkata ia harus pergi. Namun baru saja ia melangkah mundur, tangan kuat meraih lengannya dari samping.
“—Ah!” serunya tertahan.
Seseorang menariknya cepat dan mendorongnya masuk ke sebuah gudang kecil di dekat lorong. Pintu ditutup rapat. Nafas Zahra terengah, tubuhnya gemetar… sampai sebuah tangan hangat menutup mulutnya.
“Sst,” bisik Saka dengan menaruh jari telunjuknya di bibir Zahra. “Tolong. Jangan bersuara.”
Zahra perlahan menatap ke arah sosok yang berdiri begitu dekat. Matanya melebar.
“P—Pak Saka?”
Saka menunduk, memastikan lorong di luar benar-benar sepi sebelum akhirnya melepaskan tangan dari mulut Zahra. Ia tetap menahan bahunya, seolah takut gadis itu akan runtuh jika dilepas.
“Dengar! Kamu nggak melihat apa pun hari ini,” katanya pelan. “Pura-pura saja kamu nggak pernah datang ke sini, di waktu ini.”
Zahra menelan ludah, seluruh tubuhnya masih bergetar. “Siapa sebenarnya Pak Saka? Dan… apa selama ini Bapak juga bohong tentang perasaan itu?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Saka terdiam. Mata gelapnya tertuju pada Zahra, mencari kata-kata yang tidak akan mengancam misinya sekaligus tidak akan melukai perasaan gadis yang perlahan menembus batas profesionalnya. Rahangnya mengeras. Ini bukan waktunya. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, segalanya bisa runtuh, termasuk keselamatan Zahra.
“Saya…” Saka mengembuskan napas berat. “Saya nggak pernah bohong soal apa yang saya rasakan.”
“Tapi sepertinya, kita harus berhenti sampai disini... karena saya takut kehilangan kamu.”
***
Zahra Aisha berdiri di depan gerbang kampus dengan setumpuk buku di tangannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak terlalu cepat. Di hadapannya, gedung-gedung tinggi berdiri megah, tampak kokoh dan dingin menyambutnya sebagai mahasiswi barI. Suasana kampus itu jauh dari bayangannya tentang dunia perkuliahan yang ia pikir akan lebih santai. Nyatanya, suasana di sana terlihat lebih serius dan terasa seperti dunia yang tidak sepenuhnya ramah bagian gadis yang baru saja bebas dari sekolah menengah.
Ia mengamati orang-orang yang lalu-lalang. Ada yang berjalan cepat dengan wajah fokus, ada yang tertawa lepas bersama teman-temannya, ada pula yang terlihat begitu percaya diri seolah kampus ini sudah menjadi rumah mereka sejak lama. Zahra justru merasa seperti orang asing.
"Fakultas hukum sebelah mana, ya,” gumamnya pelan. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari petunjuk barangkali ada semacam papan penunjuk arah. Tapi nihil.
Zahra melangkah ragu memasuki area kampus. Ia keluarkan ponsel dari tas untuk melihat peta. Namun, peta kampus di layar ponselnya tidak banyak membantu. Gedung terlihat mirip satu sama lain, jalan bercabang ke mana-mana, dan papan petunjuk yang berhasil ia temukan terasa membingungkan. Ah, sudah dari sananya kalau wanita susah membaca peta.
“Gedung fakultas hukum … harusnya nggak sejauh ini,” katanya pelan, lebih ke diri sendiri.
Ia berjalan sambil menunduk, fokus pada layar ponsel, mencoba mencocokkan peta dengan jalan yang ia lewati.Hingga tak sadar dirinya menabraksesuatu yang kokoh, atau seseorang, Mungkin.
Benturannya cukup keras sampai buku-buku di tangannya terlepas, dan kertas-kertas yang belum sempat ia clip berhamburan ke lantai.
“Aduh!” Zahra refleks berseru.
Ia langsung jongkok, panik memunguti kertas-kertas itu dan memasukannya ke dalam buku-bukunya. “Maaf, maaf banget,” katanya cepat tanpa menatap orang di depannya. Yang Zahra tahu, orang yang ia tabrak juga sedang memunguti kertas-kertas miliknya yang berceceran.
Zahra mendongak. Seorang pria berjongkok tepat di hadapannya. Posturnya kokoh, pakaiannya rapi, kemeja putih bersih, celana hitam, sepatu hitam mengkilap. Wajahnya tenang, ekspresinya datar, dan sorot matanya dingin.
“Kalau jalan lihat depan,” katanya singkat.
Nada suaranya tidak tinggi dan tidak pula terdengar marah, tapi dingin dan tegas.
Zahra terdiam sejenak. Dari raut mukanya yang sudah sedikit terlihat dewasa, ia tahu pria ini bukankah mahasiswa baru seperti dirinya. Mungkin mahasiswa tingkat akhir.
“Maaf, Kak. Aku nggak sengaja,” katanya. “Aku lagi bingung nih nyari gedung fakultas fakultas hukuman di mana, ya?”
“Punya peta, kan?” ujarnya sambil menunjuk ponsel di tangan Zahra. Entah kenapa nada bicaranya terdengar tidak terlalu enak di telinga.
"Baca peta yang bener, jangan sambil jalan," ucapnya lagi, sepertinya untuk mengungkapkan kekesalan karena kertas-kertas di map miliknya berantakan akibat ulah Zahra.
“Aku kan sudah minta maaf,” kata Zahra sambil berdiri. Ia mulai merasa kesal. “Nggak perlu segitunya juga.”
Pria itu menatap zahra beberapa detik. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berlalu meninggalkan Zahra.
“Mentang-mentang senior, sombong,” gumamnya pelan, tapi rupanya mampu menghentikan langkah pria itu.
"Saya bukan senior," sahutnya tanpa membalikkan badan.
“Terus apa? Satpam kampus?” Zahra membalas tanpa berpikir.
Pria itu menarik sudut bibir seraya menoleh sedikit ke arah Zahra.
“Fakultas hukum?” tanyanya.
“Iya,” jawab Zahra lebih pelan. Wajahnya Masih terlihat masam.
“Lurus, belok kanan, gedung kaca besar,” katanya.
Zahra mencebik. “Oh,” katanya. “Makasih.”
Pria itu mengangguk tipis sebelumnya akhirnya benar-benar berlalu dari hadapan Zahra.
Zahra berjalan pergi sambil menghela napas panjang. “Cowok aneh,” gumamnya.
Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia sampai juga di gedung yang ia tuju. Segampang itu rupanya, kenapa di peta terlihat rumit. Zahra nyengir menertawai diri sendiri.
Sampai di kelasnya, Zahra duduk di bangku tengah. Jantungnya masih berdetak cepat, bukan karena takut, tapi karena emosi yang belum sepenuhnya reda. Ia mencoba fokus pada suasana sekeliling.
Mahasiswa mulai berdatangan. Suara obrolan kecil memenuhi ruangan. Senyumnya tersungging saat melihat Rena; teman baru yang ia kenal semasa orientais mahasiswa baru. Rena langsung duduk di sebelah Zahra.
“Untung nggak telat," ucap Rena terdengar lega.
"Kenapa?"
"Bangun dikit kesiangan tadi. Tapi bukan itu aja, sih. Aku denger dari kakak tingkat, kalau dosen kriminologi killer banget."
"Pak Saka Pamungkas, kan?" tanya Zahra yang masih ingat nama dosen pengampu pagi itu yang sempat ia baca di jadwal mata kuliah pagi itu.
"Iya, katanya orangnya masih muda sih, tapi galak."
"Ganteng, nggak?" kekeh Zahra disambut tawa Rena.
Pintu kelas terbuka, membuat suara celotehan di dalamnya seketika hilang. Zahra menoleh ke arah pintu.
"Ya, ampun," gumamnya pelan tanpa sadar. Otaknya langsung berpikir adegan-adegan di film-film televisi. Ini benar-benar cerita klise, orang yang ditabrak dan sempat ia maki, yang ia pikir mahasiswa biasa seperti dirinya, ternyata dosennya sendiri.
Benar-benar mudah sekeli ditebak.
Pria itu, yang tentu saja adalah Saka Pamungkas, berdiri di depan kelas. Sekilas tatapan matanya bertemu dengan Zahra yang langsung menunduk.
“Selamat pagi,” katanya. Suaranya sama dengan nada datarnya yang dingin. “Nama saya Saka Pamungkas,” lanjutnya.
Tatapan Saka menyapu seluruh kelas, lalu berhenti di Zahra. Beberapa detik. Tidak ada ekspresi. Tidak ada senyum, hanya tatapan tenang yang membuat Zahra ingin menghilang.
“Di kelas ini,” kata Saka, “saya tidak suka keterlambatan, kecerobohan, dan ketidakdisiplinan.”
Tatapannya masih sesekali ke arah Zahra. “Saya tidak menjanjikan kelas yang nyaman,” lanjutnya. “Tapi saya menjanjikan pembelajaran yang serius.”
Zahra menelan ludah. Entah kenapa badannya terasa panas-dingin. Teringat ucapannya beberapa saat lalu pada sang dosen yang jelas terdengar kurang sopan.
Pelajaran pun dimulai. Saka mengajar dengan gaya yang tenang dan terstruktur. Hampir saja Zahra perpikir ia sedang berada di seminar khusus yang diadakan oleh kepolisian. Tanpa sadar, ia dengan seksama memperhatikan setiap gerak-gerik Saka.
Ada sesuatu yang menggelitiknya untuk berpikir kalau Saka bukan sekedar dosen biasa.
"Kamu!" Suara Saka yang terdengar lantang membuat Zahra tersentak dari lamunannya. Jantungnya seakan berhenti saat jemari Saka menunjuk ke arahnya.
Dari sekian banyak mahasiswa di kelas ini, kenapa dirinya yang ditunjuk.
"Kamu dari tadi saya lihat hanya melamun saja. Apa kamu tangkap apa yang sudah saya sampaikan?"
Zahra merasa semua mata tertuju padanya. Sialan dosen satu ini, pikirnya geram. "Iya, saya dengan kok, Pak."
"Nama kamu siapa?"
"Zahra ... Aisha, Pak."
Saka berjalan lebih mendekat ke tempat Zahra duduk. "Kalau Kamu tadi menangkap apa yang saya sampaikan, bisa kamu tarik kesimpulannya?"
"Mati aku!" gumam Zahra sangat pelan dan hampir tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.